Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 89


Tia menatap tajam ke arah Hans yang sedari tadi mengekor Tia.



"Mas! Kamu kenapa sih? Ngekor muluu ...kayak kurang kerjaan sekali! Sana bantu ibu membagikan buah tangan buat para santri!" sentak Tia pada Hans yang sedari tadi mengekornya dari belakang.



Hans berhenti lalu mengangguk, dia mematuhi apa yang diperintahkan sang istri. Di dalam hati, Hans memuji istrinya yang tanggap dengan keadaan sang ibu yang kerepotan. Tia tidak habis pikir, mengapa suaminya mendadak seperti itu.



"Heran tuh orang, ngapain coba sedari tadi ngekor terus! Padahal pekerjaan masih banyak," gerutu Tia di dalam hati. Dia pun melanjutkan membagi makanan dan minuman pada para santri dan anak panti yang hadir. Acara doa bersama sudah selesai, waktunya istirahat menikmati hidangan makan malam yang sudah disediakan oleh tuan rumah.



"Hans, bagikan semua ini pada anak- anak dan para ustadz. Jangan sampai ada yang tidak kebagian," ucap Ningsih pada Hans yang membagikan bingkisan pada anak-anak.



Semua acara sudah selesai, para tamu undangan pun berpamitan untuk pulang. Pak Toni dan istrinya membantu untuk membersihkan rumah.



"Bu, bagaimana kalau kita ambil pembantu lagi. Tidak selamanya kita harus merepotkan istri pak Toni," ucap Hans mengutarakan keinginan hatinya sejak lama.



Ningsih terdiam, selama ini mereka tidak memakai pembantu karena tinggal berdua saja. Semua diurus istri dari sang sopir, Mbak Marni. Namun, Marni hanya datang saat waktunya beberes dan pulang jika sudah selesai.



"Ibu, ikut kamu saja. Toh kita juga butuh jika nanti Tia hamil. Aku tidak ingin membuat Tia kecapekan," jawab Ningsih setelah berpikir terlebih dahulu.



Hans tersenyum saat mendengar sang ibu telah menyetujui usulnya. Hans akan merasa tenang jika harus meninggalkan sang ibu di rumah sendirian.



"Terima kasih, Bu. Hans akan mencari lewat jasa penyalur saja. Sebelum pesta pernikahan digelar, semoga kita sudah dapat ya, Bu. Biar ibu tidak terlalu capek dan ada temannya," sahut Hans dengan senyum yang penuh kelegaan.



"Ya sudah, kau istirahat saja. Kasihan Tia, takutnya saat hari pernikahan malah sakit. Biarkan saja semua diteruskan mbak Marni dan pak Toni. Mereka sudah ibu gaji doubel untuk acara ini," ujar Ningsih mengingatkan Hans untuk lekas istirahat.



"Siap, Bu. Biar Tia, Hans yang urus." Hans dengan semangat empat lima menghampiri sang istri.



"Tia, kata ibu kita disuruh istirahat saja. Biar semua yang urus mbak Marni dan pak Toni." Hans berkata sembari menarik tangan Tia yang masih sibuk melipat karpet.



Tia menatap heran sang suami, mana bisa dia begitu saja pergi sebelum selesai membantu mbak Marni dan pak Toni untuk berberes.



"Mas ... Gak boleh gitu, dong. Kasihan mbak Marni dan pak Toni kerja sendirian. Ini semua kan acara kita, kita harus ikut membantu beberes," tolak Tia dengan tatapan tajamnya.



Hans tertegun dengan kebaikan hati Tia. Tia tidak memandang dirinya sebagai majikan di depan mbak Marni dan pak Toni.



"Mas, Ayo bantuin biar cepat selesai! Tinggal dikit kok," panggil Tia pada Hans yang malah berdiri terbengong.



Mau tidak mau, akhirnya Hans ikut membantu sang istri melipat karpet bekas tempat duduk para tamu undangan.



Malam telah larut, akhirnya mereka pun menyelesaikan semua dan beristirahat di kamar.



"Tia, mas ada rencana untuk memakai jasa pembantu untuk membantumu mengurus ibu dan mengurus rumah ini. Bagaimana menurutmu?" tanya Hans yang bersandar di kepala ranjang.




"Kalau Tia sih, asal ibu setuju, Tia juga setuju. Mengingat setelah pesta nanti, pasti Tia akan mengurus kembali bisnis online Tia. Tidak apa-apa kan mas jika Tia masih mengelola bisnis online Tia?"



Hans tersenyum dan mengangguk.



"Asal kau bisa mengatur waktu untuk bisnis dan keluarga, mas tidak masalah," jawab Hans lagi.



"Tentu, Mas. Tia akan memperioritaskan keluarga tentunya," balas Tia sembari melanjutkan mengoles krim malam di wajahnya.



Semenjak pulang dari perawatan salon saat mencari perias pengantin kemarin. Tia rajin merawat wajahnya sesuai petunjuk sang owner salon.



"Mas, besok jadwal Tia ke salon untuk kembali perawatan tubuh sebelum hari H pesta pernikahan kita. Sungguh salon yang kita pilih kemarin ternyata memuaskan pelayanannya. Wajah Tia menjadi lebih segar dan halus. Terima kasih ya, Mas. Sudah membawa Tia ke sana," ucap Tia sembari tersenyum.



Hans menatap wajah dan tubuh sang istri yang memang berubah. Wajah dan kulit tubuhnya lebih cerah terawat dibandingkan sebelumnya.



"Syukurlah kalau kau senang. Tidak percuma kita pilih paketan yang mahal," tandas Hans yang ikut senang melihat istrinya bahagia.



"Iya, Mas. Tia merasa puas dengan pelayanan salon itu. Besok tinggal perawatan tubuh dan tambah perawatan rambut. Tia tidak sabar saat pesta pernikahan nanti." Tia tersenyum sembari memejamkan matanya membayangkan penampilannya saat pesta pernikahan besok.



"Ya sudah, ayo kita istirahat. Jangan sampai wajah cantik istri mas, keluar mata pandanya karena kurang tidur," ajak Hans melambaikan tangannya, meminta Tia untuk segera istirahat.



Tia membuka matanya, dia tentu tidak ingin besok bangun dengan dua kantung mata yang menghitam menyerupai mata panda.



Dengan menggunakan baju tidur yang menerawang, Tia berjalan berlenggak lenggok ke arah ranjang. Hans sudah tidak bisa lagi menahan diri.



"Satu ronde?"



"Apa?!"



"Ya? Please ...!"



"Ck ..! Sudah aku duga! Dari tadi sudah heboh sendiri!" Tia mencebik kesal.



"Hehehe ... yes?"



"Just one ronde!"



"Okey, Gaaaas!!"