
Johan yang udah tau keadaan di rumah atas laporan Willy dan liat CCTV yang ia pasang menahan murka yang luar biasa, menahan emosinya buat rencana yang sudah di persiapkan Willy, bikin mereka pada kapok. Untung aja semua udah di persiapin sebelum pernikahan itu terjadi, cuma akal-akalan Devi buat jebak Johan dan menguasai harta yang ia miliki. Devi pikir Johan gak tau apa-apa makanya masih ngerasa di atas langit ke tujuh, toh langitnya bakal ambruk bentar lagi. Bermain-main sedikit untuk membuatnya tau siapa yang ia lawan akan sedikit menyenangkan, ganjaran yang setimpal dengan apa yang dilakukannya untuk putri kesayangannya.
"Selamat datang Papi...."
Devi menyambut Johan dengan lembut dan penuh perhatian, tanpa diminta ia mengambil alih tas yang ada di tangan Johan untuk membawakannya.
"Dimana anak-anak?" Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.
"Sonia lagi belajar di taman belakang, kalo Sonya lagi bersihin badan."
Johan merasa jijik dengan topeng yang Devi kenakan, bersikap biasa-biasa aja setelah melakukan yang gak pantas di lakukan oleh seorang ibu. "Lalu Ella?"
Devi tampak terkejut Johan menanyakan Ella, segera ia menutupi dengan menggelayut manja di tangan suaminya itu. "Sejak Mommy pulang ke rumah Ella gak ada. Kata anak-anak dia keluar sama cowoknya. Biasa lah Papi anak remaja jalan bareng cowoknya." Tersenyum semanis mungkin, tapi sayang senyumnya palsu alias pake pemanis buatan.
"Udahlah, kan Papi capek baru pulang. Istirahat dulu gak usah mikirin anak-anak. Mereka udah besar bisa mikir yang mana yang baik buat mereka sendiri. Oh ya Papi, kenapa di rumah ini gak ada ART? Mommy gak terbiasa kalau harus mengerjakan semuanya pekerjaan sendiri." Sedikit merajuk.
"Ini sudah aturan dari rumah ini, ART yang datang cuma pagi dan pulang setelah semua kerjaan beres. Sisanya Ella yang urus. Karena sekarang kamu Nyonya di rumah ini jadi semua pekerjaan Ella kamu yang ambil alih."
Devi kaget dengernya, wajahnya syok banget.
Masak iya dia yang harus ngelakuin tugas semuanya?
"Kenapa? Keberatan?" Kata Johan yang melihat perubahan wajah mimik Devi.
"Sayang, aku gak biasa ngerjain semua ini. Saat alm suami aku masih hidup semua di rumah kami di kerjakan oleh ART, bahkan kami memiliki beberapa ART dengan tugas mereka masing-masing. Ada koki yang khusus menyiapkan makanan setiap harinya."
"Kamu tau tugas seorang istri?" Menatap tajam ke arah Devi.
"Melayani keperluan suami dan anak-anaknya." Katanya lirih dan ragu.
"Dalam hal ini, Ella, Sonia dan Sonya itu siapa?"
"Anak..."
"Istri dan Ibu dari mereka?"
"Aku...." Devi terjebak pertanyaan dari Johan yang menyudutkannya, membuatnya tak bisa berkutik sama sekali kali ini.
"Lakukan, kalau kamu gak bisa melakukannya aku akan menjadikan ART sebagai istri kedua ku. paham?" Johan memberikan penekanan pada setiap kalimatnya agar Devi dapat mencernanya.
"I-Iya...."
"Sekarang siapkan air hangat untuk mandi dan buatkan teh tawar, setiap aku pulang kerja Ella akan melakukannya. Aku terbiasa makan masakan rumahan, bukan masakan luaran jadi setelah ini masak untuk makan malam." Johan berlalu dari hadapan Devi dengan senyum tipis.
Devi masih diam mematung di tempatnya tak bergeming, masih syok dengan peraturan rumah ini. Tau gini dia gak ngusir Ella, biarin tu anak ngelakuin tugasnya dan membebaskannya dari serentetan tugas seorang istri.
"Aku mencari seorang istri, bukan mesin penghambur uang." Katanya sebelum masuk ke dalam kamar.
Devi terduduk lemas, semua jauh dari rencananya awal yang ingin hidup nyaman dan bersenang-senang di rumah ini tanpa bersusah payah. "Sabar.... Kalau udah dalam genggaman buang aja johan ke jalanan." Katanya menyemangati dirinya sendiri.
"Sonia?" Panggilnya saat melihat Sonia tak jauh darinya.
"Iya Mommy?"
"Gimana sih caranya masak?"
"Hah? Mommy beneran mau masak?" Agak kaget dengernya, selama jadi anaknya Sonia gak pernah liat Mommy nya masak.
"Johan br*ngsek suruh Momy masak, tadi suruh Mommy nyiapim air hangat buat mandi sama bikin teh tawar. Liat tangan Mommy melepuh kena cipratan air panas." Menunjukkan tangannya yang memerah.
"Iya, Ella pernah cerita sama Sonia kalau di rumah ini semua pekerjaan dia yang kerjain. Kan sebelum Mommy ngusir dia sudah Sonia bilang kalau entar Mommy nyesel. Tu kan Mommy gak mau denger gini deh akibatnya."
"Hush! Jangan kebanyakan ceramah, bantuin Mommy masak cepetan."
Sonia tertawa geli melihatnya, sebenarnya ia tahu ini semua rencana Ella dan Willy, ia menyetujui untuk memberi pelajaran untuk Mommy dan Sonya yang udah keterlaluan.
"It's oke Mom, nasinya udah ada tinggal kita bikin lauk." Memeriksa pemanas nasi. Sonia membuka kulkas, untungnya tu kulkas terisi penuh. "Momy mau masak apa?"
Devi yang sama sekali gak ngerti soal masak cuma diam, bingung mau masak apa. "Terserah kamu..."
Sonia mengambil beberapa butir telur dari dalam sana. "Kita bikin telur goreng aja Mom, soalnya cuma ini yang Sonia bisa." Mengambil penggorengan dan minyak.
Ia meletakkan penggorengan di atas kompor, menyalakan dan menuangkan minyak itu.
"Mommy liat tadi pas Sonia nyalain kompornya?"
Devi mengangguk, memperhatikan apa yang di lakukan anaknya itu dari awal. Sonia memecah telur itu dengan pisau dan menggorengnya di atas minyak yang udah panas.
Johan yang tak sengaja lewat melihatnya, ia berjalan ke arah dapur. "Sonia, kesini?" Memanggil Sonia.
Sonia mengangguk dan menyerahkan spatula ke tangan Mommy nya. "Jangan lupa kasih garam, di balik kalo satu sisinya udah matang ya Mom biar gak gosong. Sonia di panggil sama Papi." Katanya gak berdosa melihat wajah Mommy nya yang udah mau nangis.
Johan mengusap lembut Kepala Sonia yang datang. "Temeni Papa ke ruang kerja, jangan ganggu Mommy kamu." Katanya tersenyum penuh arti.
Devi benar-benar merasa putus asa, frustasi di depan penggorengan. Mau nangis tapi gak bisa, mau teriak juga gak bisa, mau marah tapi marah sama siapa?
********
Jangan lupa Like sama Votenya ya ...
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Biar Authornya tambah semangat lagi
Terimakasih buat dukungan dan partisipasi kalian
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘