Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Kebenaran


Rega melihat Nenek berbaring di tempat tidur dengan mata tertutup, tak ada tanda-tanda bahwa akan sadar. Bahkan semua orang tampak murung dan sedih, dokter Handoko tak memberikan penjelasan apa pun dengan keadaan Nenek yang bikin Rega tampak khawatir. Selama ini Wanita tua itu begitu sehat dan lincah, tak pernah terlihat gejala yang aneh pada kesehatannya selain penyakit tua yang berhubungan dengan encok pegel linu.


Apa mungkin semua ini berhubungan dengam Agnes?


Apakah Nenek sudah tau kebenarannya hingga Nenek yang dari dulu menyayangi Agnes itu merasa syok dan tak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya tentang apa yang Agnes lakukan selama ini. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak Rega yang tentu saja akan terjawab saat Nenek siuman nanti dan semoga itu tak akan lama.


Ella yang merasa kewalahan mengikuti langkah kaki panjang Rega itu selama di koridor menyandarkan badannya di tembok, nafasnya udah ngos-ngosan. Tu cowok gak kira-kira narik tangannya sambil jalan cepet banget yang bagi Ella itu udah setengah berlari. Mana gak mau lepas lagi padahal udah berapa kali narik tangannya biar di lepasin.


"Nek, ngapain Nenek betah banget tidur. Lagian ya Nek kao Nenek kayak gini Nenek gak bakalan bisa marahin sama mukul Rega lagi," Memegangi tangan tua Nenek yang kulitnya udah kendor. "Katanya Nenek mau liat menantu cucu Nenek? Giliran datang malah Nenek tidur."


Ella yang masih ngatur pernafasan dari tadi itu yang sandaran di tembok akhirnya mendekati Nenek atas permintaan Rega, ia duduk dan memegangi tangan tua itu. Hari ini banyak hal yang di lalui cewek bertubuh mungil tersebut yang menguras berbagai macam ekspresi dan tenaga.


"Lo tunggu disini, gue mau keluat ada yang mau gue omongin sama Pak Wendi."


Ella mengiyakan dengan anggukan kepala pelan.


"Pak." Rega melenggang dan membuka pintu.


Pak Wendi yang mengerti maksud dari Tuan mudanya itu keluar mengukutinya tanpa bertanya apa pun karena ia tahu apa yang akan mereka bicarakan.


"Apa yang terjadi?" Rega duduk di sofa yang berada di koridor rumah sakit, meskipun berada di koridor tapi sangat sepi. Tak ada orang yang lalu lalang kecuali para perawat dan dokter, karena lantai ini khusus untuk melayani orang-orang yang menjadi keluarga Mahendra saja dan tidak di buka untuk umum hingga Rega merasa aman membicarakan apa pun disini. Hanya ada beberapa bodyguard yang telah di latih untuk mata mereka tidak melihat apa yang seharusnya tidak mereka lihat serta telinga yang tidak akan mendengar apa yang mereka dengar dan mulut yang tak akan bicara bila itu bukan urusan mereka. Wajah mereka tampak datar tanpa ekspresi meski apa pun yang terjadi, semua itu syarat mutlak untuk menjadi bodyguard yang melayani keluarga Mahendra. Untuk mereka yang melanggar dan menyebarkan informasi akan ada konsekuensi yang tak akan pernah bisa mereka bayangkan, karena keselamatan keluarga mereka yang menjadi jaminannya.


"Maaf Tuan muda, itu semua karena kelalaian saya hingga Nyonya besar seperti ini." Pak Wendi membungkuk meminta maaf dengan apa yang telah ia lakukan.


"Pak, aku telah menganggap Bapak seperti keluarga sendiri jadi Bapak gak perlu minta maaf buat sesuatu yang jelas-jelas bukan kesalahan yang telah Bapak lakukan." Rega mengangkat bahu Pak Wendi dan membimbingnya untuk duduk, bagaimana pun ia menghormati Pak Wendi yang telah lama mengabdikan dirinya untuk keluarga Mahendra hingga beliau melajang sampai saat ini karena kesetiaannya. Semua orang tau bagaimana kesetiaan beliau...


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Rega yang menuntut jawaban atas apa yang terjadi pada Nenek. "Tadi Nenek sangat sehat," Menatap tajam kearah Pak Wendi yang tampak membeku.


"Itu..., Saat Tuan muda meninggalkan rumah bersama Nona Ella, Nyonya sempat beradu mulut dengan Nona Agnes. Saya tidak begitu yakin apa yang sedang Nyonya dan Nona bicarakan hingga akhirnya Nyonya begitu marah," Pak Wendi menghela nafas panjang, tampak wajah tuanya itu begitu muram dan sedih. "Hingga akhirnya Nona Agnes pergi dengan wajah merah karena marah. Saat itu, Nyonya memanggil saya dan memerintahkan untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi." Pak Wendi meluruskan punggunya dan melanjutkan omonganya, "Saat Nyonya mengetahui semua yang Nona Agnes lakukan, Nyonya sangat marah. Nyonya sama sekali tak mengira kalau Nona Agnes yang di lahirkan serta di besarkan dalam keluarga terpandang dan berpendidikan mampu melakukan hal yang sangat memalukan."


"Jadi, Nenek tau apa yang Agnes lakukan selama ini?"


Pak Wendi mengangguk mengiyakan, "Nyonya tau kalau Nona Agnes yang menjadi dalang hingga perjodohan yang telah beliau atur menjadi berantakan selama ini."


Rega dapat bernafas lega akhirnya Nenek tau yang sebenarnya tanpa harus mengatakan apa pun, walaupun Nenek sudah tua bukan berarti beliau dapat dengan mudah di bohongi dan di pengaruhi oleh orang lain. Tak ada yang tak dapat di lakukan wanita tua walau keterbatasan ruang geraknya, namun kaki tangannya yang lain dapat melakukan apa pun tanpa cela. Kalau cuma mencari informasi yang kayak gini tu gampang banget, yang lebih susah aja bisa di lakuin apa lagi cuma hal sepele gini.


"Nyonya sangat menyesal telah memperlakukan Tuan muda dan Nona Ella dengan tidak adil bahkan tidak mempercayai kalian berdua. Tiba-tiba Nyonya tak sadarkan diri dan kami membawanya kemari."


Agnes....


Ternyata benar semua ini adalah ulah dari wanita itu, wanita yang dari luar terlihat polos dan menyenangkan tapi ternyata memiliki sisi yang mengerikan di mana melakukan apa pun untuk mendapatkan yang dia inginkan. Untung aja Rega gak sempat di jodohkan sama tu cewek, kalo gak doi gak bakalan bisa lepas dari tentakelnya yang bakalan memeluk erat dan membelenggunya.


"Lalu? Sebenarnya Nenek sakit apa?"


"Itu..., Anda bisa bertanya langsung pada dokter Handoko yang menangani Nyonya secara langsung untuk lebih jelasnya. Beliau masih melakukan pemeriksaan keseluruhan dan hasilnya akan secepat mungkin di beritahukan setelah cek itu selesai." Kata Pak Wendi.


Rega menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, memejankan matanya sebentar untuk menetrlakan perasaannya saat ini. Baru tadi ia membawa Ella yang telah menjadi tunangannya untuk ia kenalkan kepada Nenek secara resmi, dan semua ini kacau akibat kedatangan Agnes yang bikin semuanya berantakan. Rega pikir setelah mendapatkan hati Ella semua akan berjalan dengan lancar, tapi malah sebaliknya jadi berantakan. Ia harus membereskan semua ini dengan segera sebelum terjadi masalah lainnya. iya Yun, orang yang dapat ia percaya....


Akh!


Rega baru ingat kalu ia meninggalkan Yun gitu aja buat ngatar mobil ke titik kordinat yang ia kirim. Lupa kasih tau kalo ia gak ada disana lagi langsung ke rumah sakit liat keadaan Nenek.


23 panggilan tak terjawab yang semuanya dari sekertaris supernya itu. Rega menelpon balik setelah melihatnya, Kasian anak orang di telantarin gitu aja di pinggir jalan.


"Yun, lo dimana?" Katanya saat terhubung dan mendengar suara Yun.


"Gue ada di tempat yang lo kirim, tapi gue tunggu dari tadi lo gak nongol-nongol mana Hp lo gal bisa gue hubungi dari tadi."


"Sorry, gue di rumah sakit. Tadi orang rumah telpon gue kalo Nenek pingsan, jadi gue langsung meluncur kesini dan lupa ngasih tau lo."


"Gimana keadaan Nenek?" Yun merasa khawatir saat mendengar Nenek yang biasanya lincah itu tiba-tiba sakit.


"Masih belum sadar, bereskan masalah Agnes secepatnya. Gue takut kalo dia bakal bikin ulah lagi."


"Gue tau, sekarang gue ke rumah sakit. Urusan kantor dan kerjaan biar gue yang ambil alih. Ibu juga pengen ketemu sama calon menantunya,"


"Lo ngomong apaan sama ibu?"


"Kalo lo mau melepas masa lajang dn nikagin anakndi bawah umur." Yun tertawa kecil saat mengucapkannya.


"Sialan lo!" Umpat Rega.