
Dalam episode kali ini author nulisnya panjang banget yach...
Sebenarnya untuk dua episode tapi author bikin jadi satu episode aja biar menghemat tempat dan gak nambah-nambahin judul sampek lebih 4000 kata yang jadi pemecah rekor buat episode-episode sebelumnya yang maksimal aku tulis itu 3000-an kata doang lo guys.... Tapi gak langsing-langsing jari-jari author senam jari buat nulis tiap hari.
Yang suka baperan mungkin kali ini bakal kebawa suasana, apa lagi kalo baca dalam keadaan sepi dan mendalami banget ceritanya bisa-bisa langsung terharu biru sama kebaikan-kebaikan ella hingga mendapatkan gelar Cinderella dari orang-orang terdekatnya. Jadi yang suka baper siap-siap buat nyediain tissu kali aja ada yang hujan, tapi jangan sampek banjir ya...
Kenapa sih author Up nya pas malam-malam kayak gini terus?
Soalnya Author punya waktunya malam buat nyelesai-in naskah, sebenarnya itu pas nulis mulai mata author melek alias pagi, di lanjutin pas ada waktu luang di sela-sela tugas negara dan tugas dadakan sebagai guru buat anak. Tapi gak maksimal juga sih waktunya karena harus ngerjain ini dan itu, buat emak-emak pasti tau lah gimana rasanya jadi wonder woman di rumah itu yang nikmatnya gak tertandingi dari bangun tidur sampek tidur lagi dan akhirnya buat nyelesai-in dan menyempurnakan naskahnya pas malam waktu anak udah pada tidur. Makanya kadang tulisan autor itu ada nyelip-nyelip huruf yang gak ada pada tempatnya karena alasan di atas tadi. Jadi harap maklum buat Author yang kurang aqua dan malah jadi gagal fokus gitu... 😂😂😂
*******
Arum yang tadi mulutnya udah berbuih dan berkoar-koar sok paling cakep, cantik dan paling endol sejagad raya langsung diam seribu bahasa tanpa bisa mengatakan apa-apa. Apa lagi abang yang di gadang-gadang bakal jadi tameng pelindungnya malah gak bisa ngapa-ngapain dan cuma pasrah-pasrah aja yang nambah Arum makin mati gaya dan mati akal. Itu lah akibat orang yang kalo ngomong gak mikir dan seenaknya sendiri, karena dunia udah tua jadi gak usah nunggu lama karma langsung berlaku.
"Saya menyerahkan sepenuhnya apa yang menurut anda benar nyonya, apa bila adik saya memang bersalah maka hukum akan bertindak dengan semestinya. Sebagai seorang Kakak dan aparat saya tidak akan melindungi orang yang bersalah dan menutup mata walau pun itu adik atau keluarga saya sendiri." Kata Saif dengan tegas tanpa terlihat keraguan di dalam matanya. "Saya juga meminta maaf kepada anda dengan apa yang telah adik saya lakukan, saya benar-benar merasa malu dengan apa yang telah ia lakukan kepada anda. Sebagai seorang kakak saya telah gagal mendidik adik saya sendiri dan itu menjadi aebuah pelajaran berharaga yang saya dapatkan hari ini. Sekali lagi saya minta maaf." Saif menundukkan badannya sangat dalam, hanya ini yang bisa ia lakukan karena mau apa lagi semua udah terlanjur terjadi dan gak bisa buat mengulang. Masih untung pimpinannya itu tidak memecat atau memberilan sanksi untuknya, sikap bijak yang tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan membuat Saif merasa kagum. Seandainya iya dalam posisi beliau mungkin ia tidak bisa selapang itu memberi maaf. "Saya akan menyuruh teman saya membawa adik saya ke kantor untuk di mintai keterangan dan mempertanggunga jawabkan apa yang telah ia lakukan." Saif memberikan kode pada temannya untuk membawa Arum pergi sebelum membuat keonaran lainnya beserta bukti yang telah ada, ajudan pimpinannya itu adalah teman satu angkatan dengannya.
"Abang...," Rengek Arum meminta perlindungan yang sia-sia karena abangnya itu mengacuhkan bahkan tak memandangnya sedikit pun.
"Bagus lah kalau anda bisa menerima dan mengerti, sekarang bangunlah. Kita makan malam sama-sama. Ngobrol santai sebagai sesama teman dan anggap aja masalah yang tadi terjadi udah berlalu." Kata Ella dengan mempersilahkan Saif duduk bergabung, melihat cowok itu tampak ragu Ella berdiri dan menarik tangannya. "Mas Saif, kita sebagai sesama manusia tidak ada salahnya untuk duduk bersama dan menjalin tali silaturrahmi."
Saif mengangkat wajahnya, ia melihat wanita yang hanya sebahunya itu tersenyum ke arahnya dengan tatapan mata hangat bersahabat. Kali pertama bagi Saif mendapatkan perhatian yang membuat hatinya tersentuh, setelah apa yang Arum lakukan masih saja wanita itu mengulurkan tangan sebagai seorang teman dan tidak melibatkan dalam masalah besar yang telah Arum sebabkan.
"Terimakasih atas kebaikan nyonya." Kata Saif lagi dengan duduk di samping atasannya, walau ia merasa canggung namun berusaha untuk membuatnya menjadi lebih nyaman.
Farih yang merasa penasaran akhirnya beneran ikut Alfin buat ngantar pesanan makanan sang sultan, semua pegawai bersuka ria dapat makanan gratis hari ini. Makanan mahal yang cuma bisa mereka lihat dan cium dan itu pun gak setiap hari karena harga yang bikin kantong menangis bagi orang awam jadi hanya orang-orang tertentu yang mampu beli dan menikmatinya tapi ini malah pesen sebanyak itu dan di bagikan secara cuma-cuma buat pegawai cafe, siapa coba yang gak seneng sekaligus meringis. Jiwa hemat dsn lumayan langsung bergejolak, duit segitu lumayan buat beli ini, buat bayar ini dan buat ini dan itu lainnya. Karena pesanan yang lumayan banyak akhirnya mereka membawakannya secara bertahap, gak bisa sekaligus gitu. Yang paling semangat adalah Farih, mau ketemu super woman yang tajir banget dan baik hati.
Alfin cuma senyum sambil geleng-geleng kepala liat Farih yang udah mau nemenin istri lahiran, keliatan banget tegang tapi juga seneng. Wajar aja sih Farih kayak gitu lagian kan kartu yang jarang banget muncul yang mungkin kemunculannya hanya ada dalam legenda itu bikin semua orang penasaran, membayangkan gimana orang yang megang tu kartu. Tapi bayangan Farih gak sesuai sama yang di harapkan, setidaknya sih gitu pikiran Alfin. "Nyonya, ini bon dan uang anda." Katanya dengan meletakkan amplop di atas meja.
Aih?
Nyonya?
Cewek itu yang pegang kartu itu?
Farih mengerjapkan matanya beberapa kali biar lebih pasti dan jelas lagi liatnya, jauh atau mungkin juauh banget sama apa yang ia bayangkan dan pikirkan. Dalam imanjiasi Farih itu sosok cewek cantik, tinggi, ramping, seksi, glamour dan pokoknya wah gitu lah kalo mau di sandingkan sekelas sama Rosie Huntington - Whiteley, pemeran Carly Spencer di film Transformer yang berparan sebagai kekasih Sam di film ketiga yaitu Transformers: Dark of the Moon. (Kali ini Author pakek jasa googling ya, soalnya gak hapal namanya tapi ingat gitu muka dan badannya yang bikin author sedikit merasa gimana sebagai sesama wanita 😂, apa lagi cowok yang sesama cewek aja langsung deg deg ser...). Tapi yang ia dapatkan dan liat seorang wanita mungil, perutnya yang buncit dan pakek daster serta rambut yang di ikat tinggi dengan sandal rumah doraemon gitu. Tuh kan jauh banget sama bayangan Farih sebelum dan sesudah liatnya. Walau tu cowok akui kalo calon emak di depannya itu sangat cantik dan manis, memiliki kulit wajah yang mulus tanpa noda dan sorot mata yang teduh bikin setiap orang yang liat langsung ngerasa nyaman dan damai.
"Iya Mas Alfin, makasih ya..." Kata Ella tersenyum, "Udah di bagi sama yang lainnya?"
"Udah nyonya, mereka bilang terimakasig buat makan malam yang nyonya kasih. Semoga nyonya sehat, panjang umur mirah rejeki dan semua kebaikan yang ada menghampiri nyonya." Kata Alfin yang tulus mendoakan wanita di depannya yang udah bak malaikat untuknya itu.
"Amin..., Makasih ya mas Alfin atas doanya."
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Sekali lagi terimakasih atas traktiran nyonya malam ini, semoga nyonya menyukai hidangan cafe kami dan kembali lagi lain waktu." Alfin menundukkan kepalanya sedikit, memberikan hormat dan sebagai ungkapan rasa terimakasihnya untuk orang yang sangat langka di temukan saat ini.
"Tentu, mungkin lain kali saat aku kesini bakal mampir ke cafe lagi."
Ella mempersilahkan semua orang untuk menyantap makan malam yang telah ia pesan, karena gak lagi di rumah terpaksa ia memesan makanan dan makan di dalam butik dengan ala kadarnya. Lagian gak mungkin ia membiarkan tamu tanpa jamuan apa pun, "Maaf ya Pak Bagus kalau saya hanya bisa menjamu anda seperti ini."
"Tidak apa-apa nyonya, saya juga merasa sangat senang bisa makan malam bersama anda."
Ella berjalan ke arah Anisa yang duduk agak di belakang, "Nis, tolong kamu bungkuskan enam tas paling bagus di butik dan empat jam tangan laki-laki keluaran terbaru." katanya pada Anisa dengan memberikan kartu sakti milik Yun. Maaf ya Yun, gue bakal mempergunakan niat baik lo. Anggap aja sedekah kali ini. Batinnya sambil tersenyum jahat.
Mata Anisa beberapa kali merem melek dengernya, lima tas dan empat jam tangan itu harganya wow banget. Bisa buat bangun bedakan berpuluh-puluh pintu atau mungkin beratus-ratus pintu banyaknya, "Serius mbak Ella? Tapi harganya itu banyak banget lo mbak kalo di rupiahkan, cuma untuk satu tas sedangkan ini ada enam tas dan empat jam tangan." Katanya lagi yang serasa sesak saat menarik uang sebanyak itu. "Satu tas itu antara 1 M sampek 2 M dan jam tangannya itu sekitaran 500 juta sampek 3 M mbak." Kata Anisa yang menjelaskan harga-harga yang sesuai harga penjualan seperti biasanya.
"Iya serius lah..., Bungkus yang rapi dan cantik buat kado spesial untuk orang-orang yang spesial. Sekalian kartu ucapan terimakasih yang pakek kata-kata menyentuh. Bagi aku uang yang gak seberapa ga sebanding dengan apa yang mereka lakukan buat aku dan keuarga aku. Kamu tau Nis, orang pelit rejekinya seret. He he he he he..." Kata Ella dengan tertawa kecil, Mau berapa pun harganya emang gue pikirin itu kan bukan duit gue. Siapa suruh nitipin barang kayak gitu buat gue, tentu aja lah bakal gue pakek sebaik mungkin kok Yun dan semoga rejeki lo gak seret karena udah ngeluarin uang banyak malam ini buat nyenengin hati orang lain. "Buat tas kamu pilih sekiran 1 M ya dan jam tanganya juga sama, bungkuskan satu jam tangan yang paling mahal di sini dan bedain bungkusnya di bandingkan yang lain." Katanya lagi, tentu aja Ella gak bakal lupa buat beliin Yun satu jam tangan yang paling bagus dan mahal buat dia, pakek duit dia sendiri biar marahnya gak terlalu meledak-ledak. "Yang paling mahal jamnya itu kamu simpan dulu."
"Baik mbak, saya akan bungkuskan sebentar lagi. Mbak tunggu aja dulu sebentar." Kata Anisa beranjak, pergi ke gudang penyimpanan barang butik. Kebetulan tadi siang ada barang yang baru datang dan belum sempat di pajang di etalase toko. Anisa menatap kartu berwarna hitam yang ada di tangannya itu, Ternyata orang kaya yang bener-bener kaya gak kw itu keren banget.... Ngasih hadiah semahal itu gak sayang buat orang lain. Batin Anisa sambil melangkah menuju gudang, memilih tas dan jam tangan yang di maksud.
"Maaf ya udah ninggalin bentar." Kata Ella kembali duduk menemani para tamunya.
********
Anisa membungkus tas mahal dengan hati-hati, meng*lusnya lembut. Buat barang semahal ini cuma bisa megang dan liat doang, biar nabung seumur hidup gak bakal bisa buat beli. Walau kerja di tempat barang-barang mewah tapi Anisa gak ada satu pun beli dan punya, lebih baik beli di kaki lima yang lebih murah dan jauh lebih murah di bandingkan barang-barang yang di jual di tempatnya bekerja ini. Kalo harganya mahal kualitasnya emang beda, siapa sih yang gak pengen nenteng kamu tapi kalo harus ngeluarin uang sebanyak gitu buat bisa memilikimu gak mungkin. Mending buat beli rumah yang bisa buat tinggal, kalo aku beli kamu emang bisa apa aku tinggal di dalam ruang sempit yang cuma muat telapak kaki doang dan itu pun cuma sebelah. Batin Anisa sambil membungkus. Mengusap jam tangan yang gagah dan berkilau itu secara hati-hati, pantes aja kaum adam kalo pakai jam tangan kayak gini langsung keliatan gagah. Harganya aja mahal banget yang bikin syok seketika, Keren sih, bisa buat beli mobil ini. Bisa di naiki biar gak kepanasan dan kehujanan, kalo naikin kamu malah gak bisa kemana-mana. Setelah semua terbungkus dengan rapi di dalam kotaknya masing-masing Anisa membawanya keluar secara bertahap, meletakkannya di atas etalase secara berjejer rapi dan melakukan pembayaran dengan kartu yang nonya muda itu berikan. Nominal yang harus di bayar untuk sembilan barang yang berjejer rapi itu adalah 16,5 milyar, angka fantastis yang membuat rumah susun langsung runtuh. 16,5 milyar cuma buat enam tas dan empat jam tangan, kalo buat beli kebun dan tanah perumahan di kampung itu udah dapet seukuran satu Rt. Ya Tuhan... Orang kaya ngeluarin uang sebanyak gini santai-satai aja, lah gue yang gesek aja sampek sesak tal berdaya. Cewek manis itu menandatangani nota untuk pembayaran semua barang yang sudah di beli. "Mbak Ella, ini nota dan kartu anda." Meletakkan di dekat tangan nyonya muda tersebut.
"Tolong ya mbak Anisa bagi tiga jam untuk setiap laki-laki di sini dan tas untuk wanita yang ada di sini. Satu lagi buat istri Pak Bagus dan Pak Harun jadi mbak letakin satu jam tangan dan satu tas di depan mereka."
Anisa membagikan sesuai perintah, meletakkan di atas meja masing-masing.
"Ini apa nyonya Ella?" Tanya Harun saat sebuah kotak terbungkus rapi dan cantik berada di depannya.
"Benar nyonya, maksud anda apa?" Tanya bagus yang gak kalah kaget.
"Nyonya Ella? Saif pun ikut angkat bicara.
Ella hanya tersenyum menanggapi semua pertanyaan yang sama aja dari setiap orang.
"Nyonya Ella, ini buat saya?" Rania menunjuk kotak di depannya, kotak yang sangat cantik yang di bawa dari dalam butik yang ia yakini salah satu barang yang di jual di butik ini.
"Gue juga kebagian nih?" Anggun menepuk kotak yang menjadi miliknya.
Saat semua mendapatkan bingkisan yang di bungkus Anisa kembali duduk di tempatnya semula.
"Loh mbak Anis? Kenapa di taruh disini?" Tanya Ella saat Anisa meletakkan satu kotak bingkisan mewah di depannya.
"Tadi mbak bilang satu orang satu bingkisan kan jadi saya meletakkan seperti yang anda katakan." Katanya bingung, Gue salah ya? Kan gak ada lagi di sini orang lain.
Ella tersenyum mendapatkan jawaban polos tersebut, mengambil dan meletakkan di depan Anisa dengan mengedipkan sebelah matanya. "Buat kamu." katanya pelan.
Ella berdiri dan menghadap ke arah para tamunya, untuk menjawab dan memberi penjelasan kepada mereka semua. "Bingkisan yang ada di depan kalian semua itu adalah sebagai rasa terimakasih saya buat kalian semua. Bingkisan sederhana yang jika di bandingkan dengan apa yang kalian lakukan gak sebanding dan gak ada artinya." Ella tersenyum, memutar badannya ke arah Anggun, " Buat Kak Anggun, terimakasih karena udah jadi seorang Kakak dan teman yang baik buat aku selama ini. Bisa kenal dan dekat sama Kakak merupakan salah satu kado terindah yang Tuhan kasih buat aku. Aku harap untuk selamanya kita akan menjadi saudara, menjadi Kakak buat aku."
Anggun sampai mau nangis dengernya, ternyata Ella menganggapnya bukan hanya sekedar teman dan mengakui bahwa ia adalah saudara walau saudara bukan sedarah. "Tentu aja, sampai kapan pun kita akan menjadi adik kakak yang selalu bahagia." Balas Anggun dengan mata berbinar-binar haru dan memeluk Ella dengan penuh kasih sayang, dapat adik cantik, manis dan baik siapa sih yang gak mau... Dan Anggun merasa beruntung banget udah ketemu dan bisa jadi saudara buat Ella.
"Untuk Pak Harun, terimakasih karena selama ini anda telah bekerja keras untuk membesarkan mall ini. Satu lagi untuk istri anda yang sudah mau bersabar dan mau membagi waktu beliau saat anda harus lembur dan mungkin mengorbankan waktu berharga anda untuk keluarga. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih secara pribadi dan mewakili suami saya, anda tidak harus menyerahkan surat pengunduran diri seperti yang anda katakan tadi karena saya akan sangat kehilangan dan merasa bersalah apa bila anda melakukannya." Ella menundukkan kepalanya sedikit, memberikan rasa hormat dan terimaksih pada orang yang sangat berjasa di mall ini. Sejak awal berdiri beliau telah bekerja dan membuat mall ini menjadi maju dengan sangat pesat, bahkan hadiah yang ia berikan Ella rasa belum cukup untuk mengungkapkna rasa terimakasih atas apa yang telah beliau lakukan. "Terimakasih telah menjadi bagian dari kami selama ini."
Harun yang gak bakal nyangka mendapatkan penghargaan dan sanjungan dari nyonya muda itu sampai meneteskan air mata, tangannya perlahan menyapu cairan bening yang mengalir di ujung matanya dengan perasaan haru luar biasa. Belasan tahun ia bekerja di tempat ini sudah banyak yang ia dapatkan, hadiah-hadiah yang telah ia terima dan berbagai macam kata-kata yang membuat Harun menjadi sangat di hargai sebagai seorang bawahan. Orang terpandang dan terhormat menundukkan kepala kepadanya di depan orang lain hanya untuk menghormati dan menunjukkan rasa terimakasih. Harun berdiri dan menundukkan badannya dalam-dalam dengan berlinang air mata, jauh di dalam hatinya ia berjanji akan mengabdikan dirinya untuk keluarga Mahendra dan melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan. "Terimakasih nyonya, terimakasih banyak atas apa yang anda lakukan. Saya merasa sangat tersanjung dan saya...," Katanya kehabisan kata-kata mengungkapkan perasaannya saat ini. Moment yang mampu membuat air matanya mengalir setelah kelahiran anaknya dan itu telah terjadi belasan tahun silam.
Ella berjalan mendekati laki-laki yang telah berjasa kepada perusahaan, menyentuh bahunya dan tersenyum saat beliau mengangkat Wajahnya. "Maaf pak kalau hari ini udah bikin bapak kaget dan susah."
"Tidak nyonya, seharusnya saya yang mengatakan semua itu mengingat apa yang telah keponakan saya lakukan terhadap anda."
Kini Ella berdiri mengahadap Pak Bagus yang ada di samping Pak Harun, "Pak Bagus, bingkisan kecil ini saya berikan sebagai tanda perkenalan diri saya kepada anda. Selama ini anda menjadi teman baik Ayah mertua dan suami saya namun saya belum secara resmi mengunjungi dan memperkenalkan diri kepada anda dan keluarga sampai saya mengganggu dan meminta waktu anda datang malam-malam seperti ini. Sampaikan permintaan maaf kepada istri anda bahwa saya belum bisa berkunjung ke rumah kalian, mungkin lain waktu saya akan mampir dan merepotkan kalian semua." Ella menundukkan kepalanya.
Bagus benar-benar merasa kagum dengan menantu sahabatnya itu, wanita yang sangat luar biasa yang ia temui. Pantas saja Mahendra selalu memuji menantu cantiknya itu dengan pujian-pujian yang membuat menantu mana pun merasa iri dan pujian itu ternyata memang gak salah. Gadis manis dari keluarga terhormat dan terpandang memiliki sesuatu yang sangat istimewa, dengan tingkah laku dan tutur katanya mampu merangkul dan membuat orang lain tersihir, menyerahkan kesetiaan mereka tanpa paksaan bahkan dengan suka rela kepada wanita muda tersebut. "Boleh kah paman memelukmu? Paman telah menganggap Rega sebagai anak paman sendiri dan usiamu sepertinya tak jauh berbeda dengan putri paman di rumah." Katanya dengan mengelus rambut menantu sahabatnya itu.
"Tentu saja, saya merasa sangat tersanjung."
Bagus memeluk hangat wanita cerdas itu, mengusap rambutnya dan menciumnya. "Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu bersamamu anakku, paman berdoa kelak anak yang kamu lahirkan menjadi anak-anak yang membuat semua orang bangga dan bahagia seperti kamu dan juga Rega. Paman akan selalu mendoakan kalian," Melepaskan pelukannya dan tersenyum hangat layaknya, seorang Ayah yang memeluk anaknya. "Mampirlah kapan pun kamu mau, paman dan bibi pasti akan sangat senang menyambut kalian dan juga cucu kami." Mengelus perut Ella pelan, dimana ada janin yang akan menjadi penerus keluarga Mahendra yang Bagus yakin akan sehebat kedua orang tuanya. "Mahendra sangat beruntung memiliki menantu sebaik dan secantik kamu, bahkan paman sangat iri."
"Terimakasih paman..." Jawab Ella dengan tersenyum. "Paman terlalu memuji membuat saya sangat malu." Kini giliran Ella menghadap ke arah Saif yang sejak tadi hanya diam.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa menerima hadiah dan kebaikan anda." Katanya langsung saat melihat nyonya muda itu berdiri ke arahnya, melihat apa yang telah terjadi ia merasa sangat malu di bandingkan tadi. Kini rasa malunya beribu-ribu kali lipat jika mengingat apa yang Arum lakukan kepada orang ini.
"Mas Saif ngomong apaan sih? Jangan bikin aku gak enak gitu. Masa yang lain di kasih mas enggak?" Kata Ella mencairkan suasana, "Hadiah ini aku kasih buat mas Saif karena mas itu orangnya baik banget, jarang lo ada orang kayak mas yang menegakkan keadilan seadil-adilnya denga apa yang mas perlihatkan hari ini. Dari apa yang mas lakukan aku belajar satu pelajaran yang sangat berharga, kesalahan itu gak bisa di beli dengan apa pun di dunia, dengan uang, kedudukan bahkan dengan ikatan keluarga. Mas, aku benar-benar salut buat Mas yang bersikap sangat adil dan bijaksana dalam menyikapi semua ini dan aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dan makan bareng mas di sini, terimakasih ya mas buat semuanya. Pasti Ibu mas merasa bangga punya putra sebaik dan setampan mas." Kata Ella dengan tersenyum, "Jadi aku harap semoga semakin banyak orang yang punya sikap dan sifat kayak mas biar keadilan di muka ini bisa di tegakkan dengan baik." Ya elah Ella... ngomongnya udah kayak semboyan para hero tokoh kartun anak-anak (Menegakkan keadilan di muka bumi dan memberantas kejahatan yang di lakukan alien atau monster gitu sih biasanya.)
Saif menegakkan badannya memberikan hormat kepada nyonya muda yang memiliki hati lebih putih di bandingkan kapas tersebut, "Nyonya, kapan pun anda memerlukan saya maka saya siap datang dan melayani anda."
"Terimakasih atas tawarannya, lain kali kalo ada keperluan pasti aku bakal cari mas Saif buat minta tolong."
Kini giliran Rania yang udah dari tadi nahan-nahan biar gak mewek tapi akhirnya gak bisa juga, pas nyonya mudanya itu berjalan ke arahnya ia langsung berdiri dan menghambur untuk memeluknya. Rasa kagum dan bangga yang ia rasakan itu gak bisa di ungkapkan lewat kata-kata dan ekspresi lainnya selain datang dan memeluknya erat.
"Kamu apaan sih Ran?" Kaget pas di peluk dadakan kayak gitu pakek acara nangis segala.
"Udah nyonya gak usah ngomong apa-apa, saya hanya ingin memeluk nyonya sebentar saja sebagai ungkapan rasa bangga saya kepada nyonya."
Anisa yang merasakan hal sama dengan apa yang Rania rasakan berjalan dan memeluk mereka berdua, rasanya itu sangat terharu dan kekaguman yang ia dapatkan udah setinggi langit. "Mbak Ella, aku seneng banget bisa ketemu orang sebaik mbak. Aku bangga bisa kerja di sini buat mbak, dan aku bakal kerja sebaik mungkin buat bikin butik ini semakin maju."
"Kalian apaan sih?" Kata Ella yang mulai merasa sesak di peluk dua orang sekaligus, "Pakek acara nangis masal lagi. Udah dong aku sesak nih gak bisa nafas." Langsung mujarab kata-kata yang Ella katakan, buktinya mereka berdua langsung melepaskan pelukan dan mundur untuk membuat jarak di antara mereka.
"Maaf mbak, refleks." Kata Anisa dengan menyapu air mata dengan telapak tangannya. "Habisnya aku seneng banget bisa ketemu dan kenal orang sebaik mbak Ella yang punya hati lebih putih di bandingkan kapas."
"Iya, saya juga sama. Bisa melayani dan menjaga anda dan tuan Rega menjadi kebanggan tersendiri."
"Ya ampun... Kalian berdua bikin kepala aku tambah gede, udah gak usah ngomong yang manis-manis gitu entar aku jadi diabetes nih denger rayuan kalian berdua..."
"Yang diabetes itu kami mbak, liat muka dan hati mbak yang manis itu. Mbak itu persis banget kayak tokoh cinderella yang ada dalam dongeng, seorang wanita cantik berhati baik dan di sukai semua orang. Bukan cuma persis malah mbak lebih keren loh, mulai hari ini aku bakal jadi fans berat mbak dan orang pertama yang berdiri di depan buat bilang ke semua orang betapa cantik dan baiknya pemilik mall ini, aku juga bakal ceritain ke anak-anak aku nanti." Kata Anisa dengan memegangi tangan bosnya tersebut.
"Betul apa yang mbak Anisa bilang, anda lebih keren di bandingkan Cinderella yang ada di dongeng dan saya juga akan mengatakan kebaikan-kebaikan anda kepada anak-anak saya kelak supaya mereka bisa mencontoh kebaikan yang anda lakukan."
Kali ini kepala Ella benar-benar jadi besar mendengar pujian dari Rania dan Anisa, "Kalian ngomong gitu pasti ada maunya kan?"
"Kalo bisa sih seumur hidup saya jadi asisten anda sebagai dokter nanti kalau anda pulang dan buka praktek atau di rumah sakit, atau jadi pengasuh anak nyonya juga gak pa-pa asalkan bisa deket dan bareng nyonya terus." Jawab Rania malu-malu ketahuan kalo ada maunya.
"Benar mbak, saya juga mau kerja di sini terus dan gak mau pindah kemana pun."
"Gimana nih Kak Anggun? Ada yang mau bantu ngasuh anak aku nih?" Ella melirik ke arah Anggun.
"Oke tu La, apa lagi basic Rania kan perawat jadi pas banget jadi pengasuh anak-anak kamu nanti selain jadi asiten pribadi kamu waktu Kerja." Kata Anggun menyetujui ide brilian tersebut.
"Entar aku omongin sama suami aku dulu, kalo dia, setuju aku bakal bawa kamu pulang dan ngurus surat-surat kepindahan kamh biar lebih enak."
"Makasih nyonya, semoga tuan menyetujuinya." Kata Rania yang seneng banget, gimana gak seneg kalo bakal dapat majikan yang super baik itu. Lagian selama ini impian Rania adalah bekerja dengan orang yang memiliki kebaikan hati yang bisa membuatnya yakin kalau ia adalah orang yang tepat untuk tempatnya mengabdi.
******
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...
- Labirin Cinta
- Kontrak Cinta 100 Hari
Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sama Votenya.
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.
Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....