Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Perasaan Willy dan Sonia


"Kakak kenapa?" Sonia memindahkan kepala Willy yang tadi di sandaran kursi mobil ke atas pangkuannya. Melihat intens wajah Willy yang saat ini tertidur dengan pulas, Rasanya sangat menyakitkan melihat orang yang kita cintai menjadi orang yang tak memiliki semangat hidup dan berkubang dengan kesedihan. Wajah yang biasanya tersenyum ceria dan selalu punya lelucon itu kini tampak sangat sedih, gurat-gurat kesedihan sangat nampak di wajahnya walau dalam keadaan tertidur. Tanpa sadar tangan Sonia membelai wajah tampan Willy dengan perasaan bercampur aduk, nama Ella yang selalu ia sebut dan itu membuat pertanyaan besar saat ini. Sonia terkesima saat Willy menahan tangannya yang ada di wajah laki-laki tampan itu, menariknya dan mengecupnya dengan lembut sebelum mengembalikan ketempatnya semula. Semburat merah muda terlihat di wajah Sonia, untungnya di dalam mobil cuma ada dia dan Willy kalo gak Sonia bakalan malu banget sampek ada yang liat. Perlakuan Willy yang hangat dan lembut itu membuat Sonia seperti terbang ke khayangan, membuat imajinasinya melambung tinggi untuk sesaat sebelum menyadari bahwa Willy saat ini menganggapnya orang lain bahkan posisinya adalah keponakan dari laki-laki yang ada di pangkuannya itu. Menyadari hal tersebut Sonia merasa sedih, seandainya tak ada ikatan seperti ini di antara ia dan Willy mungkin Sonia akan sedikit mudah dan nyaman mendekati Willy. Ada jarak di antara mereka yang harus Sonia perhitungkan sebelum ia bertindak.


"La, kamu tau kan kalo dari dulu perasaan aku gak pernah berubah? Hati aku cuma milik kamu, dan seharusnya hatimu untukku juga." Willy menatap nanar sosok yang dimatanya saat ini adalah bayangan Ella, Ella sedang memangku dan mengelus wajahnya lembut. Hal yang selama ini hanya ada dalam bayangan dan mimpinya saja dan kini menjadi kenyataan. "Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik, menjadi seperti saat ini hanya ingin menunjukkan pada dunia kalau aku, Willy sanggup dan pantas untuk bersamamu. Aku berjuang cuma untuk menjadikanku layak dan tak di pandamg sebelah mata oleh mereka..." Willy menggenggam tangan mungil yang ada di wajahnya dan mengusapnya lembut. "Saat pertama kali melihat gadis kecil yang menggemaskan itu, aku memiliki perasaan yang kuat untuk melindungimu sepenuh hatiku dan membuatmu tetap tersenyum apa pun yang terjadi, membahagiakan dan mengabulkan apa pun yang kamu inginkan. Kau tau, aku sangat bahagia saat kita bersama, tak ada yang lebih membahagiakan di bandingkan dengan masa yang telah kita lalui bersam dan kini menjadi kenangan kita. Kau tau, selama lima tahun ini aku memendam rindu yang sangat besar dan menahan diri. Aku menahan diri untuk memberikan kejelasan tentang perasaanku, aku ragu pada awalnya karena kita tumbuh bersama. Aku ragu kalau perasaan ini tumbuh karena hanya sebatas pwrasaan kasih sayang Kakak pada adiknya, aku ragu kalau semua ini hanya sebatas peeasaan yang tumbuh karena kebersamaan." Willy meringkuk, memeluk lututnya sendiri mencari kenyamanan dan kedamaian disana.


"La, selama ini aku ragu hingga akhirnya aku yakin perasaan ini murni sebagai perasaan laki-laki kepada wanita. Bukan perasaan kasih sayang Kakak terhadap adiknya, aku benar-benar mencintaimu sebagai laki-laki."


Sonia menutup mulutnya, menahan untuk tidak terpekik mendengar pengakuan Willy. Ia memegangi dadanya yang perlahan terasa sakit, perasaan yang entah apa itu karena baru kali ini Sonia merasakannya. Apakah yang Willy katakan itu adalah benar? Atau hanya ocehan yang tak berarti dari orang yang tengah mabuk?


"Rega, kenapa kamu memilihnya? Kenapa bukan aku La..., kenapa harus dia? Aku yang lebih dulu mengenalmu, aku yang selama ini bersamamu, aku yang selalu mendukung dan melakukan apa pun. Kenapa? Kenapa harus Rega dan bukan aku? Walau aku tau aku tak sebaik Rega, aku selalu berganti-ganti teman wanita untuk berkencan dan Rega tak sekalipun melakukannya tapi mereka semua tak pernah menempati hatiku sedikitpun. Semuanya ini (menepuk dadanya sendiri) hanya ada dirimu."


Sonia meringis kesakitan saat Willy mencengkram bahunya dengan keras, laki-laki itu kini menganggapnya sebagai Ella dan bukan Sonia di bawah kendali alkohol yang membuat akal sehatnya pergi entah kemana hingga di kendalikan oleh alam bawah sadarnya. "Kak... Le-lepaskan...." Melepas cengkraman tangan Willy dari bahunya, tatapan matanya yang sayu itu membuat hati Sonia terasa sakit. Willy yang selama ini tak pernah menampakkan perasaannya itu ternyata sangat mencintai Ella begitu besar, cinta yang tak pernah di ketahui oleh orang lain dan ia pendam sendiri, cinta Willy yang mampu melakukan apa pun demi orang yang ia cintai. Sungguh Ella sangat beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang begitu tulus dengannya.


"Seandainya Kakak bisa memberikan sedikit saja perasaan Kakak buat aku, seandainya Kakak bisa melihatku sekali aja, dan seandainya Kakak mau memberi kesempatan buatku..." Sonia tertunduk lemas, buliran bening tak terasa jatuh di ujung matanya. Rasa cinta Willy yang begitu besar itu menutul matanya untuk melihat wanita selain Ella. "Ella sudah memilih orang lain dan Kakak harus bisa menerimanya. Kakak harus bangkit jangan kayak gini, aku sedih banget liat Kakak yang terpuruk. Beri aku satu kesempatan untuk menggantikan Ella di hati Kakak, walau aku tau tak bisa sepenuhnya menggantikannya tapi setidaknya Kakak bisa melupakannya sedikit. Aku gak berharap untuk bisa Kakak cintai seperti rasa cinta yang Kakak punya, tapi setidaknya aku berharap Kakak mampu bangkit dan seperti dulu. Sosok yang sangat luar biasa, sosok yang kuat...," Sonia mengecup lembut pipi Willy.


"Sayang, Ssstttt..., jangan nangis, Kakak gak bakal biarin siapa pun bikin kamu nangis." Katanya belum sadar siapa yang sedang bersamanya.


"Tolong Kak... Beri aku kesempatan buat bisa dekat dan menggantikan posisi Ella." Sonia menatap manik mata Willy, pandangan mereka saling bertemu satu sama lain.


"Aku..., aku hanya laki-laki br*ngsek yang mengencani banyak wanita untuk menjadi hiburan semata." Katanya sebelum benar-benar KO.


Sonia mengusap rambut Willy dengan perasaan bercampur aduk, ternyata itu semua penyebab Willy saat ini. "Apa pun masa lalu Kakak, aku bakal terima. Aku gak menuntut apa pun dari Kakak asal Kakak bisa melihat ku sebagai wanita bukan sebagai adik dan kakak. Berapa pun wanita yang telah Kak Willy kencani tak akan mengubah apa pun, aku akan bersabar hingga Kakak bisa melihatku."


"Wah, Den Willy udah anteng sekarang." Celetuk Pak Iwan memecahkan keheningan. yang sempat terjadi di dalam mobil.


Sonia buru-buru menghapus air matanya saat Pak Iwan datang, drama yang baru aja terjadi sangat menguras emosinya. "Iya Pak. Ada Pak obatnya?"


"Iya Non, nanti kalau sampau rumah auruh Den Willy langsung minum. Biar besok pagi kalo bangun udah seger lagi." Lelaki setengah abad itu memberikan bungkusan plastik dan menyalakan mesin mobil, menjalankannya secara perlahan di jalanan yang berangsur-angsur sepi karena hari semakin larut. Hampir 20 tahun ia mengabdi pada keluarga Aditya tak sekalipun Pak Iwan melihat keluarga majikannya itu ada yang mabuk, apa lagi Willy yang ia kenal sejak kecil. Ini kali pertama laki-laki yang sehari-harinya terlihat ceria itu tampak seperti ini hingga Pak Iwan sama sekali tak mengenalinya saat di jalan tadi.


"Oh ya Pak, kalo aku boleh tanya Bapak udah berapa lama Kerja sama Papa Johan?"


"Lumayan Non, udah hampir 20 tahun..., waktu Bapak kerja Tuan masih muda dan belum menikah. Awalnya Bapak kerja di rumah Tuan Aditya, saat Tuan Johan menikah mereka meminta Bapak buat pindah dan nemenin Tuan Johan yang menikahi Nyonya muda. Emangnya kenapa Non?" Tanya nya bingung, sekilas Pak Iwan melirik melalui kaca mobil. Tampak raut wajh Nona barunya itu sangat murung. "Nona bisa tanya sama Bapak apa aja asalkan itu Bapak tau,"


"Gini Pak, aku cuma heran kenapa Ella manggil dengan sebutan Kak padahal kalo di lihat dari silsilah keluarga Willy itu adalah adik dari Papa Johan yang artinya dia itu Om dari Ella." Mengutarakan isi kepalanya selama ini yang pengen banget di tanyain tapi lupa terus.


Pak Iwan tersenyum, ia mengerti apa yang wanita muda itu pikirkan dan wajar bila merasa bingung karena ia adalah irang baru dalam keluarga ini yang belum mengenal dengan jelas apa hubungan yang sebenarnya. Siapapun bakal menanyakan pertanyaan yang sama kalau dalam posisinya. "Rupanya Tuan belum menceritakan kebenarannya."


"Maksud Bapak?" Sonia masih belum bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, Papa Johan dan Ella tak pernah menceritakan apa pun padanya.


"Tuan Aditya, yaitu Ayah dari Tuan Johan hanya memiliki satu orang anak. Bapak kurang jelas bagaimana prosesnya hingga Tuan besar bertemu dengan Den Willy yang saat itu adalah yatim piatu. Tuan besar merasa terkesan dengan kecerdasan dari Den Willy hingga akhirnya mengadopsi dan membawa Den Willy yang masih muda, kalo gak salah ingat waktu itu Non Ella masih sangat kecil pas Tuan besar membawa dan mengenalkannya sama Bapak. Den Willy diangkat menjadi anak Tuan besar yang sekaligus adik dari Tuan Johan. Usia Tuan Johan dan Den Willy yang lumayan jauh, dulu Den Willy sering bermain sama Non Ella karena usia mereka yang gak terlalu jauh. Non Ella yang masih kecil itu sering Bapak dengar manggil Den Willy dengan sebutan Kakak di bandingkan dengan Om." Pak Iwan mengakhiri cerita yang ia ketahui.


Sonia memiringkan kepalanya, mencoba memahami apa yang di katakan Pak Iwan barusan. "Jadi, Kak Willy anak angkat dari Kakek Ella? Yang artinya mereka sebenarnya gak punya hubungan darah secara langsung?" Katanya seolah-olah bertanya pada dirinya sendiri saat ini.


"Betul Non, Den Willy dan Tuan Johan gak ada ikatan darah. Den Willy anak angkat dari Tuan besar."


Jawaban Yang Pak Iwan berikan menjadi potongan puzzle yang melengkapi gambaran dari teka-teki yang selama ini Sonia pikirkan. Tak pernah ada dalam pikirannya bahwa mereka memiliki hubungan yang sedikit membingungkan, dan itu menjawab semua pertanyaan tentang perasaan Willy.


Willy tak salah bila mencintai Ella karena mereka selama ini tumbuh bersama, dan yang terpenting tak ada ikatan darah diantara mereka yang membenarkan perasaan itu tumbuh semakin besar seiring berjalannya waktu.


Banyak hal yang Sonia pikirkan, bagaimana nanti saat Willy bangun ia akan bersikap setelah mengetahui kebenarannya. Tak mungkin secara gamblang ia mengatakannya pada Ella yang ia yakini tak pernah tau mengenai perasaan Willy terhadapnya. Sonia mungkin tak akan bisa bersikap cuek dalam hal ini. Rasanya pasti akan sakit melihat Willy yang diam-diam memendam perasaannya itu, pasti sangat sulit selama ini ia menghadapinya sendiri.


"Pak, emang Kak Willy orangnya kayak gini ya Pak?"


"Maksud Non Sonia?"


"Iya, apa Kak Willy orang yang suka mabuk-mabukkan seperti ini...." Menatap wajah Willy yang tertidur pulas di pangkuannya.


"Setahu Bapak enggak kok Non, selama Bapak kerja disini sekalipun gak pernah liat Den Willy mabuk atau ngelakuin hal yang enggak-enggak. Den Willy anak yang baik Non, dia gak segan-segan bantuin Bapak." Kata Pak Iwan yang sering sekali mendapat bantuan ekonomi atau lainnya dari tuan mudanya itu. "Makanya Bapak Heran kenapa kok Den Willy sampek kayak gini, untung aja Tuan Johan lagi gak di rumah. Kalo gak Bis kena semprot Non kita bertiga." Mengingat bahwa keluarga di tempatnya bekerja sangat menjunjung tinggi adat dan kesopanan sejak dulu walau mereka terkesan terbuka.


"Emang Papa kemana Pak? Setahu aku pas kita berangkat tadi kan Papa di rumah sama Mommy?"


"Tadi Bapak di telpon kalau Tuan dan Nyonya pergi beberapa hari keluar kota buat ngurusin bisnis."


"Huahahahaha...," Sonia kaget banget tiba-tiba denger Willy yang ketawa, gak ada angin atau hujan tu cowok malah ketawa sendiri.


"Astagfirullah Den Willy....." Pak Iwan memusut dadanya saking kagetnya, tadi aja anteng gak taunya malah ketawa yang bikin orang kaget setengah mati. Untung aja gak jantungan di tempat.


"Kalian lagi ngomongin gue kan?" Tu orang yang tadinya merem langsung melek, duduk cantik kayak anak TK yang lagi ngantri jatah snack dari gurunya. "Pak Iwan, ingat umur Pak..., gak bagus ngomongin orang di belakang yang nantinya malah jadi fitnah. Nambahin dosa...."


Pak Iwan yang kena semprot cuma geleng-geleng kepala.


"Loh? Muka lo kok kayak Sonia? Perasaan gue tadi yang disini itu si Angel...." Membuka matanya lebar-lebar buat mastiin yang diliat tu bener apa enggak, malah pakek acara nyebutin nama cewek lain lagi.


"A-angel?" Bibir Sonia bergetar saat mengucapkannya, rasanya lebih nyesek pas Willy manggil nama cewek lain di depannya selain Ella. Apa lagi baru aja ngaku kalo tu cowok punya banyak temen cewek buat ia kencani dan mungkin salah satunya Angel. Sesulit ini kah Sonia harus mencintai seoramg Willy???


"Iya, Angel...," kali ini mengucek matanya.


"Siapa Angel itu Kak?" Memberanikan diri buat bertanya biar gak tersiksa sama perasaan sendiri, ibarat kata pepatah itu "Malu bertanya sesat di jalan," kalo dalam kondisi Sonia saat ini "Malu bertanya nyesek di hati."


"lo gak tau Angel?" Tertawa mengejek ke arah Sonia, "Ok gue kasih lo kesempatan buat nebak siapa Angel." Menyipitkan matanya. "Matanya cantik berwarna biru laksana air laut yang memantulkan sinar mentari, putih bersih tanpa noda di seluruh badannya laksana hamparan salju, tubuhnya hangat saat di peluk bikin gue seneng banget meluk dia saat kita tidur bareng dan lembut saat di elus yang bikin gue ketagihan, sukanya manja-manja kalo liat gue datang, suka duduk di pangkuan gue minta di elus kalo gak ada orang lain selain kita berdua kalo ada orang lain dianya malu-malu terus sembunyi," Willy tersenyum simpul. "Coba lo tebak siapa Angel."


Denger penjelasan Willy tentang sosok Angel itu bikin Sonia tergidik ngeri, pasti sosok yang cantik banget karena Willy menggambarkan dengan sangat sempurna bahkan dalam keadaan mabuk kayak gini aja bisa sedetail itu apa lagi dalam keadaan sadar.... Perbandingan yang sangat mencolok di antara dirinya dengan sosok Angel yang Willy deskripsikan barusan. Memang tak mengherankan untuk seorang Willy yang nyaris sempurna itu mampu mendapatkan wanita yang tentu saja juga sempurna, dengan wajah bulenya itu juga kedudukan dan yang terpenting uang yang ia miliki mampu manaklukkan wanita manapun yang ia inginkan di luar sana. Bahkan mungkin para wanita itu sendiri yang datang dan menawarkan diri mereka tanpa bersusah payah Willh melakukan apa pun untuk mendapatkannya.


"Ding-dong..., waktu lo habis buat nebak." mencolek hidup Sonia yang melamun.


Sonia tersadar dari lamunannya saat hidungnya ada nyentuh, pikirannya udah kemana-mana cuma denger nama Angel doang yang mungkin masih muncuk Angel-angel lainnya di kemudian hari. Harus menyiapkan hatinya ini biar lebih kuat menerimanya.


"Lo bisa jawab gak siapa Angel kesayangan gue hah?" Katanya gak sabaran.


"E-enggak Kak, aku gak tau." Sonia terlihat lesu saat menjawabnya, berbeda dengan Willy yang tampak sangat bahagia dan antusias menceritakan tentang Angelnya. Mungkin hubungan mereka sangat dekat hingga Willy menyebutkan mereka sering berpelukan dan tidur bareng. Denger gitu aja Sonia ngerasa frustasi dan sakit apa lagi kalo sampek liat mereka secara langsung bisa g*la.


"Eh Pak Iwan, bantuin Sonia buat jawab siapa Angel gue Pak.... Bukannya Bapak udah banyak makan asam garam, jadi Bapak visa jawab dengan mudah."


"Maaf Den, Bapak gak bisa. Bapak sudah tua jadi gak ngerti yang gitu-gituan."


"Aish.... Kalian berdua ngebosenin banget jawab gituan aja gak bisa." Katanya sebal menatap dua orang itu secara bergantian sebelum benar-benar Ko.


*******


Hallow readers sekalian....


Makasih buat kalian yang masih setia buat Nungguin dan baca novel author ini yach....


☺☺☺☺☺


Makin kesini author gak pernah nyelipin gambar-gambar visual lagi kayak awal author nulis ni novel, kalo kalian sempat tanya kayak gitu bakal author jawab nih biar gak penasaran.


Cerita yang ada selipan gambarnya itu lebih lama lulus reviewnya di bandingkan cerita yang polos alias gak ada gambarnya sama sekali, sedangkan kalian pengennya cepet up kan?


Nah, buat bikin cepet up akhirnya author gak lagi nyelipin gambar visual kayak dulu. Padahal kalo author secara pribadi lebih seneng ada gambar-gambarnya gitu jadi lebih enak baca sambil ngayal 😆, makanya author ngambil inisiatif gitu buat kalian semua gak kelamaan nunggu.


Kita kenalan secara langsung yuk....


Kalau author sendiri asalnya dari Bajarmasin, Kalimantan Selatan. Nah, kalo kalian asal daerah mana?


Tolong sebutin yach biar kita lebih dekat lagi🤗


Gak bosen-bosen author ngingetin kalo budayakan hiduo bersih, cuci tangan sesering mungkin setelah melakukan aktifitas apa pun dan Stay at home buat diri kita sendiri untuk memutus rantai musibah yang sedang melanda di seluruh dunia ini. Kalau gak kita sendiri yang menyayangi dan mencintai diri kita lalu siapa lagi?


Teng's buat kalian semua yang selalu mendukung author untuk bisa tetap berkarya...


😘😘😘😘😘😘😘