Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Es krim


Ella dan Davina dengan kompaknya berhenti di depan kedai es krim tanpa aba-aba sebelumnya, rupanya mereka satu hati dan satu pemikiran. Siapa coba yang bakalan tahan sama makanan yang satu itu, rasa manis dan lembut membuat semua kalangan menyukainya dan tak dapat menolaknya.


"Kita mau beli es krim, kalian mau gak?" Tanya Ella pada Vino dan Rangga.


"Ogah, kalian aja yang beli. Gue sama Vino nunggu di sini aja." Duduk di kursi yang telah kedai itu siapkan.


Dua cewek cantik itu melenggang masuk dan memgantri, karena hari ini hari libur antrian lebih panjang dari biasanya.


Rangga yang genitnya gak ketulungan itu tebar pesona sekaligus cengar-cengir saat beberapa cewek lewat di depan mereka. Vino cuma bisa geleng-geleng kepala liat sohibnya itu, pantes aja julukannya playboy cap sandal. Gak bisa liat cewek bening dikit aja udah unjuk gigi.


"Bro, kasian si Luna kalo lo gak insyaf juga." Mengingatkan kalau ada Luna yang jadi Kekasihnya.


"Jangan bawa-bawa Luna, entar orangnya nongol " Katanya cengengesan. "Gue kan gak selingkuh."


"Iya gak sekungkuh, cuma menjerumus ke selingkuh judulnya."


"Wajah ganteng itu harus di manfaatkan sebaik mungkin, mereka yang godain gue duluan." Katanya dengan puede tingkat tinggi.


"Susah ngomong sama orang narsis."


"Gue bukannya narsis man.... Cuman sadar diri." Tertawa kecil buat dirinya sendiri.


Vino gak bakalan menang kalo udah kayak gini, bakalan masuk telinga kanan dan langsung mental gitu aja.


Rangga yang terkenal dengan Playboy nya itu, dari keluarga terpandang dan kaya raya membuatnya punya landasan buat jadi playboy di tambah tampangnya yang imut kayak gak berdosa bikin cewek mana pun bakalan leleh di depannya.


Bikin pondasi ke playboyannya nambah kuat lagi. Apa lagi tu cowok bakalan loyal sama cewek yang lagi deket sama dia, semua yang mereka mau dia kasih. Gak minta pun bakal Rangga kadih apa lagi sampek minta. Selama ini gak ada yang awet jalan, Rangga olrangnya cepet bosenan sama cewek. Paling lama satu bulan dia jalan sama cewek dan mutusin tu cewek dengan alasan yang gak jelas banget. Satu-satunya yang bikin dia takut di dunia ini adalah Mamanya. Wanita super itu gak tanggung-tanggung kalo udah marah.



Ella memasukkan es krimnya kedalam mulut dan menutup mata menikmati, "Enak banget...." Katanya setelah es krim itu lumer di mulutnya. Es krim jumbo dengan toping beraneka ragam itu membuatnya kalap.


"Entar kita coba yang lain kalo pulang." Kata Davina, maunya pesen semua yang ada di situ tapi kapan-kapan makannya. Gak bisa di awetin juga, bentar juga dah leleh.


"Hu uh, mata gue langsung bening liat menunya. Kayaknya tiap hari gue bakal mampir kesini buat nyobain semuanya." Ella masih penasaran dengan aneka macam es krim yang kedai itu suguhkan, penggila es krim mana yang gak tertarik sama bentuk yang lucu-lucu dan yang pasti rasanya enak banget.


"Bareng ya la?"


Ella mengangguk mengiyakan.


"Kalian gak takut gendut makan gituan?" Tunjuk Rangga pada ea krim jumbo di tangan Ella dan Davina.


"Udah lah, dinikmatin aja hidup tu gak usah mikir kayak gitu." Tepis Davina.


"Sirik aja, kalo mau beli sana." Tambah ella yang melihat mata Rangga tak lepas dari es krim di tangannya.


"Minta dikit boleh dong?"


"Enak aja...."


"Pelit banget Dav? tuh antriannya udah kayak ular naga." Menunjuk antrian yang semakin banyak.


Davina menjulurkan lidah nya, "Ogah."