Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Salam Perpisahan


Keluarga Mahendra telah mempersiapkan segalanya yang berhubungan dengan acara lamaran yang akan dilaksakan esok hari. Mahendra sendiri selaku kepala keluarga merasa sangat bahagia anak lelakinya ternyata menjalin hubungan dengan Ella yang tak lain anak sahabatnya yaitu Johan. Dulu mereka sempat ingin menjodohkan anak-anak mereka saat masih kecil, namun rencana itu terhalang oleh keadaan yang membuatnya pindah ke Autralia. Kata pepatah jodoh itu takkan kemana, dan itu ternyata benar. Karena takdir Rega dan Ella bertemu secara alami tanpa campur tangan kedua orang tuanya. Saat pertama kali Rega mengutarakan niatnya meminta melamar pujaan hatinya itu, Mahendra serasa tak percaya. Ia memastikannya dengan menghubungi Johan dan menanyakannya secara langsung, Johan membenarkan dan mengakui bahwa selama ini putrinya telah menjalin hubungan dengan putranya tersebut, bahkan Rega telah meminta restu langsung padanya. Akhirnya impian kedua sahabat itu terwujud dengan sempurna untuk menjadi besan.


Mahendra yang begitu senang mendapatkan menantu yang cantik yang selama ini ia idam-idamkan menyiapkan hadiah yang sangat banyak dan tentu saja hadiah itu bernilai tinggi dengan kualitas yang terbaik. Tak tanggung-tanggung ia memesan satu set perhiasan dari batu mulia yang ia pesan dari pembuat perhiasan terkenal, gaun indah dari desainer terkenal dan barang lainnya yang sengaja ia persiapkan khusus untuk jadiah lamaran. Hadiah pernikahan akan segera menyusul saat kesepakatan telah mereka dapatkan kapan tanggal yang tepat untuk melaksanakannya. Dengan uang dan nama besarnya, tak susah mendapatkan apa yang ia mau dengan cepat.


"Ayah?"


Rega memasuki ruang kerja Ayahnya yang telah lama kosong itu, lelaki yang di segani itu menghapus air matanya saat Rega masuk. Meletakkan foto keluarga kecilnya kembali ketempatnya semula, merasa terharu karena istrinya tak ada disini menemaninya melepas putra mereka untuk menikahi wanita yang dulu mereka inginkan. Bahkan Bunda Rega yang paling semangat atas perjodohan ini, ia ingin memiliki anak wanita secantik Ella. Andai ia ada, pasti akan sangat bahagia keinginannya akan terkabul.


"Bunda pasti tau, aku udah bawa Ella ke makam Bunda. Kami pernah bertemu disana saat Ella mengunjungi makam Mamanya. Makam Bunda dan Mama Ella ternyata dalam pemakaman yang sama, dan kami sudah meminta restu pada Ibu untuk menikah."


"Ayah tahu, Nyonya Azhari telah menceritakan semuanya saat Ayah menelpon. Ayah memintanya untuk mendampingi kalian berdua saat acara pernikahan, dan besok beliau akan mendampingi kita melamar Ella sebagai pengganti Bunda. Bagaimana pun beliau yang telah membesarkanmu dengan sangat baik."


Mahendra sangat menghormati Ibu angkat Rega tersebut yang selama ini membesarkan dan merawatnya hingga putranya tumbuh dengan baik dan menjadi seperti ini, tak pernah sedikit pun Mahendra menganggapnya sebagai bawahannya karena ia telah menganggap sebagai saudara di bandingkan orang asing. Ibu Azhari berperan sangat penting dalam tumbuh kembang anaknya, Mahendra yang masih tak bisa menerima kematian istrinya itu menyerahkan putra semata wayangnya untuk ia didik dan besarkan. Sebagai balasannya, Mahendra juga menganggap Yun sebagai anaknya sendiri. Memberikan kasih sayang dan hak yang sama seperti yang ia berikan pada Rega. Yun dan Rega menjadi saudara yang saling mendukung, keberadaan Yun sangat membantu Rega dalam menjalankan bisnisnya. Mahendra tak bisa mempercayai orang lain dalam hal ini, karena ia pernah terperdaya hingga menyebabkannya berada di titik paling bawah. Beruntung ia menemukan Ibu dan anak tersebut hingga dengan tenang menyerahkan segalanya tanpa ada perasaan was-was. Ia telah memberikan 40% dari harta yang ia miliki kepadaa Yun, namun Yun menolaknya dengan tegas karena ia tak ingin menjadi orang yang serakah dengan menerimnya. Melihat Ibunya dapat hidup dengan damai dan berkecukupan itu menjadi lebih dari cukup dan menjadi kebahagiaan yang tak terkira, karena dulu mereka hidup serba kekurangan hingga Ibunya sering tidak makan untuk mengalah padanya. Yun membalas semua kebaikan yang telah Ayah angkatnya itu berikan dengan berada di dekat Rega sebagai sekertaris, yang hanya sebuah kedok untuk menjaga dan melindungi Rega dari orang-orang yang tak menyukainya. Tanpa sepengetahuan Yun ia telah memindahkan 40% miliknya dan secara otomatis akan menjadi milik Yun saat ia meninggal dunia.


Mahendra telah menawarkan rumah megah beserta fasilitasnya dan menjamin semua kebutuhan hidup Ibu Azhari, namun lagi-lagi wanita itu menolak dan hanya meminta rumah sederhana dengan pekarangan yang luas untuk ia tinggali menghabiskan hari tuanya. Sebagai seorang Ibu, ia juga meminta untuk tidak di pisahkan dari Rega yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Ibu mana yang sanggup berpisah dari anak mereka dan itu juga yang ia rasakan tak mampu berpisah dengan dua putranya dan menikmati masa tuanya bersama cucunya. Impian sederhana dari orang tua yang ingin hidup bahagia. Bukan hal yang sulit untuk Mahendra berikan, karena ia tak akan pernah melakukan itu.


"Bagaimana perasaanmu?"


Rega duduk di kursi empuk yang ada di depan Ayahnya, "Gugup banget."


"Ayah gak nyangka kalian bakal bertemu secepat ini, sejak awal Ayah ingin menjodohkan kalian berdua. Namun Ayah belum punya keberanian mengutarakan niat Ayah ini padamu, karena Ayah mengira kamu menolak perjodohan ini seperti sebelumnya yang telah nenek atur."


"Ayah menjodohkan kami?" Tanya Rega hampir gak percaya. Belakangan ini ia tahu bahwa Ayahnya dan Papa Ella berteman, tapi gak sampek sana mikir kalo bakal ada perjodohan segala.


"Iya, Ayah pernah meminta Johan untuk menjodohkan putri kecilnya untuk kamu. Tapi gak disangka kamu bertindak terlebih dulu."


Rega baru tau rencana Ayahnya itu, "Mungkin kalau Ayah melakukannya lamaran ini gak bakal terjadi," Katanya mengingat sifat Ella yang gak pernah bisa di paksa itu. "Ella orangnya sangat unik, dia gak bisa di kekang dan menyukai kebebasan. Rega datang kesini untuk mengatakan hal yang bersangkutan mengenai Ella."


Mahendra memutar kursinya hingga menghadap ke arah Rega yang tampak serius.


Melihat Ayahnya yang telah siap mendengarkan, Rega siap melakukan negosiasi. "Ayah, aku minta pernikahan kami di rahasiakan dari orang lain dan hanya keluarga kita yang mengetahui."


"Maksud kamu?" Mahendra gak ngerti apa yang anaknya itu inginkan, dimana-mana berita bahagia itu harus di sebarkan bukan di rahasiakan. Apa lagi ini mengenai pernikahan yang menyangkut dua perusahaan raksasa yang mempunya peran penting dalam perekonomian.


"Ella baru aja lulus sekolah dan tahun ini Ella kuliah, aku gak mau mengikat kebebasan Ella setelah kami menikah. Aku ingin Ella menjalani harinya seperti biasanya, menikmati masa mudanya seperti remaja lainnya tanpa terikat. Seandainya pernikahan ini diketahui oleh umum, Ayah tahu sendiri kalau kebebasan itu cuma sekedar kata-kata indah yang gak bisa Ella nikmati. Apa Ayah mau menantu Ayah merasa tertekan dan gak bebas melakukan apa pun? Ayah bisa bayangkan masa remaja Ella yang seharusnya bahagia bakalan menjadi masa remaja yang menyedihkan." Rega mengatakan semua ini secara pelan hingga Ayahnya mampu memahami apa yang ia inginkan.


"Aku sangat mencintai Ella, aku gak pengen pernikahan ini layaknya penjara buat Ella yang saat ini masih mau menikmati masa remajanya."


Mahendra menarik nafas panjang, mencoba memahami apa yang putranya inginkan itu. Apa yang Rega katakan memang masuk akal, saat pernikahan ini diketahui khalayak ramai maka kebebasan yang Ella rasakan akan menjadi mimpi indah. Bahkan Johan merahasiakan Ella dari media sebagai anak dan satu-satunya sebagai pewaris yang sah untuk kenyamanan putrinya itu beraktifitas. "Baiklah, Ayah akan mengabulkan keinginanmu."


"Terimakasih Ayah sudah mau mengerti. Mungkin kita akan mengumumkannya saat Ella telah menyelesaikan kuliahnya."


"Ayah hanya berpesan untuk menjadi suami yang baik, menyayangi dan membahagiakan istrimu. Jangan sampai membuatnya menangis dan yang paling penting jangan sampai meninggalkannya demi wanita lain."


*************


Ella yang merasa risih dengan make up yang melekat di kulit dan menutupi pori-porinya itu beberapa kali berusaha menghapusnya, dengan tegas Mommy Devi melarangnya. Ia bersikukuh Ella harus memoles wajahnya agar lebih cantik lagi saat bertemu dengan keluarga calon suaminya. Masalah dandan Mommy Devi emang jagonya, gak usah ngundang make up artis hasil polesannya itu sangat rapi dan tentu aja bikin Ella berbeda dari biasanya dan yang terpenting gratis. Gaun yang Ella pakai juga Devi yang memilihkannya hingga semua yang ada di badan Ella Devi yang memilihkannya. Rasanya sesenang ini melihat anak gadisnya terlihat sangat cantik karena sentuhan tangannya.


"Dulu, sebelum Mommy nikah sama Dady Sonia Mommy kerja sebagai make up artis panggilan." Katanya menatap puas kerja kerasnya. "Gak nyangka kalau bakal dandani anak sendiri."


Sonia menatap Ella dengan mata takjub, Ella yang ada di depannya memang sangat cantik. Gak pernah pakai make up buat keseharian bikin pangling kalo kayak gini. Gaun berwarna salem itu sangat pas dan cantik di kenakan Ella hari ini.


"Mom, nanti kalo Sonia nikah maunya Mommy yang make up ya?"


"Tenang aja sayang, selama Mommy masih bernafas kamu gak perlu khawatir."


"Sumpah, lo cantik banget." Katanya tersenyum sumringah, "Bentar lagi lo kawin gue gak punya temen di rumah."


"Gue masih tinggal disini kali Son..., Lagian kan ada Mommy lo sama Papa."


"Mana bisa di andalin mereka berdua yang kerjaannya honeymoon mulu."


"Mommy denger lo ada yang sirik," Balas Devi yang membereskan peralatannya. "Mommy kan lagi menikmati masa pacaran sama Papa kalian. Papa itu masih strong banget kalo berduaan. Nanti kita honeymoon bareng ya sayang?" Katanya menyentuh pundak Ella, "Sama-sama kejar target buat dapetin baby." Mengerlingkan matanya.


"Apa? Gak salah nih Mom? Udah tua mau punya anak lagi? Inget di umur dong Mom..., udah mau punya cucu juga." Protes Sonia yang bakalan punya adik di umurnya yang udah mateng itu, bahkan Ella udah mau nikah. Bisa saingan ni sama anak puntlya debay.


"Biar aja, kamu kan gak ikut besarin. Lagian yang bikin sama besarin tu Mommy kenapa kamu yang sewot?" Balasnya.


Bener-bener nih emak-emak, udah berumur masih mau nambah anak segala lagi. Anaknya aja udah mau nikah....


"Jelas aja lah yang bikin Mommy, masak Sonia ikutan? Mau bikinnya sama siapa?"


"Tu pinter anak Mommy, ajakin Willy buat halalin kamu biar kita bisa honeymoon bertiga. Pasti seru banget." Ngasih ide buat Sonia biar cepet nyusul Ella.


Sonia meringis mendengarnya, susah punya Mommy kelewat gaul. Ngomong kayak gitu santai banget, emang gampang apa bikin Willy mau halalin dia? Perlu waktu dan perjuangan kali....


"Ngomong sih enak Mom...,"


"Makanya usaha, terjang aja duluan kalo emang kamu suka."


Sonia mendelik denger suruh nerjang duluan, emang cewek apaan dia suruh maju duluan.


"Sayang, Mommy mau ngomong."


Ella berbalik, duduk menghadap Mommy Devi. "Kenapa Tante?"


Devi menggenggam tangan Ella, menatapnya dengan lembut dan tersenyum. "Mommy senang banget akhirnya anak Mommy udah besar, hari ini udah di lamar dan bentar lagi nikah. Walau Mommy bukan yang melahirkan kamu, apa boleh Mommy mendampingi nanti?"


"Tante, Ella udah gak punya Mama dan Tante udah Ella sebagai pengganti Mama. Ella seneng banget kalo Tante mau dampingi Ella."


Devi memeluk Ella, "Makasih sayang, maafin kesalah Mommy dulu."


"Gak usah di bahas lagi, Ella gak pernah dendam. Bahkan Ella terimakasih banget karena Tante udah sayang sama Papa dan Ella."


Devi melepaskan pelukannya, "Tadi kamu bilang bakal tinggal di rumah ini?"


"Iya,"


"Tugas istri itu menaati apa yang di katakan suami dan tinggal di rumah suami, bukannya Mommy mau ngusir kamu. Tapi lebih baik kalau tinggal di rumah Rega, kantor Rega lumayan jauh dari rumah kita. Kasian kan dia bolak-balik." Katanya menasehati Ella, tugas orang tua itu menasehati anaknya. "Tapi, jangan lupa buat main dan nginep disini kalo waktu kalian luang karena kami bakalan kangen sama kamu."


Bagaimana dengan Papa?


Selama ini Ella terbiasa hidup dengan Papanya.


"Mommy bakal ngurus segala keperluan Papa kamu, sekarang tugas kamu buat ngurus segala keperluan Rega. Kamu gak usah khawatir karena sekarang Papa udah jadi tanggung jawab Mommy sayang...,"


"Iya Tante, terimakasih sudah ngingetin Ella."


"Mommy gak ngusir kamu ya sayang..." Takut kalo Ella salah paham, kesalahan yang pernah Devi lakukan bikin ia lebih hati-hati ngomong. Takut ada kesalah pahaman lagi, Devi yang merasa hidupnya lebih baik saat ini tak ingin mengacaukannya lagi seperti dulu. Berada dalam keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang.


"Iya Tante, Ella gak mikir sampek kesana. Lagian gak ada yang bisa ngusir ella dari rumah ini kok."


"Makasih sayang...," Devi mencium pipi Ella, beruntung sekali Ella bukan seorang pendendam.


"Mommy curang, Sonia kan anak Mommy juga. Kenapa Ella aja yang Mommy cium?"


Devi hanya tersenyum melihat reaksi Sonia dan menghadiahkan banyak ciuman di semua wajahnya.


**********


Sejak pagi semua orang yang berada di rumah Johan di sibukkan dengan persiapan acara lamaran yang akan diadakan sore hari nanti. Bahkan Johan menambahkan beberapa orang untuk melancarkan persiapan hari ini, ia ingin menyambut dan menjamu calon besannya itu sebaik mungkin. Johan menyerahkan dekorasi seluruh ruangan kepada istrinya, makanan yang di sajikan ia serahkan kepada Willy yang memiliki usaha di bidang kuliner dengan menyajikan makanan nusantara untuk hari ini dengan chef yang tak kalah handal memasaknya.


Ruang tamu kini terlihat cantik dengan dekorasi bunga mawar beraneka warna kesukaan Ella, Devi yang mengetahui Ella menyukai mawar itu memilihnya untuk menghiasi setiap sudut rumahnya. Halaman belakang rumah telah ia sulap menjadi tempat perjamuan terbuka yang asri dengan rindangnya pepohonan sebagai pelindung dari sinar matahari. Karpet besar telah di gelar di atas hamparan rumput, Devi memilih untuk mengadakan jamuan dengan cara lesehan yang menurutnya lebih terasa hangat dan santai karena ia yakin acara ini bukan hanya lamaran semata tapi akan menjadi reuni keluarga yang akan menyita waktu yang lama untuk melepaskan rindu antara dua sahabat yang telah lama terpisah. Tak lupa hiasan lampu yang menjuntai ke bawah Devi tambahkan pada setiap pohon yang ada di halaman belakang hingga meninggalkan kesan yang sangat indah. Bahkan beberapa pohon besar tak luput dari perhatiannya, dengan melilitkan lampu pada setiap dahan dan batangnya membuatnya semakin terbawa suasana. Ternyata Mommy cantik itu memiliki bakat yang tak terduga, mendesain dengan lihai dan cantik halaman belakang rumah mereka sedemikian rupa.


Sonia yang selama ini memiliki bakat dalam mendesain baju itu memiliki tugas khusus untuk mendesain apa yang akan mereka pakai nanti, semua orang sangat sibuk hari ini.


Willy berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata yang tak lepas dari sosok Ella yang kini terlihat sangat cantik dengan gaun model midi dress yang panjangnya sedikit di bawah lutut dengan aksen kerah sabrina berwarna salem dan rambut yang di tata sangat simpel dengan memberikan aksen curly pada bagian bawah rambut dan di biarkan tergerai dengan menambahkan hiasan flower crown yang membuat Ella tampil sederhana namun terlihat sangat cantik. Polesan make up minimalis menyempurnakan penampilannya saat ini dan terlihat sangat sempurna. Wajah cantik itu memamerkan senyuman manis yang tak akan pernah Willy lupakan hingga kata andai itu terbesit dalam hatinya.


Andai senyum itu adalah miliknya...


Andai hari ini miliknya...


Andai semua itu untuknya...


Willy menyunggingkan bibirnya yang terasa kebas, ia sudah berusaha untuk melupakan Ella dengan tekad yang kuat namun dengan mudahnya tekad itu pupus hanya dengan satu senyuman yang membuat hatinya ngilu untuk menerima kenyataan bahwa ia harus merelakan untuk melepaskan Ella dengan tangannya sendiri dan menyerahkannya kepada laki-laki lain yang menjadi pilihan Ella. Kini tak ada lagi suara manja yang selalu menyambut dan ia nantikan saat kepulangan ke rumah ini, tak ada lagi rengekan yang meminta melakukan sesuatu yang terkadang konyol namun tetap ia lakukan tanpa pernah menolaknya, tak ada lagi tingkah polah manja yang hanya Ella lakukan dengannya karena semua itu telah beralih kepada orang lain yang membuat Willy merasa iri dan berharap orang itu adalah dirinya. Harapan yang telah kandas dan tak akan ada lagi kesempatan untuknya membangun kembali harapan itu.


"Kok Kak Willy bengong aja?" Tanya Ella yang melihat Willy berdiri mematung di ambang pintu. Udah dari tadi di sana tapi gak gerak-gerak.


Willy tersadar dari dunia mimpi yang baru saja ia jelajahi dan kini berhadapan dengan kenyataan di depannya. "Siapa yang bengong? Kakak cuma kagum sama kecantikan adik Kakak yang ternyata udah gede." Berjalan ke arah Ella dan tersenyum, senyum yang menutupi luka hatinya.


"Baru tau ya kalo Ella cantik?"


Willy yang tak dapat membendung perasaanya itu memeluk Ella erat, pelukan perpisahan untuk menanggalkan seluruh perasaan dan hatinya disini.


"Kakak kenapa?" Tanya Ella kaget tiba-tiba Willy memeluknya, udah kayak pisah selamanya aja. Padahal cuma mau lamaran, lagian kalo nikah pun Ella gak bakal kemana-mana.


"Udah diem aja..., Kakak meluk sebelum kamu jadi istri orang. Kalau udah jadi istri orang gak bakalan bisa, yang ada suami kamu ngamuk sama Kakak." Willy memejamkan matanya, membuang secara perlahan perasaan yang selama ini ia pendam. Melepaskan hatinya untuk selamanya.


"Oh ya, Kakak punya hadiah buat kamu." Merogoh saku jasnya dan mengeluarkan gelang tangan yang terbuat dari untaian rantai logam mulia dengan mainan-mainan imut nan manis yang menghiasi di sepanjang rantai tersebut, Willy memakaikannya di tangan Ella dan tersenyum saat sudah selesai.


"Cantik banget, makasih ya Kak." Ella memperhatikannya dengan wajah bahagia, dan memamerkannya pada Willy bahwa pilihannya sangat sesuai di tangan Ella.


"Jangan lupain Kakak."


"Enggak kok, selamanya Kak Willy akan jadi Kakak buat Ella. Gak ada yang bisa merubah itu, Ella juga gak bakal berubah. Kita kayak dulu aja."


"Iya, Kakak tau...." Memencet hidung Ella gemas, gak ada yang berubah selain hubungan Kakak dan Adik di antara mereka. "Kalau Rega macam-macam bikin kamu nangis bilang aja sama Kakak, biar aku beri pelajaran."


"Iya..., Ella tau..., dari dulu Kak Willy tu paling bisa buat di andalin. Ella seneng banget punya Kakak yang luar biasa, udah kayak Super hero buat Ella."


********


Hai Reader sekalian....


Masih nungguin Up yach?


Kali ini khusus Author kasih satu episode yang panjang buat kalian, jadi bisa puas baca dan jangan lupa pakek perasaan ya bacanya.


Yang lagi nunggu Ella nikah....


Entar author undang deh ke acaranya mereka buat datang, jangan lupa buat datang.


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Mudahan KUA masih buka karena virus yang lagi hit sekarang ini bikin beberapa instansi pemerintahan buat libur dan kerja di rumah, jadi Ella bisa nikah di bulan ini juga.


😆😆😆😆😆😆😆😆😆


Nulis satu episode ini bikin author puter otak sampek panas buat bisa masuk ke karakter Willy yang sebenernya plus nguras emosi. Sampek author bayangin gimana rasanya dalam posisi Willy saat itu biar dapet gejolak emosi yang sesuai dan akhirnya author nyesek sendiri kebawa suasana.


😭😭😭😭😭😭😭😭


Author juga harus bolak balik buka internet buat cari refrensi dan ide karena author sendiri kadang-kadang minim ide buat nulis. Untung aja ada embah google yang bisa di tanyain dan cari apa pun disana, makasih embah google....


Jangan lupa like dan Votenya biar authornya tambah semangat lagi dan halunya jadi full biar bisa dapat ide buat nerusin ni novel.


Terimakasih buat kalian semua yang udah dukung author sampai detik ini.


😘😘😘😘😘😘😘


Love banget dech sama kalian semua...


😍😍😍😍😍😍😍


OTW KUA buat daftarin Ella sama Rega dulu...