
"Abi ngerasa gak kalau ada sesuatu yang Abi sembunyiin dari Ella?" Kata Ella memancing, kali aja kan umpannya di samber sama ikan kepala item yang lagi ada di sampingnya.
"Maksudnya?" Rega mengelus kepala Ella dan sesekali menciumnya, "Emang kalan Abi bohong sama kamu sayang?"
"Ya mana Ella tau Abi bohong apa enggak sama Ella, lagian kan Ella gak bisa baca pikiran Abi." Jawabnya sambil menguap kecil, reaksi obat yang di kasih Raka udah mulai bereaksi. Raka emang ngasih obat tidur dengan dosis aman untuk ibu hamil biar Ella bisa istirahat dengan baik dan nyaman. "Lagian kan kita gak bareng 24 jam, jadi apa pun yang Abi lakuin di luar sana Ella cuma tau dari laporan Abi bukan dari mata kepala Ella sendiri."
"Kamu ngomong apa sih?" Kata Rega bingung Ella ngomong apaan, apa lagi matanya udah mulai merem, "Sayang, jangan tidur dulu, kan belum makan." Rega menggoyangkan kepala Ella biar tetap terjaga, bukannya bangun malah meluk Rega dengan satu tangannya yang bebas dari jarum infus. "Sayang?"
"Ella ngantuk banget Bi, besok aja makannya. Lagian Ella gak lapar, Ella gak mau makan." Katanya dengan mencari tempat yang nyaman buat kepalanya berlabuh dan menemukan tangan kokoh yang terasa hangat untuknya, Ella meletakkan kepalanya dengan nyaman di sana. Perasaan tenang dan hangat yang luar biasa ia rasakan seketika dan membuat matanya terlalu pekat untuk ia lawan terjaga.
"Abi suapin, sedikit aja biar ada isinya perut kamu."
"Gak mau, Ella mau tidur aja. Lagian buat apa Ella makan kalo entar akhirnya Abi ninggalin Ella sendirian." Kata Ella sebelum kalah dengan rasa kantuk yang udah menyerang dan gak bisa di tahan lagi. "Abi jahat, Abi mau ninggalin Ella."
"Sayang?" Rega menyingkapkan rambut yang menutupi wajah istrinya itu, terdengar suara nafas teratur dari sana yang menandakan bahwa Ella udah tertidur. Rega membenarkan posisi tidur Ella biar lebih nyaman dan gak mengganggu jalan infus, tampak wajahnya yang pucat dan lingkaran hitam di area matanya. "Maaf sayang, bukan Abi mau bohongi kamu tapi ini semua Abi lakuin buat kalian." Mencium bibir Ella lembut dan mengusap pipinya penuh kasih sayang, bagaimana mungkin ia membiarkan orang yang paling ia cintai itu mendapatkan kesulitan dan Rega akan melindunginya walau harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun. "Mana mungkin Abi ninggalin kamu, bahkan Abi Gak bisa hiduo tanpa kamu."
******
Saat tersadar yang pertama kali Ella liat adalah gantungan infus dan langit-langit kamar yang rasanya gak asing buat Ella liat sekarang, walau kesadarannya belum sepenuhnya kembali tapi setidaknya Ella masih bisa mengingat bahwa ini bukan kamar yang biasa ia tempati. Tampak Rega tertidur di sampingnya dengan posisi duduk. Akhirnya Ella kembali ke kamar ini lagi, kamar yang beberapa kali ia tempati apa lagi kalau bukan kamar peawatan khusus yang hanya di peruntukkan untuk keluarga pemilik rumah sakit. Tenggorokan Ella terasa sangat kering, bahkan perutnya mulai menuntut untuk di isi. Walau keinginannya kuat untuk bangun dan meraih gelas di meja samping tempat tidurnya tapi tenaga yang ia miliki berbanding terbalik dengan keinginannya tersebut, untuk mengulurkan tangan dan meraihnya Ella harus mengeluarkan seluruh tenaga tersisa yang ia miliki.
Prang!!!
Rega yang baru aja ketiduran setelah melek buat menjaga Ella itu mendengar suara sesuatu yang persis pecahan kaca di atas lantai, walau dalam keadaan ngantuk berat Rega langsung terjaga dengan kesadaran penuh. Otaknya mengirim sinyal ke seleuruh syaraf yang ada di tubuhnya bahwa telah terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, kondisi Ella yang sekarang ini langsung menjadi perhatiannya. "Ada apa sayang?" Rega melihat Ella yang ada di pinggir tempat tidur dengan wajah lebih pucat di bandingkan tadi saat ia membawa istrinya tersebut ke rumah sakit atas permintaan Raka karena detak jantung bayi dalam kandungan Ella sedikit melemah di bandingkan biasanya yang menuntut Ella menjalani perawatan khusus sebelum semuanya terlambat.
"A-abi?" Katanya dengan nafas terputus-putus karena kaget dan juga seakan semua benda yang ia lihat melayang-layang tanpa adanya tarikan grafitasi. Semakin lama membuka mata Ella merasa semakin pusing dan membuat perutnya mual tak terkendali, mau tak mau ia menutup mulutnya dengan tangannya untuk menahan kalau setiap saat akan muntah.
Rega yang melihat perubahan wajah Ella itu dengan segera membaringkannya dengan posisi ke samping, mengelus dan sesekali menepuk lembut bagian belakang tubuh Ella untuk membuatnya nyaman. "Kamu mau minum?"
Ella mengangguk lemah dengan tetap menutup matanya, soalnya kalo melek langsung kontan mual dan muntah.
Rega mengambilkan air mineral botolan dengan meletakkan sedotan di dalamnya untuk memudahkan Ella minum dengan posisi tidur, wajahnya yang semakin pucat dengan mata terutup membuat Rega menjadi semakin merasa bersalah. Ke khawatiran langsung menyelimuti ke dalam dirinya, Ella bukan wanita lemah seperti saat ini. Ia bukan wanita manja yang merengek manja bila tak ada alasan yang kuat dan tanpa alasan pun Rega tau saat ini Ella benar-benar sedang dalam keadaan tidak sehat secara fisik atau psikis. Bahkan Ella menolak segala macam makanan kesukaannya yang hampir tak pernah ia tolak sebelumnya dan membiarkan perutnya kosong dalam rentan waktu yang cukup lama. Rega telah melakukan berbagai macam cara membujuk Ella hanya sekedar makan barang sesuap, namun semua itu tak membuahkan hasil. Dengan berbagai alasan Ella menolaknya dan membuat Rega akhirnya menyerah karena Ella tertidur pulas setelahnya.
"Abi panggilin dokter dulu ya?" Ujarnya lembut namun tersirat ke khawatiran yang sangat luar biasa, bagaimana pun seorang suami akan merasakan apa yang Rega rasakan bila dalam posisinya saat ini. Ella yang hampir tak pernah menunjukkan gejala apa pun kini tumbang dan menunjukkan sisi lemahnya yang tak bisa melakukan hal sederhana sekali pun, seperti mengambil air minum untuk dirinya sendiri.
Ella menggeleng lemah, "Gak usah bi, buat ibu hamil itu hal biasa mengalami mual dan muntah kayak gini. Lagian dokter Raka udah ngasih vitamin buat Ella, dan itu vitamin terbaik yang Abi minta. Walau Abi manggil perawat mereka gak bakalan bisa ngelakuin apa-apa karena apa yang Ella rasain semua itu faktor dari hormon." Katanya masih dengan menutup matanya, "Abi gak usah liatin Ella yang kayak orang sekarat gitu, lagian hal kayak gini bakal Ella alami dalam rentang waktu yang gak tentu." Menjelaskan agar Rega tidak melakukan hal-hal yang bikin heboh rumah sakit karena hal sepele seperti ini, saat mereka memutuskan dan mengumumkan tentang pernikahan serta kehamilannya semua orang yang dulu tak memperhatikannya itu kini berubah. Semua tatapan mata tertuju padanya, membuat gerak-gerik Ella tak sebebas sebelumnya. Rega yang menyerahkan rumah sakit ini atad kepemilikannya membuat Ella merasa sedikit canggung dengan sikap hormat para dokter senior yang memberikan rasa hormat saat mereka bertemu secara tak sengaja, sikap mereka berubah total dari yang dulu acuh dan mengitimidasi menjadi sikap hormat dan sangat patuh. Inilah dunia dimana kekuasaan menjadi tolak ukur sikap manusia di dalamnya, yang berkuasa yang memiliki daya mengendalikan mereka yang tak memiliki apa-apa.
"Sampai kapan?" Kata Rega serius, melihat Ella seperti ini ada perasaan menyesal karena ia yang membuat Ella menjadi hamil dan mengalami semua ini. Kalau tau ini bakal terjadi mungkin Rega akan memikir ulang Ella hamil dalam keadaan di mana ia masih terikat dalam kegiatan kampus yang cukup menguras emosi dan tenaga seperti yang Raka katakan sebelumnya.
"Ella sendiri gak tau sampai kapan, tapi kata orang-orang yang pernah ngalami ada yang sampek mereka melahirkan."
Rega mendelik mendengarnya, kalau itu terjadi sampai melahirkan Ella akan mengalami selama beberapa bulan ke depan yang artinya semua itu akan ia alami kurang lebih enam bulan ke depan. Memikirkannya saja membuat Rega menjadi semakin di liputi rasa khawatir, melihat tubuh mungil istrinya itu yang harus menyangga dua bayi sekaligus di dalam rahimnya dan tak bisa makan apa pun. Bagaimana bisa Ella mendapatkan vitamin dan tenaga bila keadaannya seperti ini terus?
"Abi gak usah mikir yang macam-macam, lagian setiap wanita pasti ngalami apa yang Ella alami kok Bi. Buktinya mereka semua bisa bertahan dan bahkan ada yang anaknya sampek satu lusin," Ella menyunggingkan bibirnya saat mengatakannya, bagaimana pun wanita makhluk unik yang bisa melahirkan sampai satu lusin anak dengan bawaan ngidam bayi yang bermacam-macam pula.
"Tapi, tetep aja Abi merasa khawatir sayang." Rega menggenggam tagan Ella dan meletakkan di pipinya, bahkan tangan Ella terasa sangat dingin saat bersentuhan dengan kulit wajahnya yang hangat. "Abi takut kalau kamu...,"
Ella membuka matanya dan sekuat tenaga melawan rada mual yang langsung ia rasakan, "Cukup Abi tetap di samping Ella, cukup Abi temeni Ella sampai anak kita lahir itu lebih dari cukup buat Ella." Katanya lembut memberikan isyarat yang sangat jelas maknanya. "Bagi seorang wanita, melewati masa-masa kehamilan akan menjadi mudah bila suami mereka ada dan mendampingi sampai proses kelahiran terjadi. Abi tau, dukungan moral itu lebih di perlukan bagi para ibu hamil dan itu juga yang Ella perlukan. Dengan Abi ada di samping Ella, nemeni Ella setiap saat itu udah lebih dari cukup dan jadi obat yang gak bisa di beli di mana pun." Ella tersenyum dan menangkupkan kedua tanganya di pipi Rega agar mata mereka saling bertemu, membuat Rega tak bisa berpaling dan menuntutnya untuk jujur. "Abi harus janji kalau Abi gak bakal ninggalin Ella sendiri, karena Ella gak mau kehilangan dan Abi tinggalin. Kalau sampai Abi ngelakuin semua itu Ella juga bakal ikut hilang sama anak yang ada dalam perut Ella, Ella gak akan nemui Abi lagi apa pun alasannya." Ella menepuk lembut pipi Rega, memberikan jeda untuk laki-laki itu mencerna maksud dari ucapannya agar ia bisa mengambil kesimpulan untuk tindakan apa yang akan ia lakukan kemudian setelah Ella mengatakan semuanya dengan tegas. Memberikan pilihan dan konsekuensi atas apa yang akan terjadi bila Rega melakukan hal yang tak ia inginkan, bagi Ella apa pun di dunia ini ada timbal baliknya dan itu pun berlaku terhadap suaminya tersebut.
******
Hi Readerd...
Makasih ya buat kalian yang masih setia nunggu Up novel author dan tetap setia buat baca.
Jangan lupa like dan vote-nya buat kalian yang suka sama novel author yang jadi penyemangat tersendiri buat author tetap berkarya.
Terimakasih like dan vote dari kalian serta waktunya, yang kalian lakukan itu luar biasa. Author sangat-sangat berterimakasih.
Author juga lagi dalam tahap ngerjain proyek tentang cerita cinta Yun, jadi kalian tunggu aja di novel lainnya ya...
Cerita cinta Yun yang cari belahan hati serta tulang rusuknya gak bakal kalah seru dari cerita Rega dan Ella karena karakter Yun yang 11-12 sama Rega dan tuntutan dari keluarga buat Yun cepet-cepet kawin nyusul Rega.
Tetap di rumah aja ya...Makin lama makin banyak aja korban dari pandemi yang lagi naik daun di seluruh dunia. Author rasanya sedih karena masih banyak orang yang sadar sama bahaya dan masih banyak yang keluyuran gak jelas di luar sana, padahal apa susahnya sih diam di rumah???
Sayangi keluarga dan orang terdekat kita dengan tetap menjaga jarak dari kerumunan orang banyak. Jangan lupa pakek masker kalo harus keluar dari rumah dan jangan lupa sesering mungkin cuci tangan sehabis melaksanakan aktifitas.
#Safefamilly