Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Buaya di Kadalin


Baru denger suaranya aja udah bikin darah Ella mendidih, kepalanya serasa keluar tanduk dan mungkin menyemburkan api kayak naga yang lagi marah. Bakal barbeque ini ceritanya kalo semua serba hot. Pengen di jambak, di kuliti, di cincang atau apa pun itu yang bisa bikin tu orang lenyap dari peredaran bumi. Niatnya yang menggebu-gebu kayak gunung mau meletus Seketika lenyap melihat sosok dengan senyum manis dan tatapan lembut merentangkan tangan dengan lebar ke arahnya.


Ella menghambur berlari ke arah laki-laki yang telah lama ia rindukan dan melupakan balas dendam yang ia susun barusan.


Gak konsisten nih?


"Kak Willy?" Tersenyum dan berlari memeluk erat.


"Ella kangen banget...." Membenamkan wajahnya kedalam pelukan Willy dengan senyum merekah.


"Udah gede ya sekarang?" Membalas pelukan Ella dan mencium pucuk kepalanya.


"Tentu, habisnya Kakak udah lama baget gak pulang jengukin Ella. Sampai karatan."


Willy tertawa renyah mendengar ocehan Ella, dari dulu kalau deket ni anak Willy paling gak bisa buat gak ketawa. Ada aja kata-katanya yang bikin perutnya di kocok.


"Sorry princes, Kakak gak pulang kan buat menyongsong masa depan yang cerah buat adik Kakak yang imut ini." Mencubit gemes pipi Ella.


Hampir lima tahun Willy meninggalkan rumah pergi menimba ilmu dan memperkuat bisnis yang ia kelola di Maroko. Kepergiannya bukan tanpa alasan, Willy tak ingin di cap sebagai parasit oleh orang-orang yang merasa iri dengannya dan ingin membuktikan pada semua orang ia layak menyandang nama Aditya di belakang namanya.


"Papa tau gak kalo Kak Willy udah pulang?"


Melepaskan pelukannya dan menggelayut manja di tangan, pindah haluan dari badan ke tangan.


"Belum sempat kasih kabar, Kakak baru aja dari bandara langsung kesini. Kangen banget sama adik Kakak yang gemesin sekaligus cerewet."


"Jadi?" Mencerna alur penculikannya dari awal hingga sekarang. "Kak Willy yang ngelakuin semua ini?"


Willy tersenyum dan mengangguk.


"Surprise kan?"


"Surprise dari Hongkong? Bikin Ella senam jantung tau gak?" Katanya ketus, jengkel banget di kerjain kayak gitu padahal udah mikir yang enggak-enggak. Nyiapin hati lagi buat nerima kenyataan terburuk.


"Habis, Kakak pikir kalo datang gitu aja gak keren. Udah lama gak bikin kamu sewot, suka aja liat muka Ella kalo lagi marah."


Ella menyikut perut Willy mendengarnya, bikin jantungan orang ternyata cuma buat kesenangan doang. "Yang tadi nyulik Ella?"


"Semua anak buah Kakak, mereka cuma akting kok gak beneran. Kamu gak di kasarin kan?" Menyusuri seluruh tubuh Ella memastikan gak ada yang kurang satu pun.


Muncul ide brilian buat balas dendam.


"Yang nyupirin mobil tadi orangnya udah main kasar sama Ella, Ella beneran takut." Memasang mimik wajah ketakutan.


"Sopir?"


"Iya, maksa Ella buat masuk belum lagi ngancam Ella."


Willy mengambil hp yang ada di saku celananya.


"Tio, cepat masuk."


Tak berapa lama orang yang di maksud telah ada di dalam rumah. Ella menatapnya dengan pandangan puas, tadi udah bikin jengkel sekarang Terima akibatnya.


"Iya Tuan?" Katanya penuh hormat.


"Perintah apa yang kamu terima?" Kalo udah berhadapan dengan bawahan sikap Willy berubah jadi tegas dan beribawa, beda baget di depan Ella lembut dan penuh kasih sayang.


"Mengantar Nona dengan selamat." Mengulang perintah ia dapatkan, merasa ada yang tidak beres melihat ekpresi wajah bosnya yang kelam. "Apa ada yang salah Tuan?"


"Benar Tuan, Nona Ella memberontak saat itu dan untuk menenangkannya saya sedikit mengancamnya." Katanya jujur, di depan bosnya gak bakalan selamat kalo gak ngomong jujur.


"Ella mau minum aja gak di kasih sama dia, kan tenggorokan Ella jadi sakit. Ella teraniaya."


"Tuan paling tau siapa saya dan Nona."


Willy sebenarnya pengen ketawa habis-habisan ngeliat drama yang di lakuin Ella. Udah kebaca kalo mau balas dendam gak terima di perlakukan kayak gitu. Alih-alih membela, Willy ingin mengikuti alur yang Ella mainkan. Sekalian hiburan setelah bertahun-tahun menggeluti dunia yang penuh intrik ini.


Bukan cuma hitungan bulan Tio menjadi orang kepercayaannya dan selama ini tak pernah membuatnya kecewa. Dalam hal ini ia percaya sepenuhnya kalau cuma akal-akalan Ella.


"Tentu, siapa pun bakal percaya dengan keluarga di bandingkan orang asing."


Hati Ella berbunga-bunga mendengarnya, bakal di belain sama kak Willy. Ella mencibir ke arah Tio yang berdiri di depannya, kemenangan mutlak di tangannya.


Willy melemparkan pisau buah yang tak jauh darinya ke arah Tio dan jatuh di kakinya. Ella yang memperhatikan semua itu tampak bingung.


"Kamu tau kan konsekuensi apa untuk kesalahan yang telah kamu lakukan?"


Tampak Tio ragu, hingga akhirnya membungkuk dan memungut pisau tersebut. "Nyawa saya."


Ella kaget dengernya, masak segitu kejamnya sih kak Willy? Apa benar yang di katakan saat di dalam mobil itu bahwa laki-laki elegan di sampingnya itu bos mafia? Niat nya cuma buat ngerjain muka tembok itu, tapi gak taunya malah jadi kayak gini yang berurusan dengan nyawa.


"Kak...." Menarik tangan baju Willy, merasa berdosa dengan apa yang ia lakukan. "Dia gak salah."


"Sayang, buat Kakak siapa pun yang mengganggu mu bakal kakak bereskan." Tersenyum mengerikan.


"Oke, Ella disini yang salah. Dia gak ngelakuin apa-apa. Jadi jangan hukum dia kayak gitu." Beneran mau nangis rasanya. "Kak...." Dengan mata berkaca-kaca.


Willy gak bisa lagi buat nahan tawa yang udah dari tadi mau meledak."Huahahahahahaha..."


Ella bingung, kenapa tiba-tiba aja ketawa kayak orang kesurupan bahkan Tio keliatan banget menahan tawanya. Apa mereka berdua lagi bikin drama? "Kakak nyebelin?!" Masuk ke dalam kamar dan membantingnya.


Seketika membuat Willy yang tertawa langsung terdiam menyadari Ella saat ini dalam keadaan ngambek gede. "La, buka pintunya."


"Ogah! Gak lucu!" Katanya ngambek, hari ini bener-bener hari paling sial. Di kerjain melulu gak ada habisnya. Bikin esmosi tingkat dewa, kalo gak sayang udah di bikin babak belur.


"Jangan ngambek gitu, Kakak kan sayang sama Ella." Berkata selembut mungkin, padahal masih pengen ketawa mengingat apa yang baru aja terjadi.


"Ogah, Mending gak usah pulang!"


Nah lo, ngambek beneran kalo udah main kunci kamar. Willy menggaruk kepalanya yang gak gatal, bingung mau ngapain buat bujuk Ella.


"Makanya jangan suka ngerjain orang, kan akhirnya kamu sendiri yang dapat karmanya."


Willy senyum-senyum di depan pintu.


"Kalo Kakak bilang ni ya, buaya di kadalin...."


**************


Jangan lupa like dan votenya ya....


biar Author tambah semangat lagi


😘😘😘😘😘😘😘