
Yun mencoba menenangkan dirinya sebisa mungkin karena saat ini menghadapi ayah yang tahu gak segampang ngadepin anak TK.
"Multiple myeloma, sejenis kanker darah penyakit yang Rega derita saat ini. Awalnya Rega sama sekali gak menyadari karena gejalanya biasa-biasa aja. Rega hanya mengeluhkan ada bagian-bagian tertentu dari badannya yang terasa sakit, kadang ia merasa cepat lelah di bandingkan biasanya dan muntah. Aku pikir juga bukan hal yang serius karena barengan sama kehamilan Ella, aku pikir mungkin efek samping ngidamnya Ella waktu dan Rega juga mikir hal yang sama. Tapi lama kelamaan Badan Rega semakin kurus, nafsu makannya menurun drastis dan rasa capeknya semakin sering." Yun memberikan jeda untuk ceritanya, "Ayah tau kan betapa keras kepalanya Rega? Aku sudah berusaha membujuknya untuk memeriksakan kesehatannya secara menyeluruh tapi Rega selalu menolah dengan dalih bahwa hanya karena kurang istirahat dan makan yang gak teratur. Sampai akhirnya rasa sakit yang Rega rasakan udah gak bisa di tahan lagi pada bagian belakang tulangnya dan Raka dapat mebujuk untuk melakukan pemeriksaan. Di situlah kami tau penyakit sebenarnya Rega."
"Sejak kapan?"
Yun menggeleng, "kemungkinan itu sudah lama tapi kami baru menyadarinya saat kondisi Rega telah memburuk," Mengingat masa-masa sulit yang telah di lalui. "Rega mengetur sedemikian rupa untuk menutupi dari semua orang, terlebih dari Ayah, Ibu dan juga Ella mengingat bahwa saat semua orang tau akan membuat kalian sedih." Itu lah alasan yang sebenarnya Rega pikirkan saat membungkam semua orang yang terlibat.
Mahendra mengusap wajahnya kasar, bagaiamana mungkin ia bisa melewatkan sesuatu yang sangat penting seperti ini.
"Rega bertahan dengan mengkonsumsi obat-obatan untuk memproduksi sel darah merah sebagai penyokong bertahan hidup selama kami belum menemukan pendonor yang tepat untuknya, bahkan Rega telah mempersiapkan segalanya hingga kemungkinan terburuk terjadi kepadanya." Rega telah memindahkan beberapa saham dan juga aset untuk istrinya untuk berjaga-jaga kalau ia tak dapat hidup lebih lama, bahkan menempatkan orang-orang terdekat Ella untuk menemaninya.
"Beruntung Willy dengan cepat dapat menemukan pendonor yang cocok untuk Rega dan mempersiapkan segalanya."
"Kapan Ella memgetahui hal ini?"
"Itu... Saat Rega dalam kondisi lemah, kami telah menjadwalkan operasi untuknya namun ternyata Tuhan mempunyai rencana lain. Rega tak sadarkan diri saat bersama Ella, dalam kondisi kritis kami membwanya ke tempat ini. Rega akan merahasiakan penyakitnya mengingat Ella dalam keadaan hamil."
"Huuuhhhhh..." Mahendra menyandarkan kepalanya, ternyata banyak hal yang tidak ia ketahui selama ini dan itu menjadi penyesalan yang sangat luar biasa untuknya. Di saat kedua putra-nya berjuang keras ia malah bersantai menghabiskan masa tuanya tanpa melakukan apa pun. "Jadi, selama Rega sakit semua urusan perusahaan kamu yang melakukannya?"
Yun mengangguk pelan.
"Lihat ayah?" Mahendra menangkupkan tangannya pada kedua pipi Yun, tampak wajahnya tirus yang menandakan bahwa ia dalam keadaan kurus dan juga ada lingkaran besar di bawah matanya (Bahasa kerennya itu mata panda), Ia yakin bahwa selama ini Yun sudah berusaha dengan sangat keras dan terlihat jelas dari wajahnya.
Yun mengankat wajahnya, tangan kekar yang dulu selalu memberikan semangat kepadanya itu kini mengelus pipinya dengan lembut, rasa bersalah yang Yun rasakan kini naik kembali ke permukaan.
"Terimakasih karena telah menjaga Rega hingga seperti ini, terimakasih karena telah berjuang seorang diri mengurus segala urusan perusahanan dan terimakasih karena telah menjadi anak ayah. Ayah sangat bangga padamu."
Mendengar apa yang ayahnya katakan membuat Yun tak kuasa menahan air matanya yang jatuh dengan sendirinya, bukan karena Yun laki-laki cengeng tapi yang ayahnya lakukan membuatnya menjadi seseorang yang sangat di inginkan. "Ayah?"
"Sudahlah, mungkin beban yang kamu alami selama ini sangat berat. Mengurus semua hal sendirian tanpa ada seseorang di sampingmu." Memeluk Yun dan menepuk pundaknya perlahan, "Maafkan ayah, seharusnya ayah bisa melindungi kalian tapi ternyata ayah telah gagal melakukannya. Membiarkan kalian berjuang sendiri saat mengalami masa-masa sulit."
"Tidak ayah, tidak ada beban apa pun. Aku merasa sangat bahagia bisa melakukan semua ini untuk ayah. Apa pun akan ku lakukan kalian." katanya dengan membalas pelukan ayahnya yang seketika menghapus rasa cemas yang selama ini Yun rasakan. Bukan perkara perusahaan yang ada dalam pikirannya, tetapi kesembuhan Rega yang menjadi bayang-bayangnya.
Mahendra melepaskan pelukannya saat orang kepercayaannya masuk, kesetian dan kasih sayang yang Yun berikan tak perlu di ragukan lagi dan itu membuatnya tenang. Menyerahkan perusahaan yang telah turun temurun dari keluarganya kepada dua anak laki-lakinya yang hebat dan saling memiliki satu dengan lainnya, walau antara Yun dan Rega tidak memiliki hubungan darah namun persaudaraan yang terjalin di antara mereka berdua lebih kental di bandingkan darah. "Sepertinya kita akan segera berangkat."
"kemana?" Tanya Yun dengang menghapus air matanya.
"Mengunjungi anak nakal yang sudah berani bersekongkol denganmu untuk membohongi ayah".
*******
"Kalian berdua itu ya tega banget udah bohongi ibu selama ini, kalian anggap Ibu ini apa?" Ucap Azhari yang merasa kecewa dengan sikap ke dua putranya tersebut dengan menyembunyikan hal sepenting ini darinya selama ini, kalau gak ketangkap basah mana mungkin mereka bakal ngomong secara jujur dan memberitahukannya. Memikirkan bagaimana keadaan Rega selama ini tanpa sepengetahuan dan tanpa ada dirinya membuat dada Azhari merasa sesak, menyalahkan diri sendiri karena ia telah gagal menjadi seorang Ibu yang menjaga anaknya dan membiarkan melewati masa-masa sulit sendiri tanpa kehadirannya untuk menemani. "Kalian gak nganggap wanita tua ini sebagai ibu kalian ya?"
"Ibu, jangan ngomong kayak gitu." Rega duduk di lantai, bersimpuh dan menciumi tangan yang selama ini telah membesarkan dan memberikan kasih sayang untuknya. "Ibu akan selalu menjadi wanita yang ada di dalam hati kami." Meletakkan kepalanya di pangkuan wanita luar biasa tersebut, merasakan pangkuan yang sangat-sangat nyaman yang tidak bisa ia dapatkan pada sofa atau bantak mana pun. Rasanya Rega sangat beruntung pada usia nya yang gak lagi anak-anak dan muda itu masih bisa bermanja-manja dengan Ibu seperti ini, Ibu selalu memperlakukannya layaknya anak kecil.
Azhari yang menyayangi Rega itu rasanya gak bisa buat marah, rasanya baru kemarin ia mengelus kepala putranya seperti ini saat pertama kali mereka bertemu. Seorang anak laki-laki tampan yang berhati dingin dan sekeras batu, bahkan Azhari memerlukan waktu untuk mendekati dan mendapatkan kepercayaannya. "Sekarang kamu sudah sebesar ini, bahkan Ibu merasa sangat kecil di hadapanmu." Katanya dengan mengelus rambut Rega, mengenang masa-masa dan waktu yang telah berlalu. Masa indah yang telah ia habiskan bersama putranya tersebut, "Maaf karena Ibu gak bisa menemani kamu saat kamu sakit dan Ibu sangat menyesal." Ucapnya lirih dengan menitikkan air mata, seorang Ibu pasti akan merasa sangat sedih apa bila terjadi sesuatu terhadap anak mereka dan itu yang ia rasakan saat ini.
Azhari tersenyum bangga, bangga terhadap putranya tersebut. Walau mereka tidak memiliki hubungan darah namun Rega menganggapnya sebagai pengganti Bundanya dan menyanginya sepenuh hati.
"Ibu jangan berpikir yang tidak penting karena apa pun yang terjadi kami berdua akan melindungi dan tempat Ibu tak akan tergantikan di hati kami." Rega menoleh ke arah Yun, "Benar begitu kan Yun?"
Yun menjawab pertanyaan Rega dengan anggukan lembut, semua yang Rega katakan itu adalah kebenaran yang tak dapat ia sanggah. "Betul apa yang Rega katakan. Selama ini kami merahasiakan semua ini karena kami gak mau ibu merasa khawatir." Yun bergabung bersama Rega, duduk bersimpuh di lantai dengan mencium tangan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya hingga saat ini. "Maafkan kami atas apa yang kami lakukan." Menjewer kedua telinganya sendiri dengan memasang wajah memelas ke arah Ibunya yang selama ini selalu berhasil membuat beliau tertawa karena tingkahnya itu.
"Ya ampun Yun.." Menepuk pipi putranya dengan senyum terkembang, Yun selalu bisa menghibur dan membuatnya tertawa seperti ini saat terjadi sesuatu yang membuat hatinya sedih.
"Ibu, maafkan kami..." Ucap Rega dengan mengikuti apa yang lakukan, merasa bersalah bahwa mereka berdua telah merahasiakan mengenai kesehatannya terhadap wanita yang telah membesarkan mereka berdua.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...," Azhari gak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol dan lucu kedua putranya yang lucu banget di matanya itu. "Kalian sudah kayak anak kucing yang ketangkap basah mencuri ikan." Menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol orang dewasa di depannya. "Sudah hentikan, Ibu gak tahan buat liatnya" Menahan tawa melihat dua putranya melakukan hal tersebut.
Ella yang baru saja keluar untuk membeli beberapa keperluan prtibadinya mengerutkan keningnya, melihat bodyguard yang lebih banyak di bandingkan biasanya berdiri di depan pintu tempat Rega. Dalam jarak yang lumayan jauh itu ia dapat melihat dengan jelas laki-laki berbadan kekar dengan pakaian serba hitam yang langsung Ella kenali siapa mereka. Perasaan berubah seketika menjadi was-was takut kalau terjadi sesuatu pada suaminya tersebut, Ella berjalan lebih cepat lagi di bandingkan sebelumnya untuk cepat sampai dan melihat apa yang terjadi. Kondisi Rega yang belum pulih sepenuhnya itu membuatnya berpikiran negatif, perasaan takut tentu saja menghampirinya. Takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dan itu akan membuatnya kehilangan Rega untuk selamanya. "Aw...," Ella memelankan jalannya, merasakan sakit pada area perutnya. Memeganginya untuk sesaat dan menenangkan anak yang ada di sana, kemungkinan mereka merasakan apa yang Ella rasakan hingga membuat rasa sakit si sana. "Sayang, kita liat Abi kalian dulu ya.. Jangan berulah." Gumamnnya dengan mengelus perut buncitnya. Semakin lama rasa sakit itu semakin besar hingga membuat Ella berjalan dengan berpegangan pada tembok rumah sakit, rasanya perjalanan yang ia lalui tu jauh di bandingkan biasanya. Ella mencoba mengatur pernafasannya, meminimalisir rasa sakit yang ada dan sesekali berhenti untuk menahannya.
Mahendra membiarkan Azhari dan Yun terlebih dahulu menemui Rega karena ia harus menemui pimpinan rumah sakit untuk meminta ijin menambahkan dokter yang telah ia persiapkan untuk merawat Rega. Memberikan pelayan dengan obat-obatan terbaik adalah hal pertama yang akan ia lakukan untuk kesembuhan anak kesayangannya tersebut walau ia yakin bahwa rumah sakit ini memiliki dokteryang handal dan obat-obatan yang baik pula. Selama di dalam liff, Mahendra terus saja menyalahkan dirinya dan membiarkan Yun memikiul beban selama ini. Mengurus perusahaan dan menjalankan dengan sangat baik di samping juga mengurus segala keperluan Rega selama ia sakit. Ia akan memberikan libur panjang untuk menggantikan waktu yang Yun habiskan selama ini dan akan mengurus perusahaan secara langsung. Liburan akan sangat membantu Yun melihat wajahnya dan badannya yang kini terlihat kurus dan capek.
Ting!
Saat pintu terbuka, Mahendra melangkahkan kakinya. Ternyata Yun telah menyewa satu lantai penuh rumah sakit untuk kenyamana Rega, Yun benar-benar telah menjadi seorang saudara yang sangat luar biasa untuk Rega. Mengingat semua itu membuat Mahendra tak mampu manahan senyum yang terukir di bibirnya.
"Ella?"
Dengan langkah cepat Mahendra mendekati anak menantunya tersebut yang saat ia lihat berjalan dengan berpegangan tembok rumah sakit. Sudah cukup lama ia tidak melihat secara langsung menantu kesayangannya itu, walau hanya dari belakang Mahendra dapat melihat dengan jelas betapa susahnya hanya untuk berjalan.
"Ayah?" Mendapati siapa yang telah memegang bahunya, sosok ayah mertuanya kini tepat di belakangnya. "Kapan... Kapan ayah datang?" Ucapnya terbata-bata dengan menahan rasa sakit yang semakin hebat, rasanya Ella udah gak sanggup buat berdiri menopang badannya. Tapi melihat banyaknya irang yang berjaga membuatnya melupakan semua itu dan berusaha untuk sampai ke kamar secepatnya.
"Kamu gak pa-pa?" Tanya tanpa menjawab pertanyaan dari menantunya itu, wajah cantik Ella kini berubah menjadi seputih kertas dengan keringat yang menetes deras. Tubuh mungilnya itu terlihat kepayahan menyangga perutnya yang sangat besar, "Nak? Kamu bisa dengar ayah?" Mahendra menarik badan menantunya tersebut untuk bersandar dan bertumpu padanya.
Hanya anggukan pelan yang bisa ia lakukan, berjuang menahan rasa sakit bukan perkara yang mudah untuknya. Tas kain yang ia bawa untuk menaruh bawaannya kini sudah terlepas dan isinya berhamburan di atas lantai yang membuat bunyi benturan keras di sana membuat semua bodyguard yang berjaga mengalihkan perhatian mereka ke arah datangnya suara tersebut.
*****
Sosok ayah yang ada si dalam diri Mahendra itu emang luar biasa, the best of the best deh pokoknya....
Namanya aja novel kan, jadi mau ngegambarin gimana karakter tiap tokoh itu bebas sebebas-bebasnya walau setiap karakter yang author gambarkan di sini itu emang ada yang real dari dunia nyata dan di gabungin sama imajinasi author sendiri yang kadang halunya gak ketulungan.
Yang masih punya Ayah, Papa, Bapak, Abi, Papi, Abah atau apa aja lah nama sebutan buat lelaki yag paling berjasa buat kita itu harus banyak-banyak bersyukur karena masih punya waktu buat bikin mereka bahagia. Katanya sih Ayah adalah cinta pertama buat para anak perempuan mereka, seorang Ayah emang sih enggak kayak Ibu yang tiap hari ngurusin kita dari pagi sampek malam tapi jangan salah karena Ayah kerja gak kenal waktu dan mempertaruhkan nyawa mereka buat menjamin kehidupan dan kenyamanan anak istri mereka.
Makasih yang udah setia nunggu Up tiap hari dan setia buat baca novel yang author tulis ini. Jangan lupa mampir ke novel author lainnya yang author tulis.
Jangan lupa Like, komen dan votenya yach...
Tinggalin jejak kalian biar authornya tambah semangat lagi nih.
Makasih.....