
Johan melirik kearah jam tanggannya, entah berapa jam yang Ella perlukan untuk menjadi cantik.Kalo cewek udah dandan kelar, jangan ditanya berapa menit tapi tanya berapa jam yang mereka perlukan. Johan sempat berpikir terjadi sesuatu saat berada di kamar mandi atau lainnya yang membuat Ella mengalami kesulitan dan insiden disana karena tak kunjung keluar dari kamarnya. "Lebih baik memastikannya secara langsung." Gumamnya berjalan menuju kamar Ella yang tertutup.
"Ella, ayo cepat keluar keburu malam." Mengulurkan tangan dan membuka gagang pintu.
"Iya bentar lagi Pa...." Jawabnya memakai jepit rambut berbentuk pita untuk menyempurnakan penampilannya.
Johan tertegun melihat putrinya yang sangat cantik, bahkan kini seperti melihat sosok istrinya yang telah lama ia rindukan dan mereka berdua sangat mirip.
"Papa?" Ella tersenyum saat melihat Papanya yang bengong.
"Ella jelek ya?"
Johan tersadar dari lamunannya, "Kamu cantik banget sayang, ayo berangkat keburu malam lestorannya tutup."
Ella mengangguk dan memakai sepatu tepeknya, ia memilih memakai sepatu tepek karena lebih leluasa dalam bergerak dan tak akan membatasi ruang geraknya. "Kita makan malam dimana sih pP?" Katanya penasaran dan penuh tanda tanya, tumben-tumbenan ngajak makan malam sambil nyuruh dandan cantik. Biasanya juga gak pernah nyuruh dandan kalo ngajakin makan malam.
"Udah diem aja, nanti juga tau" Membukakan pintu mobil untuk Ella. "Silahkan Tuan Putri...." Layaknya seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan tuan putri.
Ella tersenyum manis dan mebungkukkan badannya sedikit. "Dengan senang hati." Katanya lagi disambut tawa Papanya.
Sepanjang perjalanan Ella mengoceh menceritakan tentang kejadian yang ia alami di sekolah, kecelakaan kecil yang ia alami dan kepergiannya ke makam mamanya sore tadi.
Ia terbiasa menceritakan apa pun dengan Papanya.
"Terus kaki kamu gimana?" Baru menyadari kaki Ella terperban disana karena tadi saat bertemu ia memakai celana jins yang menutupinya.
"Gak ada yang serius, cuma luka kecil bentar lagi juga sembuh."
"Kenapa gak telpon papa tadi?" Tampak wajahnya sangat khawatir mengetahui Ella mendapat kecelakaan tadi pagi dan sebagai orang tua tak mengetahui apa-apa.
"Om Rega?" Johan mengernyitkan alisnya saat mendengar nama laki-laki asing yang putrinya sebutkan.
"Iya, yang nyerempet Ella. Dia juga yang betulin cantik." Jelasnya.
"Syukurlah kalau gitu." Bernafas lega.
"Tadi pas jengukin mama aku ketemu lagi sama dia, katanya jengukin makam Bundanya gitu disana."
"Dia siapa?" Tanya Johan bingung.
"Om Rega Pa.... Ih Papa nyebelin, gagal fokus mulu, makanya Pa minum Aqua dulu biar gak gagal fokus." Katanya menirukan iklan air mineral di tv.
"Papa bakalan gagal fokus kalo kamu nyebutin nama cowok di depan Papa."
"Papa cemburu?"
Johan tertawa geli melihat ekspresi Ella,
"Gimana gak cemburu coba punya anak secantik kamu dan udah gede. Papa takut kamu dijahatin orang."
"Kayaknya Papa lupa ya kalo Ella jago karate sama silat? Yang ada mereka takut sama Ella Pa."
Johan mengangguk mengiyakan, mengingat kejadian saat Ella duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saat itu pulang sekolah Ella diganggu preman yang ingin memalaknya, bukannya dapat uang dari mangsanya malahan mereka babak belur di hajar Ella tanpa ampun.
Rupanya mereka memilih mangsa yang salah hingga tak telak membuat mereka lari tunggang langgang.
Enam orang pemuda melawan sat orang anak perempuan baru gede.