
Melihat senyum Ella yang begitu bahagia membuat hati Willy teriris, kebahagiaan dan senyum itu menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Apa pun dan bagaimana pun caranya ia akan melindungi senyum itu agar tetap ada tanpa pernah redup dan tergantikan oleh adanya air mata. Mengingat apa yang Rega katakan, apa kah mungkin semua itu mampu Willy lakukan??? Saat ini bukan saatnya untuk Willy berputus asa dalam keterpurukan, laki-laki harus memegang teguh janji yang telah ia ucapkan dan kini janji itu akam ia buktikan apa pun yang akan terjadi. Willy tahu bahwa hati dan cinta Ella telah sepenuhnya milik Rega dan hati itu akan pecah apa bila terjadi sesuatu kepada pujaan hatinya. Willy mengambil Hp-nya, menghubungi orang yang tepat yang akan membantu menemukan solusi untuk semua itu. "Selamat malam profesor Adi? Bisakah saya meminta bantuan Anda?" Katanya saat tersambung.
"Abi dari mana aja?" Kata Ella menghampiri Rega yang datang dari arah halaman depan, Ella celingukan cari Willy yang gak ikutan nongol padahal kan tadi mereka barengan pas di tinggalin ke dalam.
"Batal nih ngambeknya?" Goda Rega dan berusaha sebisa mungkin membuat semuanya terlihat baik-baik saja.
"Entar aja di lanjutin di rumah, kalo di sini gak seru ngambeknya. Gak bisa manja-manjaan."
"Pasti minta yang aneh-aneh lagi kan?" Kata Rega curiga, firasat buruknya langsung On mode siaga satu buat ngadepin kemungkinan terburuk dalam siklus ibu hamil.
"Enggak, Ella cuma minta di peluk aja entar pas tidur dari samping." Katanya dengan bergelayut manja di tangan Rega, maunya manja aja hari ini. Bawaan hati yang lagi bahagia. "Ella punya sesuatu buat Abi." Merogoh kantong bajunya yang udah di persiapin dari tadi. "Abi liat?" Memberikan cetakan hasil USG-nya tadi siang. "Ini gambar anak kita." Menunjuk dua titik yang kecil disana, sengaja Ella gak pake USG 4D karena kehamilannya masih sangat awal.
"Tunggu, berarti tadi...,"
"Maaf Bi..., Ella udah gak sabar buat liat." Menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya dengan ekspresi wajah memelas layaknya anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan oleh orang tuanya dan memotong omongan Rega yang belum kelar, gak usah di kelarin Ella tau kemana arah omongan Rega itu. "Tiap hari Ella di rumah sakit tangan Ella udah gatel pengen liat anak kita." Katanya mengakui kalo mencuri star duluan buat nengok anak mereka yang masih kecil banget itu.
Kecolongan duluan kan akhirnya, bukan cuma Ella tapi Rega emang kepengen banget buat liat calon anak mereka. Rencana besok sebelum ngadain jumpa pers buat mengumumkan pernikahan mereka Rega pengen ngelakuin USG, tapi udah lah kalo keduluan sama Ella besok juga masih bisa di lakuin walau udah tau hasilnya duluan.
"Abi tau, Ella gak nyangka bakalan ada dua titik disini." Katanya dengan menunjuk gambar hitam putih tersebut, "Ini anak kita Bi, mereka ada dua." Katanya lagi dengan nada suara yang sangat gembira, "Di dalam sini mereka temenan dan gak sendirian." Kata Ella lagi dengan mengelus perutnya yang membesar, bukan karena bayinya tapi karena kekenyangan makanya tu perut besar.
Rega memperhatikan titik kecil yang Ella tunjuk, walau cuma titik kecil bikin perasaan Rega terharu dan nyaman sekali. Bahagia rasanya mendengar ia akan mendapatkan dua malaikat kecil sekaligus yang akan meramaikan rumah mereka nanti, membayangkan saja membuatnya bahagia apa lagi kalau semua itu benar-benar akan terjadi. "Kapan mereka akan lahir?" Katanya serius, memperkirakan semuanya denga waktu yang tepat.
"Kemungkinan 7 bulan lagi, Akh..., rasanya Ella gak sabar buat nunggu kelahiran mereka." Memeluk tangan Rega gemas sambil mengacak-ngacaknya, gemas sendiri membayangkan bayi-bayi mungil yang bakal bisa di cium setiap hari.
"Wah..., ternyata kalian berduan disini? Udah lama nikah masih aja suka mojok. Awas entar ada orang ketiga." Celetuk Ririn yang datang dengan membawa piring berisi berbagai macam jenis makanan yang di panggang, memberikan pada Ella dan duduk di sampingnya. "Seriua amat, amat aja gak seserius kalian?"
"Ye..., sirik aja lo itu bawaannya. Lagian orang ketiganya itu elo sendiri." Menggeser duduknya untuk memberikan tempat buat Ririn. "Liat deh Rin, anak gue bakalan kembar loh!" Ujarnya antusias menceritakannya pada Ririn dengan melahap sosis panggang.
"Serius lo La?" Merebut kertas hasil USG dari tangan ella dan memperhatikannya, wajahnya yang kegirangan tadi kini berubah menjadi kerutan. Gak ngerti tu kertas artinya apaan, cuma ada gambar-gambar yang gak jelas di matanya. Maklum lah bukan anak kesehatan jadinya gak ngerti maksud dan arti tu kertas, coba kasih kalkulator buat ngitung laba saham atau lainnya bakal langsung paham sampek ke akar-akarnya. "Sorry La, gue gak ngerti nih."Katanya pasrah dan menyerh, makin lama di liat makin gak bisa di mengerti.
"Gue kira lo paham main serobot aja." Mengambil dari tangan Ririn yang lagi asik makan jagung bakarnya, jadi tu kertas hasil USG bolak-balik dari tangan Ella ke tangan Ririn dan gitu sebaliknya. "Liat, ada dua titik kan? Maksudnya kayak kantong gitu di sini..." Mengarahkan jari telunjuknya ke arah yang di maksud biar Ririn lebih jelas lagi dan gak nanya panjang kali lebar. "Itu artinya ada dua janin dalam rahim gue." Jelasnya.
"Oh...," Ririn manggut-manggut sok ngerti, sepersekian detik raut wajahnya biasa-biasa aja tapi pas sadar dan bisa mencerna apa yang Ella katakan baru tu mukanya berubah. Ekspresi kaget kayak orang ketiban durian runtuh, matanya membulat sempurna dengan mulut membentuk hurup O. "Serius La...," Merebut dan memperhatika sekali lagi biar lebih puas. "Artinya lo bakal punya anak dua sekaligus?"
Ella mengangguk dan tersenyum, "Double alias Baby twin."
Ririn memeluk Ella dengan perasaan suka cita, "Gue bakal punya keponakan kembar yang lucu-lucu..." Menggoyang-goyangkan badan Ella kegirangan. "Gak sabar nunggu mereka lahir dan gue janji bakal sayang sama mereka kayak anak gue sendiri."
"Udah Rin, kepala gue pusing lo goyangin kayak gini." Melepas pelukan Ririn yang bikin kepalanya puyeng sampek mual rasanya.
"Lo tau gak, Vino ngelamar dan ngajak gue nikah. Semoga aja nanti anak gue bakalan kembar kayak anak lo, kita jadi keluarga besar yang receh dan bahagia."
"Vino ngelamar lo? Seriuskan Rin?"
"Ih Ella, masak gue becanda sih... Ya serius lah..."
"Selamat ya.... Dua sahabat karib gue bakal jadi suami istri!" Memeluk Ririn bahagia, seneng banget mereka berdua akhirnya bersama setelah sekian lama cinta bertepuk sebelah tangan yang Ririn rasakan. "Kapan kalian bakal nikah? Rasanya gue gak rela gak bisa liat momen sakral kalian berdua. Ngapain sih pakek acara kuliah jauh-jauh segala."
"Nunggu urusan kepindahan Vino dulu, lagian si Vino pakek acara ganti warga negara segala jadi urusannya nambah panjang." Katanya kesal. "Masak kita nempelin lo terus sih yang udah punya laki. Malu keles say..., entar di kira kita-kita cuma mau nebeng tenar."
"Entar gue yang urus biar semuanya beres," Kata Rega yang dari tadi liat dua orang itu heboh kaya ayammau bertelor, "Gue yang bakal bayarin gedung sama catering kalo kalian beneran nikah entar."
"Beneran nih Om?" Kata Ririn gak percaya, gimana mau percaya gitu aja bukan urusan duit satu atau dua juta ini yang di keluarin buat gedung dan catering resepsi pernikahannya tapi udah main ke puluhan bahkan ratusan juta dan parahnya Ririn belum terbiasa buat mengubah nama panggilan Rega. Masih dalam Zona nyaman manggil Rega dengan sebutan Om, kayak dulu pas pakek seragam putih abu-abu.
"Emang gue becanda apa?" Kata Rega dengan tampang serius yang tak terbantahkan, sudah serius kayak gitu masih di bilang becanda.
"Makasih Om Rega yang baik, semoga panjang umur, sehat selalu dan murah rezeki." Kata Ririn sepontan saking girangnya di bayarin gedung sama cateringnya, lumayan kan duitnya buat tambahan beli rumah.
"Rin, yang ulang tahun kan Gue ngapain lo ngucapinnya sama laki gue?" Protes Ella, gak terima Ririn ngomong gitu ke Rega.
"Bukan sirik tapi gak terima!"
"Sama aja keles..., Lo beruntung punya laki kayak Om Rega, tapi gue beruntung juga sih dapat calon laki kayak Vino. Ha ha ha ha...," Katanya yang muji gak ikhlas itu, bagi Ririn Vino tetap nomer satu tak tertandingi.
Ella memutar bola matanya jengah, mulai lagi dan bucinnya Ririn kalo menyangkut yang namanya Vino bakalan panjang ceritanya. "Kok bisa gue temenan sama orang sableng kayak lo?" Sambik memijit pangkal hidungnya.
"Itu tandanya lo juga sama sablengnya, gitu aja kok heran sih." Kata Ririn bangga bisa ngeles mulus tanpa nabrak dan penyok-penyok, "Makasih ya Om udah ngasih kerjaan buat kita berdua di perusahaan Om."
"Gak usah pakek acara terimakasih duluan, kalo kerja kalian gak sesuai gue gak bakalan sungkan buat mecat kalian berdua kapan aja." Kata Rega, lagian tujuan awal emang biar Ririn dan Vino bisa balik dan nemenin Ella kayak dulu. Rega udah menyeleksi siapa-siapa orang yang benar-benar tulus di dekat Ella untuk membahagiakan istrinya tersebut.
"Tenang aja Om, kita berdua punya kemampuan kok selain modal koneksi ekslusive dari Ella." Katanya sambil nyengir ngandelin Ella buat jadi tameng Mereka.
"Enak aja lo bawa-bawa nama gue...,"
"Kan elo bininya say..., Gak pa-pa kan kalo gue manfaatin kedudukan lo sebagai seorang bini big bos."
"Elo itu dari dulu emang udah manfaatin gue," Inget tiap hari nyalin pr di sekolah dan jawaban saat ulangan, "Amal gue udah banyak sama lo dari jaman lo masih kenceng sampek muka lo keriput."
"Kejam banget sih lo bawa-bawa keriput segala. Teman macam apa sih lo La?"
"Gue kan belajat daei pengalaman, Lo duluan yang kejam sama gue. Ninggalin gue gitu aja sama Vino padahal kan kalian tau kalo cuma kalian sahabat gue yang otaknya lebihan satu ons."
"Maaf sayang... Tuntutan buat memperjuangkan cinta gue, setelah gue dapetin toh gue balik lagi kan sama elo plus gue bawa pulang Vino sekalian biar kita berempat bisa sama-sama terus."
"Berempat sama siapa?" Tanya Ella heran, bukannya cuma bertiga?
"Sama laki lo lah..., kasian laki lo kalo gak di masukin ke dalam itungan. Ya kan Om Rega?"
"Hem...," Jawab Rega sambil makan bakso bakar yang ada dalam piring yang tadi Ririn bawa. Ternyata keputusannya emang benar menempatkan dan membuat Ririn serta Vino pulang untuk menemani Ella, setidaknya Ella gak bakalan kesepian karena ada mereka berdua saat Rega gak bisa menemaninya suatu hari nanti. Rega sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat sempurna dan terperinci, mengingat apa yang akan Ella lalui menjadi suatu keadaan yang berat bila ia tanggung dan ia jalani seorang diri. Persahabatan mereka bertiga adalah salah satu cara Rega mengurangi beban yang akan Ella rasakan saat kepergiannya yang tak tau sampai kapan akan memerlukan waktu untuk kembali normal seperti sedia kala. Manusia hanya bisa berencana dan berdoa namun Tuhan jua yang menentukan segalanya....
*****
Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.
Jangan lupa Like sama Votenya biar authornya tambah semangat lagi buat berkarya.
Yang pada main tebak-tebakan ada apaan sih sama Rega???
Ada rahasia dan persekongkolan apa yang terjadi antara Willy dan Rega???
Jangankan kalian, author sendiri penasaran kok gimana entar kejadiannya.
Kadang author punya ide dadakan yang tiba-tiba aja muncul dengan sendirinya, tapi alur cerita kali ini udah author pikirin dari dulu-dulu.
Tenang aja buat kalian semua yang pengennya happy ending...
Emang semua pada Happy ending kok, walau ada sedikit bumbu-bumbu yang pakek bawang bombai sama bawang merah (Rasanya sedih author kalo inget harga bawang masih mahal dan belum stabil 🤣🤣🤣), tapi ending nya semua bahagia dengan pasangan yang emang udah author atur. Gak bakalan ada yang jadi jones alias jomblo ngenes kok....
Mereka semua bakal dapat pasangan dan hidup bahagia bareng pasangan Mereka.
Di rumah aja ya guys..., jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai wabah yang lagi nge-hits di seluruh dunia ini. Jadikan rumahku sebagai surgaku biar anak-anak pada betah di rumah ya Bunda-bunda... Di sini lah peran Bunda yang ke pakek banget, buat jadikan rumah tempat yang nyaman dan aman dengan di bantu suami-suami hebat juga.