
Dengan ragu, Yun mengetuk pintu sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan terlihat usang. Suasana tampak sepi dan lenggang di sana tanpa ada seorang pun di dalam rumah tersebut, ia membulatkan tekad saat melihat gadis kecil yang ia genggam tangannya tersebut tampak pucat karena kelelahan. Perjalanan mereka cukup jauh untuk ukuran anak kecil apa lagi di temani matahari yang bersinar dengan teriknya membuat perjalanan mereka terasa semakin berat di rasa. Bahkan Yun harus beberapa kali istirahat saat anak kecil itu merengek karena capek, untuk anak sekecil ini perjalanan mereka pasti sangat berat.
Tok tok tok...
Tak ada sahutan dari dalam rumah membuat Yun menempelkan wajah pada jendela kaca untuk memastikan rumah itu kosong atau berpenghuni, tampak sepi di dalam tak ada seorang pun yang ia lihat di dalam sana membuat Yun menajamkan penglihatannya dan sekali lagi menyapu seluruh ruangan untuk meyakinkan bahwa rumah itu benar-benar kosong.
"Kakak?"
"Iya, sabar ya... Kakak akan membawamu pulang secepat mungkin." Katanya menenangkan gadis kecil yang tampak kebingungan itu.
"Permisi...." Kata Yun lantang, dan suaranya tampak menggema.
Tak berapa lama seseorang yang kebetulan lewat menghampiri Yun. "Permisi Bibi, apakah paman pemilik rumah ini ada di rumah?" Tanya Yun yang tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk bertanya.
"Oh... Tadi si Udin lagi bawa anaknya buat berobat."
Yun terperanjat, "Apa kah anak paman baik-baik saja?" Ternyata paman itu berkata jujur bahwa anaknya saat ini sedang sakit.
"Iya, anak Udin emang sudah lama sakit. Tadi bilang sama Bibi kalau mereka mau bawa anak mereka buat cek kesehatan."
"Terimakasih Bibi." Kata Yun sopan dengan menundukkan badannya sedikit dan tersenyum. Pantas rumah paman sepi...
Siapa anak-anak ini? Mana mungkin Udin punya keponakan se ganteng dan se cantik mereka? Kalau di liat mereka bukan orang miskin... "Sama-sama. Tunggu aja sebentar, mereka sudah lama kok perginya dan Bibi rasa sebentar lagi udah pulang."
Yun duduk di kursi tua yang ada di depan rumah, "Adik manis sini...," Menepuk kursi kosong di sampingnya."
Ella kecil menurut, ia duduk di sana.
"Nama kamu siapa?"
"Eyya..."
"Eyya?" Yun mengerutkan alisnya, Mana ada nama seperti itu? "Enna?"
"Bukan..., Eyya...,"
Wah, salah! "Ella?" Katanya menebak.
"Betul." Katanya dengan tersenyum manis.
**********
"Bagaimana keadaan Rega?" Kata Yun yang melihat Raka keluar dari kamar, ia ingin segera tahu bagaimana keadaan Rega saat ini setelah mendapat penanganan darim medis. Bukan hanya Yun tetapi Ella yang ada di sampingnya itu juga, wanita mungil itu langsung berdiri menyambut Raka dengan wajah harap-harap cemas.
Sekilas, Raka menatap Yun untuk meminta penjelasan bagaimana ia akan menjelaskan semuanya itu kepada Ella yang sempat mereka berikan berita palsu atas permintaan Rega. Saat Yun mengangguk, akhirnya Raka berani untuk mengatakan yang sebenarnya karena dari kode yang Yun berikan bahwa Ella telah mengetahui kebenarannya. "Untuk sementara semua baik-baik aja, jet pribadi Rega udah siap belum?"
Yun mengangguk, "Semua udah siap."
"Kita akan berangkat sesuai jadwal dan melakukan transplantasi sesuai jadwal." Raka melirik dan memutuskan menatap Ella yang ada di samping Yun dengan mata tampak sangat khawatir. Seulas senyum ia berikan kepadanya, "Sementara gue nyiapin peralatan buat di pesawat lo bisa temui Rega, dia udah sadar sekarang." Kata Raka.
Tanpa mendapatkan perintah yang kedua kali Ella langsung masuk dengan menabrak Raka yang berdiri di ambang pintu.
"Wah, tenaga sama badannya beda banget." Menunjuk ke arah Ella yang menerobos dan masuk ke dalam kamar.
Rega yang telah sadar itu melihat ke arah Ella yang datang dengan berlari, "Eits, jangan lari.." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Ella langsung memeluknya, takut kalo pas lari keserempet karpet yang berakibat fatal buat kandungannya
"Abi jahat....," Ujarnya dengan perasaan sesak, pengennya tadi marah sama Rega kalo pas bangun karena udah bohong. Tapi liat orangnya yang kayak gitu bikin Ella gak tega dan lupa buat marah dan di gantikan sama perasaan senang.
Rega mengelus rambut Ella dan berusaha tersenyum, kilasan ingatan saat ia tak sadarkan diri langsung memenuhi ingatannya yang mulai terbentuk. "Maaf, bukan maksud Abi bohongi kamu."
"Bukan maksud Abi bohongi? Tapi kenyataannya Abi bohong kan? Pakek acara sekongkol sama dua cecunguk di depan sana." Ujarnya kesal ingat gimana rencana mereka bertiga yang ngarang cerita bebas buat ngadalin Ella.
Raka dan Yun yang ada di luar dengar itu langsung mengerjapkan mata, gak nanggung-nanggung di bilang cecunguk sama Ella.
"Jangan ngomong gitu..."
"Gak usah belain mereka, Abi sama aja cecunguknya." Semprotnya.
"Bener, lebih ngeri di bandingin Rega." Tambahnya dengan menahan tawa, untuk yang pertama kali berani ngatain mereka cecunguk cuma Ella.
"Hush! Jangan ngomong yang gak baik, kamu lagi hamil."
"Biarin aja, Ella kesel sama kalian bertiga dan berempat sama Kak Willy yang mentah-mentah bohongi Ella." Lupa tadi masukin Willy dalam daftar cecunguk. "Kualat entar bohongi bumil."
"Aduh..., Abi jadi gemes kalo liat istri Abi ni ngomel-ngomel mulu dari tadi." Mencubit pipi Ella gemas, udah lama gak dapet omelan manis yang berharga dari sang istri. Rasanya Rega lebih senang kalo Ella ngomelin dia di bandingkan nangis bombai dalam pelukannya. Bayangan awal tu cowok kalo Ella tau kondisinya sekarang bakalan nangis bombai berhari-hari sampek matanya bengkak gak taunya malah ngomel-ngomel sampek matanya melotot.
"Abi?!"
Rega menghentikan tangannya dan mencium bibir Ella kilat, "Iya maaf... Yun dan Raka pasti udah ceritakan?" Katanya menebak apa yang terjadi.
Ella mengagguk pelan, "Kenapa Abi gak bilang dari awal sama Ella???"
Rega menepuk pelan tangan Ella, mencari kata-kata yang tepat buat jelasin semuanya. "Bukannya Abi gak mau bilang cuma Abi gak mau kamu bakalan sedih kalau tau semuanya." Ujarnya dengan mengulurkan tangan, mengusap air mata yang mengalir di mata cantik istrinya tersebut. "Abi gak mau kamu nangia cuma karena Abi dan ganggu kesehatan kalian bertiga."
"Seandainya Abi ngomong dari awal kan Ella pasti bisa nerima semuanya,"
"Maaf sayang..., Abi tu sayang banget sama kamu dan gak mau terjadi apa-apa makanya Abi gak cerita."
"Tapi tetep aja kan...,"
Gemas mendengar ocehan Ella yang gak ada habisnya itu dan berbuntut pada perdebatan membuat Rega mencium istrinya tersebut untuk menghentikannya, ciuman lembut yang ia berikan itu sukses bikin Ella diem walau sesaat. Rega melepaskan ciumannya dan tersenyum. "Jangan ngomel lagi, gak kasian apa suami kamu yang ganteng ini di omelin terus? Bisa komplikasi ke jantung Abi jadinya." Katanya menggoda.
"Ella takut kehilangan Abi, Ella gak mau anak kita lahir tanpa Ayah dan yang paling Ella takutkan entar kalo Abi sakit siapa yang masakin Ella pas lapar, yag mijitin Ella pas capek, yang nyuci baju Ella, yang bersihin rumah, cuci piring...,"
Ya Tuhan.... Rega menggeleng-gelangkan kepalanya mendengar rentetan urutan yang Ella bilang, "Jangan lupa tambahin yang di ajak lembur sama meluk kamu." Bisiknya, sengaja buat menggoda Ella biar liat dia kelabakan. "Lembur dulu ya sayang mumpung masih ada waktu sebelum Abi berangkat." Bisiknya dengan menggigit pelan telinga Ella yang langsung bikin mukanya merah padam karena malu.
"Dasar otak mesum! Tu tulang udah mau keropos masih mikirin sel*ngkangan mulu!" Katanya kesal dengan melempar bantal ke arah wajah Rega yang langsung di sambut tawa olehnya.
"Ha ha ha ha...," Rega menarik tangan Ella yang udah mau pergi ninggalin, "Udah jangan marah-marah, entar sampek Abi sembuh total gal bakal kok kayak gitu. Tapi gak janji juga kalo Abi pengen."
Ella melotot ke arah Rega, "Jadi?"
"Hm?" Rega masih menunggu kata-kata Ella selanjutnya.
"Jadi Abi mau berangkat? Trus Ella gimana?"
"Abi sih maunya kamu tetap di rumah,"
"Tapi Ella maunya ikut Abi."
"Sayang...."
"Ella mau jagain Abi dari perawat dan dokter centil di luar sana. Ella gak rela tangan mereka megang-megang Abi."
Akh... Gemesnya istri gue kalo kayak gini..., gak rela gue tinggal. Pengennya gue bungkus trus masukin kantong biar di bawa ke mana-mana. "Perawat???" Rega menahan senyum mendengarnya. "Aduh..., Abi tu malah pengen kamu di rumah biar bisa leluasa sama mereka buat..." Belum selesai ngomong Ella udah melotot.
"Tu burung Ella bikin asam manis kalo macem-macem!"
"Jangan, entar kita gak bisa bikin anak lagi."
"Habisnya Abi ganjen banget!"
"Maaf..., Abi kan cuma becanda. Abi gak mau kamu capek. Jadi tunggu Abi pulang ya?"
Ella menggeleng cepat, "Pokoknya Ella ikut, kalo gak jangan harap Abi liat Ella lagi."
"Kamu mau kemana?"
"Ke Korea cari suami yang ganteng kayal Lee Min Ho."
******