Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Modus Nenek


Ella yang tenggelam dalam perasaannya itu membenamkan wajahnya di dada Rega.


"Om, jantung Om bunyinya udah kayak speker pengumuman di mesjid."


"Iya, itu pengumuman buat lo. Kalo lo itu cums punya gue, gal ada yang boleh buat deketin lo."


"Om tu pinter banget ngelesnya, bikin Ella ngeri sendiri."


"Gue belajar dari elo, kalo lo ngeri mending gak usah mikir mau deket sama cowok lain selain gue."


Rega menyandarkan dirinya di dinding, membelai rambut Ella dan menikmati saat-saat seperti ini. Untuk pertama kalinya Ella bermanja-manja dan itu sangat menyenangkan.


"Om, emang Om gak keberatan?"


"Tubuh lo itu gak berat sama sekali." Jawabnya jujur


"Bukan itu...," Yang dimaksud apaan jawabnya malah apaan.


"Terus?"


"Maksud Ella Om gak keberatan sama Ella yang masih di bawah umur, kan Om pernah bilang kalo bakal merusak citra Om jalan sama anak di bawah umur." Mengingatkan apa yang Rega katakan tempo hari, kali aja kan ada penyesalan di kemudian hari.


"Hahahahaha..., itu dulu. Lagian gue gak penting sama citra atau apa lah itu asal bisa sama elo. Bahkan gue rela ninggalin dunia gue saat ini dan semua yang gue punya saat ini kalau lo minta." Karena Ella lebih berharga di bandingkan semua materi yang ia miliki saat ini, tak ada yang bisa menggantikannya.


"Ella mau makan apa kalau gitu?"


"Makan nasi lah, kita nanam di sawah, mancing ikan di sungai."


"Sampek mati kelaparan mana dapat ikannya," Ella masih sebal mengingat waktu mancing bareng Rega yang satu pun gak ada ikan nyangkut di kailnya yang ada malah dapat sendal.


"Lo aja yang gak sabaran, buktinya gue mancing ikan yang paling susah akhirnya dapat."


"Ikan apaan?"


"Piranha."


"Dimana Om dapat ikan yang kayak gituan? Bukannya ad di sungai Amazon ya?"


"Disini." Mengusap kepala Ella.


"Om nyebelin pake ngatain Ella ikan piranha segala!" Sadar kalo Rega saat ini menggodanya.


"Piranha yang pemarah, tapi gue suka." Mengusap bibir Ella dengan ujung jarinya dan mengecupnya lembut.


*********


"Tuan muda, ada yang ingin Nyonya bicarakan dengan anda." Pak Wendi menghampiri Rega yang baru aja pulang dari rumah Ella untuk mengantarkannya, baru aja nyampek dwpan pintu. Pasti penting banget sampek orang kepercayaan Nenek itu menunggunya di depan pintu.


Tampak Nenek duduk di tempat tidur dengan menyesap kopi panas dan tertawa melihat adegan yang menurutnya lucu di tv, Rega mengerutkan keningnya heran. Baru tadi Nenek kelihatan sangat pucat dan tak bertenaga, tapi ni malah bersantai ria dengan minum kopi dan menonton tv. Wajahnya sangat segar tak sepucat tadi, apa lagi kalo liat bisa ketawa bisa di pastikan dalam keadaan yang sangat baik.


"Nenek, lebih baik tiduran dulu kalo belum sehat."


Wanita yang telah berumur itu tertawa kecil mendengar perhatian yang cucunya berikan itu, aktingnya sangat sempurna untuk memperdaya yang lebih muda di bandingkan dirinya. "Akting Nenek hebat bukan?" Meletakkan kopi di meja kecil yang ada di samping ranjang, mengambil remote tv dan mengurangi volumenya. Nenek menepuk sisi ranjang, menyuruh cucu kesayangannya itu untuk duduk di sampingnya.


"Maksud Nenek apa? Bukannya Nenek sakit dan Nenek bilang...,"


"Itu cuma akal-akalan Nenek," Tersenyum puas bisa memainkan drama dengan sangat baik, bahkan tanpa cela sedikitpun. Harusnya dapat paial Oscar nih buat bakat terpendam Nenek.


"Jadi Nenek ngerjain Rega?"


Nenek mengangguk, "Bukan cuma itu, Nenek bantu kamu buat dapetin Ella."


"Nek..., Nenek tau gak gimana rasanya pas dengar Nenek sakit, sampai Rega bawa motor kayak orang balapan. Untung aja gak sampek kenapa-napa apa lagi bawa Ella." Rasanya lega bercampur marah sama kelakuan Nenek yang gak sadar usia itu. "Kalo sampek nyunsep di jalan bawa anak orang aku bisa di cincang sama bapaknya."


"Hahahaha...," Nenek tertawa membayangkannya, seandainya bisa liat pasti menyenangkan sekalj rasanya. "Rega, Nenek minta maaf karena Nenek sudah gak percaya sama kalian. Nenek kira Agnes gadis yang baik, makanya Nenek sempat percaya dengan apa yang Agnes katakan tentang Ella. Nenek cuma pengen kamu dapat yang terbaik."


"Seharusnya Nenek percaya sama cucu Nenek di bandingkan orang lain." Katanya sebal sempat keputusannya di ragukan olwh Neneknya.


"Iya, Nenek tau kalau Nenek salah. Makanya Nenek minta maaf dan ingin menebusnya. Bagaiman? Apa Ella menyetujuinya?" Tanyanya antusias.


"Rega gak mau paksa Ella dalam hal ini."


"Gadis sebaik dia dimana lagi kamu dapat? Nenek sudah menyelidiki semua tentang Ella, dari keluarga dan latar belakangnya bahkan Nenek kaget mengetahui ayahmu dan ayahnya adalah teman baik. Nenek sangat terharu saat tahu Ella memiliki yayasan yatim piatu yang di kelola sendiri. Gadis manis seperti Ella sangat sempurna menjadi pasangan kamu dengan sikap polos dan kesederhanaannya."


"Kalau itu Rega tau...." Jawabnya ragu, semua itu yang bikin Rega mentok sama tu cewek.


"Lalu?"


"Ella masih pengen kuliah, Rega gak bisa egois dengan memaksakan kehendak sendiri. Cita-cita Ella sangat mulia, dia ingin mendirikan rumah sakit untuk orang yang gak mampu walau cucu Nenek ini ngebet banget pengen nikahin dia sebelum di lirik banyak cowok lainnya."


"Itu hal yamg mudah buat Nenek, warisan Kakekmu lebih dari cukup kalau cuma mendirikan rumah sakit yang seperti Ella mau. Nenek akan mengatur segalanya, bahkan Nenek rela menghabiskan semua warisan Kakekmu untuk mendukung cita-cita Ella. Nenek sangat bahagia Tuhan menemukan kalian berdua."


"Nenek cuma khawatir, umur kamu udah 27 tapi gak sekalipun bawa calon buat di kenalkan sama Nenek. Kamu mau nunggu Nenek mati baru cari istri?"


"Ya gak gitu Nek..., Selama ini belum ada yang cocok. Lagian kan aku gak ada waktu buat pacaran, kerjaan aku sudah banyak gak sempat." Kilahnya, padahal aslinya males banget buat kenal yang namanya cewek. Trauma akibat kerjaan Nenek yang suka banget ngatur acara perjodohan, mana yang datang pada aneh-aneh lagi ceweknya. Baru sekali aja ketemu udah kayak permen karet lengketnya gak ketulungan bikin Rega ilfeel sendiri.


"Tapi, tadi kan Nenek pingsan pas datang kesini."


"Itu idenya Wendi, dia minta perawat buat nyuntikin obat tidur sama Nenek. Nenek tidur pules banget makanya sampai dikira pingsan."


"Infus sama alat media lainnya?"


"Cuma infus yang isinya vitamin, jadi aman buat Nenek. Kalo yang lainnya itu cuma di tempel." Mengacungkan jempol ke arah Pak Wendi yang duduk di sudut ruangan. "Wendi orang kepercayaan Nenek yang bisa di andalkan. Sebelum kesini Nenek minta bantuan sama pelayan di rumah buat bikin Nenek pucat, biar lebih mendalami peran."


Gak nyangka banget kalo bakal di kerjain sama Neneknya sendiri, Nenek emang wanita yang luar biasa. Sekenarionya sempurna banget sampek di kira beneran, beda sama sekenario yang Rega bikin tempo hari yang ketahuan sama Ella dan malah bikin senjata makan tuan. Bukannya berhasil malah Ella yang sakit dan harus di rawat.


"Gak usah ngelakuin hal yang enggak-enggak lagi, bikin aku jantungan juga ingat sama umur Nenek yanh udah gak muda lagi."


"Harusnya kamu bersyukur bukannya malah mengeluh. Biar pun Nenek udah tua tapi jiwa dan darah Nenek masih muda. Nenek tadi liat kalian pelukan di depan."


"Wah, Nenek udah tua masih suka main ngintip. Ganjen banget sih punya Nenek kayak gini."


"Nenek khawatir liat kalian keluar gitu aja, makanya Nenek ikutin. Eh..., malah liat pemandangan yang bikin Nenek iri."


Susah punya Nenek yang kelewat gaul kayak gini, badannya aja tua tapi pikiran sama jiwanya masih ABG.


Brakk!


Yun membuka pintu keras dengan napas memburu, sampek ngos-ngossan saking khawatirnya sama keadaan Nenek yang biasanya sehat tiba-tiba sakit dan harus di rawat.


Tiga orang yang ada dalam ruangan itu menoleh kompak kearah Yun yang datang.


"Ne-nenek gak pa-pa kan?" Masih sambil ngatur nafas, mendekati Nenek dan Rega yang saat ini duduk bersama. "Parah lo Ga, Nenek sakit malah disuruh duduk." Protesnya melihat Rega yang santai banget.


"Gak usah nyalahin gue, sakit apaan.... Kita di kibulin sama orang tua ini, cuma pura-pura sakit gak sakit beneran."


Nenek tertawa memperlihatkan beberapa giginya yang udah ompong, bahagia banget bisa ngerjain yang lebih muda. "Kamu pasti datang kesini lari kan?" Melihat keadaan Yun buat narik kesimpulan.


"Iya, tadi macet total sampek mobil aku tinggalin gitu aja di jalan. Nenek tau, aku kesini tadi lari lumayan jauh dari mobil karena khawatir sama keadaan Nenek." Tapi yang di dapat malah Nenek dalam keadaan segar bugar beda banget sama bayangannya yang bakal liat Nenek yang tertidur gak berdaya dengan mata tertutup. Tau gini ngapain pakek acara olahrga ekstrim segala.


"Hahahahahaha.... " Rega yang merasa miris melihat Yun yang udah gak berbentuk itu, datang dengan setelan jas yang kusut. Dasinya aja di buka asal-asalan, rambutnya udak kayak kena angin ribut.


"Ngapain lo ketawa?"


"Kita sama di kerjain Nenek, lo datamg sambil lari. Gue datang naik motor udah kayak kesetanan, malah mau di tahan sama security di depan dan semua ini gara-gara ide Nenek yang bikin kita khawatir."


Yun menyambar air mineral yang ada di atas kulkas, meminumnya hanya dengan sekali teguk saking hausnya. "Seharusnya gue udah nyangka kalo liat dari keadaan dan sifat Nenek."


"Nenek lakuin itu demi Rega Yun..., Nenek pengen secepatnya Rega punya istri. Kamu juga, kapan bawa calon kamu ke rumsh buat di kenalin sama Nenek?" Menepuk sisi lainnya ranjang untuk menyuruh Yun duduk di sampingnya.


"Aku gak ada waktu buat cari calon, Kerjaan aku banyak banget di kantor. Apa lagi di tambah kerjaan pribadi Rega yang harus aku juga turun tangan."


Nenek menatap Rega, "Kamu gak boleh gitu sama saudara sendiri. Mau kalau saudara kamu ini gak dapat jodoh hah?!"


"Nenek galak banget sih, emang kerjaan Yun kan buat ngurus keperluan sama kerjaanku?"


"Tapi kamu harus kasih kelonggaran wakty buat dia."


"Longgar apanya, aku aja hampir gak punya waktu buat diri sendiri. Asal Nenek tau kita berdua sering gak pulang dan harus tidur di kantor." Jelasnya gak mau di salahin sama Nenek gitu aja yang gak tau kalau mereka berdua sibuk banget.


"Gak usah nyalahin Rega, emang kerjaan kita banyak kok Nek akhir-akhir ini. Kalo mau ketemu Ella Rega sampek rela lembur gak tidur." Bela Yun yang gak pengen Rega yang disalahkan.


Nenek merangkul dua cucu tampannya yang sebenarnya tak ada hubungan darah satu sama lain, tapi itu gak penting karena hubungan darah itu gak berlaku untuk menjadikan mereka sebagai saudara yang saling mendukung satu sama lain. "Jangan terlalu teronbsesi sama kerjaan. Yun, carilah kesenangan dan hiburan."


"Iya Nek, terimakasih." Mencium pipi Nenek, walau Yun tau Nenek yang saat ini bukanlah Nenek kandungnya. Tapi Nenek memperlakukannya sangat baik, memberikan kasih sayang yang sama besar dengan Rega yang merupakan cucu kandungnya itu tanpa membedakannya. Keluarga Rega telah memberikan rumah, hidup dan kasih sayang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Yun hanya bisa membalasnya dengan bekerja keras dan menjadi bayangan Rega sebaik mungkin, itu pun tak ada artinya bila mengingat apa yang telah mereka lakukan dan ia terima bersama ibunya yang dapat menikmati dan hidup berkecukupan.


Mahendra tak pernah mengenalkan kepada publik bahwa Yun adalah anak angkatnya, itu semua ia lakukan untuk menjaga Yun dari orang-orang yang iri dan ingin memanfaarkannya. Yun tak pernah kecewa dengan semua itu, apalah arti status di bandingkan dengan perlakuan yang ia dapatkan. Bahkan ayah Rega memberikan sebagian kekayaan yang ia miliki untuknya, meski Yun menolak karena apa yang ia dapat sudah lebih dari cukup namun Mahendra bersikeras untuk melakukannya karena telah menganggap Yun sebagai putranya sendiri.


"Mungkin Nenek bisa mengaturkan perjodohan untuk Yun." Usul Rega yang langsung di balas dengan mata Yun yang melotot ke arahnya.


Mata tua Nenek yang sudah sayu itu seketika berbinar-binar mendengar usul cucu kesayangannya. "Betul, kenapa Nenek gak sampek kepikiran...."


Bisa kacau kalau Nenek udah beraksi, batinnya yang bisa bayangin akibat dari usul Rega yang bikin hidupnya bakal gak tenang.


*********


Jangan lupa like dan Votenya yach....


Biar authornya tamvbah semangat lagi.