Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Buaya VS Cicak


Ella menggeliatkan badannya saat mendengar suara berisik, mau tidur berkualitas aja susah banget. Ok, suasa sejuk dengan angin semilir yang enak banget buat memproduksi kotoran mata tapi ni malah ngerusak suasana karena suara berisik. Saat membuka mata, hal pertama yang Ella lihat adalah lubang hitung Rega. Beneran, mau ketawa cuma kalah sama rasa kantuknya.


Tampak seseorang duduk di samping Rega, wajahnya gak kalah ganteng dan sama-sama memiliki kharisma tersendiri yang sama kuatnya. Pemandangan indah yang tentu aja nyejukin mata para jomblo wati.


"Berisik banget sih Om?"


Raka menahan tawanya saat mendengar sohibnya itu di panggil Om.


"Kuping lo aja yang salah denger."


Ella mengangkat wajahnya dan berusaha duduk. "Kuping Ella tu normal, mulut Om aja yang kayak radio rusak." Menyandarkan kepalanya di batang pohon.


"Buahahahahaha.... "


Kali ini Raka gak bisa lagi nahan tawanya, gokil aja ada cewek yang terang-terangan berani ngomong kayak gitu di depan Rega.


Bukan cuma punya 9 nyawa, tapi 1000 nyawa tu anak punya. Itu memperkuat dugaan Raka bahwa gadis cantik itu mempunyai tempat khusus di hati Rega.


Rega melotot melihat Raka yang tertawa terpingkal-pingkal di depannya. "Bisa diam gak?!" Setengah membentak karena kesal, ia yakin Raka tengah mengejeknya saat ini.


Raka mengangguk, menahan tawanya dengan membungkam mulutnya sendiri. Males buat debat sama singa jantan yang lagi naik pitam.


Ella hanya memperhatikan dua orang laki-laki dewasa dengan tingkah laku konyol tersebut, penampilan bisa nipu siapa aja. Dilihat dari wajah dan penampilan mereka tampak gagah dan berkharisma. Gak tau nya malah kayak gitu bentuk aslinya yang bikin siapa aja ngeliatnya geleng-geleng kepala.


"Lo pusing? Mual ? Mau muntah? Kepala berkunang-kunang?"


Ella menatap Rega malas, nanya udah kayak deretan gerbong kereta api. "Emang Ella hamil jadi harus ngalamin semua yang Om sebutin tadi?" Katanya jengkel.


"Kan kali aja lo hamil habis gue...." Rega gak nyelesaiin ucapannya karena Ella menutup mulutnya dengan kedua tangannya, gak lupa sambil melotot.


"Kalian ngapain disini?" Katanya mengalihkan pembicaraan, males buat bahas masalah yang tadi.


Rega melempar pandang ke arah Raka yang masih menahan tawanya, sampai matanya mengeluarkan air mata. "Dia dokter pribadi gue, tadi gue suruh dia datang buat meriksa elo." Berdiri dan memainkan hp nya, ia ingin sekertarisnya melakukan sesuatu.


"Ehm!" Berdehem kecil menetralkan emosinya, mengulurkan tangan ke arah gadis bertubuh mungil yang mempunyai mata sejernih air itu. "Gue Raka, dokter pribadi sekaligus menjabat sebagai temannya cowok berwajah datar itu."


Ella menerima uluran tangan dokter ganteng itu dengan senyum manisnya. "Ella, tukang masak Om Rega."


Raka gak percaya dengan apa yang di dengar, masak iya tukang masak secantik ini? Mana masih bocah lagi.... "Serius lo tukang masak dia?" Menunjuk ke arah Rega yang sedang menelpon asistennya.


Ella mengangguk pasti, "Iya."


Raka memijit dagunya pelan, mengamati Ella dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Bukan pacar? Atau tunangan?"


"Enggak."


"Lo dapat tukang masak secantik gini dimana Ga?" Tanya Raka saat Rega duduk di antara Raka dan Ella.


"Maksud lo?" Menatap bergantian Raka dan Ella. "Kata dia, kerja di tempat lo jadi tukang masak."


"Oh...."


"Gue mau dong satu kalo tukang masaknya kalo secantik Ella." Tersenyum menggoda ke arah Ella.


Rega yang sejak tadi melihat gelagat Raka menggoda dan tertarik pada Ella memukul bahu Raka dengan keras.


Raka hanya meringis merasakan bahunya yang sakit. "Tega lo nganiaya gue."


"Kerja ama gue aja, bos lo galak kayak herder."


Memusut bahunya yang sakit.


"Bukan kayak herder dok, tapi kayak kulkas." Celetuk Ella mengundang tawa Raka.


Raka suka dengan pribadi Ella yang polos.


"Lo dari tadi gue liat tebar pesona melulu, lo naksir sama tukang masak gue?"


"Gue suka kalo lo tanggap kayak gini, bukan cuma suka bahkan dengan suka rela bakal gue kawinin sekarang juga."


Raka hanya menggoda Rega, ia tahu bahwa Rega menyukai gadis di sampingnya dan Raka merasa kasihan karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


Gadis polos bernama Ella itu kurang sensitif dengan perhatian yang Rega berikan, buktinya dia tampak biasa-biasa menghadapi Rega.


Jangan di tanya kalo masalah Rega, dia nya malah over action.


Rega yang mendengar omongan Raka langsung naik darah, bahkan sampai berdiri dengan wajah udah kayak baju kusut nan kucel siap cuci. "Kalo lo berani ngelakuin bakal gue gorok burung lo?!"


"Lagi marah..." Bisik nya ke arah Ella dengan mimik wajah di buat seperti orang ketakutan.


Ella hanya tertawa kecil melihat semua itu. tontonan gratis dua orang dewasa dengan tingkah laku konyol kayak anak kecil. "Udah lah Om.... Entar ubannya tambah banyak kalo marah-marah melulu." Menarik tangan Rega menyuruhnya duduk.


Untung aja mereka lesehan di pinggir jalan yang luamayan jauh dari rumah warga.


Rega menuruti Ella, dan berhasil meredamkan emosinya. Ia sadar Raka hanya menggodanya saat ini.


"Lagian ya, dokter Raka yang ganteng kayak gitu gak mungkin juga naksir sama Ella." Katanya polos.


Ya ampun.... Ni cewek gemesin banget sama wajah polosnya, pantas Rega langsung klepek-klepek kalo model malaikat gini . Batin Raka. "Gue serius kok sama yang gue omongin tadi." Katanya sengaja, ada kesempatan yang gak dia dapat lain kali buat bikin Rega skak mat!


"Jangan dengerin, dia itu buaya cap kadal."


"Mending, timbang lo cicak cap nyamuk." Balasnya.


Ampun deh, sikap mereka bener-bener lebih parah ketimbang anak-anak kalo kayak gini.


Ella pusing sendiri di tengah-tengah.


**********


Kasih jempol kalian yach. . . .


Biar Author tambah semangat nulisnya.


maaf beberapa hari ini gak bisa up banyak, karena Author yang berprofesi sebagai IRT beranak satu ini lagi ada sedikit kendala.


Anak Author lagi sakit dan bermanja ria gak bisa pisah dari emaknya, jadi Author gak maksimal.


Sekali lagi terimaksih buat kalian yang udah dukung Author.


😘😘😘😘😘😘😘😘