Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Akhirnya " Fall in love "


Rega memperhatikan perawat yang memasang infus pada tangan Ella, hatinya ngilu kayak di sayat sembilu pas liat tu jarum nusuk kulit. Ada ingatan gak enak pas kecil bikin Rega agak trauma sama jarum infus, padahal cuma jarum sekecil gitu tapi ngalahin ngerinya sama samurai. Niatnya cuma ngerjain buat dapat simpati Ella, gak tau nya malah sekarang cewek tengil itu yang berada di posisinya. Tak sadarkan diri dengan selang infus di tangannya.


"Sepertinya tenaga dan pikiran pasien di gunakan melebihi batas kemampuan. Pasien kurang istirahat yang menyebabkan daya tahan tubuhnya melemah dan anemia. Asam lambungnya meningkat karena pola makan yang gak teratur. Selebihnya gak ada masalah." Jelas dokter setelah memeriksa keadaan Ella yang tiba-tiba pingsan bikin geger satu rumah sakit karena yang minta bukan orang biasa alias pemilik rumah sakit itu sendiri.


Betul banget!


Rumah sakit ini punya keluarga Rega yang otomatis punya Rega juga.


"Anda?"


"Tunangannya." Jawab Rega cepat.


Walau agak bingung karena tak ada satu pun informasi pemilik rumah sakit sudah punya tunangan, setahu semua staff Rega itu jomblo.


"Tolong jaga istirahat dan pola makan agar pasien cepat pulih, sementara waktu kita lakukan rawat inap dulu biar bisa memantau lebih lanjut."


Rega bernafas lega, gak ada yang serius sama keadaan Ella. Kok bisa orang yang doyan makan punya pola makan kacau?


"Yun, cari tau apa aja yang di lakukan Ella selama ini."


"Tuan, nona Ella menghadapi ujian sekolah beberapa hari ini. Mungkin itu penyebabnya."


Yun yang gak habis pikir sama bosnya itu, masa hal kecil gitu aja gak tau? Ujian di lakukan serempak di seluruh sekolah, gak usah di cari tau bakalan ngerti lah.


"Jadi dia gak menghindar?" Gumamnya.


Walau gumaman Yun dapat mendengarnya dengan pasti. "Bukannya nona Ella sudah mengatakannya bahwa saat ujian ia akan menutup semua akses luar yang bisa mengganggu belajarnya. Tuan sendiri yang mengatakannya saat itu." Katanya mengingatkan ultimatum Ella.


Beneran lupa Rega sama hal yang satu ini, mikir keras banget kenapa Ella menghindarinya selama beberapa hari ini, gak mau ketemu dan hp nya non aktif. Apa lagi denger cerita Willy yang ternyata cuma karangannya doang bikin dia tambah baper gak beralasan. Willy, Rega patut bikin perhitungan sama tu orang yang ngerjain dia sampek kayak zombie. Tekadnya bulat buat balas dendam sama tu orang biar ngerasa gimana sengsaranya Rega karena ulah oknum tak bertanggung jawab.


Ella membuka matanya pelan-pelan, matanya langsung menatap langit-langit kamar berwarna putih dengan lampu menyala. Indera penciumannnya merasakan kehadiran aroma soft and sweat yang sangat menyenangkan.


"Ella?"


Suara serak nan sensual itu membuatnya mengalihkan pandangan matanya ke arah suara tersebut berasal. Sosok yang ia kenal, siapa lagi kalo bukan Rega. Terakhir yang ia ingat Rega memeluknya dan ia memutuskan untuk memejamkan mata karena rasa kantuk yang luar biasa di barengi pusing.


"Bagian mana yang sakit?"


Rasanya tu lemes banget, sampek mau ngomong aja susah udah gak bertenaga. Belum lagi kepalanya yang pusing, pas buka mata agak lama rasanya udah di luar angkasa. Semua benda melayang layang gak karuan ke segala arah.


Rega yang merasa sangat yakin keadaan Ella belum pulih mengambilkan air mineral di dalam botol dan memasukkan sedotan untuk memudahkannya minum. Obat tidur yang di berikan dokter bekerja efektif, terbukti Ella tertidur hampir seharian tanpa bangun.


"Minum dulu, tenggorokan lo pasti kering."


Ella menurut karena tenggorokannya emang terasa kering dan sedikit sakit.


"Gue udah telpon Willy, dia bilang gak bisa nemenin lo saat ini karena di luar negeri lagi ada yang di urus. Papa lo juga, lagi keluar negeri besok baru bisa datang kesini." Walau gak nanya Rega yakin pasti hal pertama yang pengen Ella denger.


"Istirahat dulu, gue temenin lo kok disini jadi jangan takut." Menggenggam tangan Ella dengan satu tangan mengelus rambutnya.


Wajah Ella yang biasanya berseri-seri dan segar kini benar-benar pucat bahkan hampir tak terlihat adanya sel darah merah disana. Ella hanya mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Rega, sudah untung ada yang nemenin karena biasanya saat kayak gini Ella terbiasa terbaring sendiri di rumah sakit sampai papanya datang.


"Lo tau, gue rasanya berhenti nafas pas lo gak sadar. Gue takut banget...." Bisik Rega di telinga Ella. Ia tau walau menutup matanya tapi Ella gak nutup kupingnya. "Cuma lo satu-satu nya yang bisa bikin gue kayak gini. Kalau saat ini lo gak bisa nerima gue, gue akan tunggu sampek lo siap terima gue. Berapa lama waktu yang lo perlu bakal gue tunggu."


Rega merebahkan kepalanya di samping kepala Ella dengan posisi menggenggam tangannya. Mau apa lagi, cuma bisa sabar sampai tu cewek membuka hatinya secara suka rela. "Jadi gue mohon, jangan tinggalin gue. Lo cewek pertama yang pengen gue lindungin seumur hidup gue setelah bunda pergi."


Ella menarik ujung bibirnya mendengar apa yang Rega katakan, entah itu cuma halusinasi karena efek obat atau benar Rega yang ngomong yang pasti hati Ella terasa hangat saat ini.