Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Karma tak Semanis Kurma Part 2


Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...


- Labirin Cinta


- Kontrak Cinta 100 Hari


Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sam Votenya.


Makasih....


*****


Aliya menatap Jenifer dengan tatapan mata kasihan, selama ini sikap dan tutur kata Jenifer sudah banyak menyakiti hati orang lain. Menganggap dirinya yang paling hebat di bandingkan orang lain dan meremehkan orang-orang yang menurutnya gak se-level. Sorry Jen, kali ini gue seneng lo dapetin pelajaran. Semoga lo bener-bener sadar karena kejadian ini....


Satu masalah udah selesai dan tinggal nunggu satu orang lagi yang bakal ia bereskan, Oh iya.. Ella melupakan Manager Harun yang berdiri mematung di tempatnya dengan tatapan mata nanar memandang lantai, bukan maksud Ella mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Selama ini Manager Harun menjalankan semua pekerjaannya dengan sangat baik dan itu gak ada hubungannya dengan apa yang keponakannya lakukan hari ini. "Tuan Harun?"


"Iya Nyonya?" Katanya terkejut, mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk karena malu.


"Setelah ini bisa kita bicara empat mata?"


"Tentu saja."


Anggun memilih duduk setelah beberapa menit berdiri yang bikin kakinya pegel-pegel, sebelum hamil Anggun betah buat berdiri cukup lama tapi udah hamil dan dalam keadaan hamil besar udah gak betah lagi buat kelamaan berdiri.


"Mbak Anggun mau minum apa?" Tawar Anisa yang melihat Anggun duduk. "Biar sekalian saya ambilkam buat mbak Ella juga." Katanya lagi.


"Jus mangga ada gak?" Di tawarin minum malah minta yang macem-macem, tapi biar aja lah yang jelas lumayan haus Anggun saat ini.


"Ad mbak nanti saya pesankan di cafe sebelah."


"Aku mau jus stroberry ya mbak Anisa dua." Kata Ella yang beneran haus makanya pesan dua gelas. "Pak Harun sama Rania mau minun apa?"


"Enggak Nyonya, saya belum haus." Tolak Harun, gimana bisa minum sambil santai kalau nasibnya aja belum ada kejelasan.


"Iya mbak, saya juga belum haus." Kata Rania yang sedikit sungkan, padahal aslinya juga pengen.


"Ya udah kalo gitu, Jus Mangga dua, jus stroberry dua, kopi susu satu dan capucino satu, jeruk nipis peras tanpa gula tiga. ingat tanpa gula lo Mbak..." Kata Ella mewanti-wanti Anisa buat pesanan terakhirnya.


Anisa mencatat semua pesanan nyonya pemilik mall itu di hp-nya dan mengirimnya pada layanan pesan antar cafe yang masih ada dalam kawasan mall ini. Jeruk nipis peras buat apaan? Mau rendem ikan laut apa? Dari pada bingung mending pesenin aja lah.


"Sebelum kita menangkap basah orang yang menukar semua produk di butik ini saya punya rencana yang kalian semua harus ngikutin." Kata Ella lagi yang lagi menikmati banget drama demi drama yang ia mainkan malam ini, itung-itung buat hiburan mengusir penat dan kebosanan yang ia alami selama ini. Dengan cepat ia menjabarkan rencana kepasa semua orang, termasuk Aliya dan Jenifer yang ikut masuk dalam skenarionya. Duo cewek yang katanya ratu sosial media itu mau gak mau harus tunduk dan mau ikut dengan apa yang Ella rencanakan, menangkap orang yang licik perlu di balas dengan kelicikan pula dan ini yang akan Ella lakukan kepada Arum yang telah berani berkhianat dan mempermainkannya. Ella akan membuka sayapnya dan memberitahukan kepada semua orang siapa dirinya Sebenarnya, menyangdang sebagai nyonya Rega tidak akan bisa di pandang sebelah mata dan kali ini Ella serius melakukan hal tersebut hingga ke depannya tak akan ada lagi Arum lainnya yang sesuka hati bermain dan merugikan nama baiknya.


Arum berjalan sedikit cepat saat mendekati butik dan sekali lagi membetulkan pakaiannya untuk memastikan bahwa ia sudah cantik dengan Desi yang berjalan di belakangnya. Saat memasuki toko ia hanya melihat beberapa pengunjung tanpa ada pak Harun atau pun Anisa di sana, cewek yang ngerasa paling cantik sejagad raya itu menghentikan langkah dan menoleh ke pada Desi sang pembawa berita palsu. "Lo bilang ada si Anisa sama Pak Harun, mana?


"Bener kok mbak tadi ada," Jawab Anisa yakin karena emang tadi liat dengan mata dan kepalanya sendiri. "Bu Anisa malah yang nyuruh saya buat manggil mbak ke sini."


Arum melanjutkan langkah kakinya, memasuki butik dan langsung mengedarkan pandangan matanya mencari sosok yang Desi katakan. Tak ada seorang pun di sana, hanya beberapa pengunjung yang sedang melihat-lihat dan memilih barang. Mata Arum menangkap dua ibu hamil yang tengah asik memilih barang, alisnya seketika mengkerut melihat pemandangan yang sangat kontras di sana. Bagaimana bisa butik mewah ini menerima pengunjung dengan pakaian kaki lima pinghir jalan yang membuat pemandangan langsung tercemar.


"Pilih yang mana Kak?" Tanya Ella sambil memilih beberapa tas dan memeriksanya, sekilas ia melihat orang yang ia tunggu telah berdiri di depan pintu dengan mata mengawasi mereka berdua.


"Barang di sini jelek-jelek mana harganya selangit lagi, heran gue kenapa mereka jual barang mahalnya selangit tapi kualitas kayak yang kita beli di emperan jalan." Menaruh dengan kasar tas yang telah ia pegang.


"Iya juga ya Kak...,"


Mendengar itu semua membuat Arum geram, orang miskin kayak mereka seenaknya aja menilai produk di dalam butik ini. Walau pun kenyataannya Arum telah menukarnya namun tak ada perbedaan yang signifikan bila hanya melihatnya sekilas. "Kalian berdua," Berjalan mendekati dua ibu hamil yang pakek daster, "Sembarangan aja ngomong. Emang kalian punya hak apa ngomong barang yang kami jual ini jelek?"


"Hak sebagai konsumen." Jawab Ella santai.


"Konsumen? Kalian konsumen?" Melihat dari atas sampek bawah secara bergantian. "Gak salah tempat apa? Tempat kalian itu di pasar kumuh bukan di tempat mewah kayak gini." Menunjuk pakaian yang mereka pakai dengan telunjuk tangannya. Orang miskin aja belagu banget.... Batinnya meremehkan. "Jangan sembarangan pegang dan banting-banting kalau lecet mau kalian ganti pakek apa hah?"


Ella yang mendengarnya itu dengan sengaja mengambil salah satu tas yang terdekat dengannya dan melemparkan ke lantai, bukan cuma di lempar tapi di injek-injek pakek sandal doraemon yang ia pakai.


"Kalian...," Mengepalkan tangan buat nahan emosi melihat apa yang di lakukan dua pengunjung gak tau diri itu.


"Maaf tante, aku lagi ngidam buat nginjek kayak gitu. Biasa bawaan bayi..." Sambil mengusap perutnya. Kalo gak bawaan bayi lo yang bakal gue injek-injek! Muka udah kayak topeng gitu masih sok cantik!


Arum ternganga melihatnya, di depan matanya gemb*l itu menginjak-nginjak di hadapan pengunjung lainnya yang ia kenal. Jenifer dan Aliya yang menjadi pelanggan dan member mereka, dua ratu sosial media itu melihat dengan tatapan mata kaget. Kalo gue biyarin gitu aja balal jatuh nama gue di depan mereka.


"Jen...," Kata Aliya menunjuk tas yang udah tergelatak di lantai dengan tatapan mata kasihan.


Jenifer menggelengkan kepalanya, "Ternyata butik ini gak punya gengsi dan harga diri. Nyesel gue jadi member mereka." Katanya lagi dengan menaruh empat tas yang telah ia pilih dan mengembalikan ke etalase. "Padahal gue pengen borong tapi liat yang kayak gini bikin mood gue ilang." Katanya lagi.


Mendengar apa yang di katakan dua orang itu membuat Arum naik darah, Jenifer dan Aliya rela mengeluarkan uang yang gak sedikit saat berbelanja dan kali ini mereka membatalkan gara-gara dua alien yang datang entah dari mana. "Kalian berdua, pergi dari sini sebelum gue laporin ke polisi."


"Gue Arum, Manager butik ini." Katanya lantang.


"Bukannya mbak Anisa ya yang jadi manager di sini?"


Anisa? Jadi mereka berdua itu kenalan Anisa? Pas banget... Kenalan cewek kampung itu bikin masalah dan dengan ini gue bakal nyingkirin dia. "Jadi kalian kenalan si kampungan Anisa itu? Pantes aja kalian mirip, sama-sama kampungan dan gak ngerti barang mahal." Kata Arum dengan mimik wajah meremehkan.


"Barang mahal yang lo maksud ini?" Anggun mengambil jam tangan dan melemparkan asal membuat wanita yang dandan lumayan tebal di depannya itu terlonjak dan memekik, dengan cepat ia mengambil jam tangan yang udah di banting. Matanya langsung melotot melihat retakan di sana, jam tangan yang satu ini benar-benar barang ori dengan merek brand terkenal dunia yang harganya itu setahun gajihnya di butik ini.


"Lo makin lama makin ngelonjak! Lo tau berapa harga jam tangan yang lo banting ini hah? Bahkan jual diri aja lo gak bakalan bisa buat gantinya." Katanya marah, gimana gak marah udah ringsek gitu mau minta ganti rugi sama siapa? Kalau dua orang itu gak sanggup buat bayar siapa yang bakal bertanggung jawab nanti?


"Berapa harga diri lo sini biar gue beli, ngomongin harga diri di depan gue? Bakal gue beli harga diri lo iti biar gue injek-injek. Kalau lo benean manager butik ini gimana lo jelasin barang-barang palsu yang di panjang di etalase toko ini?" Kata Anggun dengan melangkah maju.


"Jen, mending kita keluar aja dari pada di sini liatin orang ribut." Aliya meletakkan syal yang ia pegang ketempatnya semula dan menarik tangan Jenifer untuk keluar, belum sampai ke muka pintu mereka berdua di hadang oleh Arum.


"Nona Aliya dan Jenifer, mohon maaf atas ketidak nyamanan yang anda berdua alami. Kami akan memberikan diskon spesial untuk kalian berdua." Katanya semanis mungkin dengan mengendalikan emosinya. Gara-gara dua orang miskin ini gue hampir kehilangan ratusan juta.


"Diskon? Maaf gue kurang berminat dengan barang-barang di sini lagi. Mereka aja bisa tau kalau kalian jual barang palsu." Kata Jenifer lagi.


"Nona Jenifer, mereka hanya orang miskin yang gak mengerti barang berharga dan asal ngomonh. Bukannya anda sudah menjadi langganan butik kami bertahun-tahun seharusnya anda sangat tau kami hanya menjual barang-barang berkualitas tinggi."


"Maaf, kami kehilangan kepercayaan kami. Orang awam seperti mereka saja bisa mengetahui dan kami hampir terkecoh karenanya. Ayo Jen kita pergi." Aliya berjalan mendahuli Jenifer dan melewati Arum begitu saja. Kasian banget lo, bentar lagi bakal tamat riwayat kayak Jen. Selama masih bisa berkoar-koar puas-puasi aja sana sampek pita suara lo putus.


Arum menggenggam tangannya erat, menutup matanya rapat dan merasakan dadanya yang naik turun. Uang ratusan juta di depan matanya melayang karena ulah sua orang itu, mereka merusak rencana yang telah ia susun dan ia nikmati. Arum sengaja memajang barang kw dengan kualitas hampir serupa bila di lihat sekilas, barang asli ia sembunyikan dan ia menjual barang kw. Saat pembeli membeli barang kw miliknya saat itu Arum memperoleh keuntungan dari selisih harga yang sangat jauh dan saat Anisa kembali ia akan memajang barang asli yang ia sembunyikan, dengan begitu Arum dapat meraup keuntungan yang sangat banyak. Hanya beberapa hari ia dapat membeli rumah sederhana dan juga mobil dari hasil memanipulasi yang ia lakukan, untuk menghilangkan jejaknya Arum mematikan semua cctv saat ia beraksi dengan begitu tak ada bukti untuk kejahatan yang ia lakukan dan semua itu di hancurkan oleh dua orang miskin yang datang ke butik ini. Arum berjalan ke arah dua emak berdaster yang lagi bunting itu dengan mata berkilat marah, "Kalian... Bakal gue laporin ke polisi atas dasar pencemaran nama baik butik kami."


"Lapor polisi ya?" Ella mengambil hp-nya dan menghubungi salah satu petinggi polisi kenalan Rega. "Halo om, ini Ella. Bisa gak om datang ke Mall **** di lantai dua, butik ****. Ella tunggu ya om kedatangannya, maaf udah ganggu om malam-malam." Ella mematikan Hp-nya saat pembicaraan terputus. "Ghue udah nelpon polisi yang bentar lagi mau datang, jadi lo gak usah repot-repot buat buang-buang tenaga dan pulsa nelpon mereka." Kata Ella enteng dan tersenyum manis.


Arum yang merasa di permainkan itu langsung memanggil security yang berjaga di depan, "Usir dua orang miskin itu, mereka hanya merusak pemandangan di sini!" Tak afa reaksi dari security yang ia panggil membuat Arum naik pitam, ia mengambil Hp untuk menelpon atasannya. "Halo Pak Harun, saya ingin anda datang ke mari segera. Saya menangkap perusuh yang telah menghancurkan barang-barang kita dan mereka menolak untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang telah mereka lakukan." Kata Arum penuh percaya diri memanggil atasannya.


Ella menyunggingkam bibirnya, rencananya sejauh ini berjalan mulus. Ikan telah masuk ke dalam perangkap dan siap untuk di tangkap, siapa suruh berurusan sama orang kayak Ella yang kalo dalam keadaan tertentu bisa jadi licik. Sekalian aja kan tadi di katain perusuh jadi rusuh aja sekalian biar tambah seru, ia mengambil tas yang Anggun kasih tau lewat kode bahwa itu barang palsu. "Kalo ini berapa ya kira-kira harganya?" Ella menenteng dan mengamati.


"Paling seharga kambing di sawah atau bebek?" Kata Anggun menimpali.


Ella mengembalikan tas tersebut, "Mahal banget Kak, barang KW gitu seharga kambing sama bebek. Mending beli bebeknya bisa bertelor dan di jual." Kini ia beralih mengambil kaca mata berwarna silver, Kalau tebakan Ella gak salah ni kaca emang benar-benar asli.


"Taruh?!"


Tu kan liat reaksi Arum yang ngelebihi kebakaran jenggot Ella langsung tau kalau yang ada di tangannya itu emang barang mahal, ia merenggangkan gagang kaca mata yang kini ia pegang secara maksimal hingga berbunyi.


CEKLEK!!!


"Ops! Patah...." Ujarnya sambil menutup mulutnya dengan satu tangan dan memasang wajah panik seolah-olah melakukan kesalahan yang gak di sengaja, padahal aslinya emang sengaja.


Bukan cuma matanya yang bulat, tapi mukut dan lubang hidung serta lubang telinga Arum ikut membulat sempurna saat mendengar suara yang menandakan kaca mata mahal itu benar-benar patah. Kalo tadi jam tangan yang ringsek sekarang gantian kaca mata yang mahal, hari ini benar-benar jadi hari paling sial buat Arum. Kehilangan uang yang banyak dan kini nambah rusaknya barang-barang asli yang di pajanh bikin kepalanya bukan cuma pusing tapi berasa mau meledak dan meletup-letup. (Bayangin aja kayak petasan sama kembang api pas malam tahun baru).


"Kalian berdua! Jangan harap bisa keluar dari sini hidup-hidup!" Teriaknya frustasi melihat kejadian yang membuat darah dalam tubuhnya berhenti, bisa-bisa kena stroke kalo aliran darahnya gak berfungsi.


Ella yanh kaget langsung membuang kaca mata itu asal dengan kekuatan penuh, kali ini bukam cuma patah tapi langsung pecah. "Ya ampun! Tu kan lo bikin gue kaget pakek acara teriak-teriak gitu habis jatuh kaca mata kumbangnya." Sengaja ngomong kayak gitu buat ngompor-ngompori biar lebih dahsyat lagi ledakannya.


Dada Arum naik turun menahan emosi yang udah hampir jebol itu, kalo udah kayak gitu gak bakalan bisa di perbaiki. Kalo tadi patah doang setidaknya masih bisa tapi ini udah hancur mana bisa di kembaliin kayak semula. "Lo boleh ngebanting ini," Mengambil tas yang terpajang dan melemparkan ke lantai dengan kasar, "Ini dan ini juga ini!" Berserakan semua barang kw yang ia bawa masuk ke dalam butik, "Orang miskin kayal kalian emang gak tau harga barang yang kalian rusak! Bawa aja semua tas itu terserah mau kalian apain gue gak perduli asal jangan menyentuh barang lainnya!" Kesabaran Arum udah di batas akhir yang meledak-ledak tak terkendali. "Yang kalian rusak itu semuanya asli dan yang ini palsu."


Akhirnya, kalimat itu yang sejak tadi Ella tunggu-tunggu. Udah lah kelar gak ada lagi alasam buat ngeles, dia sendiri yang ngomlng dan buka borok yang selama ini Arum simpan dengan sangat rapi.


*******


Hallo semua...


Gimana kabar kalian?


Kalo author sih masih sama kayak biasanya berkutat dengan tugad negara dan lain-lain yang bakal panjang kalo di jabarin satu persatu, kata suami author bisa di biki novel yang judulnya Realita Emak-emak.


Ane cuma bisa ketawa dengernya, masak iya mau di tuangkan tentang kegiatan sehari-hari para emak?


Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian.


Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....


Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berula like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih. Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author.


Makasih....