Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Sosialita


Cahaya yang berasa kebakaran jenggot pas liat Ella keluar dari mobil pujaan hatinya itu gak terima gitu aja. Terang-terangan tiap hari di antar jemput sama cowok lain tapi tetep aja masih punya nyali buat deketin dokter Azhar yang jadi idola di kampus, pengen banget bikin perhitungan tapi mengingat reputasi ayahnya yang seorang pejabat pemerintahan dan pengusaha bikin tu cewek berfikir ulang. Soalnya di kampus banyak yang mengenal dirinya dan keluarganya yang pastinya kesalahan sedikit akan mempengaruhi reputasi keluarga yang sangat di jaga di depan publik. Senyumnya mengembang saat melihat orang yang ia pikirkan tiba-tiba tak jauh darinya, sedang bersantai menikmati es krim seorang diri. Mendapatkan kesempatan bagus tak akan ia sia-siakan begitu saja, Cahaya yang saat ini menunggu teman-teman sosialita yang juga anak dari orang-orang terpandang di kota ini akan membuat gadis buruk rupa yang tak sebanding dengannya.


Dilihat aja keliatan banget perbedaan di antara mereka, Cahaya selalu memakai baeamg branded yang tak perlu di ragukan lagi kualitasnya sedangkan Ella hanya memakai barang-barang pasaran yang harganya jauh antara bumi dan langit dengan apa yang menempel di badannya. Ia mengenakan skincare dan make up terbaik serta merawat tubuh dan wajahnya di rumah kecantikan yang tentu saja terbaik di kota ini. Dengan semua ini membuat Cahaya merasa sangat percaya diri dengan apa yang ia miliki dan harga dirinya merasa jatuh saat Azhar lebih memperhatikan cewek sederhana itu.


"Hai, Gue Cahaya. Kita satu kampus dan satu kelas." Kata Cahaya dengan senyum manis menutupi hatinya yang tak semanis senyumnya itu. "Gue boleh gabung?"


Ella mendongakkan kepalanya dan membalas senyum manis yang tertuju untuknya, "Boleh, lagian gue sendiri kok. Gue Ella," Menyambut uluran tangan Cahaya itu.


"Lo sendirian?"


"Iya, gue lagi jalan buat cari sesuatu. Kebetulan lewat sini dan es krim disini enak banget jadi gue mampir, lo sendiri?"


"Gue lagi nunggu temen-temen gue, satu angkatan juga sama kita cuma beda fakultas." Jelas Cahaya, ia melihat Ella dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk membandingkan dengannya. Tak ada yang spesial dengannya, semua yang melekat di badannya hanya barang-barang kualitas rendah, tak ada make up apa pun di wajahnya. Keseluruhan dapat di lihat bahwa Ella memang tak sebanding dengannya.


"Hai girls...," Cahaya melambaikan tangannya saat melihat kumpulan gengnya yang datang untuk memberi tahu keberadaannya.


Ella hanya mengerjapkan mata melihat sekumpulan cewek yang datang ke arahnya, bisa di bilang kurang lebih sama cahaya yang menonjolkan penampilan dari ujung kaki sampek ujung kepala. Ella yang selama ini gak terlalu ambil pusing sama yang ginian berasa kayak ada di acara fasion show pengeluaran produk terbaru.


"Sorry say kalo lama nunggunya, tadi gue make up dulu. Mumpung ada make up artis yang nyokap gue undang ke rumah."


"Serius lo? Pantes aja lo keliatan beda dan cantik banget hari ini."


"Iya, sumpah kalo gue cowok bakalan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama elo. Gue punya sesuatu nih guys buat kalian semua....," Mengeluarkan bungkusan berlogo Ch*nnel dan memberikan satu persatu. "Ops sorry, gue cuma bawa pas buat kita gak tau kalo ada orang baru."


Ella tersenyum menanggapinya, sebenernya gak ngarep juga yang kayak gituan lagian kan dia bukan anggota dari sekumpulan cewek yanf lagi main sosialita-an ini. "Gak perlu, gue juga tadi gak sengaja ketemu sama Cahaya."


"Siapa dia Aya?"


"Gue lupa, kenalin dia Ella anak satu kampus dan kelas sama gue."


Semua yang ada di sana memandang Ella dengan tatapan mata asing, risih, gak suka dan tatapan-tatapan yang tak menyenangkan lainnya.


"Ella, mereka temen-temen gue. Yang disana Anggi, anak ekonomi. Ayahnya pengusaha ekspor-impor tekstil dan ibunya memiliki beberapa butik ternama yang tersebar di kota ini."


Anggi tersenyum terpaksa ke arah Ella yang ia rasa tak sebanding dengannya dan tak pantas duduk bersama dengan mereka.


Mulan tampak melihat Ella dengan pandangan mata bingung, ia merasa pernah melihat Ella di suatu tempat tapi lupa dimana. "Kayak nya gue pernah liat elo, kita pernah ketemu gak sebelumnya?"


"Gue kurang yakin, mungkin kita pernah ketemu di kampus."


"Tya, anak hukum. Ayahnya seorang jenderal dan ibunya seorang model terkenal."


Tak jauh beda dengan Anggi, Tya menatap Ella tal senang. "Aya, lo gak salah ngundang anak kayak gini satu meja sama kita?" Katanya ketus.


"Emang kenapa? Semakin banyak orang kan semakin baik. Lagi pula kita dari tempat yang sama, kita sama-sama kuliah di kampus yang sama." Katanya sok perhatian.


"Dari tempat yang sama?" Anggi menatap jijik ke arah cewek dekil itu, "Di liat dari mana aja kita itu lebih baik dari dia."


"Hei..., Jangan di anggap serius seperti itu. Lagian kan kita hari ini mau berburu tas yang baru keluar itu, gak ada salahnya kan kalo kita jalan bareng?" Cahaya menatap Ella dengan pandangan tak nyaman, "Maaf ya Ella, bukan maksud gue kayak gini...." Menangkupkan kedua tangannya di depan dada meminta maaf, "Hari ini gue yang traktir kalian semua buat beli tas yang kalian inginkan." Katanya ingin menunjukkan perbedaan kasta ekonomi.


"Sudah, Lagian kan semakin banyak orang semakin asik yang kayak Aya bilang." Kata Mulan membenarkan.


"Udah lah, mending gue cabut aja. Lagian gue gak pantes kok ada di antara kalian." Ella mengambil tasnya dan berdiri. "Senang bisa kenal kalian."


Cahaya menarik tangan Ella dan menahannya, "Jangan gitu say, gue yang ngajak lo gabungkan tadi. Maafin kata-kata temen-temen gue ya?"


"Iya, gue gak marah kok."


"Gitu dong, sekarang kita shoping bareng aja biar asik." Cahaya mengirimkan chat ke pada dua temannya terkcuali Mulan.


"Baiklah, lagian ada sama gak ada dua gak ada pengaruhnya sama kita." Anggi berdiri terlebih dulu di ikuti Tya.


"Sorry bangey ya, bukan maksud gue...,"


"Udah lah, ngapain lo minta maaf sama hal yang gak lo lakuin."


"Syukurlah..., gue bener-bener mau berteman sama lo. Jadi lo ikut gue kan? Hari ini ulang tahun gue."