Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Welcome "Noan"


Jangan lupa mampir ke novel autor yang lainnya yach...


Ada beberapa novel yang author tulis, ada yang udah tamat, yang gantung, dan yang masih jalan.


kalian buka aja profil author buat nemuin novel-novel yang author tulis. Tapi sempat juga biat mampir ke Labirin Cinta, novel yang khusus ceritain percintaan Yun, jadi yang fans sama abang Yun sang sekertaris tampan cus aja kepoin ke sana yach....


Labirin Cinta juga ganti cover depan ya say... Covernya abang Yun yang gantengnya bikin diabetes akut loh.


*******


"Iya nih La, kalo aku tau Raka itu mulutnya saudaraan sama gayung alias ember kayak gini mana mau aku jadi istrinya dia...." Kata Anggun yang ikut menimpali, ada rasa geli-geli gimana gitu di bagian tubuh bawahnya sana. Pengen banget Anggun liat apa yang mereka lakuin sampek kayak gini rasanya, tapi kehalang sama tirai hijau yang membentang di depannya itu yang jadi penyekat di antara mereka. Kalo dalam keadaan sehat bakal Anggun tarik dan lempar tu tirai yang merusak pemandangan aja.


"Jangan gitu dong sayang...," Raka menciumi pipi Anggun, "Demi kamu apa sih yang enggak Abang lakuin?" Mulai lagi kan tu gombalnya Raka yang gak kenal tempat sama situasi juga waktu yang kalo bisa di jabarin seakan dunia itu cuma ada mereka berdua aja. "Jangankan lautan yang gak bakal sanggup Abang arungi, sungai aja ya sayang sebagai gantinya?"


"Gak modal banget sih lo Ka jadi cowok? Ngarungi laut aja lo gak bisa, berarti cinta lo buat Kak Anggun dangkal banget. Katanya aja cinta? Sayang? Oh bulan, oh bintang...." Kata Ella yang ngompor-ngompori.


"Eh, Ella si kompor meleduk," Kata Raka buat Ella yang suka banget bikin suasana panas.


Ella mencibir mendengar julukan yang Raka berikan, apaan coba???? Kompor meleduk katanya, yang kerenan dikit napa???


"Kalo gue ngarungi laut mati kelelep gue di laut, bukan cuma kelelep bisa-bisa cuma baju gue yang ngambang gara-gara di makan paus. Kalo sungai kan gue masih sanggup dan paling parah di samperin sama ikan mujaer, gitu aja gak sampai sih lo mikirnya?"


Ni ruang operasi malah jadi panggung opera yang udah rame banget, rame sama mulutnya Raka dan Ella yang dari tadi nyerocos gak karuan. Topik pembahasannya amburadul gak jelas, ngalor ngidul juga gak jelas yang intinya itu gak ada yang jelas mereka itu ngomongin apa.


"Suara apa itu La?" Tanya Anggun yang kayak denger suara berisik di bawah sana, kalo menurut dia itu udah kayak suara dinamo apa suara apaan gitu.


"Itu suara Suction pump atau nama lainnya ituaspirator" Ella menengok kebagian yang tertutup tirai yang saat ini dokter serta tim ok-nya sedang bekerja buat mastiin apa yang di lakuin sama mereka di sana dan mastiin salah apa bener tadi ngomongnya.


"Buat apaan itu?" Tanya Anggun yang penasaran sama apa yang mereka lakuin di perutnya itu, pokoknya entar kalo udah keluar bakal buka hp dan cari video lengkap gimana caranya orang yang lagi ngelakuin bedah SC biar gak penasaran sama suara-suara dan sama hal-hal yang gak bisa di liat tapi bisa di rasain. Habisnya penasaran aja kan sama keadaan diri sendiri yang gak berdaya di bawah pengaruh obat bius yang cuma setengah badan itu, pendengaran dan matanya itu berfungsi dengan sangat baik tapi bagian-bagian tubuhnya tertentu terasa kebas dan gak bisa di gerakin sama sekali. Kalo bisa udah dari tadi buka tirai warna ijo di depannya itu biar bisa liat dengan apa yang para pasukan berbaju hijau itu lakukan pada tubuhnya tersebut. Satu kata buat gambarin keadaan Anggun saat ini yaitu pasrah sepasrah-pasrahnya.


"Buat ngisap cairan yang gak berguna dalam tubuh kamu sayang. Biasanya tu di pakek buat menyedot darah ketika operasi atau air ketuban." Ujar Raka yang siap berdiri melihat bahwa saat ini dokter Raka siap melakukan tindakan penting yang ia sendiri akan menyaksikan secara langsung untuk pertama kali anaknya keluar dan mengenal dunia lain dengan apa yang ia lihat selama ada di dalam perut sang Bunda. "Abang berdiri dulu ya sayang?" Katanya dengan mengusap pipi Anggun.


Dokter Anwar telah siap mencari di mana posisi kepala bayi dan mengangkatnya, ia menggoyang-goyangkan sang bayi secara perlahan sebelum menariknya keluar.


Anggun merasa sedikit mual dan pengen muntah, Ella yag melihatnya langsung menggenggam tangan Anggun. "Gak pa-pa Kak, kalo mau muntah Kakak muntahin aja."


"Gak ada yang keluar nih La, perut aku rasanya kayak di aduk-aduk pakek mixer gitu makanya mual banget yang bikin mau munatah."


"Iya, itu dokter Anwar lagi berusaha ngeluarin Anak Kakak. Bentar lagi keluar Kak, sabar ya... dikit lagi Kakak berjuangnya." Katanya memberi semangat saat liat dokter Anwar lagi berusaha mengeluarkan kepala sang bayi.


"Iya Mbak Anggun, bentar lagi mbak udah bisa liat anak kalian." Jawab dokter Anwar yang masih menggoyang-goyangkan tubuh mungil tersebut dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan, yang pelan aja udah bikin mual apa lagi kalo ngelakuinnya gak pelan bukan cuma mual yang di rasain pasien.


Raka yang udah ngeliat kepala Anaknya itu merasa terharu, untuk pertama kalinya ia melihat kepala mungil yang berjuang untuk keluar dari rahim sang Bunda yang di bantu oleh para medis.


Dokter Anwar perlu melakukan manuver dengan membolak-balik posisi bayi agar ia mudah di keluarkan dari dalam lubang yang telah ia buat. Begitu bagian kepala dan bahu berhasil dikeluarkan, dokter Anwar akan dengan mudah mengeluarkan anggota tubuh yang lain dan menarik dengan perlahan hingga bagian badan dan bawahnya mulai keluar dan tertarik dengan sempurna oleh tangan sang dokter yang sejak tadi berusaha mencari posisi yang sempurna untuk melakukannya. Kini, malaikat kecil itu tengah menghirup udara yang sama dengan kedua orang tuanya dan juga makhluk hidup lainnya, terlepas dari tempat hangat dan sempit yang selama sembilan bulan lebih ia tinggali dan menyambut kehidupan baru yang akan ia jalani dan hadapi.


Raka bahkan sampai menitikkan air matanya melihat betapa mungilnya seonggok daging yang di dalamnya berisi kehidupan yang telah lama ia inginkan, seonggok daging yang sangat ia harapkan kehadirannya dan seonggok daging itulah menjadi pelengkap dan bukti betapa besar cintanya dengan sang istri. Seorang bayi laki-laki tampan telah lahir dengan keadaan sempurna, bagian-bagian tubuh dan organnya telah sempurna yang membuat Raka tak bisa membendung rasa haru dan syukurnya yang teramat dalam. Seketika ia sujud syukur atas apa yang telah Tuhan berikan, suatu anugerah yang luar biasa yang Tuhan berikan dan titipkan lagi kepadanya. Lengkaplah kebahagiaan yang Raka miliki, seorang istri yang sangat cantik dan sholehah dan kini dengan kehadiran seorang anak laki-laki yang tampan menjadi penyempurna hidupnya sebagai seorang laki-laki. "Alhamdulillah.... Terimakasih atas semuanya...," Gumamnya setelah bangkit dan segera mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Anggun. "Terimakasih sayang, terimakasih sudah berjuang dan melahirkan anak setampan malaikat." Ucapnya haru dengan berderai air mata, "Terimakasih menjadikan Abang sebagai seorang laki-laki yang sempurna dengan kehadiran kalian bersama Abang dan Abang janji bakal menjaga kalian dengan nyawa Abang sendiri."


Anggun yang pasrah mendapatkan ciuman dari suaminya itu hanya bisa tersenyum, cairan hangat mengalir di wajahnya yang berasal dari Raka. "Jadi, anak kita laki-laki?" Ujarnya mendengar Raka menyebutkan setampan malaikat di sela derai air matanya.


"Iya sayang...,"


Setelah bayi keluar dari rahim melalui dinding perut, maka instrumentator memberikan dua buah klem lurus dan satu gunting kepada assisten. Assisten menjepit tali pusat, di antara dua jepitan, di tengahnya di potong oleh assisten dan sementara operator membersihkan jalan nafas bayi dengan alat hisap suction pump. "Selamat mbak Anggun, anak laki-lakinya sehat dan sangat tampan seperti Ayahnya. Kelak semoga aku juga bisa punya anak setampan ini." Ujarnya di sela-sela kegiatan yang ia lakukan berharap punya anak laki-laki yang baru lahir aja udah keliatan kalo besarnya bakal jadi orang ganteng. Ya ampun An... Emaknya aja kece badai kek gitu jadi wajar lah kalo punya anak kece badai juga. Dimana gue bisa dapetin bibit unggul kayak gini ya??? Yang Cantik dan memperbaiki keturunan.


"Cari istri dulu dok baru bisa punya anak, lagian kalo gak punya istri siapa yang mau melahirkan? Gak mungkinkan dokter mau program bayi tabung buat diri sendiri." Celetuk Fuad sambil becanda, menggoda dokter anwar yang masih single alias jombok satu-satunya.


"Wah, ide kamu brilian Fuad. Sebelum aku ngelakuin alangkah baiknya kalo kamu yang aku jadiin kelinci percobaan buat aksperimen bayi tabung untuk lelaki."


"Ha ha ha ha ha...," Elis yang ngerasa Fuad kalah telak itu mentertawakannya secara terang-terangan, bayangin seorang Fuad yang perutnya membesar karena uji coba dokter Anwar bikin urat tawanya langsung bereaksi seketika. Itu baru bayangin gimana kalo beneran liat? Mungkin bukan cuma ketawa tapi malah sampek ngompol di celana. Semua orang juga tau gimana recehnya dokter yang emang suka banget becanda dan sedikit usil tersebut, tapi itu lah asiknya kalo kayak gini suasana jadi hidup dan gak kaku karenanya. Gak berasa tegang antara pasien dan tim medis yang bikin kerjaan mereka terasa menyenangkan dan cepat kelar di bawa becanda.


"Tega ya kamu Lis menertawakan penderitaan orang lain." Kata Fuad yang dari tadi tangannya gak pernah berhenti buat kerja, bukan cuma tangan Fuad doang tapi juga tangan semua tim yang ada di ruangan tersebut. Biar pun sambil becandaan tapi mereka gak lupa sama kerjaan masing-masing tanpa harus mendapatkan perintah, udah ke simpan di kepalanya dan refleks aja ngelakuinnya. Udah hapal di luar kepala gitu buat mereka semua.


"Bukan gitu Fuad, habis kalo gak ketawa mau nangis??? Malah gak banget kan kalo nangis guling-guling di sini."


"Langsung masukin karung aja kalo kayak gitu bentuknya."


Plasenta (Kakak bayi) dikeluarkan dari rahim pasien oleh operator (dokter Anwar), sementara itu Instrumentator memberikan penster klem kepada operator, dan operator menjepit rahim bekas sayatan sebanyak 3-4 lokasi dengan penster klem. Sisa-sisa plasenta yang tertinggal dalam rahim dikeruk oleh operator dengan tangan kiri di alas pakai Qaas dilumuri betadin.


"Kak, anak kakak ganteng banget. Selamat ya kak...," Kata Ella dengan mencium kening Anggun, perjuangan Anggun udah selesai dan rasanya gak sabat buat nunggu kedua anaknya yang ada di dalam perut. Ella ngerasa gak sabar buat cepet-cepet melahirkan, mengatur tanggal cantik buat bedah SC saat kehamilannya telah memasuki cukup umur yang di sarankan oleh dokter kandungannya karena menurut mereka bahwa kehamilan kembar Ella akan sangat beresiko saat melahirkan secara normal. Mengingat badan Ella yang kecil dan menghindari kemungkinan buruk lainnya.


"Makasih, dan semoga kelakuannya gak nurun sama Ayahnya yang lebay-nya gak ketulungan."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha...," Kali ini Ella dan Anggun yang ketawa bersamaan seakan-akan menyutujui apa yang Anggun katakan, gimana gak ketawa kalo inget kelakuan Raka yang konyol luar biasa itu bakal nular dan nurun ke anak mereka yang sama cowoknya pula. Bayangin aja bikin Anggun ngerasa bakal rame banget rumahnya dengan dua lelakinya, tapi mau gimana lagi orang Raka emang Ayah dari anak nya yang mau gak mau gen nya bakal ada dan nurun ke anaknya.


"Gampang, tinggal gue kasih pemanas ruangan biar tu gunung cair. Buktinya aja Rega sekarang gak kayak kulkas dua pintu lagi kan? Malah jadi tungku pemanggangan yang selalu membuat hangat. Jadi kangen gue sama Rega..." Gara-gara Raka kan bahas dab bawa-bawa nama Rega jadinya kan kangen udah beberapa hari gak ketemu.


"Besok pagi lo jengukin, tadi juga nanyain lo. Kayaknya dia kangen juga La sama lo." Kata Raka yang nyadar beberapa hari ini mereka berdua gak ada ketemu gara-gara Rega di karantina biar cepet sembuh dan bikin ruangan se-steril mungkin dan membatasi kunjungan yang di rasa gak perlu kecuali anggota medis yang itu pun memiliki kepentingan.


Setelah bersih, otot rahim, endometrium dan miometrium di satukan kembali dengan jahitan benang Chromich nomor 2. Sedangkan perimetrium dijahit dengan benang chromich nomor 2/0. Setelah merasa aman, dinding rahim tidak lagi berdarah, maka Instrumentator memberikan Kocher sebanyak 4 buah untuk menjepit peritoneum, dan memberikan hak blass pada assisten untuk menguak perut yang menganga, lalu Instrumentator memberikan Allys yang ujungnya dijepitkan Qaas (depper) untuk mengeksplorasi rongga perut, serta mengeluarkan sisa-sisa darah yang ada dalam rongga perut. Jika sudah bersih dari sisa-sisa darah, Instrumentator memberikan depper lagi yang telah di lumuri betadin kepada operator, dan operator mengusapkan depper betadin pada bekas sayatan dinding rahim. Dan, Instrumentator kembali memberikan benang Chromich no 2/0 yang telah melekat di ujung Needle holder. Lalu operator menjahit dan menyatukan lapisan tipis peritoneum.


"Dok, bekas jahitan itu nanti membekas enggak?" Tanya Anggun yang rasanya gak rela kalo perutnya itu bakal meninggalkan bekas di sana walau di dalam hatinya udah janji kalo gak bakal balik ke dunia model yang mengenakan pakaian-pakaian minim nan seksi, setidaknya Anggun pengen seksi di depan suaminya tanpa ada cacat yang merusak pemandangan mata.


"Kalo bekas pasti adalah mbak, cuma kan nanti mbak bisa konsultasi ke dokter kulit buat ngilanginnya. Pasti ada salep yang bisa ngurangi dan lama kelamaan bakal ilang kok tapi aku gak tau tenggang waktunya sampek benar-benar balik lagi kayak semula. Namanya bekas sayatan pasti ada bekas lukanya." Jelas dokter Anwar di sela-sela kegiatannya.


"Kenapa sayang? Kan udah janji sama Abang kalo gak bakal balik ke dunia kamu yang dulu. Abanh sih gak masalah asalkan kamu gak pakek baju yang kurang bahan di mana-mana. Abang gak rela kalo orang lain ngeliatnya." Ujar Raka yang emang gak suka dan rela kalo bagiam tubuh Anggun di lihat orang lain, mengenai masa lalu itu gak jadi masalah buat Raka asalkan masa sekarang. Sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga Raka berkewajiban menjaga tubuh istrinya dari pandangan orang lain, bukannya malah bangga istrinya itu di liat dan di puji oleh orang lain karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya.


"Bukan gitu, aku emang gak bakal lagi kok kayak dulu. Lagian kita udah punya anak yang aku gak mau kalau anak kita bakal di katain sama orang lain punya Mama yang pakek baju kurang bahan dan keliatan di mana-mana, aku kan udah janji sama abang bakal jadi istri dan ibu yang baik selama abang jadi suami dan imam yang baik buat aku dan anak kita." Jawab Anggun.


Semua yang ada di ruangan itu langsung membatin, membatin kalo betapa beruntungnya cowok yang bisa menikahi wanita cantik dan penurut itu. Meninggalkan dunia yang penuh dengan kemewahan dan di tukar dengan daster lusuh serta seabrek kegiatan yang gak ada habis-habisnya itu, yang jomblo malah langsung berdoa bisa dapetin istri yang luar biasa kayal gitu.


"Aku cuma gak mau kalau keliatan jelek di mata abang, kalo di mata orang aku sih gak mau ambil pusing."


"Ya ampun honey... Lovely... Bunny.... Sweaty.... Ayang beb kuh tercintah... Pujaan hatiku dan belahan jiwa abang." Sambil menarik gemas hidung mancung Anggun, yang udah mancung kayak gitu di tarik-tarik malah tambah mancung kan jadinya. "Jangankan cuma satu sayatan yang bikin jendela di perut kamu itu abang gak bakal keberatan sayang, sepuluh pun abang gak bakal kasih ijin soalnya kasian kamunya. He he he he he...," Ujar Raka lagi yang hatinya tuh rasanya seneng banget, gimana gak seneng ternyata istri tercinta dan tersayangnya itu masih mikirin penampilan di depan suaminya padahal tu bekas luka juga hasil dari perjuangan buat ngelahirin anak mereka. Yang awalnya Raka cinta mati sama Anggun denger kayak gitu jadi tambah cinta sehidup semati sama istri tersayangnya itu. "Abang kan udah bilang gak bakal peduli sama hal yang kayak gituan, jadi gak usah ke dokter kulit buat ngilangin bekas luka kalo cuma buat nyenengin Abang. Abang malah seneng kok kamu punya tato alamiah, kenang-kenangan kalo istri Abang ini adalah istri yang sangat luar biasa." Mencium pipi Anggun gemas.


Sementara assisten menjepit fasia dengan Kocher, Instrumentator kembali memberikan Needle holder yang di ujungnya sudah ada terjepit benang Chromich nomor dua kepada operator, dan operator menjahit otot perut. Setelah otot perut menyatu, Instrumentator memberikan kepada operator benang Safil atau Vicryl nomor satu, untuk menjahit dan menyatukan fasia. Setelah fasia menyatu, operator melanjutkan menjahit sub kutis ( lapisan lemak bawah kulit) dengan benang yang sama.


"Woui, ni rumah sakit cuy...." Kata Ella sambil melotot, habisnya dua orang bucin tu gak kenal tempat kalo udah gombal-gombalan gak jelas gitu dan gak kenal situasi serta kondisi asalkan bahagia. Yang lain pada jahit menjahit bekas sayatan di kulit, sepasang suami istri itu malah main rayu-rayuan gak jelas gitu bikin nyengir orang yang dengernya dan kuping panas. Bukan cumam merusak pemandangan tapi juga menjadi poluai suara.


Setelah sub kutis menyatu oleh jahitan, Instrumentator kembali memberikan benang terakhir, bernama plain 3/0 kepada operator untuk menyatukan kulit, dengan teknik jahitan subkutikuler, kata orang awam jahitan ini kayak di lem, karena benang jahitan tidak terlihat di permukaan kulit. Sementara itu, assisten sejak proses menjahit memegang gunting.


"Sirik aja sih lo, entar kalo ketemu sama Rega lo bisa gombal-gombalan sampek ileran dan gue gak bakal ganggu temu kangen kalian berdua." Jawab Raka dengan senyum yang terus berkembang, menyambut kehadiran buah cintanya bikin Raka seneng banget.


Setelah proses jahitan subkutikuler selesai, luka ditutup dengan plester tahan air dan pasien dibersihkan serta dirapikan.


"Baik mbak Anggun, udah selesai dan cantik." Ucap dokter Anwar setelah menyelesaikan jahitan dan memasangkan plester anti air pada pasiennya. "Gak kerasa sakit kan?"


Tirai hijau yang sejak tadi membentang membatasi penglihatan pasien itu akhirnya terbuka yang menandakan bahwa operasi telah selesai.


"Sudah???" Tanya Anggun yang seolah gak percaya, rasanya tu cepet banget di bandingkan pikirannya sebelumnya. Gak kerasa aja dari awal masuk tadi yang rasanya cepet banget selesainya di bandingkan dengan bayangan awal baru masuk.


Bayi yang lahir biasanya masih dipenuhi dengan cairan ketuban, lendir, serta darah di bagian mulut dan hidung. Dokter dan tim medis akan membersihkan mulut dan hidung bayi terlebih dahulu, baru kemudian memotong tali pusarnya. Bukan hanya itu menimbang dan mengukur tinggi badan sang bayi adalah satu hal yang penting dan gak bisa di tinggalkan. Memeriksa kesehatan sang banyi. Setelah semua prosedur di lakukan kini saatnya membersihkan dan mencek kesehatan sang bayi.


Dokter Anwar memberikan kode kepada perawat Ana untuk datang membawa bayi yang ada si gendongannya untuk di bawa dan di perlihatkan kepada sang Ibu yang telah berjuang dengan sangat baik setelah kini memakai bedong yang hangat dan juga dalam keadaan bersih.


Ana menurut dan membawa bayi tampan yang memiliki hidung mancung dan warna kulit merah muda tersebut, tampak bulu matanya yang sudah terlihat lentik walau pun baru keluar. Mendekatkan kepada Ayah dan Ibu nya tersebut.


"Sayang lihat?" Raka menyentuh bahu Anggun untuk melihat ke arah bayi mungil yang dalam gendongan perawat, bayi mungik yang bergerak-gerak dan menggeliat pelan itu adalah anak lelaki pertamanya.


Anggun menatap malaikat kecil yang selama ini ada dalam rahimnya, yang selalu ia bawa kemana pun pergi dan kapan pun itu tanpa sedetik pun meninggalkannya. Bayi mungil yang kini menggeliat dengan sangat menggemaskan itu selama ini tumbuh dan berkembang dengan sangat baik, menyerap sari makanan dari sang Ibu hingga dapat menjadi seorang anak yang sangat luar biasa mempesona. Bulir-bulir cairan bening menetes dari ujung mata wanita cantik yang kini resmi menyandang predikat sebagai mommy cantik itu, bulir kebahagiaan atas lahirnya anak yang selama ini ada dalam rahimnya tersebut. "Boleh aku menciumnya?"


"Tentu saja nyonya, saya akan meletakkannya di atas dada anda agar bisa merasakan kehadiran ibunya." Ucap Ana dengan pelan-pelan meletakkan bayi laki-laki yang sangat tampan itu dengan menghadapkan kepalanya ke arah wajah bundanya.


"Hai handsome...." Kata Anggun dengan menahan tangis bahagianya, "Ini Mama..., Welcome the word my son... Selamat datang Noan, selamat datang anak laki-laki Mama yang kelak akan menjadi kebanggaan agama, orang tua dan semua orang." Ucapnya dengan menyelipkan doa menyambut kedatangan anak lelaki tampan yang kelak akan menjadi seorang pemimpin bagi keluarganya.


********


Hi Readers....


Maaf yach beberapa hari ini author agak wara-wiri kesana kemari gak jelas di sela kegiatan author di rumah yang gak sempat buat nulis karena malamnya udah klepek-klepek gak bisa melek (tidur nyenyak banget efek kecapek-an 🤣🤣🤣🤣) yang gak bisa nulis naskah dan ngirim, biasanya author itu kalo nulis malam kan... Karena siangnya agak sibuk ngelakuin ini dan itu.


Karena Basic author di bidang pendidikan makanya author agak bingung nulis episode-episode yang berkaitan dengan kesehatan dan alhasil harus bolak-balik ngubek-ngubek artikel kesehatan yang bersangkutan dengan apa yang author tulis, makasih banget deh sama mbah google dan mbak yutube yang paling berjasa buat ispirasi author nulis bab-bab yang berisi tentang dunia kesehatan dan makasih banget buat yang bikin dan nulis artikel yang author liat dan baca sampek jadi inspirasi. Soal nya kalo cuma ngayal dan halu doang gak bakal bisa nulis nama-nama dan istilah-istilah dalam dunia kesehatan yang terasa asing buat author.


Ha ha ha ha ha ha....


Authornya maksa, sarjana pendidikan nulis cerita tentang dunia kesehatan yang kayak gini lah hasilnya. Tapi kalo mengenai SC emang Author punya pengalaman pribadi kok, bukan cuma katanya tapi emang udah ngerasa gimana rasanya berada di ruang bedah yang dingin dan rame banget. Para tim medis yang becanda dan asik-asikkan sampek kitanya itu gak berasa kalo di sana lagi di sayat-sayat.


Makasih ya buat kalian yang udah setia buat nunggu up dan udah setia baca novel yang author tulis dan author harap jangan bosen karena gak tau kenapa mood author beberapa minggu lagi naik turun kayak roler cooster.


Banyak yang nanya kenapa sih sekarang gak ada visual-visual kayak dulu???


Maunya sih author kasih visual tapi kalo di masukin gambar bakal lama banget lulus reviewnya yang akhirnya author putusin gak pakek visual lagi. Padahal jujur, author lebih suka yang ada visualnya karena sambil baca sambil cuci mata.


Jangan lupa kalian tinggalin jejak melalui Like, Vote, dan komentarnya biar authir tambah semangat lagi yach....


Makasih....