
"Keren banget kamu malam ini La, bikin kakak bangga dan tersanjung di akui di depan semua orang kalau Kakak ini sebagai Kakak kamu." Kata Anggun dengan memeluk tangan Ella di dalam mobil saat perjalanan pulang dari mall.
"Yang harusnya bangga itu aku, punya Kakak secantik dan sebaik Kak Anggun." Membalas pelukan Anggun, "Lagian Ella yakin kok di luar sana banyak banget yang pengen jadi saudara sama Kak Anggun."
"Ya banyak sih, malah buanyak banget yang pengen deket sama Kakak tapi niatnya itu loh yabg bikin Kakak gak suka. Mereka deketin Kakak cuma ada maunya, mau terkenal atau semacamnya lah. Numpang tenar sama mau cari untung." Kata Anggun yang ngomong apa adanya, emang bener apa yang di omongin Anggun dan sesuai dengan pengalaman. Mereka ngelakuin hal kayak gitu buat deket cari untung buat deket cari saudara yang bikin Anggun males banget membuka hati, males berurusan sama orang-orang yang bermuka dua atau punya ekor dua. Kalau ada maunya aja baik banget, malah luar
biasa baik tapi kalo tujuannya itu udah tercapai bakal hilang gitu aja.
"Yang paling beruntung itu aku bisa kenal orang baik kayak kalian berdua." Celetuk Rania yang duduk di kursi depan, melihat dua ibu hamil itu membuat Rania benar-benar merasa sangat bangga dan beruntung. Dua orang yang memiliki nama besar tapi juga hati yang besar, malah gak keliatan kayak orang-orang kaya pada lainnya, Yang ini sangat berbeda dan perbedaan itu membuat keyakinan yang Rania pegang selama ini menjadi kuat. Masih ada orang baik dan berjiwa sosial tinggi di muka bumi ini yang kata orang sudah hampir punah, kebanyakan mereka melakukan suatu kebaikan hanya karena pencitraan dan membuat nama baik mereka karenanya bukan karena hati.
"Ya ampun La, kita di katain orang baik sama Rania. Ha ha ha ha ha..., padahal kita orang jahat yang malam ini merampok dan menguras kantong sekertaris Yun." Ella memukul pelan tangan Rania yang duduk si tepatnya, ingat apa yang malam ini Ella lakukan bikin Anggun ngerasa geli. Kasian juga Yun yang harus mengeluarkan uang yang jumlahnya gak sedikit, tapi mau kasian juga gak perlu karena tu orang uangnya banyak. Dengan jumlah yang segitu gak ada artinya buat Yun yang penghasilannya banyak banget.
"Ella baik kok Kak, buktinya aja masih ingat sama adik ipar yang ganteng itu. Ella beliin jam tangan yang paling mahal di butik, tapi pakek duit dia sendiri sih. Ha ha ha ha ha
ha...." Malah ikut ketawa, ngerasa geli juga beli buat Yun tapi pakek duit dia sendiri setelah apa yang Ella lakuin buat tu cowok, *Maaf Yun gue bantu lo sedekah malam ini. Amalnya buat lo kok bukan buat gue. He he he he....
Adik ipar*? Mendengar semua itu membuat Rania bingung, bukannya Yun hanya seorang sekertaris tapi kenapa bisa nyonya mudanya itu menyebut dengan sebutan adik ipar? Bukannya tuan Rega adalah anak tunggal dari tuan Mahendra? Bahkan semua orang tau tentang perihal itu, namun bukan tanpa sebab kalau nyonya muda menyebutkannya. Sebenarnya Rania merasa penasaran dan pengen banget buat nanyain hal ini tapi rasanya terlalu berani dan itu bukan dalam kapasitasnya yang hanya seorang perawat menanyakan hal pribadi seperti ini.
"Kasian Yun harus punya ipar kayak kamu La, yang paling bisa menguras isi kantongnya." Kata Anggun lagi yang emang tau gimana sifat Ella.
"Tapi kan Kakak kebagian isi kantongnya kan?"
"Iya, ha ha ha ha ha ha...,"
"Kok aku ngerasa bersalah ya mbak sama sekertaris Yun." Kata Rania yang gak enak karena ikut kebagian, awalnya kan kartu itu di titipin sama dia sebelum sekarang berpindah tangan.
"Udah lah gak usah ngerasa bersalah, uang segitu gak ada apa-apanya di bandingkan dengan hasil yang Yun punya. Lagian ya Yun itu uangnya banyak banget, keliatannya aja dia itu gak punya uang tapi nyatanya dia itu lebih kaya di bandingkan aku sama suami aku." Kata Anggun lagi.
"Iya Ran, entar aku kok yang tanggung jawab sama dia. Yun gak bakalan bisa marah sama aku, tenang aja kamu." Ella menepuk bahu Rania buat menenangkan cewek manis itu. "Kita cari jajanan pinggir jalan Ran, aku laper nih. Makanan tadi menunya kurang banyak mana mahal lagi, mending beli di pinggir jalan yang murah meriah, enak dan kenyang."
"Iya mbak, tapi kalo mahal kenapa tadi mbak beli malah sebanyak itu lagi." Bingung sendiri Rania sama sifat nyonya muda yang satu ini, tadi aja boros banget makek uang sebanyak itu dan mesan menu yang paling mahal cuma buat traktir orang lain giliran buat sendiri malah makan di pinggir jalan.
"Kenapa enggak kalo buat bikin hati orang seneng kan?"
"Jangan kaget Ran nanti kalo kamu beneran ikut pulang dan jadi pengasuh anaknya Ella ya, Ella itu super hemat. Mana mau dia ngeluarin uang banyak cuma buat makanan, tapi kamu gak usah takut kelaparan kok dia aslinya jago banget masak." Kata Anggun menambahi.
"Hebat banget dong mbak Ella, udah cantik, pinter masak lagi. Mau dong entar aku di ajari buat masak?"
"Gampang Ran, jangankan masak malah aku mau ngajarin kamu buat ngabisin makanan dulu."
Rania memberikan petunjuk jalan yang menjual jajanan-jajanan pinggir jalan yang enak-enak dan banyak pilihannya di kota ini, bener-bener gak nyangka orang kaya kayak mereka lebih memilih makan di pinggir jalan di bandingkan dengan makan di restoran atau cafe mewah. Cuma ada segelintir orang yang kayak gini, gak pakek gengsi. Setelah beberapa saat memutari kota akhirnya mobil yang Mereka tumpangi sampai di tempat yang dit tuju, area terbuka dengan hiasan lampu-lampu cantik membuat suasana malam menjadi sangat meriah. Surga kuliner untuk mereka penggemar makan, di sini berbagai macam jenis makanan dari yang ringan hingga yang berat itu ada. Tinggal milih mau makan apa dan sebanyak apa asal muat perutnya gak ada yang larang dan yang jelas murah meriah tapi rasanya gak kalah dengan masakan koki bintang lima.
"Bukan hanya mataku yang termanjakan tapi juga mulutku udah gak sabar buat makan semuanya." Kata Ella yang langsung seger liat lapak-lapak kaki lima yang bikin hatinya berbunga-bunga, udah ke bayang gimana rasanya menyantap mereka-mereka (Makanan yang di jual) yang menggoda banget itu.
"Emang muat La?" Heran Anggun liatnya, liat makanan udah ngelebihi liat tumpukan emas dan berlian.
"Muat lah, kan kita porsinya untuk bertiga." Mengelus perutnya sambil tersenyum manis. "Ran, tolong pesenin semua makanan yang ada di sini ya? Inget kan semua." Mengulangi biar gak ada yang kelewatan.
"Hah???" Rasanya Rania agak gimana denger kata semuanya, semuanya itu bakal banyak banget dam mereka cuma berempat walau ada tiga lainnya tapi kan masih ada dalam perut yang gak bisa di itung.
"Gak usah heran, Ella itu makannya banyak tapi gak gemuk-gemuk." Kata Anggun tau apa yang Rania pikirkan.
"Iya mbak." Astaga... Semua...??? Gimana mau ngabisinnya kalo semuanya di beli?? Nyonya ternyata orang yang mengerikan kalo menyangkut makanan. Batin Rania sambil jalan dari satu tempat ke tempat lain buat beli semua pesenan nyonya muda yang lagi hamil, kalo cuma satu atau dua sih masih bisa di bilang ngidam tapi kalo semua bukan ngidam lagi tapi kelaparan.
********
Yun membuka matanya perlahan saat sinar matahari mengenai wajahnya, ternyata udah pagi, batinnya sambil mengatur nafas dan mengembalikan nyawanya yang masih belum kembali dengan sempurna. Hanya tidur beberapa jam yang masih sangat jauh dari jatah tidur di anjurkan oleh kesehatan membuat kepala Yun sedikit pusing, ia memejamkan matanya sebentar untuk mengusir rasa pusing yang ada, membiarkan semua saraf dan ototnya rileks kembali sebelum melakukan aktifitas lainnya. Bahkan Yun tidur di kursi kerjanya lengkap dengan pakaian yang belum lepas, semalam ia berniat mandi sebelum tidur tapi apa daya mata udah gak kuat lagi yang akhirnya malah ketiduran dengan pakaian lengkap yang ada di tubuhnya sejak siang tadi. Yun paling gak bisa yang namanya pakek baju atau gak mandi seharian, kalo udah lewat tengah hari cowok jangkung itu menyegarkan tubuhnya dan mengganti semua jenis kain yang melekat di tubuhnya tersebut dan kembali segar sebelum kembali ke aktifitasnya yang menumpuk.
"Selamat pagi tuan," Sapa Rhanty yang telah mengganti pakaiannya dan segar saat masuk membawakan sarapan dan juga minuman, ia meletakkan di atas meja. Tadi pagi Rhanty telah membersihkan berkas dan dokumen yang berserakan di meja atau tempat lainnya sebelum ia pulang dan mengganti pakaiannya, dan saat dalam perjalanan ke kantor Rhanty membeli makanan untuk sekekrtaris Yun yang ia yakini belum makan sedikitpun. "Tuan, saya membawakan sarapan dan susu hangat untuk anda." Membuka bungkusan yang telah ia bawa dan memindahkannya ke dalam piring, Rhanty memilih membeli bubur ayam karena bosnya itu belum makan sejak kemarin siang. Lambungnya yang kosong mungkin akan terkejut kalau terisi dengan jenis makanan keras dan memilih bubur ayam yang lembut dan juga hangat tersebut.
"Iya, makasih Rhan." Kata Yun sambil berdiri untuk mandi, "Aku mau mandi dan ganti pakaian dulu sebelum makan. Kamu makan aja dulu," katanya yang melihat dua buah piring terisi bubur, Yun yakin asistennya itu juga belum makan karena tadi malam menemaninya lembur.
Mana mungkin lah Rhanty bakal makan dulu kalo ada kesempatan buat makan bareng sekertaris tampannya itu, tentu aja Rhanty bakal nunggu biar bisa makan bareng dan ini kesempatan langka yang gak bakal Rhanty sia-siakan. Hubungan mereka makin lama makin membaik, Rhanty harus berterimakasih buat Lembur yang ia lewati setiap hari karena dengan semua itu ia bisa melihat dan mendapatkan sisi lain dari seorang Yun yang membuatnya lebih mencintai laki-laki tersebut dari sebelumnya. Cinta yang bertepuk sebelah tangan namun kali ini ada sisi lain yang membuat Rhanty yakin bahwa ia mampu menepukkan sebelah tangannya lagi hingga cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan dan bersambut.
Yun mengusap kepalanya dengan handuk untuk mengeringkan sisa air di kepalanya, rasanya seger banget kalo udah kayak gini. Hilang beban yang menempel di sana yang bikin kepalanya sakit, sakit karena kurang istirahat. Asistennya masih menunggu di meja untuk makan bersama, Yun mengambil hp yang tadi ia letakkan di atas meja. Memeriksa email yang masuk sementara ia tidur.
"Tuan, mau makan sekarang?" Kata Rhanty melihat Yun keluar dari kamar, wajah tampannya sehabis mandai berkali-kali lipat lebih tampan dan membuatnya terpana. Jatuh cinta pada sosok laki-laki seperti ini membuat nyalinya menciut, di luar sana lasti banyak wanita yang mengantri dan menunggu untuk di sambut dan di gandeng olehnya dan ia merasa menjadi wanita yang tak tau malu mengharapkan seorang pangeran untuk memilih dan menggandeng tangannya. Ya ampun... Ganteng banget sih pangeran gue... Kok gue mirip banget sama upik abu sih? Aduh Rhant, lo gak usah ngarep deh... Ini jaman milenium bukan jaman dulu kala. Mana ada jaman sekarang itu kayak jaman dulu? Gak ada edisi cinderella di dunia lo....
"Oh, iya." Jawab Yun yang masih melihat ke arah hp-nya. Beberapa email masuk di sana dan kini matanya menatap sebuah pesan yang membuat alisnya berkerut, pesan tagihan uang yang keluar dari kartu yang ia titipkan pada Rania. Perlahan ia duduk dan meminum susu hangat yang Rhanty berikan dengan satu tangan membuka pesan tersebut.
"Uhuk!!!"
Tumpahlah tu susu di kemeja Yun, laki-laki itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan saat sisa di dalam mulutnya ingin menyembur keluar karena tersedak. Bukan tanpa alasan Yun tersedak melihat nominal angka yang tertera di sana bikin matanya langsung terbelalak.
Rhanty yang melihat Yun tersedak langsung mengambilkan tisu dan memberikannya ke pada laki-laki yang kini terpaku dengan tatapan mata membulat melihat layar hp-nya bahkan saat ia mengulurkan tisu tak ada tanggapan dan respon, masih terpaku di depan layar hp yang menyala.
Ya Tuhan, emang Ella belanja apaan jadi bisa sebanyak itu???
16.5 Milyar itu bukan angka yang sedikit dan itu cukup membuat Yun kaget, gak nyangka kalo Ella yang terkenal super hemat itu bisa menghabiskan uang sebanyak itu dalam satu malam. Padahal Yun tau banget gimana hematnya seorang Ella yang lebih baik masak sendiri di bandingkan beli dengan alasan lebih higenis dan lebih hemat di bandingkan harus beli di luar, jadi aneh banget bisa menghabiskan yang sebanyak itu. Koleksi barang-barang mewah atau biasa pakek perawatan tubuh mahal itu bukan gaya Ella selama ini, jadi tu duit buat apaan coba???
******
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...
- Labirin Cinta
- Kontrak Cinta 100 Hari
Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sama Votenya.
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.
Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....