
Rega melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang memecah jalan yang tengah padat di sore hari setelah semua orang lelah beraktifitas dan ingin cepat kembali ke rumah mereka untul beristirahat. Matahari yang mengintip dari sela-sela awan mengiringi perjalanannya menuju ke pemakaman Bunda yang berada di pinggir kota.
Sepanjang perjalanan menuju kesana, ia disuguhi pemandangan hijau yang membuat matanya segar kembali. Udara yang dirasa pun masih terasa segar, tak seperti udara yang biasa ia hirup dikota yang lebih cenderung mengandung polusi. Terakhir kali ia kemari, 5 tahun yang lalu dan semuanya tampak tak ada yang berubah. Di persimpangan jalan ia tak lupa membeli bunga Lili kesukaan bunda.
"Lama banget Den gak mampir?" Kata Bapak separuh baya penjual bunga saat menyadari siapa pembelinya.
"Iya Pak, lagi sibuk jadi gak sempat kemari."
Memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu saat menerima buket bunga lili.
"Gak usah Pak, buat bapak aja." Menolak uang kembalian yang penjual itu berikan.
"Makasih Den, semoga rezekinya tambah lancar." Berbinar-binar menerima uang kembalian dan lebihan yang menurutnya sangat berharga.
Rega tersenyum mendengarnya, doa orang awam yang polos. Baginya uang itu tak ada artinya dan bagi orang lain sangat berharga. "Terimakasih kembali Pak, doakan saya bisa kembali lagi kemari dan ketemu sama Bapak lagi."
Laki-laki paruh baya itu menepuk pundak Rega pelan. "Bapak doakan Aden punya umur yang panjang, rezeki yang halal dan istri yang sholeh serta cantik."
"Amin.... "
Ella meletakkan bunga anggrek d pusaran mamanya dan ia berdoa. "Maaf ya Ma, Ella jarang jengukin Mama. Soalnya sekarang Ella bentar lagi udah mau ujian jadi harus belajar." Katanya dengan menyilangkan kakinya untuk duduk. "Mama tenang aja, putri mama yang cantik ini bakal jadi yang terbaik seperti biasanya."
Setiap minggu Ella selalu datang kemari bersama Papanya dan tanpa Papanya. "Papa sekarang lagi sibuk, soalnya lagi buka cabang baru. Mama tau, Ella kesepian di rumah." Menceritakan apa yang ia alami beberapa hari ini.
Rega memperhatilan motor antik yang terparkir tak jauh dari ia memarkir mobil.
Rasa-rasanya ia pernah melihatnya disuatu tempat saat melewatinya. Tak jauh dari makam Bunda ia melihat seorang wanita tengah duduk bersila dengan santai. Rega mengamati dan berpikir apa yang sedang ia lakukan di tempat seperti ini. Ia memilih untuk kembali ketujuan awalnya mengunjungi makam bundanya. Meletakkan buket bunga lili dan berdoa untuk ketenangan Bunda disana. Ia juga menyiramkan air mawar yang tercium sangat harum saat membuka botol.
Matanya tertuju pada sosok laki-laki yang tak jauh darinya. Berdoa dengan khusyu tanpa suara tak seperti dirinya yang ribut. "Om Reg..!" Teraknya sambil melambaikan tangan menyadari siapa yang ia lihat tersebut.
Merasa ada yang memanggil namanya Rega pun menoleh, mendapati sosok berisik yang mengganggunya tadi pagi.
"Om lagi ngapain disini?" Mendekati dengan riang.
Rega menaikkan satu alisnya, dan gadis berisik itu masih memanggilnya Om.
"Kalau gue lagi nengokin Mama." Menunjuk salah satu makam tak jauh darinya.
"Jadi Mama elo sudah meninggal?"
Ella mengangguk, "Kata Papa pas gue kecil, gue gak ingat sih, Om ngapain disini?"
"Bisa gak sih jangan panggil aku Om?"
"Udah kebiasaan jadi susah" katanya cengengesan. "lagi nengokin Mamanya juga ya Om?"
Rega melotot memberikan isyarat ia tak menyukai sebutan itu, yang dipelototin malah cengar-cengir. "Nama lo siapa?"
"Kenalin?" Mengulurkan tangan.
"Ella Alexa Johan, Om bisa panggil gue Ella."
Rega menyambut uluran tangan gadis berisik itu, tangannya begitu kecil dibandingkan tangannya sendiri. "Lain kali kalau kita ketemu jangan panggil dengan sebutan Om. Oke?" Memberikan penekanan pada setiap katanya. "Dan semoga kita gak ketemu lagi."
"Jangan gitu, kalau jodoh gak kemana." Katanya nyengir kuda meninggalkan Rega yang melongo dan geleng-geleng kepala.