
"Lo mau kemana La?" Tanya Yun yang sedikit bingung liat bawaan Ella yang udah kayak orang mau pindahan rumah, bedanya cuma gak ngangkut lemari sama kulkas aja.
"Mau ikut kalian lah masak guw mau ke kebun?" Jawabnya santai sambil menenteng dua koper besar plus beberapa koper yang di bawa supir keluar duluan.
"Iya, gue tau. Tapi kok banyak banget bawaan lo?" Masih heran.
"Cuma bawa enam koper apanya yang banyak. Bukannya kita di sana agak lama? Selain baju gue juga bawa beberapa alat masak buat entar masakin Rega." Katanya menjelaskan isi koper yang ia bawa.
"Gue udah nyiapin semuanya. Lagian Rega di rawat di rumah sakit bukan mau pergi kemah yang pakek acara bawa kompor sama wajan." Kata Yun yang heran, perhatian sih perhatian sama suami tapi gak separah ini juga kale perhatiannya sampek satu rumah mau di angkut sekalian. "Lo itu tinggal bawa diri lo aja ke sana. Gue udah siapin satu kamar khusus dan semua keperluan kalian, penggorengan sama kompor juga udah gue siapin sekaliam dokter pribadi buat lo." Jelas Yun yang antara pengen ketawa sama bingung. "Rega udah nyuruh orang buat beli semua keperluan lo jadi lo gak usah pindahan gini." Menunjuk koper yang Ella seret-seret itu.
"Ngomong kek dari tadi jadi kan gue gak capek-capek berbenah."
Liat Raka sama Rega yang udah punya istri plus lagi hamil itu bikin Yun pusing dan sedikit trauma soal makhluk Tuhan yang paling ajaib tersebut. Rasanya hidup mereka berdua itu ribet banget di kelilingi para istri yang moodnya naik turun gak jelas, walau gak punya istri tapi Yun yang paling besar kena dampak imbasnya. "Minum obat ini biar kandungan lo gak bermasalah selama kita di pesawat."
Ella mengambil obat yang Yun berikan, "Ibu... Apa Ibu tau?" Sebenarnya sejak tadi Ella pengen banget nanyain soal ini.
"Enggak, gak ada yang tau selain kita."
"Oh...,"
"Udah, gak usah mikir kejauhan lagian Rega bakal sembuh kok. Kan gue udah janji sama lo kalau apa pun yang terjadi gue bakal bawa pulang Rega dalam keadaan sehat."
"Iya... Gue percaya kok sama omongan lo, beruntung banget Rega punya saudara kayak lo. Jadi iri deh gue...." Ella memegangi perutnya yang sedikit sakit, dan itu tak luput dari perhatian Yun.
"Lo gak pa-pa La?" Refleks menarik tangan Ella untuk duduk.
"Iya, cuma agak sakit dikit aja. Mungkin karena gue kebanyakan yang di kerjain jadi agak capek."
"Lo istirahat aja di dalam rebahan sambil nunggu Raka nyiapin semuanya, lagian Rega juga istirahat. Lo gak usah mikirin apa-apa karena itu udah tugas gue." Yun menggendong Ella dengan kedua tangannya dan masuk ke dalam kamar sementara nunggu persiapan dari Raka.
"Kenapa Ella?" Sontak Rega kaget liat Yun yang membawa Ella masuk ke dalam kamar dengan menggendongnya, bahkan muka Ella keliatan pucat banget.
"Perutnya agak sakit, gue kira Ella terlalu capek jadi gue bawa aja kesini biar istirahat bareng lo." Ujarnya dengan meletakkan Ella di samping Rega, "Minum obat yang gue kasih dan ini."
"Ini apaan?" Tanya Ella heran, bukannya tadi cuma satu biji ini malah nambah satu lagi.
"Kata Raka kalo ada masalah buat kandungan lo harus minum keduanya. Yang ini obat tidur biar lo bisa istirahat secara maksimal."
Ella mengambil dua butir obat yang Yun berikan, meminumnya dengan sekali telan di bantu Rega. "Yang sakit Abi kenapa kok keliatannya Ella yang sakit?"
"Udah gak usah bawel...," Rega membaringkan Ella di atas tangannya dan memeluknya. "Udah tidur aja, lagian muka kamu pucet banget."
Ella menurut, membenamkan wajahnya dalam pelukan suaminya itu sebelum benar-benar tertidur. Obat yang Raka berikan sangat mujarab, buktinya dalam hitungan menit matanya udah mulai berat dan rasa kantuk yang hebat udah menyerang membuat Ella memejamkan mata. Rasanya hangat dan nyaman tidur dalam pelukan Rega, dalam kondisi hamil Ella paling gak bisa kalo tidur gak di peluk Rega.
*******
"La?! Ella?!"
Ella mengerjapkan matanya pelan, rasa kantuk yang luar biasa itu mengalahkan logikanya buat cepet bangun karena seseorang memanggilnya dengan sangat lantang. Bukan hanya panggilan yang Ella dengar, tapi ia ngerasa kalo saat ini ada yang menarik-narik badannya. Suara ribut siapa sih? Gak bisa apa liat orang tidur...
"Sayang?" Ella menepuk pipi Ella sedikit keras untuk membangunkannya, kejadian yang sama sekali gak pernah Rega bayangkan itu kini ia alami. Saat Ella mengeluhkan rasa sakit Rega menganggapnya itu adalah hal yang biasa, lagi pula Raka sudah memberikan obat untuk mengurangi dan melindungi calon anak mereka hingga Rega ikut tertidur saat menunggu persiapan keberangkatan mereka. Tak ada yang aneh dari Ella, wanita mungil itu bahkan masih terlelap saat Rega memangkunya di atas kursi roda yang Yun dorong untuk menuju pesawat, di dalam mobil Ella masih tertidur dengan sangat pulas. Keberangkatan mereka tak mengalami kendala apa pun, Rega masih memangku istrinya tersebut yang tertidur pulas. Hingga dalam mobil menuju rumah sakit yang di tuju mobil yang di bawa oleh Yun oleng untuk menghindari sebuah motor yang melaju kencang di samping mereka dan menabrak sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Karena kelihaian Yun dalam mengendarai mobil mereka semua selamat tanpa menabrak motor tersebut. Namun di luar dugaan, akibat dari itu semua Ella yang tengah tidur di pangkuan Rega terbentur ke arah kursi depan yang menyebabkan seluruh badannya terhempas keras. Rega adalah orang pertama yang menyadari saat melihat bercak darah di tangannya saat mengangkat badan Ella, semakin lama bercak darah itu semakin banyak yang membuat Rega ketakutan. "Sayang?!" Masih berusaha membangunkan Ella.
"Bawa ambulance dengan peralatan lengkap secepatnya." Kata Raka via telpon dan berpindah ke bangku belakang melihat keadaan Ella yang membuat Rega panik luar biasa. Darah? Itu yang pertama kali Raka liat, darah yang terus keluar dari kepala Ella yang terluka parah karena membentur benda tumpul. "Ga, bentar lagi ambulance datang kita bakal pindahin Ella kesana. Semoga semua baik-baik aja."
Yun yang menyadari bahwa semua itu adalah kesalahannya terdiam, tangannya bergetar hebat dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Apa yang gue lakuin???
"Yun?" Raka melihat ekspresi Yun itu langsung menyadari bahwa kini Yun dalam keadaan syok. "Woui Yun?!" Ujarnya dengan mencengkram leher baju Yun untuk membuat melihat ke arahnya dan menyadarkannya.
Yun menatap kosong Raka yang ada di depannya.
"Gue sekarang perlu lo dan semua ini bukan salah lo."
Yun menggeleng pelan, "Gue...,"
Rega menendang kursi tempat Yun duduk untuk menyadarkannya. "Lo mikir apaan hah?! Cepat bawa Ella keluar dari sini." Tak ada jawaban membuat Rega habis kesabaran dan menendang lagi, "Br*ngsek! Gue gak perlu lamunan lo!"
Mendengar umpatan Rega membuat Yun tersadar dan segera turun untuk menggendong Ella, memindahkannya ke ambulance yang telah datang dengan cepat.
Rega mengikuti Yun yang membawa Ella dan naik ke dalam ambulance, darah segar semakin banyak keluar dan membuat wajah Ella semakin pucat karena kehilangan banyak darah.
Dengan cekatan Raka memasang selang infus dan darah, Ella mengeluarkan terlalu banyak darah saat ini dan itu membahayakan nyawanya. "Oke, kali ini gue bakal bius Ella." Ujarnya sebelum menyuntikkan bius, "Gue akan ngelakuin yang terbaik jadi lo gak usah khawatir." Katanya pada Yun yang terlihat lebih pucat di bandingkan Ella.
Rega menggenggam tangan istrinya itu dengan perasaan takut yang menjalari seluruh badannya. Ia tak bisa menyalahkan Yun, karena Rega tahu Yun tak mungkin melakukannya dengan sengaja bahkan karena kelihaiannya mereka semua selamat dari tabrakan maut tersebut. Semua selamat terkecuali Ella yang saat ini dalam keadaan tidak sadarkan diri dan mengalami pendarahan hebat karena benturan yang sangat keras mengenai kepalanya.