
Di perhatikan orang di depannya yang menurut kaca mata Ella udah kayak kuda narik kereta. Matanya lurus ke depan gak noleh kemana-mana, agak geli sih ada manusia model robot kayak gitu yang bisa masa bodoh sama keadaan sekitar.
"Babang tampan, lepasin Ella dong...." Mulai melancarkan rayuan gombal buat nyelametin diri, gak ada reaksi dari orang yang dimaksud bukan berarti Ella harus menyerah. "Kata Pak Ustad, sesama manusia kita harus saling tolong kalau ada umat yang memerlukannya." Nah lo, kali ini bawa-bawa Pak Ustad yang gak ada sangkut pautnya itu. "Entar babang tampan masuk surga kalo nolongin Ella yang sekarang lagi dalam posisi teraniaya." Bener kan, udah nyambung ke surga.
Satu detik, dua detik dan sekian detik gak ada reaksi sama sekali. Lagi musim kali ya manusia muka tembok jadi bergentayangan di mana-mana. "Brengsek lo, kuping lo budek apa gimana sih?!" Mode malaikat nya udah ke geser jadi mode iblis, ngamuk deh.
"Lo bakal masuk neraka nyiksa orang kayak gini, lo kira bakal dapat amal gitu bikin cewek kayak gue teraniaya lahir batin!" Umpatnya dah gak mikir lain-lain. Ella menendang kursi di depannya, di dalam mobil hanya ada mereka berdua, bukan dua cuma satu karena yang di depan gak bisa di anggap orang.
Mendapat perlakuaan bahkan umpatan yang bikin kuping panas, Tio yang saat ini menjalankan tugasnya hanya diam membisu. Masa bodoh sama apa yang di lakuin tu cewek, yang penting mengantarkan dengan selamat ke tempat tuannya. Bosnya sudah memperingatkan akan sedikit sulit dan mengeluarkan tenaga membawanya.
"Boleh minta minum gak? Tenggorokan gue kering teriak-teriak?"
"Maaf Nona, Tuan bilang kami gak boleh kasih Nona minum." Katanya sopan.
"Gila ya Tuan kalian, minta minum aja gak boleh gimana gue minta rumah?" Katanya jengkel, rencananya bakal gigit tangan tu orang kalo ngasih minuman dan menggunakannnya buat kabur.
"Kemungkinan Nona akan mengambil kesempatan untuk menggigit tangan saya dan melarikan diri."
Bukan cuma melongo, tapi ngeri di sekujur tubuh denger penjelasan itu. Persis banget sama yang ada di pikirannya. "Kalau rumah, Tuan mungkin akan memberikannya dengan suka rela asalkan nona minta dengan sedikit lembut." Tambahnya lagi saat cewek itu diam seribu bahasa, kalah telak.
Ella menggembuskan nafas kasar, rasanya dongkol banget sampai pengen makan cabe rawit satu kilo biar plong. "Siapa sih tuan kalian yang gila itu?"
"Nona akan tau setelah tiba di tempat tujuan."
"Gue maunya sekarang."
"Kami di larang untuk menyebutkan identitas Tuan."
Bener-bener anak buah yang setia banget sama bosnya.
"Kalian mafia?" Melihat ke arah setelan pakaian yang mereka kenakan.
"Bisa di bilang seperti itu."
"Mungkin."
"Apa kerjaan kalian culik orang terus di jual lagi?"
"Bisa jadi?"
"Bos lo itu tampangnya sangar kayak lo?"
"Salah. Tuan lebih mengerikan di banding siapa pun. Beliau akan menghukum tanpa ampun saat kami melakukan kesalahan, bagi tuan kesalahan di bayar dengan nyawa. Jadi tolong Nona jangan bertindak gegabah karena disini taruhannya adalah nyawa saya."
Dosa apa yang telah Ella lakukan sampai harus berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Kalau benar apa yang di katakan sopir itu, pasti bakalan habis ketemu bos gila tanpa elas kasih itu.
"Terus gue minta tolong siapa kalo lo gak bisa nolong gue?"
"Berdoalah semoga Tuhan memberikan pertolongan kepada Nona. Karena hanya Tuhan yang dapat menolong Nona saat ini." Gantian ceramah sambil tersenyum geli melihat tingkah konyol cewek di belakangnya itu yang bikin gemes. Seandainya bukan cewek spesial untuk tuannya, mungkin Tio akan mengejarnya dan rasanya sangat menyenangkan mengerjainya.
"Jangan gitu, gue ngeri dengernya udah kayak di sopirin malaikat maut buat nganterin nyawanya."
"Bisa di bilang seperti itu, saya adalah malaikat maut yang mengantarkan Nona." Tambahnya lagi semakin gemas.
Ella udah pucat pasi mendengarnya, mampus dah!
******************
Jangan lupa like sama votenya ya. . . .
biar Author lebih giat sama semangat nulisnya dan jadi motivasi.
Makasih atas dukungan dari kalian 🙏🙏🙏
😘😘😘😘😘😘😘😘😘