
Awalnya Azhari udah meledak-ledak pengen ngomelin dua anak lelakinya yang udah bohongi dia selama ini pas ketemu mereka, tapi pas udah berhadapan kayak gini langsung luluh dan lupa buat marahin mereka berdua. Semarah-marahnya seorang Ibu kepada anaknya namun rasa marah itu tak lain adalah sebagai rasa ke khawatiran yang ia rasakan. Setelah menjewer telinga Rega yang membuatnya merasa sangat lega, melihat secara langsung bahwa Rega telah sehat membuat ke khawatiran yang telah ia rasakan langsung lenyap begitu saja. Memilih duduk dengan perasaan lega luar biasa setelah selama perjalanan menuju tampat di mana Rega di rawat Azhari menjadi seseorang yang kehilangan semangat untuk hidup dan bernafas.
Atas kekuasaan yang dimilik oleh tuan Mahendra yang merupakan ayah kandung Rega, dengan cepat ia bisa tau di mana keberadaan Rega dengan hanya hitungan jam. Hal yang akan sulit di lakukan oleh orang awam seperti dirinya, datang dan meminta bantuan kepada beliau adalah yang paling tepat di lakukan. Terbukti dengan hasil yang sangat akurat dan cepat di dapatkan mengenai keberadaan dan keadaan Rega saat ini yang membuatnya khawatir dan tidak tenang tersebut.
Saat nama kota besar di salah satu negara di sebutkan, perasaan cemas yang ia rasakan semakin besar. Entah kenapa Azhari pun tidak dapat menemukan alasan yang tepat untuk menggambarkan dan menjelaskannya, seolah-olah itu adalah kecemasan yang terbentuk secara alamiah dari dalam lubuk hatinya.
"Huuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh...," Mahendra hanya bisa menghembuskan nafas panjang mendapatkan informasi yang tak pernah ia harapkan seumur hidup, informasi tentang keberadaan dan keadaan putra semata wayangnya yang begitu menohok itu membuatnya merasa gagal menjadi seorang ayah. Bagaimana mungkin ia dapat melewatkan hal sepenting ini dan sama sekali ia tidak mengetahuinya membuatnya merasa sangat tertekan. Ya, orang kepercayaan yang ia perintahkan untuk melacak dan mencari tahu keberadaan Rega mengatakan kalau putra kesayangannya tersebut kini berada di salah satu rumah sakit terbaik di dunia yang dalam masa penyembuhan pasca operasi sum sum tukang belakang yang sama sekali tidak ia ketahui. Sungguh kenyataan pahit yang tak bisa terima dan ia terkejut karenanya.
"Bagaimana tuan?" Azhari masih menunggu dengan wajah cemas luar biasa, hanya tau nama negaranya saja sudah membuat rasa khawatir yang ia rasakan berkali-kali lipat lebih besar di bandingkan sebelumnya apa lagi di tambah dengan melihat ekspresi Mahendra yang terlihat syok semakin membuatnya yakin ada sesuatu yang tidak beres di sini. Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa pun dengan putra hamba... Batinnya masih menunggu.
Mahendra memandangi layar Hp yang telah mati di tangannya tersebut, sungguh sesuatu yang membuatnya terguncang hebat dan menjadikan pukulan untuknya. Selama ini ia hanya tau bahwa Rega melakukan perjalanan bisnis dan semua tampak sangat sempurna, memyembunyikan semua ini dengan sangat rapi dan ia sangat yakin bahwa semua ini pasti berkaitan dengan Yun. "Tidak apa-apa, pulang dan bersiaplah. Kita akan terbang kesana dan menjemput mereka pulang." Jawabnya dengan bersikap biasa-biasa saja sebisa mungkin walau raut wajahnya mengatakan sebaliknya, "Saya akan menyiapkan jet khusus yang akan membawa kita pergi ke sana." Katanya lagi.
Walau Azhari tak yakin namun ia hanya bisa mengangguk, menuruti apa yang Mahendra katakan dan menekan semua pertanyaan yang telah menumpuk setinggi gunung di dalam benaknya. Kali ini ia sangat yakin bahwa ada yang tidak beres dan itu sangat mengganggunya. "Saya akan segera pulang dan kembali secepatnya tuan." Ujarnya dengan berdiri dan segera pergi, kakinya dengan sangat cepat menjalankan perintah yang otaknya perintahkan dan melupakan etika berpamitan dengan meninggalkan ruangan tersebut tanpa mengucapkan terimakasih atau semacamnya.
Mahendra terduduk lemas di atas sofa, mencoba mencerna setiap kata yang ia dengarkan mengenai keadaan Rega. Putranya menjalani transplantasi sum sum tulang belakang beberapa bulan yang lalu tanpa ia ketahui, mengidap penyakit membahayakan hingga harus menjalani perawatan yang memakan waktu cukup lama. Bagaimana mungkin seorang ayah tidak menyadarinya hingga sekian waktu dan mempercayai apa yang telah kedua putranya katakan selama ini yang bisa mengecohnya dengan sangat baik, Rega dan Yun telah menyusun semua ini dengan sangat baik hingga bisa mengelebuhinya dan kini ia menunggu Yun yang ia jemput paksa untuk meminta penjelasan darinya. Orang yang ia perintahkan menjemput Yun di tempat kerjanya telah dalam perjalan menuju rumah dan Mahendra yakin bahwa sebentar lagi mereka akan sampai mengingat waktu saat ia memerintahkan hal tersebut.
"Tuan?" Yasir memanggil bosnya yang tampak muram dengan berhati-hati, seperti yang ia lihat saat ini suasana bosny itu dalam keadaan tidak baik dan iti sangat membahayakan untuknya. Sedikit saja melakukan kesalahan maka ia akan mendapatkan akibat karenanya.
Mahendra mengangkat wajahnya, dan lagi-lagi menghembuskan nafas panjang untuk meringankan beban yang mengganjal di hatinya tersebut. Yasir salah satu otang kepercayaannya telah berdiri di dekatnya dengan sikap patuh dan siaga. "Bagaimana?"
"Saya telah membawa tuan muda dan saat ini beliau ada di depan." Katanya. Tiba-tiba bosnya itu menghubungi dan meminta menjemput Yun di tempat kerja serta membatalkan seluruh agenda yang Yun miliki, membuat Yasir bertanya-tanya ada apa yang terjadi. Bahkan bos besarnya itu memintanya membawa paksa Yun apa bila menolak untuk bertemu dengannya dan melakukan apa pun untuk membawanya ke sini.
Hanya anggukan kecil yang Mahendra lakukan, "Suruh dia masuk."
Yasir menundukkan kepalanya.
"Yasir?"
"Iya tuan," Menghentikan langkahnya seketika dan berbalik.
"Siapkan jet secepatnya karena kita akan melakukan perjalanan hari ini. Batalkan dan undur semua pertemuanku dan juga Yun untuk tiga hari ke depan, berikan alasan dan konpensasi kepada mereka yang merasa di rugikan."
"Baik tuan," Yasir mengerutkan keningnya, membatalkan semua pertemuan dalam tiga hari adalah hal yang sangat luar biasa yang ia dengar selama ia bekerja kepada tuan Mahendra. Pertemuan bisnis yang terjadi selama tiga hari tersebut ia yakini mencakup nilai yang sangat besar dan semua itu harus batal karena sesuatu yang Yasir sendiri tak tau alasannya, pantang untuk bertanya dan tau mengenai apa pun yang bosnya lakukan kalau masih ingin bekerja di tempat ini, itu lah aturan yang keluarga Mahendra tetapkan ke seluruh pegawainya.
"Ayah?" Yun mencondongkan badannya sedikit saat menghadap ayahnya, laki-laki yang telah memberikan nama besar keluarganya itu tampak sangat berbeda di bandingkan biasanya. Wajahnya tampak murah dan juga sedih, membuat Yun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Selama berpuluh-puluh tahun sejak ia datang ke rumah ini, ini kali pertama ia melihat ekspresi wajah ayahnya seperti yang terlihat saat ini.
"Kesalahan apa yang telah kamu lakukan?" Tanya-nya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Yun yang telah membuatnya kecewa, Mahendra merasa di hianati oleh kedua putranya tersebut.
Yun terkesiap, pertanyaan yang keluar dari Ayah membuatnya sangat terkejut dan bingung. Tanpa mengangkat wajahnya laki-laki itu masih berpikir dan mencari tau kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga Ayah tak melihatnya saat berbicara, padahal selama ini Ayah selalu melihat ke arahnya dengan tatapan lembut. "Maaf ayah." Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya karena tak dapat menemukan kesalahan apa yang telah ia lakukan.
"Yun, aku merawat dan menyayangimu seperti anakku sendiri. Aku memberikan semua yang ku miliki dan ini balasan yang kamu berikan kepada orang tua ini?"
Yun memejamkan mataya rapat, kata-kata yang keluar dari mulut ayah angkatnya itu bagikan sebilah pedang yang menusuk ke dalam jantungnya. Tak ada yang bisa ia katakan, hanya berdiri dan menundukkan wajahnya untuk bersembunyi. Walau tak tau kesalahan apa yang telah ia lakukan tapi Yun yakin itu adalah sesuatu yang sangat fatal yang tidak ia sadari telah melakukan dan membuat kecewa.
"Kau mempermainkan perasaanku dan menganggapnya lucu?" Ujar Mahendra yang menumpahkan kekesalannya terhadap Yun yang menyembunyikan keadaan kesehatan Rega darinya selama ini. "Apa kau tidak menganggap orang tua ini sebagai ayahmu?"
"Ayah?" Kali ini Yun memotong ucapan Mahendra, hal yang baru pertama kali ia lakukan. "Jangan mengatakannya."
"Lalu apa?"
Yun membuka matanya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk merangkai kata-kata yang menurutnya pantas. "Maafkan anakmu yang durhaka ini." Hanya itu yang bisa ia katakan, walau sebenarnya banyak rangkaian kata di dalam benaknya. "Maaf kalau telah mengecewakan ayah dan membuat ayah merasa malu mempunyai anak seperti ini."
Mahendra mengangkat wajahnya, memandang Yun yang menundukkan wajahnya dalam. Ia tau bahwa Yun adalah anak yang baik dan juga patuh, tak ada kesalahan yang ia lakukan dan selama ini Yun menjadi anak kebanggaannya setelah Rega. Mereka adalah putra kebanggaan yang dapat ia andalkan dalam apa pun dan Mahendra sangat mensyukuri memiliki mereka berdua. "Kalau kau tau aku kecewa lalu apa yang akan kau lakukan? Bahkan kesalahan yabg telah kamu lakukan pun tidak menyadarinya."
"Yun?"
Walau Ayah berkata dengan pelan dan lembut kepadanya, namun bagi Yun itu lebih dari teriakan kemarahan yabg telinganya dengar. Laki-laki muda itu mengankat kepalanya dan melihat ke arah ayah angkatnya tersebut, tampak raut wajahnya yang memperlihatkan kekecewaan di sana membuat Yun yakin apa pun itu adalah kesalahan besar yang telah ia lakukan tanpa ia sadari. "Maaf ayah, ayah bisa menghukumku." Jawabnya pasrah.
"Apa hukuman akan mengembalikan kepercayaan ayah kepadamu lagi?" Mahendra menatap tajam Yun, "Apa itu bisa?"
"Ayah, seorang anak akan menerima apa pun yang orang tuanya katakan bila itu adalah kebaikan dan bila menurut ayah anakmu ini melakukan kesalahan dan menghukumnya untuk mengembalikan kepercayaan yang telah ia rusak maka aku akan menerimanya selama apa yang ayah lakukan adalah benar dan tidak menyimpang dari kebenaran yang ada." Katanya tegas, itu adalah prinsip yang Yun pegang selama ini bahwa kebenaran akan ia ikuti di mana pun dan dengan siapa pun.
Jauh di dalam hati ia bangga denganputrabya tersebut, meyakini hal yang sangat luar biasa dan hingga dalam situasi seperti ini ia masih tetap memegang teguh apa yang ia yakini. "Apakah membohongi semua orang bahkan orang tuamu sendiri adalah kebenaran?"
Ya ampun...
Gue bohong apaan sih sampek bikin sesak nafas? "Tidak, itu adalah kesalahan." Jawabnya tegas, padahal sampai saat ini gak tau kesalahan apa yang di lakuin sampek bikin ayahnya semarah ini. Baru pertama kali di marahi bikin Yun merasa panas dingin.
"Apa yang kamu rencanakan bersama saudara laki-lakimu satunya?"
"Hah?" Mikirnya udah ke sana-sini, malah mikir yang enggak-enggak tadi.
"Duduklah." Mahendra menepuk pelan sofa yang ia duduki, memberikan perintah untuk Yun. "Ayah merasa sangat kecewa dengan kalian berdua yang bersekongkol membohongi ayah selama ini." Katanya saat Yun telah duduk di sampingnya, "Kau tau, ayah sangat menyayangi kalian berdua dan tidak ada sekali pun membedakannya sebagai anak laki-laki ayah walau pun tidak semua orang tau mengenai keberadaanmu." Kata Mahendra yang memang merahasiakan Yun sebagai anak angkatnya untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Ayah, cukup kasih sayang dan pengakuan dari ayah yang aku inginkan. Bukan dari orang-orang di luar sana." Jawab Yun tau apa yang ayahnya pikirkan. "Bisa menjadi anak ayah adalah hal yang sangat aku syukuri sepanjang hidup."
"Ayah tau alasan yang kalian lakukan selama ini yang sama-sama ingin melindungi perasaan ayah, tapi bagaimana pun orang tua ini adalah ayah dari kalian berdua."
"Maksud ayah?" Yun merasa ayah kembali manjadi seperti biasanya, seorang ayah yang hangat dan juga lembut membuat keberanian Yun kembali lagi.
"Mengenai Rega, kalian merahasiakan kesehatan dan keadaan Rega selama ini dari kami semua dan kini ayah mengetahuinya." Ujarnya langsung ke inti permasalahan.
Yun mendelik, ternyata ayah telah mengetahui semua itu dan ia yakin bahwa yang menyebabkan ayahnya marah dan kecewa saat ini adalah masalah ini. "Maaf ayah karena telah menyembunyikan semua ini." Kataya penuh penyesalan walau Yun tau cepat atau lambat ayah akan mengetahui kebenaran yang mereka sembunyikan selama ini, hanya menunggu waktu saja mengungkapkan kebenarannya mengingat siapa ayah mereka. "Ayah akan memaafkannya kan?"
"Tergatung penjelasan yang akan ayah dengar darimu mengenai semua ini." Ujarnya, Mahendra bukan orang yang mudah mempercayai sesuatu dan ia yakin bahwa kedua putranya mempunyai pejelasan mengenai semua itu dan ia akan memberikan kesempatan untuk Yun mengatakannya sendiri.
Yun menjalin jari-jari tangannya, mencoba mencari kata-kata yang tepat agar apa yang ia sampaikan tidak menyinggung dan menyulut amarah ayah kembali mengingat apa yang telah ia lakukan merupakan hal yang bisa di bilang cukup membuatnya merasa kecewa. Yun dapat memahami semua itu dan tak akan menyalahkan siapa pun bila ayah dan juga ibu membencinya, jangankan orang tua, orang yang kita sayangi siapa pun itu akan merasa kecewa apa bila sesuatu yang sangat penting di rahasiakan darinya dan itu yang telah Yun lakukan selama. Setelah menghadapi kemarahan ayah, akan datang kemarahan dari Ibu yang pastinya menuntutnya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
******
Hi readers....
Gimana nih kabarnya nih?
Kalian yang punya anak laki-laki di rumah pasti juga ngerti ya gimana tingkah laku mereka yag kadang bikin dunia kita jungkir balik, bukan cuma rumah aja yang jungkir balik karena ulah mereka yang tiap hari emaknya senam mulut. Masalahnya author anaknya juga cowok yang subhanallah luar biasa bikin emaknya senanm mulut tiap hari, tapi itu lah nikmat sebagai seorang ibu yang gak semua orang bisa dapetin. Jadi syukutrin apa yang udah kita dapatkan atas kreasi mereka karena nanti kalau masanya udah berjalan gak bakal lagi ada masa-masa kayak gini, mereka bakal berubah dan semua yang di lakuin jadi kenangan yang bisa di ceritain di kemuadian hari buat kita.
Makasih yang udah mampir dan nungguin up novel author tiap hari.
Jangan lupa buat mampir ke novel yang author tulis lainnya, cuma up gak setiap hari karena keterbatasan waktu yang author miliki dan susah buat ngebaginya antara ini dan itu.
Jangan lupa like, komen dan juga votenya biar author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....