Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Debaran


Ella yang kesel banget sama sikap dan kelakuan Papanya itu lebih memilih keluar dan menikmati udara di luar rumah di ikuti Rega dan Sonia yang menyusulnya.


Mereka bertiga duduk di kursi yang terletak di taman samping, menghadap ke kolam ikan dan kebun bunga yamg tersusun rapi. Tak ada satu patah pun kata yang mereka ucapkan, tampaknya hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing.


Rega yang paling ganteng dan jadi satu-satunya lelaki itu duduk menyilangkan kakinya, menutup matanya. Rasa kantuk yang menyerang karena tadi malam lembur buat ngerjain pekerjaan yang seharusnya di lakuin hari ini, berhubung ada undangan sarapan spesial makanya kejar tayang biar bisa langsung kelar dan melakukannya tanpa beban.


"Muka kalian bertiga kenapa?" Willy yang baru datang itu langsung duduk diantara Ella dan Sonia, cuma tu kursi yang kosong makanya langsung aja di tempati. Liat tiga orang beda kelamin yang duduk sambil diem itu menandakan ada sesuatu kejadian yang entah apa lah itu.


Ella menatap Willy yang baru datang masih dengan setelan baju kerja yang Ella yakin banget baru pulang kerja langsung datang ke rumah. "Baru pulang Kak?" Tanya balik Ella tanpa menjawab pertanyaan Willy.


"Iya, gerah, lapar, haus...," Melonggarkan ikat dasinya dan menyandarkan badannya. "Lo ngapain Ga pagi banget udah nongkrong disini? Ngelamar jadi satpam baru ya?"


"Iya, jadi satpam adik lo gue, ojeknya Ella sekaligus merangkap baby sisternya dia." Jawabnya asal yang mulai berat matanya.


Di tambah angin semilir sama sejuknya suasana pagi bikin Rega ngantuk berat, padahal sebelum berangkat tadi udah mandi biar seger tapi gak ada pengaruhnya sama sekali matanya masih aja berat.


"Hebat, bisa dapat jongos kayak gini..." Willy mengacungkan dua jempolnya ke arah Ella dan di balas hal serupa sama tu cewek.


"Br*sek lo bilang gue jongos!" Rega melempar batang ranting yang kebetulan jatuh deket kakinya ke arah Willy yang cuma cengengesan.


"Trus gue bilang apa? Suami? Keenakan elo.... Gue belum kasih restu buat lo."


Rega menatap Willy sebal, dari dulu tu cowok yang selalu bikin perjalanan cintanya agak seret sama kelakuannya yang jahil. "Gue gak perlu restu lo, asalkan Papa Ella udah kasih lampu ijo. Mau lampu kuning atau merah dari lo gue gak perduli."


Ternyata Willy kecolongan informasi sepenting ini, gak tau kalau mereka udah serius sampek dalam tahap dapat restu segala. Baru gak pulang satu bulan aja udah banyak yang berubah, dan kalah telak sama Rega yang dari awal udah ngegas buat dapetin Ella gimana pun caranya.


"Serius La Papa udah kasih restu buat kalian?" Nanya sama Ella biar lebih pasti, toh mulut Rega gak bisa di percaya kali aja cuma akal-akalan dia buat balas dendam.


Ella mengangguk pelan dengan tersipu malu yang biki Willy langsung melorot gak berdaya, kandas lah sudah keinginannya sebelum berjuang di kalahin sama Rega yang gak pantang menyerah dalam memperjuangkan cintanya.


"Cuma gue dong jomblo sekarang?"


"Wah..., ngenes banget Kak ngomong kayak gitu? Sonia jomblo juga kali gak cuma Kak Willy doang?"


"Disini ternyata kita senasib." Willy berpaling duduk mengahadap Sonia yang berada di sebelah kanannya, Willy tak pernah memperhatikan wajah Sonia sedekat ini hingga terlihat sangat jelas bahwa cewek blesteran itu ternyata memiliki wajah yang manis. Sesaat Willy terpana saat tanpa sengaja mata mereka saling bertemu, memandang satu sama lain dalam diam yang penuh arti.


Sonia yang merasakan tubuhnya memanas mendapatkan tatapan mata dari Willy yang begitu lembut yang tak pernah ia lihat sebelumnya membuat detak jantungnya semakin cepat, wajahnya terasa manas saat ini saat wajah mereka berada tak jauh.


Ella yang merasa ada getaran-getaran lain di antara mereka berdua itu memilih untuk membiarkan dua insan yang lagi merajut benang-benang ketertarikan itu, dan memilih memberikan waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain. "Om ...." Bisiknya di telinga Rega pelan, gak mau ganggu suasana yang lagi bagus-bagusnya itu.


Rega yang hampir aja ketiduran itu membuka matanya saat mendengar suara Ella, memutar kepalanya dan mendapati wajah mereka yang begitu dekat.


"Kita jalan aja ketempat lain," bisiknya sambil ngasih kode lewat tangannya buat liat yang Sonia dan Willy lakukan.


Rega mengikuti arah telunjuk tangan Ella dan mengerti apa yang Ella maksudkan. Ia mengikuti Ella yang terlebih dahulu berjalan pelan mendahuluinya dan meninggalkan dua orang itu untuk menikmati waktu mereka.


Willy yang tersadar saat ada daun yang jatuh di tangannya itu celingukan, soalnya Rega sama Ella udah gak ada di tempatnya semula. Kursi mereka udah kosong dan entah raib kemana dua orang itu. "Ella sama Rega kemana Son?" Celingak-celinguk cari sosok mereka berdua yang tiba-tiba ngilang gitu aja.


Sonia yang terhanyut itu langsung kaget, ternyata mereka cuma berdua yang artinya Ella meninggalkannya. "E-enggak tau Kak, tadi kak ada disini?" Menata hatinya yang sempat kacau balau gara-gara tatapan mata Willy yang menghanyutkan.


"Kayaknya mereka sengaja ninggalin kita disini karena gak mau diganggu."


"Maklumi aja lah Kak...." Sonia membenarkan tempatnya duduk hingga menjadi senyaman mungkin. "Biarin aja mereka pacaran dulu, menikmati masa mudanya."


"Iya juga sih, tinggal kita yang sama jomblo ngumpul disini." Terkekeh mengingat status mereka yang kompakan.


"Masak orang kayak Kak Willy jomblo?" Sonia memberanikan diri mulai mengorek informasi dan bisa lebih dekat dengan Willy, sayang banget nyia-nyiain waktu yang di kasih sama Ella kalo gak bisa memanfaatkannya sebaik mungkin.


"Untuk saat ini emang gitu, cuma belum ketemu aja yang cocok."


"Kakak cari cewek yang kayak gimana?"


"Yang bisa bikin hati aku berdebar-debar saat bareng dia." Jawabnya simpel.