
"Udah gak usah grogi." Kata Rega yang liat dari tadi Ella m*remas tangannya tanda tu anak lagi gugup. "Ibu orangnya baik banget, yang Yun bilang itu semuanya bohong. Lo cuma di kerjai sama dia."
"Tetep aja kan Ella gugup mau ketemu calon mertua...," Siapa aja bakal ngerasain hal yang sama kalo baru pertama kali di bawa pulang buat ketemu sama calon mertuanya. Bayangan mertua yang kayak di film-film itu langsung memenuhi pikiran Ella, gimana kalo gak suka? Trus gak kasih restu?
Rega mengusap lembut rambut Ella, "Udah lah, gue tau banget gimana Ibu. Ibu pasti suka sama lo, Nenek aja yang orangnya kolot langsung suka kan waktu ketemu. Apa lagi Ibu yang lemah lembut..." Perbedaan yang sangat terlihat antara Nenek dan Ibu.
Rega memarkirkan mobilnya di pelataran rumah yang sangat luas, rumah sederhana namun memiliki halaman dan kebun yang luas itu penuh di tumbuhi dengan beraneka ragam pohon buah dan bunga. Ada juga kebun mini di samping rumah yang di tanami dengan berbagai macam jenis sayuran disana. Rumah sederhana namun asri dan bikin siapa pun bakal betah untuk berlama-lama disini.
Seorang wanita paruh baya keluar dengan tergesa-gesa yang hanya memakai daster, rambut panjangnya ia sanggul. Dengan senyum hangatnya itu menyambut putra kesayangannya yang datang mengunjunginya.
Rega yang sejak tadi menggenggam tangan Ella kini melepaskannya dan memeluk wanita yang tak lain Ibu Yun. Menghadiahkan kecupan di pucuk kepalanya berkali-kali dan mencium punggung tangan yang sudah membesarkannya penuh kasih sayang itu dengan lembut. Menundukkan badannya agar tinggi mereka tampak seimbang.
"Putra Ibu sudah besar...," Katanya dengan mengusap wajah Rega dan mencium pipinya penuh kasih sayang, anak kecil yang manja dan bandel itu kini tumbuh menjadi laki-laki tampan dan gagah.
"Maaf Bu, anak Ibu yang satu ini jarang banget bisa jenguk Ibu."
"Gak pa-pa sayang, Ibu senang asal kalian berdua sehat. Jangankan kamu, Yun aja jarang banget pulang. Gimana kabar Ayah dan Nenek? Sehat?"
"Alhamdulillah sehat, mereka titip salam buat Ibu."
Ibu azhari yang terlalu bahagia dengan kedatangan Rega itu tak menyadari ada sosok lain yang berdiri di belakang Rega dengan tatapan mata haru, Ella yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang Mama merasa dadanya sangat sesak. Beruntung Rega memiliki sosok Ibu yang sangat menyayanginya walau pun Ibu yang bukan melahirkannya. Tapi Ella juga bersyukur akhirnya iya punya pengganti Mama, siapa lagi kalau bukan Mommy nya Sonia yang kini menyanyanginya sepenuh hati.
"Siapa gadis manis itu sayang?"
Rega berpaling dan menggandeng tangan Ella, "Namanya Ella, calon menantu Ibu." Memperkenalkan Ella secara resmi. "Besok anak Ibu yang tampan ini akan melamarnya, jadi Ibu bakal punya mantu secepatnya."
Bu Azhari yang kaget bercampur haru itu menggenggam tangan Ella dengan mata berkaca-kaca, "Kamu cantik sekali sayang...," Mengelus pipi ella dengan penuh kasih sayang "Ayo kita masuk, Ibu sudah masak makanan kesukaan Rega. Tadi Yun telpon kalau Rega hari ini datang jenguk ibu, gak nyangka kalau bawa menantu yang sangat cantik." Membimbing Ella untuk masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Rega yang masih berdiri di tempatnya semula.
Ella yang diam terpaku karena haru itu membiarkan calon mertuanya menggandeng tangannya ke dalam rumah, tangan yang kasar namun terasa hangat itu menyentuh wajahnya dan seketika Ella merasakan sentuhan yang terasa berbeda dari sentuhan lainnya. Apakah ini yang dinamakan tangan seorang Ibu?
"Maaf, gubuk Ibu gak sebesar dan semegah rumah Rega." Membuka pintu dengan tangan lainnya, karena satunya buat gandeng Ella. Takut calon mantunya yang cantik disamber orang.
"Rumah Ibu cantik banget, Ella kalo boleh jujur suka banget rumah yang kayak punya Ibu banyak tanamannya dimana-mana." Ella duduk di lantai yang beralaskan karpet itu.
"Syukur kalau nak Ella suka sama gubuk Ibu yang ala kadarnya."
"Bu, jangan merendah terus." Kata Ella gak nyaman. "Manusia gak dinilai dari seberapa mewah rumah ia tinggali."
"Ibu emang orangnya kayak gitu, kami udah nyuruh buat pindah tapi Ibu selalu nolak. Alasannya yang rumahnya terlalu bagus lah, yang gak bisa nanam sayur lah...,"
"Nanti kalau kalian punya anak Ibu janji bakal pindah kerumah kalian buat merawat cucu Ibu."
Drrt...
Rega mengambil hp yang ada di kantong, "Bu, aku ngangkat telpon dulu."
"Kalian udah lama pacaran?"
"Enggak kok Bu, Ella gak pacaran sama Om Rega?"
"Om?"
Ella tersenyum masam, kebiasaan sudah manggil kayak gitu jadi susah buat ngilanginnya. "Kebiasaan Bu...,"
Bu Azhari hanya tersenyum, "Iya gak pa-pa..., jadi kalau kalian gak pacaran?" Gak mempermasalahkan nama panggilan yang Ella berikan buat Rega.
"Om Rega, maksudnya Mas Rega," Lidah Ella berasa ada tulangnya pas bilang gitu. "Gak lama kenal langsung ngelamar, cuma Ellanya yang bingung. Lagian Ella juga baru selesai sekolah."
"18 tahun Bu...,"
Ternyata anaknya itu menyukai daun muda seperti ini, tapi ia yakin ada alasan lain hingga akhirnya Rega memutuskan untuk menikahinya. Bahkan dari awal Rega langsung melamarnya...
"Kamu yakin mau menikah dalam usia yang masih sangat muda? Bukannya Ibu gak suka, Ibu suka banget punya menantu yang cantik dan manis. Tapi Ibu gak mau anak Ibu memaksakan kehendaknya sama Nak Ella." Walau berat, sebagai seorang Ibu ia tak ingin ada keterpaksaan dalam hubungan pernikahan anaknya.
"Enggak kok Bu, Ella udah liat perjuangan Mas Rega selama hampir satu tahun ini buat deketin Ella. Semoga keputusan ini benar."
"Kalau kamu yakin, Ibu senang dengernya. Keliatan di luar Rega itu cuek, tapi sebenarnya dia anak yang baik. Ibu minta kamu yang sabar ngadepin sifat Rega yang kaya anak kecil."
Emaknya aja ngomong kayak anak kecil, brarti gak salah kan?
"Iya Bu, Ella tau kok gimana sifatnya."
"Tunggu bentar ya sayang," Bu Azhari masuk ke dalam rumah.
Rega yang udah selesai nerima telpon itu duduk di samping Ella, "Ngomong apa sama Ibu?"
"Katanya Om kayak anak kecil,"
"Bisa lo nya aja kan ngarang?" Gak terima di bilang mirip anak kecil.
Rega yang telah ia anggap seperti anak sendiri dan gak pernah sekalipun membeda-bedakan kasih sayang yang ia berikan terhadap Yun. "Ibu hanya bisa memberikan hadiah kecil ini untuk pernikahan kalian, tolong terima sebagai tanda terimakasih karena Nak Ella sudah mau menerima anak Ibu yang mungkin banyak kekurangannya. Maaf, Ibu gak bisa kasih lebih atau barang mahal."
Ella menerima kotak yang di berikan itu, menatap Rega untuk meminta jawaban apa isi dari kotak tersebut.
"Buka lah...,"
Ella membukanya dengan perasaan campur aduk, tangannya menyentuh kain putih dengan bordir dan payet yang bertaburan. "Ini apa Bu?" Ella menariknya secara perlahan, matanya yang indah itu terbelalak tak percaya. Kebaya cantik bertaburan payet dan bordir kini berada di tangannya.
"Ibu punya dua putra yang suatu saat akan menikahi wanita yang sangat cantik, Ibu selama ini membuat dua kebaya untuk menantu Ibu. Ibu minta maaf kalau gak sesuai dan kuno. Hanya ini yang bisa Ibu berikan."
Ella menghambur ke arah wanita yang penuh kasih sayang itu dan menangis haru, siapa yang bakal menolak mendapat hadiah luar biasa yang di bikin dengan luapan kasih sayang di setiap jahitannya. "Makasih Bu..., Ella seneng banget sama hadiah yang Ibu beri. Ella janji bakal pakai kebaya yang Ibu bikin dengan tangan Ibu sendiri saat nanti kami menikah. Gak ada yang lebih baik dari buatan tangan seorang Ibu buat anaknya."
Bu Azhari membelai rambut Ella dan mencium pipinya, ternyata Rega mendapatkan seorang istri yang sangat baik seperti yang ia harapkan. Wanita yang bisa menghargai seorang wanita miskin yang bahkan tak ada ikatan darah sekalipun. "Terimakasih sayang, terimakasih sudah mencintai anak Ibu, terimakasih sudah menerima Ibu, dan terimakasih karena kamu terlahir untuk datang ke keluarga kami. Semoga kalian berdua di beri jodoh yang panjang, kebahagiaan yang melimpah dan saling menyayangi." Katanya mendoakan dengan tulus. "Ibu hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan anak-anak Ibu."
Rega yang dari tadi hanya melihat kini memeluk dua wanita yang sangat ia sayangi itu, wanita yang telah membesarkannya dengan kasih sayang dan satunya wanita yang akan menjadi temannya sampa maut memisahkan. Dua wanita yang sangat berharga yang akan ia lindungi dengan segenap hatinya. "Terimakasih karena Ibu udah menjadi Ibu buat Rega, Rega gak bisa membalas apa yang telah ibu berikan dan korbankan."
"Ibu gak mengharap apa pun, Ibu hanya minta jaga menantu Ibu dengan baik, bahagiakan dia sayang..."
"Tanpa Ibu minta, aku bakal ngelakuinnya. Ibu tau, susah banget buat bikin mantu Ibu ini setuju dan mau nikah sama aku."
*****
Hai semuanya...
Makasih ya masih setia nunggu Up dan baca novel author yang satu ini.
Yang nunggu Rega sama Ella nikah mohon sabar, besok mereka udah lamaran kok. Bentar lagi juga bakal nikah kayak yang kalian harapkan.
Jangan lupa Like dan Votenya ya kalo kalian suka sama novel author biar tambah semangat lagi.
😘😘😘😘😘😘