
Udah seminggu Ella punya Mama dan
saudara baru, tapi dia tetep aja di rumah sendirian. Papa keluar kota buat nyelesaikan proyek baru, tentu aja Mama Devi ikut kemana papanya pergi. Dua saudara tirinya gak tinggal satu rumah karena mereka lagi ada kerjaan lain. Katanya Sonya dapat kerjaan keluar negeri dan Sonia mengikutinya karena Mama Devi tak dapat melepaskan Sonya untuk pergi sendiri. Biasanya dengan senang hati ia mengikuti anaknya kemana pun, tapi kini karena sudah menyandang gelar Nyonya Johan maka ia tak melakukannya lagi. Devi lebih memilih mendampingi suaminya tersebut.
"Iya Pa? " Jawab Ella via telpon.
"Nanti siang Sonya dan Sonia bakal pulang ke rumah kita."
"Iya, Ella juga tau kok. Sudah Ella siapkan kamar buat mereka di lantai atas."
"Kamu hati-hati ya sayang, dua hari lagi Papa baru pulang."
"Siap bos!" Mematikan telpon rumah dan kaluar rumah menuju sekolah.
*********
Rega memainkan pulpen di tangannya, beberapa hari ini ia tak bertemu dengan cewek berisik yang gak pernah mau nurut apa yang ia katakan. Terakhir kali bertemu saat Rega membawanya pulang ke rumah utama untuk menemui nenek dan menjadi tragedi berdarah untuknya. Karena kecerobohannya, Rega keceplosan ngomong dan itu awal dari tragedi yang dimaksud. Ella melancarkan beberapa jurus yang membuat seluruh tubuhnya sakit semua serta biru-biru karena lemparan benda apa pun yang bisa Ella raih plus tendangan atau cakaran. Kalau marah ganas banget tu orang, untung aja Rega dulu pernah belajar ilmu bela diri. Kalo enggak bakalan babak belur beneran kayak pencopet yang di hajar Ella dengan mudah.
Bukannya nolongin, Nenek malah bertepuk tangan melihat cucunya di tindas tanpa ampun. Kayak lagi liat bioskop Nenek girang bukan main. Gak bisa bayangin kalau mereka berdua bakal jadi sekutu, udah deh tragedi bom Hiroshima bakal terulang lagi.
Rega mengambil Hp nya dan mencari sebuah no, siapa lagi kalau bukan no Ella.
"Iya Om?"
"Em.... Gak ada sih, emang kenapa?"
"Bentar lagi gue jemput, lo bentar lagi pulang kan?" Melirik ke arah jam tangannya.
"Ogah ah, entar Om manfaatin Ella lagi kayak terakhir kita ketemu." Tolaknya, emang dia di kibulin dan di jebak mentah-mentah kemaren sama tu orang.
"Siapa juga yang manfaatin? Cuma minta sedikit bantuan sama elo."
"Enak di Om gak enak di Ella, pokoknya eggak. Soalnya Om bohong melulu, enak aja bilang sama nenek Ella calon Om, sejak kapan kita pacaran?"
"Sejak gue cium lo...."
Wajah Ella seketika memerah mengingatnya, rasanya tu ya malu banget kalo ingat waktu itu. "Gak bisa, Ella gak setuju. Mana ada pacaran kayak gitu, tiap di cium langsung jadi pacar. Apa kabar tu pemain film yang tiap hari cium sana-sini?" Katanya sewot.
Rega terkekeh mendengarnya, bayangan wajah Ella yang udah pasti saat ini merah karena marah tapi baginya itu imut dan menggemaskan. "Kan lo kemaren nuntut gue buat tanggung jawab, itu bentuk tanggung jawab gue. Gue gak perlu ngomong panjang langsung gue bawa ke rumah. Kalo lo mau, pulang nanti gue bakal ke rumah lo buat ketemu sama orang tua lo." Katanya menggoda Ella, rasanya seneng banget ngelakuin itu bikin suasana hatinya menjadi lebih baik.
"Mau ngapain?"
"Ngelamar lo jadi bini gue."
Mulut dan mata Ella membulat sempurna mendengarnya, sumpah kalo ada di depannya saat ini bakal di tonjok tu orang sampai jadi bubur.