
Rega memakai kemeja santai, hari ini ada pertemuan dengan para investor dari China yang akan membahas proyek bernilai jutaan dolar. Saat memandang pantulan dirinya iya teringat gadis mungil yang tadi malam ia temui dan dengan gamblangnya mengomentari apa yang ia kenakan. Selama ini tak ada satu pun yang berani mengkritik dan bahkan membantahnya, berbeda dengan gadis mungil bernama Ella yang terang-terangan memgomentarinya dan bahkan menyebutnya "Om" di tengah orang banyak.
Apa yang salah dengannya? Rega memegang rahangnya dan memperhatikannya, tak tampak seperti orang yang sudah tua? Bahkan tak ada kerutan di area matanya.
Jadi, dari mana gadis itu Menyebutnya Om?
**********
"Pa.... Ella mau nge Mall dulu...!" Teriaknya di depan pintu utama rumah dengan kepala mendongak ke dalam.
"Hush! Anak gadis gak bagus teriak-teriak udah kayak di hutan." Johan menjitak jidad Ella.
"Sakit Pa...." Mengelus jidadnya yang memerah.
"Papa belum budek, jadi gak usah teriak-teriak"
"Kali aja Papa gak denger." Katanya cengengesan dan mengambil tangan papanya buat salim.
"Entar Ella pulangnya agak telat, Papa makan di luar aja ya Ella gak masak buat siang ini."
"Kamu bareng siapa?"
"Sama temen-temen sekolah Ella Pa."
"Iya, hati-hati. Jangan malam-malam pulangnya "
"Oootre...."
"Sayang?" Menghentikan langkahnya dan membuka dompet, menyerahkan kartu kredit dan atm.
"Gak usah Pa, uang yang Papa transfer bulan kemaren masih banyak banget. Ella cuma mau nonton sama makan-makan doang."
"Udah bawa aja, ngebantah orang tua aja."
Menyerahkan dengan paksa karena ia tau Ella gak bakalan ngambil.
"Beli aja apa yang kamu mau, kalau perlu telpon Papa biar nanti manajer yang nyambut kamu"
*********
Davina, Rangga dan Vino telah menunggunya di pintu utama Mall. Saat melihat Ella mereka bertiga heboh layaknya pemandu sorak di pinggir lapangan. Kalo udah pada ngumpul mereka berempat ngalahin suporter satu stadiun.
"Parah lo, lama banget.... Bikin kita karatan disini " Protes Rangga saat Ella bergabung.
"Sorry.... Tadi macet di jalan."
"Lo tadi naik apaan kemari " Menggandeng tangan Ella dan melenggang masuk ke dalam Mall di iringi dua cowok ganteng di belakang mereka.
"Taksi."
"Cantik kemana?" Tanya Vino menjajari langkah Devina dan Ella.
"Baru di cuci sayang gue bawa jalan nanti kotor lagi."
"Kita mau kemana nih?" Tanya Davina.
"Jalan aja dulu, gue mau cari sepatu olahraga." kata Rangga berbelok arah di ikuti ke empat temannya itu.
Rangga dengan antusias memasuki butik olahraga yang terletak di lantai dua tersebut dan segera menghambur ke dalam di ikuti temannya, ia memilih beberapa sepatu dan mencobanya satu persatu mencari yang sesuai keinginannya. "Bagus yang mana?" Menenteng dua sepatu di tangan kanan dan kirinya meminta bantuan memilih salah satunya.
"Ambil aja keduanya" Vino bingung, karena keduanya bagus.
"Di cincang Emak gue kalo ambil keduanya." Tersenyum masam dan tergidik membayangkan Mamanya yang lagi ngomel, pasalnya ia sangat kecanduan beli yang kayak ginian dan sering kali khilaf tanpa alasan.
"Itu urusan lo, minta aja pendapat sama mereka." Menunjuk dua orang cewek yang lagi seru liat baju olahraga di ujung lorong.
"Sama aja boong" Karena yakin jawabannya akan sama apa yang dikatakan Vino. Akhirnya logika terkalahkan nafsu, dengan berat hati dan bahagia Rangga mengeluarkan kartu saktinya untuk bayar dua sepatu yang ia pilih.