
#
Sebelumnya author minta maaf buat kesalahan teknis yang gak di sangka-sangka yang kemarin itu double up dengan judul dan isi yang sama persis capt sebelumnya. Author sendiri gak tau kalau gak liat di notif pemberitahuan novel yag author tulis udah up, padahal author gak ngerasa ngirim naskah waktu itu dan ternyata setelah di baca serta di buka isinya sama banget sama capt yang dulu. Mau di hapus gak bisa dan keburu udah lulus review 😥😥😥 Waktu nanya sana-sini (tapi gak nanya sama hp-nya ya...) ternyata anak author ngaku kalo habis megang dan mainin hp author, gak usah di cari lagi deh pasti dirinya pelaku utama dalam hal ini. 😂😂😂
Sekali lagi author minta maaf atas kekacauan yang terjadi.
*********
Dengan sedikit paksaan serta ancaman akhirnya Rega mau nganterin Ella buat berburu kuliner pinggir jalan yang ia rindukan dan dulunya jadi kebiasaan setiap hari buat ngelakuinnya, udah lama banget rasanya gak ngelakuin hobby berat yang satu ini dan rasa senang serta rasa bahagia yang gak bisa Ella dapetin dari lainnya. Ngebayangin aja bikin liur Ella menetes dan perutnya bunyi, rasanya udah gak sabar buat nyicipin semua makanan yang ia lihat di pinggir jalan. "Abi, lama banget sih nyetirnya? Sini gantian sama Ella aja." Katanya yabg udah gak sabar buat sampai tempat tujuan, surga makanan buat mengisi perutnya.
"Kalo mau cepet mending pinjam pintu kemana aja doraemon, buka pintu langsung sampek."
"Kan Abi doraemonnya..., " Ella mengangkat kedua alisnya menggoda Rega yang dulu pernah ngomong kalo Ella itu persis kayak nobita.
"Terserah ratuku mau bilang apa."
"Bi, Ella pengen makan es krim rujak, rujak tumbuk, rujak ulek, rujak pecel...," Menghitung pakek tangannya.
"Sekalian entar Abi bawa pulang tukang rujaknya." Jawab Rega sedikit jengkel denger Ella yang ngabsen berbagai macam varian rujak.
"Gak mau lah, kan Ella udah punya tukang ruja ganteng satu di rumah." Mencolek pipi Rega dengan tersenyum manis, "Juga tukang cuci baju dan piring, tukang masak, tukang sapu dan segalanya. Senengnya punya doraemon super ganteng kayak Abi...," Memukul tangan suaminya itu sambil sesekali mencubit. "Tapi Ella boong."
Rega cuma bisa tersenyum dengan terpaksa dengernya, "Biar aja lah gak ganteng tapi buktinya mau tu di kawinin sama Abi." Sindir Rega.
"Kan itu kesalahan bi.... Dulu mata Ella rabun dekat, liat Abi tu ganteng banget tapi kok lama kelamaan Ella liatnya Abi makin tua aja."
"Itu bukan rabun sayang, tapi emang fakta kalo suami kamu ini udah tua. Salahnya tu kenapa juga Abi kawin sama bocah ingusan kayak kamu, kalo di pikir-pikir mendingan Abi tu kawin sama embak-embak atau tante-tante yang seumuran."
"Abi?!"
"Kenapa?" Tanya Rega menahan senyum, pasti kalo nada suaranya gitu Ella lagi ngambek berat sambil pasang muka jutek.
"Putar balik, Ella udah gak pengen makan apa pun."
"Ngambek ya sayang?"
"Iya."
Dimana-mana yang namanya ngambek itu gak ada yang mau ngaku, lah ini si Ella malah terang-terangan kalo lagi ngambek yang bikin orang denger malah pengen ketawa.
"Gak usah ngambek, entar lubang hidungnya tambah lebar loh...," Goda Rega yang laling seneng liat muka jutek Ella yang di matanya itu gemesin banget.
"Biarin!"
Oke, mari kita ngabsen sambil belajar berhitung. Di atas meja ada beberapa jenis menu dan makanan yang bisa di bilang cukup buat makan orang satu keluarga full anggota atau mungkin satu rt, segala jenis makanan dari yang goreng-gorengan, kukus, rebus, tumis (Bisa di bilang semua jenis itu semuanya ada) udah siap di atas meja.
Rega ngelirik ella yang dari tadi udah gak sabar nge lahap makanan yang ada di depannya sambil menggosok-gosok tangannya dan gigit sendok di mulut, ini porsi orang ngambek yang tadi ngajak balik. Ngeyel banget mau putar balik tapi pas sampek tempat sampek lupa acara ngambeknya karena liat makanan yang bikin laper mata dan perut. "Itu entar di makn semua?" Tanya Rega yang agak trauma sama kejadian silam yang harus habisin makanan yang Ella beli karena kebanyakan.
"Habis kok Bi, lagian Ella emang laper banget." Sambil ngambil hampir semua yang ada ke dalam piring. "Kan kita berempat jadi gak mungkin kah gak habis?"
"Berempat?" Rega mengerutkan alisnya, kalo di itung cuma ada dua, lah kemana yang dua lagi???
"Iya empat, nih dalam perut ada dua." Mengusap perutnya sendiri buat ngingetin kalo masih ada dua anggota di dalam sana yang belum keluar.
"Itu akal-akalan kamu aja biar makannya banyak." Kata Rega yang senyum-senyum gimana liat Ella makan kayak satu tahun gak pernah di kasih makan. Liat Ella yang makan lahap perasaan Rega jadi lebih nyaman, besok adalah waktu yang udah di tenguin dan Rega harus ngomong saat ini juga sekaligus pamit. "Sayang?"
"Em???" Ella menoleh dengan mulut yang penuh kunyahan.
"Hmp!" Rega menutup mulutnya menahan tawa liat istrinya itu, mulut kecil segitu di isi penuh. "Makannya dikit-dikit, Abi gak bakal minta kok, habisin aja semuanya...," Rega mengambilkan minuman dan meletakkannya di samping Ella, mencium lembut bibir Ella yang lagi memamah biak tersebut. Gemes banget liat Ella yang lagi makan lahapa banget.
"Abi?!" Protesnya karena di gangguin sambil melotot ke arah Rega.
"Kenapa? Gak boleh? Kan istri aku juga?" Katanya dengan tersenyum senang, hari ini Rega udah beberapa kali bikin Ella kesal dan mukanya itu gemesin banget!
Ella yang gak mau kalah langsung naruh sendoknya gitu aja di atas piring yang langsung bikin suara nyaring, duduk di atas pangkuan Rega dengan menangkup wajah laki-laki yang sudah menikahinya tersebut. "Abi bilang apa tadi???" Memasang wajah marah, "Tuan Rega yang terhormat, tadi anda bilang istri aku? Siapa istri aku?"
"Siapa yang lagi nantang?" Menarik tangannya biar Rega menunduk hingga wajah mereka begitu dekat. Cup cup cup cup, Ella tersenyum saat menyelesaikannya, "Sekarang yang bener suami aku." Katanya dengan wajah bahagia, "Disini," menunjuk wajah Rega dengan jarinya, "Disini, disini dan disini semuanya hak milik paten Ella. Awas aja kalo sampek ada yang lain ninggalin jejak bakal Ella kuliti."
"Iya sayang...," Menarik tangan mungil istrinya itu "Ini milik kamu," meletakkan di dada, "ini, dan ini semuanya milik kamu." Rega menggesekkan hidungnya ke hidung Ella dan mengecup lembutnya. "Semua yang ada milik kamu, bahkan yang satu ini." Mengarahkan tangan Ella pada juniornya, "Limited edition dan satu-satunya cuma buat kamu."
"Abi apaan sih?!" Ella manrik tanganya langsung dan wajahnya memanas karena malu, udah gemuk banget tadi pas ke pegang.
"Kenapa wajahnya merah?" Goda Rega, "Katanya tadi pengen rujakan? Abi kasih gratis nih buat ngulek." Ucapnya sensual dengan menciumi leher Ella.
"Bi...," Mendorong kepala suaminya yang lagi beraksi itu, "Ini di balkon, malu-maluin di liat orang." Katanya celingukan kayak maling yang takut ketangkep basah.
"Ganti tempat aja yuk sayang?" Meraup dan menggendong Ella menuju kamar buat ngelakuin adegan selanjutnya yang memakan durasi waktu cukup lama dan menguras tenaga.
Rega mengelus pipi Ella yang tertidur pulas dalam pelukannya, mungkin ini terakhir kali ia bisa memeluk dan bersama orang yang paling ia cintai tersebut dan bakalan pisah beberapa bulan ke depan buat ngelakuin tugas negara yang gak bisa di undur lagi. Willy telah mendapatkan donor sum-sum tulang belakang untuknya dan menjadwalkan transplantasi secepat mungkin untuk mengejar waktu agar bisa mendampingi Ella saat melahirkan nanti karena pemulihannya memerlukan waktu yang cukup lama. Perasaannya semakin gelisah saat membayangkan hari-hari yang akan Rega lalui dalam masa pemulihan itu yang pastinya terasa sepi, itu lebih baik di bandingkan harus membayangkan bagaimana reaksi Ella saat ia mengetahui semua kebenaran yang ia sembunyikan malah sampek main mafia-mafiaan buat bikin pengalihan situasi dan kondisi yang udah kucing-kucingan. Untung aja mulut embernya Raka gak pas kumat, kalo enggak bakalan gagal semua rencana yang udah di susun rapi layaknya susunan genteng rumah. Setidaknya, hanya Rega yang merasakan semua itu tanpa harus melibatkan Ella di dalamnya karena Rega udah menempatkan orang-orang yang tepat untuk ada bersama istrinya tersebut selama Rega menjalani perawatan dan penyembuhan.
"Abi...," Menggeliat dan merapatkan selimutnya Karena hawa dingin yang menyentuh permukaan kulitnya. "Cepetan tidur jangan mainin pipi Ella, kan geli." Katanya dengan mata yang masih merem, aslinya ngantuk banget tapi karena ulah Rega alhasil Ella gak bisa tidur nyenyak.
"Abi gak bisa tidur, kamu aja yang tidur Abi mau liati muka jelek istri Abi yang tidur sambil ileran."
"Ella gak pernah ngiler cuma ngeces." Membuka matanya perlahan, "Abi itu udah kurus jadi gak usah diet segala. Ella yang gendut aja gak diet kok." Kata Ella yang baru sadar kalo ternyata Rega sekarang agak kurusan di bandingkan biasanya, mukanya aja udah keliatan tirus.
"Abi gak pernah diet sayang...," Mencium rambut Ella, "Gak tau kenapa jadi kurus. Mungkin lemaknya di ambil sama kamu."
"Mana ada yang kayak gitu."
"Besok Abi mu ngurus proyek baru di luar negeri ya, gk pa-pa kan?" Kata Rega membuka pembicaraan yang rasanya susah banget buat di ucapin.
"Lama gak?"
"Em..., Abi gak tau, pokoknya kalo udah selesai Abi secepatnya pulang."
"Terua Ella gimana?"
"Ke rumah Papa aja biar gak kesepian atau kalau enggak mau nenek yang nemenin?" Kata Rega memberikan pilihan.
"Maunya Abi yang nemenin."
"Aduh... Bayi tua Abi ni manja banget." Memencet hidung Ella gemes.
"Manjanya cuma sama Abi lo kayak gini. Ella di rumah sendirian aja deh, lagian kan sambil nunggu Abi pulang."
"Tapi kepikiran lo sayang kalo di rumah sendiri, apa lagi dalam keadaan hamil kek gini."
"Iya..., entar Ella bakal ajak Sonia atau Ririn nemenin. Gak Pa-pa kan???"
Rega mengangguk, emang lebih baik ada orang lain buat nemenin Ella di rumah walaupun Rega udah nempatin bodyguard secara teraembunyi buat jaga dan ngawasi istrinya itu. "Apa pun itu."
"Tidur yuk Bi, Ella ngantuk...," Mengeratkan pelukannya dan membuat kulit mereka yang tanpa busana itu saling bersentuhan satu sama lain.
*******
Hi Readerd...
Makasih ya buat kalian yang masih setia nunggu Up novel author dan tetap setia buat baca.
Jangan lupa like dan vote-nya buat kalian yang suka sama novel author yang jadi penyemangat tersendiri buat author tetap berkarya.
Terimakasih like dan vote dari kalian serta waktunya, yang kalian lakukan itu luar biasa. Author sangat-sangat berterimakasih.
Tetap di rumah aja ya...Makin lama makin banyak aja korban dari pandemi yang lagi naik daun di seluruh dunia. Author rasanya sedih karena masih banyak orang yang sadar sama bahaya dan masih banyak yang keluyuran gak jelas di luar sana, padahal apa susahnya sih diam di rumah???
Sayangi keluarga dan orang terdekat kita dengan tetap menjaga jarak dari kerumunan orang banyak. Jangan lupa pakek masker kalo harus keluar dari rumah dan jangan lupa sesering mungkin cuci tangan sehabis melaksanakan kegiatan apa pun.