Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
The Power Of Ella


"Lo milih yang mana?" Tanya Kraina yang liat pemandangan luar biasa di depannya itu, dua orang lelaki dengan penampikan visual luar biasa lewat di depannya dengan memberikan angin segar yang mampu membuka matanya dengan sangat lebar. Bahkan dengan jarak seperti ini Kraina dapat melihat dengan jelas betapa sempurnanya makhluk adam yang di ciptakan Tuhan tersebut, bagaimana gak sempurna dengan wajah tampan tanpa cela dan di padu padankan dengan tubuh tinggi porposionla itu mampu membuat siapa pun memalingkan wajah yang melihatnya dan itu yang ia rasakan saat ini.


Hesty memalingkan wajahnya, melihat sosok sempurna yang temannya itu maksud dan mendapati dua orang lelaki berbeda penampilan di dekat mereka yang menurut pandangan matanya mereka sama-sama tampan walau sedikit berbeda dalam sisi pandangannya. "Kalau gue sih yang mana aja oke Na, soalnya mereka tu sama gantengnya." Kata Hesty yang gak bisa jatuhin pilihan salah satu di antara duo cowok keren itu, "Jangankan satu, dua-duanya juga bakal oke kalo merekanya mau. He he he he...,"


"Ye...., kemaruk lo, semua lo embat gitu."


"Mumpung ada, lagian stok kek gitu langka sekarang ini." Menaruh hp-nya ke dalam tas, "Udah lah gak usah banyak halu, buang-buang waktu doang. Lagian yang kayak gitu biasanya udah ada yang punya kok." Menyadarkan diri sendiri kali ini, lagian yang namanya halu inget tempat dan waktu juga kan?


"Gue bukan halu, cuma ngarep. Ha ha ha ha...," Kraina langsung nutup mulutnya saat nyadar di mana dia sekarang, lagian mau di lanjutin ketawa bakal kena timpuk sendal sama yang lainnya karena menggangu.


"Sama aja kali non...,"


*******


Yun mendorong kursi roda yang Rega naiki dengan santai, gak mau buru-buru di koridor rumah sakit karena banyak orang yang ada di sana walau tau yang naik dari tadi duduknya gak mau diem.


"lama banget sih gak sampek-sampek?" Gak sabar aja Rega sama aksi lelet yang Yun tunjukkan.


"Ini rumah sakit, jadi gak boleh bikin keributan kalo gak bakal lo di sumpahin sama mereka semua." Kata Yun berusaha untuk tetap dalam keadaan setenang mungkin, padahal aslinya tuh pengen pakek kekuatan penuh buat cepet sampek ke ruang bersalin. Apa boleh di kata keadaan gak mendukung dan alhasil bersabar itu adalah hal yang harus ia lakukan saat ini, double malah sabarnya.


"Kosongin rumah sakitnya biar lebih leluasa." Perintah Rega yang mulai kumat jiwa posesit dan jiwa maksanya.


"Lo pikir kandang ayam bisa di kosongib gitu aja?" Jawab Yun yang sedikit meninggikan intonasi suaranya, merasa jengkel dengan apa yang Rega katakan barusan. Gimana mungkin mengosongkan rumah sakit cuma gara-gara istrinya melahirkan, walau pun punya sendiri gak bakalan mungkin apa lagi punya orang. "Gak usah ngomong yang gak perlu." Ujar Yun gak mau ambil pusing dan berdebat hal yang gak penting.


Raka yang menunggu di kursi tunggu yang terletak di luar ruang bersalin seketika berdiri saat melihat Yun dan Rega yang datang secara bersama, mereka kompakan datang ke sini dengan Yun mendorong kursi roda yang di naiki oleh Rega. "Kalian kok bisa janjian?" Nunjuk ke arah Yun dan Rega secara bergatian, bukannya tadi Yun pamitan sama dia kalau mau ke toilet.


"Gue nemu Rega di toilet, kayaknya nyasar." Jawab Yun cepat. "Masuk sana, Ella ada di dalam." Ujar Yun menghentikan kursi roda saat berada di depan sebuah pintu yang tertutup rapat.


Tanpa komando dua kali langsung aja Rega turun dan melompat masuk ke dalam kamar yang Yun maksud sampek-sampek mau jatuh gara-gara nginjak sandal.


"Hmp...," Raka dan Yun menutup mulutnya dengan cepat melihat kelakuan konyol Rega barusan, berusaha menutup mulut mereka biar gak ketawa keras karena nyadar mereka bakal di liatin sama yang lainnya karena bikin polusi kuping. Saking ngempetnya sampek-sampek Raka mengeluarkan air mata ngeliatnya dan akhirnya dua orang dewasa itu tertawa dalam diam.


"Sayang?"


Rega menghampiri Ella dengan harap-harap cemas, melihat istrinya yang berdiri di pinggir jendela dengan infus menggantung di tangannya bikin Rega gagal fokus. Gimana gak gagal fokus kalo dalam bayangannya tadi itu si Ella yang rebahan di tempat tidur dengan wajah kesakitan dan air mata yang bercucuran kayak air terjun, itu sih bayangan si Rega pas tau istrinya mau melahirkan tapi nyata-nya malah berdiri di pinggir jendela dengan melihat pemandangan di luar sana dan dengan santainya sambil makan buah apel. Istri gue kok malah kayak lagi pemotretan gini ya?


"Eh, Abi?" Ujar Ella yang agak kaget liat Rega udah ada di depan pintu, masih pakek baju pasien dan saat pandangan Ella menuju ke arah kaki langsung aja nemuin sesuatu yag bikin Ella gak bisa nahan senyum karenanya.


"Kenapa malah senyum-senyum gitu?" Heran, sambil jalan buat deketin istrinya.


"Habisnya aneh aja, tu kaki Abi kenapa sampek kayak gitu?" Menunjuk kaki Rega yang sebelah gak pakek sandal malah tu kaki merah kayak habis kena benturan.


Langsung liat ke arah kakinya yang di tunjuk sama Ella. "Ah, ini...," Celingak-celinguk buat cari sendalnya yang sebelah, "Tadi sih ada dua tapi lari kemana satunya?" Udah lah, dari pada ribet dan ambil pusing sama sebelah sandalnya yang gak tau kemana larinya itu Rega lepasin aja tu sendal jadi biar nyeker sekalian. Rega mendaratkan satu kecupan lembut di kening Ella, mengusap pipi istri kesayangannya dan mencium pipinya secara bergantian. "Abi tadi lari dari kamar waktu denger kamu mau melahirkan tapi malah nyasar ke toilet."


"Hah? Abi nyasar ke toilet?" Kata Ella sambil menahan tawa, bayangin Rega yang lari sampek nyasar tu lucu aja.


"Habis Abi seneng campur kaget." Rega menurunkan badannya, berjongkok di depan perut Ella dan mengelusnya pelan. "Abi udah gak sabar buat nunggu kalian cepat lahir." Mencium perut buncit Ella yang terasa kencang, kayak balon yang di tiup sampek full dan gede banget.


Ella tertawa kecil melihat apa yang Rega lakukan dan katakan, "Bukan cuma Abi doang yang gak sabar tapi Ella juga gak sabar buat nunggu mereka." Mengelus rambut suaminya yang setengah basah karena keringat tersebut.


"Kenapa berdiri di sini? Bukannya lebih nyaman tiduran di bandingkan berdiri?" Kata Rega menuntun tangan Ella buat di bawa ke tempat tidur, rasanya gak tega liat badan kecilnya itu harus berdiri dengan menyangga beban di dalam perutnya yang ada dua bayi di sana. Yang pastinya itu dalam pikiran Rega kalau itu bakal berasa berat banget buat Ella.


"Gak pa-pa kok, lagian kalo tiduran malah berasa gak enak. Ella mau di sini aja sambil liatin mobil yang lewat." Sambil melempar pandang ke luar jendela yang keliatan pemandangan di luar sana, pemandangan kota yang terlihat sangat sibuk dengan berbagai macam bentuk dan merek mobil yang lalu lalang.


Rega menarik kursi yang ada di dekatnya, merangkul dan membuat Ella yang mau tak mau duduk di pangkuannya.


"Apa yang Abi lakuin?" Kata Ella kaget dengan apa yang Rega lakukan, bukannya suaminya itu belum pulih secara keseluruhan dan kini ia melakukan sesuatu yang membuat beban untuknya. "Bi, Ella berat." Berusaha buat berdiri namun tangan Rega memeluknya dengan erat dan bikin Ella gak bisa berkutik, apa lagi dalam keadaan hamil besar gini kan jadi susah buat berdiri dengan cekatan.


"Gak kok sayang, lagian kan kota cuma duduk dan gak gendong kamu." Meletakkan kepalnya di tengkuk Ella dan mencoba mencari kedamaian yang ia harapkan dapat menenangkan hatinya yang sedang terombang-ambing saat ini. Sungguh sangat melelahkan membayangkan hal-hal yang membuatnya berpikir ekstra dengan melibatkan hati dan juga emosi di dalamnya.


"Abi ngapain?" Tanya Ella yang ngerasa Rega ngelakuin sesuatu di tengkuknya, tapi buat nengok tuh susah.


"Tenang dulu sayang, Abi cuma mau kayak gini bentar." Jawabnya pelan, mencoba menetralkan detak jantung dan juga perasaannya. "Rasanya tu Abi udah gak bisa nafas dengan benar dengar kamu tadi." Mengendorkan pelukannya dan menggantikan dengan menggenggam tangan mungil istrinya tersebut, Rega mengecupnya lembut dan menggenggamnya kembali.


"Abi gak pa-pa?" Tanya Ella yang ngerasa kalo suaminya itu dalam keadann gak kayak biasanya, terdengar dari nafasnya yang celat dan turun naik.


Ella menggeleng pelan, "Gak kok, lagian kan emang gitu Bi..."


"Udah kita SC aja ya? Biar kamu gak ngerasain sakit atau apa pun saat melahirkan nanti." Kata Rega yang berusaha membujuk istrinya biar gak ngerasain sakit, gak tega banget kalo sampek liat istrinya kayak gitu entar.


"Bi..., Semua cewek di dunia ini bakal ngerasain gimana yang namanya melahirkan tapi Abi liat sendiri kan kalau gak ada satu pun dari mereka yang menuntut suaminya bhat di jebloskan ke penjara gara-gara rasa sakit mereka?"


"Emang apa hubungannya sama penjara?" Kata Rega heran, lagian gak nyambung banget yang namanya melahirkan, suami dan penjara.


"Ya adalah, yang bikin istrinya hamil siapa?"


"Suami."


"Nah, kalo istri hamil otomatis rasa sakit itu yang nyebab-in siapa?"


"Suami."


"Pinter...," Kata Ella yang akhirnya Rega bisa menjawab pertanyaannya dengan baik dan benar tersebut.


"Hah?" Baru nyadar pertanyaan jebakan dari istrinya tersebut.


"Ha ha ha ha ha...," Baru ketawa gitu aja tuh Baby yang ada dalam kandungannya langsung kenceng, kayaknya gak ikhlas bangwt kalo ngetawain Abi mereka. "Aw...," Sampek meringin Ella karenanya.


"Kenapa? Ada apa? Apa yang sakit? Dimana? Bagian mana yang sakit?" Tanya Rega yang udah kayal ngalahin rentetan gerbong kereta api itu saking paniknya.


Sebenernya Ella mau ketawa denger Rega yang lebih mirip orang latah di bandingkan suami yang khawatir sama istrinya, tapi sakit di perutnya ngalahin buat ketawa.


Baru denger gitu aja udah kayak denger suara gunung yang mau meletus, perasaan Rega yang tadi udah ngerasa tenang kini balik lagi jungkir balik gak karuan kayak orang yang kebelet mau ke toilet tapi toiletnya ngantri banyak banget. "Yun!!!!" Udah lah, keluar tuh kata-kata ajaib dari yang terajaib di dunia ini yang gak lama lagi bakal datang peri ganteng dari balik pintu yang bakl ngabulik semua keingianannya.


"Ya ampun Abi?!" Ella menutup kupingnya denger teriakan Rega yang bikin kupingnya langsung budek itu sambil melotot, yang di pelototin bukannya sadar udah teriak ngalahin speaker mesjid malah balik liatin Ella dengan tatapan mata gak bersalah.


"Kenapa?"


"Tu mulut gak usah teriak napa? Jebol nih gendang telinga Ella!" Jawabnya ketus, bikin kaget setengah mati aja tu cowok. Gantian sekarang Ella yang teriak-teriak biar nyadar tu orang kalo tadi bikin geger.


"Maaf sayang..." Sambil menurunkan tangan Ella dari kupingnya dan tersenyum lembut biar gak ngamuk lagi istri kecilnya itu.


"Enak ngomong maaf, Abi gak tau apa kalau Ella tu kaget hah?!"


Rega cuma diem aja di omelin sama istrinya.


"Saking kagetnya langsung nambah nih pembukaan gara-gara Abi aja!" Meringis nahan rasa sakit yang lumayan di bagian perutnya, kalo tadi marah gara-gara Yun langsung ilang rasa sakit tapi kali ini malah nambah sakit banget. "Abi mau Ella laporin polisi gara-gara bikin istrinya kesakitan kayak gini hah?!"


Udah lah mau ngomel kayak apa pun gak bakalan di ladenin sama Rega, soalnya gak ada faedah yang malah nambah kasus doang. Ini aja udah mau di kasusin ke polisi gara-gara bikin sakit melahirkan, bakalan nambah nih daftar kesalahannya kalo sampek di tambah ini dan itu.


Raka dan Yun yang tadi duduk di luar buat nunggu dan kasih waktu buat pasangan suami istri itu menikmati waktu mereka menjelang detik-detik bersejarah dalam masa pernikahan mereka itu kaget banget pas denger suara teriakan Rega dari dalam kamar. Biasanya tuh yang yang teriak kayak gini kan ceweknya ni malah lakinya yang teriak kenceng banget sampek bikin daun di luar pada rontok semua. Yun dan Raka saling melemparkan padangan, seolah bertanya satu dengan lain dalam isyarat mata mereka sebelum memutuskan untuk melihat secara langsung ke dalam sana apa yang menyebabkan teriakan sekencang itu terjadi. Pemandangan luar biasa mereka dapatkan saat membuka pintu, gimana gak luar biasa kalau yang mereka liat itu Ella yang lagi ngomelin Rega dengan tatapan mata yang bener-bener marah. Tadi di kira apaan, gak taunya cuma minta tolong buat melarikan dan menyelamatkan amukan dari singa betina yang nakutin itu. Kalo Raka sih paham dan sangat-sangat mengerti posisi Rega yang diam seribu bahasa kayak patung tapi masih tetep salah dan gak pernah benar di depan istrinya, beda sama Yun yang masih single dan belum punya pengalaman menganai suka duka menjadi suami yang harus diem kalo gak mau celaka saat istri ngomel. Ngomong satu baris aja balesannya udah beberapa paragraf dan bahkan beberapa lembar kertas yang bakal di ulang dan di sambung kalo ngerasa belum puas.


*******


Hai-hai....


Gimana nih kabar kalian semua, kalau author tiap hari kepanasan karena ang udah masuk musim kemarau kan kita? Ujan tuh langka banget yang bikin daun-daun pada kering dan rontok. Author sih bayangin musim gugur kayak di drama korea gitu... Bedanya kalo di drama korea mainan daun kering keliatannya oke banget kan tapi pas kita ngelakuinnya malah debu-debu yang gak jelas ikutan terbang.


Makasih buat kalian semua yang udah setia nunggu Up dan tetap setia sama novel yang author tulis.


Dukungan dari kalian semua sangat berarti bikin author jadi semangat lagi.


Jangan lupa like dan vote nya buat dukung author yach...


😘😘😘😘😘😘😘


Stay at home dan lakukan hal-hal yang positif, jadikan rumah sebagai tempat yang menyenangkan untuk kita dan keluarga. Karena ada pepatah, rumahku istanaku