Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Hari Pembalasan (Kemenangan)


Anggun menatap bayangan dirinya di depan meja hias dengan perasaan bangga, baru kali ini ia bisa merasa sebangga ini karena merasa begitu di cintai dan di hargai oleh laki-laki. Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh bibir bagian bawah, tersenyum malu saat ingat bagaimana ia melewatkan ciuman pertamanya dengan tak terduga dengan orang yang selama ini gak masuk dalam daftar calon suami. Emang jodoh itu misteri yang kita sendiri gak pernah tau kapan dia datang dan dengan siapa jodoh itu berlabuh. Sekali lagi Anggun menatap pantulan dirinya di depan cermin dan memakai jepitan berbentuk bulat dengan kristal yang sangat cantik. Gaun berwarna putih di bawah lutut dengan lengan panjang membuat Anggun semakin cantik, apa lagi di padu dengan polesan wajah minimalis yang membuatnya semakin sempurna. Ia harus tampil sempurna hari ini demi membuat mata Azhar terbuka lebar bahwa seorang wanita akan bisa menjadi cantik karena dukungan dari orang yang ia cintai, Raka selalu mendukung apa pun yang Anggun lakukan walau pun Anggun sendiri tau bahwa Raka sebenarnya gak suka dengan pakaian seksi yang sering ia pakai saat bekerja walau tanpa mengatakannya secara langsung tapi dari cara ia menatap dan menarik nafas panjang saat Anggun memakai pakaian seksi hingga Anggun dapat mengerti apa yang Raka rasakan. Bagi Anggun itu bukan halangan atau sesuatu yang membuatnya merasa tak nyaman, bahkan Anggun merasa sangat tersanjung karena Raka memperhatikannya hingga sedetail itu dan ia berjanji akan merubah sedikit demi sedikit sampai tiba waktunya untuk melepaskan profesi yang menuntutnya memamerkan lekuk tubuhnya itu dan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik dengan hanya memperhatikan anak-anak dan suaminya saja. Sebelum berangkat, Anggun menghubungi Azhar untuk memastikan bahwa cowok palyboy itu menunggu dan berada di tempat di mana ia janjikan demi memuluskan rencananya. Dengan senyum penuh kemenangan Anggun melangkah dan siap untuk melakukan aksinya tersebut. Anggun sengaja memesan taksi on line dan meninggalkan mobilnya di studio, biar entar bisa pulang bareng Raka dan menunjukkan hak kepemilikannya.


Sesampainya di tempat yang telah di janjikan, Anggun menyerahkan beberapa lembar uang dan turun dari taksi dengan langkah lemah gemulai. Beberapa orang yang berpapasan dengannya mau tak mau memalingkan wajah mereka, seolah melihat bintang film terkenal di depan mereka karena pesona dengan cara berjalan dan betapa cantiknya wanita yang tengah berjalan tersebut. Bukan hanya laki-laki namun juga wanita yang langsung berdecak kagum dan merasa iri dengannya. Anggun yang telah terbiasa mendapatkan perhatian dan tatapan seperti itu dengan santainya melenggang melewati mereka dengan senyum manis yang mampu memikat setiap orang yang melihatnya dari berbagai kalangan dan usia.


Azhar yang duduk menghadap pintu langsung melihat sosok Anggun yang terlihat sangat berbeda sore ini, dengan balutan dress putih di bawah lutut berlengan panjang yang terkesan sopan dan tertutup namun memberikan daya tarik sendiri dan memberikan kesan seksi yang selama ini tak pernah Azhar lihat dari sosok wanita yang tengah berjalan menuju tempatnya. Siapa pun bakal setuju mengatakan bahwa Anggun sosok yang sangat spesial dengan kelebihan fisik yang Tuhan berikan yang mampu membuat iri wanita mana pun yang melihatnya, dulu Azhar yang masih haus akan perjalanan cintanya itu belum menyadari pesona Anggun dan hari ini ia sangat menyadari betapa berharganya orang yang pernah ia hianati. Itu adalah cerita lama dan Azhar berjanji dalam hati akan menjadi lebih baik dan gak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya. Azhar melambaikan tangannya untuk memberitahukan posisi duduknya saat ini untuk memudahkan Anggun menemukannya, kebetulan ini adalah sabtu sore yang lebih banyak muda-mudi nongkrong dan menghabiskan waktu mereka bersama.


Raka yang melihat Azhar melambaikan tangan itu berpaling, dan benar Anggun tengah berjalan ke arah mereka. Rasa sama Raka gak rela karena semua mata menatap kedatangan Anggun yang layaknya bidadari itu, rasa minder mulai merasuki hati Raka saat menyadari betapa jauhnya perbedaan mereka berdua yang bisa di bilang ibarat langit dan bumi, kalo makanan itu antara keju sama singkong.


"Udah lama nunggunya?" Tanya Anggun yang berbasa-basi sebelum duduk, sekilas ia melemparkan senyum ke arah Raka dan mengangguk pelan memberikan kode bahwa drama akan segera mereka mulai sebentar lagi.


"Enggak kok, lagian kami baru aja nyampek. Oh ya, kenalin dia Raka teman satu angkatan dan dokter juga." Azhar mengenalkan Raka untuk Anggun, "Raka, dia Anggun. Gebetan dan calon istri gue." Ujarnya bangga dan senang, gak nyangka Anggun bakalan datang sore ini apa lagi dengan tampilan yang sangat luar biasa.


Rasanya tu pengen banget nonjok muka songong Azhar yang sok kepedean, malah ngaku-ngaku calon segala lagi.... Di bandingin nurutin hati mending diem aja, lagian diam-diam Anggun menggenggam tangannya karena mereka duduk bersebelahan.


"Hai, gue Anggun." Mengulurkan tanganya ke arah Raka, Anggun menendang kaki Raka biar tu cowok gak ngelamun dan ngacangin tangannya.


"Eh, oh." Kata Raka kaget dan baru nyadar saat ada yang nendang kakinya, "Gue Raka." Menyambut uluran tangan Anggun di sambut dengan senyuman yang langsung bikin meleleh hatinya kayak keju mozarella pas di panggang.


Azhar yang sama sekali gak curiga itu ngerasa seneng banget, apa lagi liat betapa terpesona dan kagetnya Raka saat Anggun mengulurkan tangannya. Gimana gak kaget liat Anggun yang cantik banget itu dan dengan senyuman mematikan yang dapat mengalihkan dunia.


"Gue disini buat ngapain?" Tanya Anggun yang tengah berada di antara dua cowok, tentu aja dia jadi yang paling cantik disana.


"Gue cuma bilang sama temen gue kalo punya cewek yang cantik banget dan gue bakal ngelamar dia hari ini. Makanya gue minta dia datang, soalnya kami udah lama berteman." Jelas Azhar soalnya kemarin gak bilang bakal ada orang lain di antara mereka hari ini.


Jangan di tanya gimana isi hati Raka yang udah ngerasa geram bukan main dan kalo ngikutin kata hati udah baku hantam dari tadi, untung aja pertahanan diri Raka cukup kuat hingga sampai saat ini gak jebol dan masih bisa yang namanya nahan sabar walau ngempet banget kayak kebelet buang air kecil.


"Gimana? Yang kayak gue bilang kan kalo cewek gue cantik dan seksi. Lo sih gak percayaan."


"Iya emang cantik dan seksi, lagian siapa suruh lo jadi playboy yang punya banyak cewek. Gue rasa siapa pun yang bakal jadi suaminya itu cowok paling beruntung di dunia." Kata Raka dengan menatap lembut Anggun, padahal di dalam hati tertawa kegirangan. Cowok beruntung itu gue bro..., gue..., Kalo bisa teriak udah teriak kayak gitu, tapi masih si tahan teriaknya dalam hati aja.


"Ya ampun..., rasanya leher baju gue tambah lebar di sanjung sama temen lo. Kok lo gak dari dulu aja sih ngenalin gue sama temen lo yang lucu ini?" Anggun menggenggam tangannya sendiri gemas.


Azhar hampir tersedak udara pas denger, baru dapat pujian kayak gitu aja di bilang lucu sama Anggun? Padahal dia aja sampek berbusa mulutnya buat muji Anggun gak pernah di bilang lucu, ni cewek sebelum datang kesini makan apaan jadi berubah manis banget, biasa malah luar biasa galak ngalahin emaknya ayam. Azhar melihat Raka dan langsung membandingkan dengan dirinya sendiri, gak ada yang spesial dari cowok berkaca mata itu dan terlihat biasa saja. Potongan rambutnya aja gak pernah ganti sejak kuliah dan itu udah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Tunggu dulu, Azhar akhirnya menyadari bahwa baju yang Anggun dan Raka kenakan berwarna sama, yaitu sama-sama putih. Azhar cuma tersenyum meringis, kebetulan yang malah bikin mereka berdua itu mirip pasangan di bandingkan dirinya sendiri yang kalo di liat dari sekilas cuma jadi obat nyamuk doang apa lagi mereka duduk bersebelahan yang makin nambah komplit dah. Azhar menggelengkan kepalanya buat mengusir pikiran-pikiran negatif yang berseliweran di kepalanya, malah bisa-bisa bikin nyali dan pedenya menurun cuma karena kebetulan yang mengganggu itu. "Ha ha ha ha ha ha ha ha," Ketawa garing nanggepin ucapan Anggun, "Emang dari dulu dia itu suka ngelawak."


Anggun melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan dan memesan minuman, "Kalian berdua gak minum?"


"Ada yang bisa saya bantu nona?"


"Kami mau pesan minuman dan camilan, Kalian mau apa?" Tanya Anggun pada dua lelaki yang duduk berhadapan dengan bau-bau cemburu di sana.


"Coffe latte satu mbak." Kata Azhar setelah melihat menu yang pelayan wanita itu berikan.


"Chocolate Milkshake." Kata Raka yang menyebutkan nama minuman kesukaan Anggun tersebut tanpa melihat menu yang ada di depannya, soalnya setiap kali mereka keluar buat makan Anggun pasti pesan minuman tersebut.


Mata Anggun berbinar mendengar nama minuman kesukaannya itu dan di buat se dramatis mungkin. "Kok kita bisa sama ya? Gue juga suka banget sama chocolate milk shake. Mbak, chocolate milk shakenya satu juga ya? sama fish and chpis, macarone dan strowberry cake." Meletakkan daftar menu dan tersenyum saat pelayan wanita itu selesai mencatat pesanan dan pergi. "Raka, gak nyangka gue kalo cowok juga punya selera yang sama ma cewek. Biasanya cowok gak suka jenis manis dan coklat gitu." Anggun merajut tangannya buat menopang dagunya dan menatap ke arah Raka yang duduk di sampingnya, sengaja buat ngomporin Azhar sampek gosong terpanggang. Emang enak..., rasain lo..., aroma-aroma gosong udah mulai tercium.


"Gak tau juga, pokoknya gue suka sama coklat karena sensasinya itu bikin gue tenang dan enak aja. Apa lagi kalo gue lagi ada pikiran pasti gue maunya makan atau minum sesuatu yang berjenis coklat." Kata Raka menjelaskan, aslinya dia gal suka coklat malah suka jenis minuman jus atau buah-buahan.


"Iya sama, gue juga ngerasa kayak gitu...," Anggun sangat bersemangat dengan sesekali melirik ke arah Azhar yang terlihat kesal itu, ternyata ngomporin Azhar lebih gampang dari bayangannya sebelumnya. "Lo kerja di mana? Barengan sama Azhar gak? Maksud gue satu rumah sakit gitu."


"Iya, gue kerja satu rumah sakit sama dia. Tapi gue cuma dokter umum beda sama Azhar yang dokter bedah sekaligus dosen." Kata Raka merendahkan diri biar Azharnya ngerasa ke ge-er-an dan pedenya nambah tunggi kayak menara eifel.


"Ya ampun Raka..., kok kamu bikang gitu sih, bagi gue apa pun kerjaannya itu gak masalah yang penting halal. Lagian ya walau punya jabatan tinggi kalo gak halal buat apa coba?" Anggun tersenyum ke arah pelayan yang membawakannya minuman dan cemilan. "Ih..., kok kamu kok lucu banget sih." Katanya gemas.


Azhar yang dari tadi di kacangin dan gak di anggap keberadaannya itu akhirnya mengambil tindakan, masak gebetannya malah deket sama Raka di bandingkan sama dia? Malah yang keliatan agresif disini Anggun di bandingkan Raka. "Ehem?" Azhar berdehem untuk mengambil alih perhatian Anggun dan saat Anggun melihat ke arahnya Azhar memasang wajah ceria dan senyum manis banget..., "Sayang, gimana tadi kerjaannya?"


"Kerja? Ngebosenin, sebenarnya gue mulai bosan kerja karena gue gak boleh makan ini lah nanti gendut gak boleh minum ini lah nanti jerawatan pokoknya ngebosenin banget! Lagian ya kalo gue gendut emang kenapa?" Curhat Anggun, kali ini buka akting dan skenario dalam drama yang ia mainkan tapi curhat beneran dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Kalo lo gendut entar gak seksi lagi, lagian lemak itu bakalan nutupin kecantikan lo." Jawab Azhar dengen menyeruput minumannya. "Bukannya itu demi kepentingan lo juga kan menjaga penampilan?"


"Jadi lo gak masalah punya istri gendut dan jelek? Kan biasanya cewek habis lahiran atau hamil bakalan gendut gak terurus."


"Emang kenapa kalo istri gue jelek, gampang kan? Tinggal gue beri kasih sayang dan waktu buat jadi cantik lagi. Istri yang gak terurus demi anaknya lebih cantik di bandingkan cewek cantik yang cuma mikirin diri sendiri dan nelantarin anak."


Rasa cinta Anggun semakin besar kepada Raka saat mendengarnya, entah apa yang Raka katakan itu suatu kebohongan atau kebenaran namun yang Anggun tau semua itu membuatnya bangga karena telah memilihnya.


"Huahahaha..., lo munafik banget sih Raka? Mana ada cowok kayak gitu. Kalo gue mending istri gue suruh ke salon buat perawatan dan anak gue cariin baby sister biar gak nyusahin." Kata Azhar yang punya prinsip bahwa seorang wanita harus terlihat cantik sebelum dan sesudah punya anak. "Bukannya kewajiban istri nurutin apa pun kata suami? Kalo yang jadi istri gue bakalan gue kasih enak, gue kasih uang yang cukup buat perawatan atau apa pun yang dia mau buat menunjang penampilannya, gak bakal kasih dia kerja di dapur yang bikin tangannya kotor dan gue juga bakal kasih kebebasan tanpa harus terikat dengan anak. Sekarang jaman instan bro, tinggal panggil baby sister semua urusan beres."


Raka geleng-geleng kepala dengernya, ternyata tu orang egois banget. Demi kepentingannya ngelakuin hal kayak gitu, pantas aja Anggun dendam kesumat sama cowok yang liat cewek dari fisiknya doang. "Itu kan elo, kan beda sama gue jadi gak usah maksain kehendak lo sama gue. Lagian gue gak suka cara lo, gue mau punya istri yang pakek celemek dengan rambut awut-awutan lagi masakin gue. Nunggu kepulangan gue sambil ngurus anak, walau istri gue cuma pakek daster kedodoran dan bau keringat gue akan jauh mencintainya di bandingkan wanita seksi dan harum di luar sana." Menatap lekat Anggun dengan senyum terkembang di sudut bibirnya, impian Raka sangat sederhana saat berkeluarga nanti. Memiliki keluarga kecil yang bahagia tanpa ikut campur orang lain mengurus anak mereka, "Walau gue tau gak bakalan bisa 24 jam bareng anak dan istri gue karena pekerjaan tapi gue bakal usahain buat luangin waktu sebisa gue buat mereka, gue cuma mau wanita sederhana yang bisa menjadi istri luar biasa dan bidadari di rumah gue."


"Wah-wah..., semoga lo dapet cewek yang lo mau yang cuma jaga anak dan masakin lo." Katanya meremehkan, karena mana ada cewek jaman sekarang yang cuma diam di rumah kayak yang Raka sebutin, itu namanya jaman siti nurbaya dan tempoe doloe. "Karena gue punya seseorang yang luar biasa, gue bebasin dia buat kerja di luar sana dan gak bakal mengikatnya dengan hukum pernikahan yang rumit yang kayak lo sebutin tadi. Gue bebasin dia buat jalanin hidupnya dengan kesenangan tanpa harus memikirkan rumah dan anak. Gue bebasin buat ngelakuin apa pun dan pergi kemanapun yang dia mau dengan jaminan gue bakal ngecukupin semua keperluannya." Azhar menarik dan menggenggam tangan Anggun, menatapnya lekat penuh harap dan siap beraksi buat ngelar cewek tersebut. "Lo mau gak jadi istri gue?Jadi pendamping gue yang luar biasa dan bikin semua orang iri karena kita adalah pasangan serasi." Kata Azhar dengan penuh keyakinan dengan menyerahkan buket bunga dan satu set perhiasan mahal kepada Anggun. "Menikah lah dengan laki-laki yang akan memberikan semua isi dunia ini di genggaman tangan lo." Mengecup tangan Anggun dan bersimpuh di sampingnya.


Anggun tersenyum ke arah Azhar, menarik tangannya dan mengambil kotak perhiasan yang kemarin Azhar berikan. "Terimakasih, terimakasih untuk hari ini. Kejutan yang luar biasa bikin gue terharu dan jadi cewek yang paling beruntung di dunia." Anggun membenarkan duduknya, "Gue senang kalo lo bisa berubah, ngasih janji manis yang menggiurkan. Cewek mana yang gak bakalan bahagia bakal di janjiin isi dunia dan kemewahannya."


Azhar tersenyum penuh kemenangan, dua kemenangan sekaligus yang bakal ia dapatkan hari ini. Memenangkan harga diri dan mendapatkan istri yang sesuai dengan keinginannya, istri yang cantik nan seksi.


"Terimakasih karena lo udah milih gue kali ini dan dengan senang hati gue tolak tawaran lo."


Azhar yang udah yakin bisa menggenggam cewek cantik itu mengerjapkan matanya gak percaya sama apa yang ia dengar, "A-apa?" Masih belum sadar sama apa yang di dengar.


"Dengan senang hati gue tolak tawaran lo..., iya gue nolak buat jadi istri lo." Kata Anggun mengulanginya biar Azhar dengar dengan jelas.


"Tapi kenapa?" Masih belum percaya padahal awalnya tu manis banget, malah Anggun maj datang sore ini di tempat yang ia janjikan.


"Karena gue gak bisa jadi istri yang lo mau, isi dunia yang lo bilang itu udah jadi keseharian gue sejak kecil. Gue cuma mau jadi istri yang pakek daster dan ngurus rumah, suami dan anak. Bahkan gue berencana buat ninggalin dunia gue saat ini saat gue nikah, gue cuma mau jd ibu rumah tangga dan istri yang baik." Sambil ngelirik Raka dan ngulangi kata-katanya Raka.


"Apa?"


Anggun mengambil undangan yang sejak tadi telah ia persiapkan, "Datang ke acara resepsi pernikahan gue minggu depan." Menyodorkan undangan berwarna putih dan hijau itu ke arah Raka. "Jangan lupa buat datang ya." Meyakinkan sekali lagi dengan memegang tangan Azhar yang masih syok.


Azhar yang sadar itu langsung menggenggam tangan Anggun, "Lo ngerjain gue kan?


"Kapan gue ngerjain lo? Kan kemarin gue udah bilang kalo gue udah punya calon suami. Lo aja yang gak mau dengar malah ngenyel, ini undangan pernikahan gue."


Azhar mengambil undangan itu dan membukanya, masih gak percaya sama apa yang Anggun bilang dan memastikannya sendiri. Mata Azhar melotot sempurna saat melihat nama calon pengantin laki-laki yang ada disana dan berpaling ke arah Raka yang dengan santainya membalas dengan senyuman. "Maksud lo apaan?" Merasa terhianati dan kecolongan.


"Gue gak perlu jelasin apa pun, kan lo bisa liat dan bisa baca sendiri." Nunjuk undangan yang ada di depannya.


Anggun menggenggam tangan Raka, memberikan ciuman kecil di bibir Raka di depan Azhar yang langsung bikin tu cowok jantungan liatnya, keliatan dari ekspresi mukanya yang kaget dan gak bisa di tutupin. "Dia calon suami gue, demi dia gue rela lepas dunia gue dan jadi istri yang tiap hari nunggu suami pulang kerja, masakin suami dan tentu saja sambil mengasuh dan membesarkan anak kami kelak." Meletakkan kepalanya di bahu Raka, "Mungkin lo pikir Raka bukan apa-apa di bandingkan lo, tapi bagi gue dia adalah suami yang sempurna buat gue dan gue merasa beruntung banget bisa kenal sama dia. Makasih ya sayang udah nerima segala kekurangan aku...," Sambil bermanja-manja di tangan Raka yang bikin mata Azhar mau lepas, emang itu juga yang Anggun mau dan rencanya berjalan dengan sangat mulus tanpa ada saty hambatan apa pun.


Azhar memegang dadanya, ternyata sesakit ini rasanya saat mengharapkan sesuatu dan akhirnya kehilangan di depan matanya.


"Ayo sayang, Mama udah buat janji buat ketemu sama desainer buat baju pernikahan kita." Anggun menarik tangan Raka buat ninggalin cafe, sebelum berdiri ia mengahabiskan cemilan yang ia pesan.


Raka hanya mengikuti, "Jangan lupa mobil sama apartemen yang lo janjikan tadi, " Katanya sebelum pergi meninggalkan Azhar yang masih syok dan cuma bisa bengong.


*******


Hai readers sekalian...


Makasih ya buat kalian yang masih setia nungguin Up dan masih setia buat baca novel yang author tulis ini.


Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like, vote dan komennya.


Makasih yang udah luangin waktu buat like dan ngasih komennya dan relain votenya buat author, semua itu bikin author jadi semangat lagi dalam berkarya dan karena kalian semua author jadi seperti ini dan sampai saat ini.


😘😘😘😘😘😘😘