Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Salah Paham


Gak tau kenapa Azhar kepikiran tentang sosok cowok yang nyamperin Ella tempo hari sambil bawain Hp nya, tatapan matanya berasa punya sesuatu yang luar biasa bikin bulu kuduk merinding, tatapan mata yang menunjukkan rasa gak suka dengan mutlak tak terbantah belum lagi sikapnya yang acuh tak acuh itu. Azhar juga seorang laki-laki dan sangat mengerti dengan sikap cowok yang bernama Rega itu yang seolah-olah menyatakan perang kepada siapa pun saat mendekati dan mengganggu miliknya. Di lihat dari sisi mana pun, Ella bukan tipe seorang penggoda yang akan terjerat dalam hubungan yang rumit. Walau tak terlalu nampak, cowok bernama Rega itu memiliki selisih umur yang menurutnya cukup jauh di bandingkan dengan Ella dan dia bukan cowok sembarang di lihat sekilas pun orang akan tau. Semua benda yang menempel di seluruh badannya memiliki harga fantastik bertolak belakang dengan apa yang Ella kenakan. Sebenarnya ada hubungan apa di antara mereka berdua? Ella dengan tatapan penuh perhatian dan bersikap manis saat bicara dengan cowok itu, bahkan mereka memperlihatkan sikap yang bukan hanya sekedar teman. Azhar benar-benar merasa terganggu dengan semua ini, wajah Rega sepertinya familiar untuknya, namun ia lupa dimana pernah melihatnya sebelum mereka bertemu waktu itu. Senyum Ella yang hangat dan manis itu selalu terbayang-bayang, mahasiswi-nya itu memang telah memikat dan membuat Azhar yang selama ini tak pernah memikirkan wanita mana pun selalu terbayang-bayang wajahnya. Bahkan ada perasaan tak suka saat laki-laki lain mendekatinya dengan sikap hangat.


"Kakak ngapain sih? Perasaan dari tadi bengong melulu?" Tanya Frisilia saat melihat Azhar duduk bengong dengan tv menyala tapi tatapan matanya gak fokus kesana bahkan terlihat kosong.


"Gak, cuma mikirin kerjaan. Gimana kuliah lo?"


"Gitu lah, tapi gue ketemu sesuatu yang luar biasa." Jawabnya bersemangat.


"Pasti sesuatu yang luar biasa sampek lo keliatan girang banget. Emang apaan?" Tanya Azhar penasaran, soalnya adik semata wayangnya itu merasa kalau kuliah itu hanya buang-buang waktu dan melakukan berbagai macam keonaran biar di keluarin dari kampus. Berkat jabatan yang Ayah mereka miliki hingga menutup semua apa yang Frisilia lakukan dan mempertahankannya hingga hari ini.


"Gue ketemu cowok ganteng, cuma ngeselin banget. Tu cowok berani-beraninya nyuekin gue mentah-mentah, udah gue kasih tu no hp tapi udah satu minggu gak ada hubungin gue. Bikin keselkan?"


Azhar tertawa kecil melihat wajah adiknya yang kesal itu, Azhar memang sudah mengetahui bagaimana pesona adiknya itu di kalangan kaum adam. Baru kali ini ada yang berani menolaknya dan wajar aja bikin kesel. "Lo udah ganti komitmen? Katanya gak bakal ngejar cowok duluan? Gak taunya...."


"Yang ini beda kali kak, barang Ori dan kw itu beda kali...." Jawabnya sambil duduk di samping Kakaknya dan mengambil cemilan. "Sesuatu yang kayak gini sepadan untuk di perjuangkan. Lagian gue juga liat beberapa kali Kakak lagi pdkt kan sama anak didik Kakak? Gimana?"


Azhar menghela nafas panjang tanpa sadar, "Gitu lah, kayaknya kita senasib kalo sama-sama di cuekin." Melirik ke arah adiknya itu yang tengah asik memamah biak.


"Ternyata ada juga cewek yang bisa ngacuhin Kakak," Tertawa kecil "Kemana kemampuan playboy kakak selama ini?"


"Enak aja ngomong kakak sendiri playboy..., Lo sendiri gimana? Play girl?" Azhar menyerang adiknya itu dengan menggelitiki perutnya.


**************


Ella yang tengah asik berbelanja di temani Yun buat nungguin Rega selesai meeting di salah satu cafe yang ada di sebuah pusat perbelanjaan buat mengusir kebosanannya. Lagian cuma duduk-duduk nunggu bikin badannya gatal-gatal.


"Kakak ipar? Mau berapa tempat lagi yang bakal kita kunjungi?" Kata Yun setengah Protes, ternyata nemenin cewek belanja itu sangat-sangat membosankan. Apa lagi dari tadi cuma masuk doang gak beli apa-apa.


"Sampek kaki lo pegel linu ngekorin gue, lagian ngapain lo mau ikutan? Mendingan ikut meeting."


"Gue males, biar Rega sendirian. Beberapa hari ini gue ngerjain semua kerjaan dia."


"Balas dendam nih ceritanya?"


"Enggak, mana ada di antara saudara yang namanya balas dendam." Ujarnya berkilah.


"Mulut lo sama tindakan lo itu bertolak belakang, mari kita bersenang-senang hari ini. Kita pergi ke toko perhiasan buat habisin isi atm si penggila kerja." Kata Ella menggandeng tangan Yun yang pasrah.


Yun mengernyitkan keningnya, selama ini Ella bukan tipe wanita penggila perhiasan. Bahkan perhiasan yang Rega belikan cukup banyak dan tak ada satu pun yang pernah ia kenakan, lalu buat apa pergi ke toko perhiasan? Saat Yun larut dalam pikirannya sendiri, ternyata kakinya udah berdiri di muka toko perhiasan dengan tangan yang masih di gandeng Ella. Yun segera melepaskannya karena tak ingin ada kabar negatif karenanya, bukan cuma di b*nuh tapi sampek ke akhirat pun bakal di kejar sama Rega. "Lo serius mau kesini?"


Ella mengangguk mantap.


"Bukannya Rega udah banyak beliin lo perhiasan yang jauh lebih mewah dan berkelas di bandingkan barang-barang yang ada disini?"


Mata Ella membulat mendengarnya, selama ini Ella gak pernah tau nominal harga perhiasan yang Rega berikan bahkan ia tak pernah menyentuh dan memakai apa yang Rega berikan. "Lo serius?"


"Apanya?" Tanya Yun bingung.


"Kalo perhiasan yang Rega beri itu harganya itu fantastik?"


"Lo gak tau? Semua yang ada di sana adalah batu mulia terbaik dan bisa di bilang langka."


"Dari mana lo tau?"


"Karena gue yang beli semua itu dengan tangan gue sendiri, lo kira Rega ngasih barang imitasi? Dia ngasih semua yang terbaik."


Ella tertunduk lemas, dan seketika berubah dengan menatap tajam Yun. "Lo diem aja gitu biarin dia buang-buang duit? Kalian dua saudara sama aja. Sama-sama gak jelas. Udah lah gak ada gunanya ngomong sama lo disini." Menarik tangan Yun dan memaksanya memasuki toko perhiasan itu.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang pegawai perempuan saat menyambut tamunya.


Ella mengikuti penjaga toko itu dan menarik tangan Yun saat tu cowok cuma diem di tempat bikin Ella greget banget.


"Nyonya, ini cincin pasangan yang kami miliki dengan model terbaru dan yang terbaik." Mengeluarkan beberapa pasang cincin.


Yun hampir aja tersedak mendengarnya, gimana bisa tu penjaga sampek mikir mereka pasangan. Ia melirik Ella yang ada disampingnya, dengan santai tu cewek menyikapi cuma dengan tersenyum. "Kita bukan pasangan mbak, yang di cari cincin buat hadiah. Cincin yang cocok buat Ibu kami."


Penjaga toko itu tampak terkejut dan melihat tamunya secara bergantian, bagaimana pun mereka lebih cocok menjadi pasangan di bandingkan saudara.


"Kita saudara." Jawab Ella seolah tahu apa yan penjaga itu pikirkan.


"I-iya, maaf." Menundukkan badannya pelan meminta maaf, "Mari..."


Setelah memilih akhirnya Ella mendapatkan cincin yang ia inginkan dengan perasaan bahagia, walau terlambat memberikan hadiah untuk Ibu mertuanya lebih baik di bandingkan tidak sama sekali. Ella memberikan kartu sakti yang selama ini tak pernah ia sentuh itu kepada wanita yang umurnya hampir sama dengannya.


"Baik, kami akan membungkusnya dan mohon untuk menunggu."


Ella berjalan mendekati tempat duduk yang toko itu sediakan dan tentu saja Yun dengan setia mengikutinya.


"Gue beli buat Ibu kalian, yang sekarang jadi Ibu gue juga." Kata Ella menjelaskan, "Mungkin gue gak bisa ngasih yang terbaik, seandainya gue tau lo sering beli ginian gue bakal minta lo beliin."


Yun menatap Ella tak percaya, ternyata saudara iparnya itu memperhatikan Ibunya hingga seperti ini. "Lo serius?"


"Lo kira gue becanda? Tu udah gue bayar tinggal nunggu doang."


Yun menatap Ella lekat, ada perasaan haru dan bahagia mengetahui Ella yang begitu perhatian dengan Ibunya. Bertemu dan mengenal keluarga Rega merupakan anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada keluarganya. "Teng's, lo udah sayang sama Ibu gue."


"Gak usah mewek, lagian siapa bilang gue ngasih Ibu lo. Gue cuma ngasih buat Ibu gue yang bakal jadi nenek dari anak-anak gue kelak, kaliak beruntung punya Ibu yang luar biasa. Gue jujur iri...," Katanya sedih mengingat selama ini tumbuh tanpa sosok Mama bersamanya.


"Ibu juga beruntung punya menantu cantik dan baik kayak lo, beruntung banget Rega punya istri kayak lo. Lo tau, Ibu nyuruh gue cari istri yang kayak lo dan Nenek mendukung penuh keputusan Ibu." Katanya frustasi gimana ngerinya saat Nenek kalo udah punya kemauan yang gak bakal mundur.


"Jadi serius? Rega pernah cerita kalo Nenek bakal cari jodoh buat lo."


"Lo pikir becanda apa?"


"Emang lo gak punya cewek atau orang yang lo suka?"


"Gimana punya cewek, waktu gue itu terkuras habis buat kerja. Kerja sama Rega itu udah kayak kerja rodi jaman penjajahan, lo tau sendiri kan kalo udah nyablak mulut dia gak bisa di tawar."


Ella mengangguk membenarkan, kadang kasihann juga sama Yun yang kerja terus gak ada istirahatnya. "Padahal di sekitar lo ada yang perhati-in lo diam-diam. Walau gue gak yakin sepenuhnya sih...,"Ujarnya ragu.


"Siapa?" Tanya Yun penasaran, soalnya gak pernah berhubungan sama cewek mana pun.


"Lo peka dikit napa jadi cowok?" Ucapan Ella terpotong saat penjaga toko memberikan cincin yang udah di bungkus cantik.


Yun membawakan bingkisan itu, gak banget cowok jalan gak bawain belanjaan cewek. Rasa penasarannya itu tambah banyak, soalnya gak pernah ngerasa kalo selama ini ada yang merhati-in dia.


Liat Yun jalannya lambat bikin tangan Ella gatel buat nariknyaa, "Lo cowok jalannya kayak siput." Menarik tangan Yun sampai mereka berjalan sejajar. "Asisten lo yang namanya Rhanty itu kalo gue liat dia suka sama lo, beberapa kali gue ngeliatin dia ngelirik lo dan kadang-kadang ngeliatin lo dengan penuh cinta."


"Hah?" Yun mengerjapkan matanya biar tetep sadar pas denger apa yang Ella omongin, "Rhanty?"


Ella mengangguk, "Kalo lo gak mau kejebak sama permainan Nenek mending lo pertimbangin Rhanty, karena dia cewek yang baik dan juga sopan. Gue rasa Ibu gak bakalan nolak punya satu mantu lagi yang manis dan cantik." Mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum, memberikan pilihan dan solusi untuk masalah dengan Nenek. "Gak usah kebanyakan mikir kalo di samber sama yang lain, gue bakalan seneng punya ipar kayak Rhanty."


********


Azhar yang baru aja keluar dari sebuah toko melihat Ella yang keluar dari toko perhiasan yang cukup terkenal, niat mau nyamperin tapi di batalin pas liat keluar bareng cowok. Apa lagi narik tu cowok dengan ekspresi wajah yang sumringah. Cowok berbeda sama yang diliat kemaren, dan gak kalah berkelas sama Rega. Cuma bisa ngeliatin sambil buang nafas pelan-pelan, gak masalah seberapa banyak cowok yang deket sama Ella dan seberapa banyak uang yang bakal ia keluarin buat dapetin Ella kalo ternyata tu cewek tipe cewek matre. Azhar gak mempermasalahkan masa lalu Ella yang baru ia kenal aja udah berapa kali ganti cowok karena dirinya sendiri juga punya masa lalu yang terkenal sebagai playboy di kalangan para cewek. Yang jadi masalah saat ini tu cewek gak pernah nanggepin perasaannya, di chat aja balesnya seadanya gak kurang gak lebih. Di ajak jalan apa lagi, di tolak terus yang artinya gak ada perasaan apa pun sama dia. Harus ektra ngeluarin pesonanya buat tu cewek memalingkan dan melihatnya secara langsung sebagai seorang laki-laki bukan sebagai seorang teman. Azhar melihat kepergian pujaan hatinya itu dengan tersenyum miris, miris kalo cuma di anggap teman bukan sebagai seorang laki-laki.