
Yunandra Faisal Azhar
Terlahir dari keluarga sederhana dengan keterbatasan ekonomi yang membuat keluarganya harus bertahan hidup dengan berbagai macam cara. Yun kecil tak pernah mendapatkan masa kecilnya layaknya anak pada umumnya, ia harus ikut dengan Ibunya yang seorang buruh pabrik setiap harinya.
Ibunya tak membiarkan anaknya di rumah seorang diri karena ia tak tega meninggalkannya dan lebih memilih untuk membawanya.
Ayah Yun yang telah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan karena penyakit kronis yang telah lama ia derita meninggalkan Yun dan Ibunya sendiri di dunia ini. Dahulu, Ayahnya memiliki penghasilan yang lumayan sebagai kontraktor bangunan. Bahkan sempat memiliki rumah yang layak, mobil, dan tabungan yang ia miliki selama bekerja. Semua itu habis terjual untuk membiayai pengobatan penyakitnya hingga tak menyisakan apa pun.
Kebetulan Ibu Yun adalah anak tunggal sehingga tak memiliki saudara, Nenek dan Kakek juga telah meninggal dunia.
Masa kecil Yun di habiskan di pabrik bersama Ibunya dan buruh pabrik lainnya, walau keterbatasan ekonomi tak membuat pertumbuhannya terganggu. Yun kecil tumbuh menjadi anak yang cerdas dan memiliki tubuh sehat. Layaknya anak pada umumnya, terbesit keinginan untuk memiliki mainan bagus yang hanya bisa ia lihat di toko saat ia berangkat ke pabrik. Pergi ke wahana bermaian atau tempat rekreasi yang semua itu hanya sebuah angan-angan dan mimpi semata. Penghasilan yang Ibunya terima sebagai buruh hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, tak ada uang sisa.
Yun kecil dan ibunya tinggal di rumah kontrakan berukuran 4x6 meter, tentu saja segala kegiatan mereka lakukan disana karena tak mampu menyewa rumah yang lebih besar lagi karena keuangan mereka yang tak memadai. Yun bersekolah di sekolah umum tak jauh dari rumahnya bersama anak-anak lain sebayanya, sekolah umum yang didirikan oleh seorang pengusaha kaya secara gratis untuk membantu warga sekitar yang memang memiliki ekonomi rendah. Warga hanya perlu mendaftarkan anak-anak mereka tanpa membayar sepeserpun, bahkan perlengkapan lainnya tak perlu menebusnya.
Mereka sangat berterimkasih dengan adanya sekolah umum yang sangat membantu rakyat ekonomi kelas bawah seperti mereka, namun rasa terimakasih itu hanya bisa mereka lakukan secara tak langsung. Pengusaha kaya nan dermawan itu tak pernah menyebutkan tentang siapa jati dirinya yang sebenarnya, bahkan guru pengajar tak ada yang tahu.
Yun tak pernah menyesali keadaannya, bahkan ia sangat bersyukur memiliki Ibu yang sangat menyayanginya. Demi putranya itu, sang Ibu rela menghabiskan penghasilannya memenuhi keperluan anaknya sehari-hari. Memberikan makanan bergizi agar anaknya tumbuh menjadi seorang laki-laki yang luar biasa yang mampu menjadi kebanggaannya suatu hari nanti. Hanya Yun harapan satu-satunya wanita itu, karena tak ada lagi siapa pun di dunia ini selain mereka berdua.
Tak ada seorang pun Ibu yang tak ingin melihat anaknya menjadi seorang yang sukses di kehipldupannya kelak melebihi apa yang mereka miliki saat ini, begitu juga wanita itu. Ia berusaha sekuat tenaga membesarkan anaknya seorang diri dengnan kasih sayang yang melimpah dan disiplin yang ketat demi membuat anaknya menjadi orang yang sukses kelak. Tak ada yang spesial dalam kesehariannya, setiap pulang sekolah ia harus bekerja membantu Ibunya di pabrik. Itu yang dilakukannya setiap hari hingga tak ada hal lainnya lagi selain pergi ke sekolah.
Hingga keberuntungan datang menghampirinya layaknya keajaiban di negeri dongeng yang tak pernah Yun kecil bayangkan sebelumnya. Sebuah mobil mewah tiba-tiba terparkir didepan rumahnya yang kecil itu. Seorang laki-laki berwibawa dengan setelan jas mahal menginjakkan kaki di tempatnya di temani dua orang yang berpakaian sama pula.
"Apa Anda Nyonya Azhari?"
Wanita cantik itu mengangguk pelan, memperhatikan tamunya dengan pandangan mata waspada dan gerakan yang membuat perlindungan diri dengan hanya memperlihatkan sebagian kepalanya keluar tanpa membua pintu sepenuhnya.
"Kami dari Yayasan tempat anak Nyonya sekolah selama ini, Tuan kami ingin berkunjung dan berbincang sebentar perihal anak Nyonya."
"Si-Silahkan Tuan, maaf gubuk kami tak layak untuk kalian." Membeberkan karpet terbaik yang ia miliki dengan tambalan disana-sini.
Setelah semuanya duduk dalam ruangan sempit itu, Mahendra memperhatikan seorang anak yang duduk seorang diri tak jauh dari mereka. Meski tubuhnya sedikit kurus, namun sorot matanya yang bening dan tajam itu memperlihatkan keteguhan hatinya dan tekad yang kuat.
"Kedatangan kami saat ini untuk meminta Nyonya memberikan kuasa penuh atas anak Nyonya untuk kami didik dan kami sekolahkan lebih baik lagi. Kami melihat potensi yang luar biasa pada anak Nyonya saat ini dan sangat disayangkan kalau potensi yang dimilikinya tidak di kembangkan secara maksimal."
"Dengan kata lain, saya akan mengadopsi anak Nyonya dan menyekolahkannya hingga menjadi orang sukse," Mahendra mengambil alih pembicaraan.
Ibu Yun membelalakkan mata dan mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Bagaikan hujan di padang pasir yang membuatnya sempat kehilangan harapan demi masa depan putra tunggalnya tersebut kini menjadi kenyataan.
"Tu-Tuan ..., maafkan saya. Saya sangat berterimakasih dengan niat mulia Tuan yang sudi mengadopsi anak saya, tapi....," Katanya ragu, entah apa yang dilakukannya itu tindakan yang benar atau bukan.
"Nyonya, saya hanya ingin mendidik anak Nyonya tanpa harus memisahkan kalian." Jawab Mahendra seolah tahu apa yang wanita itu pikirkan.
" Saya sendiri memiliki putra yang umurnya tak jauh dari anak Nyonya, dan dia tak lama ini kehilangan Ibunya karena sebuah kecelakaan." Ada raut sedih saat Mengatakannya, " Nyonya hanya memberikan ijin Nyonya untuk saya, saya berjanji tak akan memisahkan kalian apa pun alasannya. Bahkan saat kami membawa anak Nyonya bersama kami, saya minta Nyonya ikut bersamanya."
Yun kecil yang saat ini baru berusia 8 tahun itu menghampiri ibunya yang duduk mematung dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu?"
Menyadari putra semata wayangnya itu mendekat, ia memeluk dengan tangannya yang kurua dan hanya terbungkus tulang.
"Bagaimana bisa saya membalas kebaikan yang Tuan lakukan terhadap kami? Bagaimana bisa saya berterimaksih?"
Mahendra tersenyum ramah, "Nyonya hanya perlu menemani anak Nyonya dan tolong lakukan hal yang sama terhadap anak saya. Saya akan menyekolahkan mereka di tempat yang sama dan berharap kelak mereka berdua menjadi sahabat dan saudara yang bisa saling membantu dalam menjalani hidup. Hanya itu yang saya inginkan dari Nyonya."