
Bagaimana caranya untuk bicara dengan Ella tentang pernikahan yang tak diinginkannya tersebut, wanita asing tiba-tiba masuk dalam kehidupan mereka yang sudah bahagia. Semua ini di luar dugaan dan ia merasa bingung untuk mengatakannya. Ella yang sejak kecil tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu tiba-tiba dihadapkan dengan keadaan seperti ini, harus menerima Ibu sambung yang sama sekali tak di kenalnya. Bukan hanya masalah itu, ada dua saudara tiri yang akan datang dalam kehidupannya.
"Kapan urusan di sini selesai?" Johan memandang jauh ke luar jendela kaca hotel, pikirannya entah terbang kemana-mana walau tubuhnya ada disini.
"Masih ada lima pertemuan penting yang akan tuan lakukan, sesuai jadwal tiga hari lagi kita akan menyelesaikannya dan pulang."
Johan menghela nafas panjang mendengar jadwalnya. Tubuhnya berada di tempat ini tapi hatinya sudah berada di rumah. "Cancel semua jadwal dan atur untuk pulang secepatnya."
Hendra membenarkan letak kaca matanya, memahami situasi yang bosnya hadapi saat ini. Tapi bagimana pun tugasnya adalah membantu untuk menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin.
"Maaf tuan, semua pertemuan ini sangat penting. Kalau tuan membatalkannya akan berakibat buruk untuk saham perusahaan dan keuangan kita. Tolong tuan pikirkan lagi nasib karyawan kita bila semua proyek ini gagal." Hendra mencoba memberi pemahaman kepada bosnya tersebut. Ia tahu bagaimana beratnya masalah yang saat ini ia hadapi, terlihat dari wajahnya yang tampak kusut tak seperti biasanya.
"Bagaimana dengan Ella?"
"Nona Ella baik-baik saja, tuan tak perlu mengkhawatirkan apa pun tentangnya."
Johan mengangguk pelan, ia tahu dengan benar bagaimana putrinya tersebut.
Rega menyelesaikan tugasnya dengan cepat, hari ini ada rencana besar yang akan ia lakukan. Untuk rencana tersebut, saat ini ia sudah berada tak jauh dari gerbang sekolah Ella. Seharusnya cewek tengil itu udah keluar jam seperti ini, tapi gak ada tanda-tanda tu orang bakalan muncul. Nongkrong di depan dengan mobil sport mewah yang langsung jadi pusat perhatian orang-orang yang kebetulan lewat disana.
"Kapan lo keluar?" Tanya nya via telpon, udah gak sabar buat nunggu tanpa basa-basi saat panggilannya tersambung. Agak risih saat anak-anak cewek berseragam putih abu-abu melintas di dekatnya sekaligus cari perhatian darinya. Anak zaman sEkarang pada ganje-ganjen semua gak sesuai umur mereka, liat aja dandanannya yang udah kayak ibu-ibu mau kondangan. Apa lagi sampai ketemu cewek kemaren yang ngebayangin aja udah bikin enek, amit-amit kalo sampek ketemu lagi .., bisa mandi kembang tujuh rupa.
"Mungkin sekitar 30 sampai 50 menit lagi." Katanya melihat jam, mau gimana lagi kan baru aja lesnya di mulai.
"Lo ngapain aja jadi lama banget?" Katanya heran, yang lain udah pada keluar tu cewek tengil malah gak nongol-nongol.
"Ella lagi kursus Om.... Lagian kenapa juga om nanyain? Kalo soal makanan kan sudah perjanjian kita Ella kalo ada urusan sekolah gak bakal di ganggu. Lagian kemaren Ella dah ngomong kan ada les tambahan hari ini. Parah deh, makin tua ternyata Om makin pikun." Katanya sedikit kesal.
"Bukan masalah itu, oke gue tunggu lo sampek ke luar. Ingat jangan kabur kemana-mana." Mematikan hpnya karena gak mau dapet ocehan yang bakal panjang kali lebar.
Ella mengerjapkan matanya, tu cowok emang aneh banget. Tiba-tiba nelpon sambil marah-marah gak jelas. Bukannya kemarin udah bilang kalo hari ini gak bisa masakin karena ada les di sekolah?