
"Abi dari mana?" Tanya Ella saat suaminya itu masuk ke dalam kamar, melepas jas dan menaruhnya ke dalam keranjang baju kotor. Melonggarkan dasi serta menggulung lengan bajunya sampai siku, awalnya Rega pulang langsung mandi tapi niat itu di tunda dulu karena badannya terasa gerah. Istirahat sebentar buat suhu badannya menyesuaikan lingkungan.
"Abi ketemu klien sayang, ada masalah serius yang harus Abi bahas dan gak bisa di tunda lagi. Lagian tadi Abi perginya sama Yun kok, jadi gak usah khawatir kalo Abi kelayapan kemana-mana." Menjelaskan apa yang di lakukan karena Rega meninggalkan Ella di tengah jalan saat Yun menelpon, mendapatkan alamat rumah Sonya. Karena waktu yang mendesak terpaksa Rega melakukan semua ini dengan meminta Ella pulang sendiri di antarkan supir kantir dan Rega berganti mobil ke mobil Yun.
"Ih, Abi pedenya, selangit! Siapa yang mikir Abi kelayapan? Ella cuma mau nitip belikan rujak tapi pas di telpon gak tau nya hp Abi ketinggalan di mobil."
"Ha ha ha ha...," Rega tertawa garing, realita tak semanis pikirannya. Mikir kalo tadi Ella marah gara-gara di tinggal gitu aja, bakalan ngambek dan marah-marah pas pulang ke rumah apa lagi baru datang udah di sidang dari mana. Gak taunya cuma mau nitip rujak doang nanya gitu, berasa malu sendiri gara-gara ke makan perasaan sendiri.
"Abi mandi dulu sana, bau matahari." Mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung, kode keras buat nyuruh Rega cepet-cepet mandi.
"Masih keringatan badannya, bentar lagi." Melepaskan kemeja yang tadi cuma kancingnya doang yang di buka sampai perut.
"Lap dulu pakai handuk biar cepat kering, udah jam segini lo Bi..., kita kan mau ke rumah Papa." Mengingatkan Rega kalau malam ini mereka bakal pulang dan menginap di rumah.
"Iya sayangku..., cintaku..., belahan jiwaku..., belahan p*ntatku." Kata Rega mengedipkan mata.
Ella yang dengar kata-kata Rega terakhir itu langsung mendelikkan matanya, tapi Rega membalasnya santai. Mengerjapkan matanya cepat dan berpose lucu dengan meletakkan kedua tangannya di pipi.
"Ih Abi..., ganjen! Bukan cuma ganjen tapi jijik Ella liatnya, kayak banci gitu."
"Hua ha ha ha ha ha ha...." Rega tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Ella yang di tekuk, "Iya ini Abi mandi sampek wangi biar istri Abi nempel kayak lalat di kasih lem."
"Jelek banget sih Bi, masak di samain sama lalat? Yang cantikkan dikit napa? Kupu-kupu kek, capung kek, burung merpati kek..., kan banyak yang cantik-cantik malah lalat yang di pilih. Lalat suka bawa penyakit Bi...," Membuka lemari baju untuk memilih baju mana yang bakal di pakek dan di bawa pulang nanti, bukan cuma bajunya tapi juga baju suaminya dan segala perlengkapan buat menginap satu malam.
"Gak nyadar kalo mirip lalat...," Rega mengambil satu anduk yang tersusun rapi di dalam lemari, udah jasi kebiasaan satu anduk di pakek buat satu hari makanya koleksi anduk Rega lumayan banyak.
"Emang enggak."
"Katanya lalat bawa penyakit, kamu kan juga bawa penyakit. Penyakit cinta yang bikin Abi sampek sekarat dan mati rasa sama cewek lain. Gara-gara penyakit cinta kamu nih jadi Abi gak bisa hidup tanpa istri Abi yang bawel, walau bawel tapi ngangenin. Kalo di ibaratkan musik itu musik rock, keras tapi enak buat di dengerin." Ujarnya sambil ngasih kiss bye berkali-kali yang bikin Ella melongo syok.
Salah apa gue bisa punya laki gak pasti, kalo udah kambuh lebih parah di bandingkan cabe-cabean. Mending cabe rawit yang bisa di ulek lah ini malah dia-nya yang sering ngulek.
Rega yang liat muka Ella bengong ngerasa gemes banget, pengen di unyel-unyel pipinya. Tapi kalo ngelakuin sekarang bisa-bisa dapat semprotan api dari mulut yang persis kayak naga.
"Kalo sampek hitungan ketiga Abi gak juga masuk ke kamar mandi bakal Ella lempar pakek remote ac. Satu! Dua! "
"Tiga!" Sambung Rega yang langsung ngacir ke kamar mandi pas tangan Ella mengangkat siap-siap lempar tu remote.
******
"Daddy pulang bawa apa?" Tanya Alex dengan wajah polosnya saat melihat Dady-nya pulang membawa kotak besar di tangan kanan dan kirinya, dengan wajah bahagia Alex menyambut kedatangan Daddy-nya itu.
"Daddy bawa baju buat alex," Membungkuk dan memberikan satu paper bag kepada malaikat kecilnya tersebut.
"Hole..., baju balu..., Alex punya baju balu...," Teriaknya girang dan langsung membukanya, tangan mungil Alex dengan lincah membuka paper bag tersebut dan menarik isinya. Matanya langsung berbinar-binar senang saat mendapatkan apa yang ia inginkan. "Telimakasih Daddy..., Alex suka bajunya." Memeluk dan menciumi pipi Daddy-nya.
Andika yang mendapatkan perlakuan manis dan juga menggelikan dari putra itu tertawa kecil, "Ha ha ha...," Menangkap badan Alex dan membalasnya, menciumi wajah Alex bertubi-tubi tanpa ampun membuatnya meronta-ronta karenanya.
"Geli Daddy...," Mendorong wajah Daddy-nya dengan tangan, melindungi wajahnya dan melakukan apa pun untuk menjadi benteng pertahanannya. "Ampun...,"
Andika tetap melakukannya walau Alex menghalangi, rasa cinta Andika kepada Alex tak pernah berkurang sedikit pun bahkan semakin bertambah setiap harinya. Walau Alex bukan darah dagingnya, bagi Andika tak masalah karena ia membesarkan dan merawatnya sejak dalam kandungan. Bagi Andika, kehadiran Alex suatu berkah yang luar biasa dalam hidupnya dan ia berjanji akan membahagiakan serta menjaganya selama ia masih hidup.
"Mas?" Sonya menggelengkan kepalanya melihat dua lelakinya itu bergumul satu sama lain dan saling serang, bukan pemandangan langka tapi sudah menjadi makanan setiap hari bagi Sonya melihat aksi mereka berdua yang kalau di lihat sama kekanak-kanakannya. "Kasian Alex, mukanya udah merah."
Andika menghentikan aksinya dan benar apa yang di katakan Sonya kalau wajahnya memerah, "Anak Daddy lucu." Mencium pipi gembul Alex dan melepaskannya.
"Mommy, Daddy nakal..." Berlari ke dalam pelukan Mommy dan mencari perlindungan disana, "Pipi Alex sakit Daddy cium...," Mengusap pipinya dengan tangan seolah-seolah menghilangkan jejak bekas ciuman Daddy itu. "Mommy malahi Daddy!"
Mendengar itu Andika memasang wajah sedih, "Hua...," Berpura-pura menangis, hiburan dan kesenangan tersendiri untuk Andika saat menjahili Alex.
Alex yang melihat Daddy menangis langsung merasa bersalah dan mendekatinya, matanya sudah berair. "Maaf Daddy...,"
Andika tak kuasa menahan dan langsung memeluk anak lelakinya itu dengan gemas, "Cium Daddy baru Daddy maafkan." Menunjuk seluruh wajahnya dengan cepat.
Tanpa pikir panjang Alex melakukannya, menciumi seluruh wajah Daddy sesuai petunjuk.
Sonya menggelengkan kepalanya, kelakuan dua orang itu kadang-kadang membuatnya pusing sendiri. Susah membedakan mana yang benar-benar anak kecil dan yang pura-pura anak kecil.
Sonya yang mendapatkan serangan mendadak itu menjadi kewalahan, dua lelakinya tersebut menghujami wajah Sonya dengan ciuman, "Ha ha ha ha..., Hentikan..., Geli..., Mommy Geli...," Kawalahan dengan aksi mereka.
"Mommy kalah Daddy..., selang Daddy...," Teriak Alex bersemangat melihat Mommy yang terduduk kalah mendapat serangannya.
"Stop!" Alex berhenti seketika saat mendengarnya.
"Ada apa Mommy"
"Mommy kalah, Alex memang hebat." Mengangkat tangan menandakan bahwa menyerah, "Itu apa?" Tanya Sonya mengalihkan perhatian Alex, kalo gak gitu gak bakalan berhenti.
"Baju Balu Mommy, Daddy belikan." Mengambil baju yang berserakan di atas lantai. "Bagus Mommy..." Katanya senang memberikan baju tersebut kepada Mommy-nya, "Pakai...,"
Sonya mengambil baju yang ada di tangan Alex, dengan telaten memakaikannya. "Wah..., anak Mommy ganteng banget. Bilang apa sama Daddy?"
"Telimakasih Daddy...," Mencium kedua pipi Daddy-x dan berlari ke arah kamar gak sabar buat bercermin.
"Mas, uang dari mana bisa beli baju Alex?" Tanya Sonya curiga, karena ia tahu baju itu bukan baju murah yang di jual di pasar atau kaki lima.
"Teman Mas yang ngasih, dia ngundang kita buat makan malam. Oh ya, teman Mas juga titip buat kamu sayang. Mengambil paper bag lainnya yang ia letakkan di atas lemari dan memberikan pada istrinya.
Sonya menatapa tajam Andika, ia tahu dengan jelas berapa uag yang harus di keluarkan untuk membeli baju dengan merek branda ternama tersebut. Uang yang mampu menyokong kehidupan mereka beberapa bulan, "Mas jujur, ini dari mana...?" Tanya Sonya yang belum puas dengan jawaban suaminya tersebut, jaman sekarang mana ada teman yang memberikan hadiah mahal tanpa meminta imbalan apa pun atau tanpa melakukan apa pun.
"Sayang, selama ini Mas gak pernah bohong sama kamu. Kamu kan paling tau bagaimana penghasilan Mas, dan mana mungkin Mas bisa beli baju mahal dan sebagus ini buat kalian." Katanya sedih, "Walau pun sebenarnya Mas sangat pengen tapi apa boleh buat karena keterbatasan keuangan Mas hanya bisa melihat sambil membayangkan betapa cantiknya istri Mas saat memakainya dan betapa tampannya Alex. Huh...,"
Sonya merasa tak enak, ia tau bahwa Andika telah bersusah payah berjuang untuk mencari nafkah bagi mereka. Beberapa kali Sonya meninta ijin untuk bekerja dan membantu perekonomian mereka tapi Andika selalu menolaknya dengan alasan ia masih sanggup mencari nafkah dan meminta Sonya untuk tetap di rumah membesarkan Alex, Alex akan terlantar apa bila Sonya bekerja. "Maaf, bukan maksudku seperti itu." Sonya meraih dan menggenggam tangan Andika penuh penyesalan, "Bertemu dan menjadi istri dari Mas suatu berkah yang Tuhan berikan. Aku tak menginginkan hidup bergelimang harta kalau itu hanya membuat susah, keadaan sekarang lebih dari cukup untukku. Dengan menerima kami menjadi bagian hidupmu Mas, sampai kapan pun aku gak bisa buat balas semua kebaikanmu."
Andika menarik Sonya ke dalam pelukannya, "Jangan ngomong yang enggak-enggak..., justru aku yang seharusnya bersyukur karena memiliki istri cantik, penurut, dan menerima keadaan Mas yang seperti ini tanpa meminta apa pun. Mas bahagia karena Alex tumbuh menjadi anak yang luar biasa, mengerti dengan keterbatasan kita. Terimakasih karena menjadi istri dan Mommy yang luar biasa, selamanya Mas akan melindungi kalian dengan nyawa mas." Mencium pucuk kepala Sonya, walau ia sangat ingin menanyakan mengenai siapa istrinya yang sebenarnya namun Andika lebih memilih diam. "Gak pa-pa kan kalau kita menerima hadiah dari teman mas dan menerima undangan makan malamnya? Teman Mas itu juga memberikan alamat kantornya dan meminta Mas datang untuk memberikan pekerjaan. Mungkin Tuhan memberikan rezki buat kita sayang melalui teman Mas tersebut dan semoga kehidupan menjadi lebih baik."
Sonya mengangguk mengiyakan, ia tau suaminya bukan orang serakah yang menghalalkan berbagai macam demi mengejar kesenangan dunia. Ia lebih memilih menjadi pekerja serabutan dan kasar asalkan itu halal di bandingkan kerja santai dengan uang berlimpah tapi itu adalah uang haram. "Jadi, kapan kita pergi?" Melepaskan pelukan Andika.
"Katanya jam tujuh nanti ada mobil buat jemput kita,"
"Kita bawa buah tangan apa Mas? Aku gak enak di kasih hadiah mahal seperti ini dan datang dengan tangan kosong."
Andika merogoh kantongnya, "Mas masih punya uang seratus ribu, kamu punya berapa?"
"Kalo di tabungan ada, setiap uang yang Mas kasih aku sisihkan buat jaga-jaga nanti aaat melahirkan. Kalau sekarang paling tiga ratus ribuan Mas...,"
Andika mencium kilat bibir Sonya, uang yang tak seberapa ia beri setiap hari bahkan masih sempat untuk di tabung. "Mas ke pasar sebentar buat beli daging, nanti kamu masak daging ya sayang? Di masak Rendang, kan kamu jagonya masak rendang daging."
Sonya berdiri, mengambil uang yang tersisa dan memberikannya untuk suaminya. "Bisa Mas, biar aku siapkan bumbunya sekarang jadi pas nanti berangkat udah matang. Jangan lupa beli toples yang bagus buat tempat rendangnya, toples di rumah kita udah buluk semua. Sama kelapa parut buat santannya."
"Iya sayang, Mas tinggal dulu ya?"
Sonya menutup dan mengunci pintu saat Andika keluar, rasa penasaran membuatnya membuka paper bag yang suaminya bawa sebagai hadiah dari temannya. Gaun cantik berwarna hijau daun tampak sangat cantik dan elegan, tak lupa seperangkat alat make up komplit di dalam sana dengan sepatu teplek, tas serta asesoris rambut. Sonya tertegun mengingatnya, kalau dulu barang-barang seperti ini menjadi pakaian untul kesehariannya tapi kini menjadi barang wah yang tak akan ia beli karena lebih memilih menggunakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Siapa yang memberikan barang-barang mewah ini? Lagi-lagi Sonya membuka paper bag satunya, berisi satu stel pakaian formal laki-laki yang tak kalah mahalnya. Siapa pun itu Sonya yakin kalau orang tersebut orang baik dan ia harus membalas kebaikannya walau hanya dengan membawa buah tangan yang tak ada apa-apanya di bandingkan barang-barang branded tersebut. Sonya memasukkan lagi ke dalam paper bag dan pergi ke dapur untuk membuat bumbu rendang yang akan ia bawa.
*****
Hi readers...
Yang di betah-betahin di rumah sambil ngabisin sisa kue lebaran kemarin.. ☺☺☺
Kalo bisa jangan keluar rumah dulu ya soalnya masih dalam keadaan belum stabil di luar sana, mending kita di rumah dan ngelakuin hal-hal. yang bersifat positif dan mengusir rasa jenuh yang kita rasa-in, banyak kok yang bisa lakuin di rumah asalkan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Beberapa hari author sedikit sibuk dengan beberapa kegiatam yang berimbas up nya gak menentu dan pasti, tapi author tetap usahain semaksimal mungkin buat bisa up setiap hari atau setiap ada waktu luang.
Mohon pengertian dari kalian semua.
Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang selama ini udah setia dan jadi penyemangat tersendiri buat author.
Terimakasih banyak...
😘😘😘😘😘😘
Jangan lupa buat hidup sehat, cuci tangan sesering mungkin, hindari keramaian, pertemuan yang gak penting dan cuma