
Yun menatap tajam cewek berisik dan ngeselin yang ada di depannya, tangan Yun mencengkram erat pergelangan tangannya yang terasa kecil di tangannya itu agar tak bisa lepas dari tangannya walau berusaha melepaskannya sekeras apa pun.
Agnes berusaha melepaskan tangannya dan tentu saja cengkraman Yun semakin kuat di sana saat ia semakin giat melepaskannya yang membuatnya meringis menahan rasa sakit karena laki-laki itu tak melepaskannya begitu saja, Yun salah satu orang yang sangat sulit untuk di taklukkan dan di lawan karena Yun mempunyai sifat yang keras seperti Rega. Mereka satu kepribadian yang ada dalam dua fisik yang berbeda yang bagi Agnes itu sangat-sangat mengerikan. "Nona Agnes, bagi seorang wanita ringan tangan itu bukan tindakan yang bagus." Katanya tajam dan langsung tanpa basa-basi.
"Lo apaan sih Yun?! Tu cewek yang lancang, gue cuma mau ngasih pelajaran sama dia." Katanya dengan berusaha melepaskan tangannya dan lagi-lagi gagal.
Yun mengalihkan tatapan matanya dari yang awalnya melihat ke arah Agnes dan berganti dengan melihat seorang wanita yang berdiri di sampingnya dan menjadi sasaran amukan Agnes tadi. Matanya langsung terbelalak dan menatapnya tak percaya namun dengan cepat Yun menguasai emosinya dan tetap bersikap tenang, berusaha menata hati dan pikirannya agar tidak terbawa emosi dan mengacaukan segalanya. "Anda siapa?" Tanya-nya dengan tetap menahan Agnes di sana dengan cara memegangi tangan wanita itu dan tak melepaskan sebelum semua urusannya beres. Oke Yun, apa yang lo liat gak seperti yang lo pikirkan. Tetap berpikir rasional. Katannya dalam hati meyakinkan diri dan tetap berpikir rasional tanpa melibatkan perasaan di dalamnya.
"Saya Rania tuan, perawat pasien yang ada di sana." Menunjuk ke dalam ruangan dengan matanya, "Saya di tunjuk sebagai perawat yang bertanggung jawab atas tuan Rega selama dalam perawatan dan masa pemulihan oleh pihak rumah sakit." Jawabnya sopan, Rania melirik sekilas ke arah laki-laki yang berpakaian santai dengan baju kaos lengan pendek dan celana kain selutut dengan rambut acak-acakan yang yang cocok dengan struktur wajahnya yang membuat Rania langsung menyadari bahwa laki-laki di depannya itu adalah sosok yang sangat menawan walau pun memiliki sorot mata tajam dan juga wajah yang cendrung dingin. Entah apa yang Rania pikirkan hingga terlintas dalam ingatannya bahwa ia pernah melihat laki-laki tersebut jauh sebelum mereka bertemu saat ini. Mungkin gue pernah liat di artikel atau media.
"Apa wanita ini menyakiti anda?" Tanya Yun dengan wajah serius dan berpaling memperlihatkan tatapan matanya yang tajam tak suka ke arah Agnes yang ada di sampingnya tak bisa lari karena tangannya masih dalam genggamannya.
"Hei?! Kok lo ngomongnya kayak gitu?!" Kata Agnes protes seolah-olah ia adalah pemeran antagonis disini yang keberadaannya selalu menyakiti orang yang ada di sekitarnya dan membuat kerugian.
Yun menatap tajam Agnes tanpa menjawab pertanyaannya, cukup dengan tatapan matanya itu mampu membuat Agnes diam dan mengurungkan niatnya adu argumen.
"Tidak tuan," Kata Rania lagi karena ia sendiri tidak mau ada kesalah pahaman di sini, Raniapun gak merasa di rugikan atau tersakiti atau setidaknya belum karena laki-laki itu datang pada saat yang tepat sebelum tangan itu mendarat di wajahnya dengan keras.
"Ingat, apa pun yang lo lakuin di sini gue bakal ngawasi lo satu kali dua puluh empat jam." Katanya tegas dengan melepaskan tangan Agnes kasar, "Jadi lo jangan ngelakuin hal yang bikin kesabaran gue habis. Sekarang lo balik, mulai detik ini tugas lo berakhir dan Rania yang akan menjaga Rega bersama Ella di dalam sana."
"Tapi Yun...,"
Yun mengangkat tangannya sebelum Agnes menyelesaikan kalimat yang ia yakini sebagai sanggahan atau bantahan tersebut sebagai tanda bahwa saat ini Yun tak ingin di bantah dan apa yang ia katakan sebagai perintah yang harus di jalankan karena Yun bertugas untuk memastikan Rega dalat menjalankan semuanya dengan baik dan salah satunya membatasi gerak-gerik Agnes di samping Rega yang mungkin akan menyebabkan kekacauan kalau ia tidak bertindak saat ini. "Alex?"
Bodyguard yang bernama Alex maju dan menundukkan badannya sedikit sebagai penghormatan saat orang kedua yang berkuasa setelah big bos mereka itu memanggil.
"Pastikan Nona Agnes untuk tidak mendekati kamar tuan Rega dan membuat kekacauan, hanya orang-orang tertentu yang bisa memasuki kamar ini. Pastikan itu semua, saya tidak ingin ada kesalahan lagi di sini."
"Baik tuan."Jawabnya cepat dan tegas menyadari bahwa asisteb Yun saat ini sangat serius dengan apa yang ia katakan dan itu terlihat dari raut wajahnya yang sangat serius dan menakutkan hingga tak ada yang bisa membantahnya.
"Yun?!" Teriak Agnes geram, secara mentah-mentah laki-laki itu menyingkirkannya dan memblokirnya dari tempat ini. "Br*ngsek lo?!" Umpatnya kesal, "Lo kira lo itu siapa hah?!"
Yun terus berjalan tanpa menoleh atau berhenti saat Agnes meneriaki dan memakinya, baginya itu sudah biasa dan bukan apa-apa.
"Lo kira, lo itu hebat hah?!" Katanya kesal karena Yun tak menghiraukannya dan memilih meninggalkan begitu saja, "Lo itu gak ada apa-apanya di bandingkan gue. Sok banget sih lo?! Padahal lo itu cuma anak angkat yang di bawa Paman dan gue adalah sepupu Rega tapi seolah-olah lo itu tau segalanya dan semua lo yang ngendaliin?!" Kata Agnes menumpahkan kekesalannya dan tak sadar dengan apa yang telah ia ucapkan saat ini karena emosi yang telah menguasainya itu membutakan logika yang ia miliki.
Yun menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang Agnes katakan, ia menggeretakkan giginya menahan amarah dengan menggepalkan tangannya kuat-kuat. Hanya beberapa detik ia berhenti dan memilih
melangkahkan kakinya karena berlama-lama berada di sana membuat akal sehatnya akan menguap dan menjadikannya sosok lain yang tak ingin ia perlihatkan kepada siapa pun, walau apa yang Agnes katakan adalah kebenaran yang selama ini selalu ia rahasiakan namun mendengar orang lain mengatakan dengan lantang membuat hatinya bergetar dan terasa sakit. Bahkan Ayah dan Rega tak pernah sekali pun menyebutnya sebagai anak angkat dan selalu menganggap dan memberikan kasih sayang yang sama dan adil layaknya Rega sebagai anak kandung.
******
Rega yang merasakan tangannya mulai kebas dan kesemutan itu membuka matanya dan mendapati Ella yang tengah meringkuk di dalam pelukannya tengah tettidur nyenyak dengan suara nafas teratur yang menandakan bahwa kini ia tertidur dengan sangat nyenyak, perlahan ia menarik tangannya dari kepala Ella yang menjadikan tangannya sebagai bantal tersebut dan menggantikannya dengan bantal secara perlahan-lahan karena tak ingin membangunkannya. Merasa keadaan aman terkendali Rega melepaskan sumpalan kapas yang ada di telinganya untuk menyumbat pendengarannya saat tawuran antar singat betina berlangsung, mengelus lembut pipi Ella yang menyebabkannya bergerak sedikit dan tertidur lagi saat Rega menghentikannya. Melihat Ella yang tertidur dengan sangat damai itu membuat hati dan perasaan laki-laki yang akan menjadi ayah itu merasa hangat seketika. Panggilan alam membuatnya meninggalkan istri dan tempat tidur buat cap cus ke toilet.
Perintah langsung yang sekertaris Yun berikan itu ternyata tidak main-main, terbukti Rania saat ini menjadi satu-satunya perawat yang ada di sana selaim dokter Aru dan dokter Raka. Kini ia telah memakai baju kerjanya dan bersiap menjalankan tugas, libur yang di berikan telah di tarik dengan paksa dan itu membuat Rania yang awalnya ingin keluar membeli beberapa keperluan pribadi mengurungkan niatnya. Benar-benar menjadi perawat pribadi bahkan dalam hal menyajikan makanan, menjelang malam Rania mendapatkan perintah untuk membawakan makanan untuk pasien yang ia tangani beserta istrinya dari koki yang mereka bawa dan tunjuk secara langsung. Koki profesional yang merangkap ahli gizi yang mengetahui secara detail makanan apa yang akan tuannya konsumsi dengan takaran gizi yang tepat dan sempurna membuat Rania bertanya-tanya siapa kah orang yang kini ia rawat tersebut dan kuasa apa yang ia miliki sehingga dapat melakukan semua itu.
Rania membawa mampan, mengetuk pintu sebelum masuk.
Tok
Tok
Tok
.....
Tak ada jawaban hingga Rania memilih untuk masuk, ia berpikir mereka masih tertidur saat ini dan memilih membangunkan karena sebentar lagi malam. Perut mereka harus segera terisi dan esok masih ada prosedur yang akan di lakukan sebagai tindak lanjut dari apa yang telah di rencanakan. Hanya ada wanita cantik dan manis di atas tempat tidur yang tertidur pulas seorang diri, Rania mengedarkan pandangan matanya untuk melihat sekeliling dan memastikan keberadaan pasiennya. Semua ruangan kosong, sosok yang ia cari tak ada di sana dan Rania melakukannya sekali lagi untuk memastikannya.
Ceklek
Suara pintu terdengar dengan sangat jelas yang membuat Rania langsung menoleh dan melihat orang yang ia cari keluar dari dalam toilet.
Rega tertegun melihat sosok yang berdiri di dekat meja dengan memakai baju perawat, sosok yang ia kenal beberapa tahun silam dan itu tak asing di matanya. Sosok yang telah lama hilang dan ia lupakan seiring berjalannya waktu dan kini hadir di depannya.
"Tuan," kata Rania dengan menundukkan badannya sedikit memberi hormat saat menyadari laki-laki itu melihatnya dengan tatapan mata yang sangat kentara ke arahnya dan itu membuat Rania bingung karena ada dua laki-laki yang sama melakukannya hari ini.
"Nama saya Rania, saya perawat yang akan bertanggung jawab penuh selama tuan ada di sini." Ujarnya memperkenalkan diri terlebih dahulu, "Jadi apa pun yang tuan inginkan tuan bisa memanggil saya, kamar saya ada tepat di samping kamar tuan." Menunjuk ke arah sebelah kanan dengan tangannya, "Anda hanya perlu menekan tombol di sana," Lagi-lagi menunjuk tombol yang ada di samping tempat tidur, "Apa pun dan kapan pun saya akan datang saat anda memanggil dan menginginkan bantuan saya."
Kenapa bisa ada kebetulan yang sangat mirip seperti ini?
Apa Yun udah tau?
Mereka udah ketemu?
"Tuan?" Panggil Rania lagi saat melihat pasiennya hanya melamun dan sepertinya tak mendengarkan apa yang ia katakan barusan, "Apa anda bisa mendengarkan saya?" Tanya-nya untuk lebih jelas dan mempejelas
keadaan.
"Iya, saya bisa mendengarnya."
Rania tersenyum, "Maaf kalau saya mengganggu istirahat anda beserta istri, saya datang membawakan makan malam untuk kalian berdua." Meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja, "Kalau tuan ingin yang lainnya saya akan mencarikan dan membelikannya." Katanya lagi, dari pengalaman selama ini rata-rata keluarga pasien memilih untuk memesan makanan dari luar rumah sakit untuk konsumsi mereka dan terkadang permintaan mereka sedikit janggal dan mengada-ngada.
Rega berjalan mendekati nampan yang ada di atas meja, memeriksa makanan apa yang Rania bawa untuknya dan Ella. "Siapa yang memasak semua ini?" Tanya-nya saat melihat menu yang menurutnya tak akan bisa membuat perut Ella kenyang karena terlalu sedikit.
"Koki yang tuan Yun perintahkan."
Rega mengangguk pelan dan hampir tak terlihat, kalau Yun yang memilih pastinya koki tersebut memiliki reputasi yang tak perlu di ragukan dari segala macam sisi. Rega berjalan menuju laci yang ada di samping tempat tidurnya, mengambil satu kartu dari dalam dompet kartunya dan meletakkan di samping nampan yang berisi makanan. "Nona, bisakah anda membelikan beberapa makanan dan buah-buahan serta susu segar untuk istri saya?"
"Tentu saja tuan, saya akan melakukannya. Jadi, apa yang harus saya beli?" Tanya-nya lagi.
"Belikan sea food dan semua jenis buah, sandi kartu ada di belakangnya."
"Baik, ada lagi tuan?"
"Satu buah hp keluaran terbaru yang terbaik. Itu saja,"
"Baik." Rania mengambil kartu berwarna gold itu sebelum undur diri, namun ia menghentikan langkahnya sebelum keluar. "Tuan, dokter Raka berpesan bahwa sebaiknya nyonya Ella mengkonsumsi obat yang saya bawakan sebelum makan." Katanya yang hampir lupa pesan yang ia terima.
Rega memandangi kepergian Rania dengan seribu pertanyaan yang ada di benaknya, kejadian yang sangat lama itu seolah terulang kembali dengan hadirnya sosok Rania yang sangat mirip atau lebih tepatnya sama persis dengan sosok yang dulu pernah dekat dan mengisi hati Yun.
*******
Hi Readers yang budiman....
Gimana nih kabarnya semua?
Kalo Author kabarnya tuh di sini ujan terus dan jemuran author sampek berhari-hari gak kering karena mataharinya pelit banget buat nongol yang ada tu hujannya pakek formalin. Awet banget gak berhenti-henti yang bikin betah di rumah dan ngemil melulu πππAcungkan jarinya yang timbangannya geser kanan.....
Berarti kaliam senasib dan sepenanggungan sama author πππ
Yang penasaran sama sosok Rania?
Tu muncul di Labirin Cinta buat lebih detailnya entar ya...
Makanya kalo gak mau penasaran tambahin aja favorit kalian Labirin Cinta dalam rak buku kalian yach....
Oh ya, makasih buat kalian semua yang setia buat nunggu Up dan baca novel yang author tulis ini, episodenya itu udah puanjang dan banyak banget. Semoga aja kalian gak bosen di buatnya karena kepanjangan gak kelar-kelar πππ
Jangan lupa like, vote dan komennya dari kalian buat bikin author semangat lagi, jangan lupa tinggalin Jejak kalo kalian suka.
Makasih buat partisipasi dari kalian semua.
Lope lope lope deh buat kalian semua....
Author ngantuk, mau nyusul anak author yang lagi tiduran dan ngorok manja.
Makasih.....