
Rega tengah mengamati secarik kertas yang di berikan sekertarisnya. Alamat rumah yang ia perintahkan untuk mencari tau. Senyum mengembang di bibir Rega saat melihat kertas tersebut.
************************
Udah jadi kebiasaan Ella bangun pagi buat bersih-bersih rumah yang di bantu Bi Iin. Sebenarnya Bi Iin udah ngelarang Nonanya itu buat ngerjain pekerjaannya tapi tetep aja ngotot, bahkan Nona muda itu bangun lebih pagi darinya.
"Non, Tuan nanti sore katanya pulang." mlMengingatkan kedatangan tuannya.
"Iya, Ella lupa Bi." Nepuk jidadnya, "Mana Ella belum belanja lagi buat kita."
"Entar Bibi aja yang belanja, kan Non ada kursus."
"Makasih ya Bi, beliin Ella cumi." Makanan kesukaannya yang gak pernah ada kata bosan buat menyantapnya.
"Tenang aja Non, kalo itu Bibi yang belanja gak usah di suruh juga udah ngerti."
"Uangnya nanti Ella kasih, nanggung ngambil belum selesai nih nyapu nya." Sambil mengumpulkan daun kering di taman.
Kebetulan musim daun rontok, kalo di luar negeri sana pasti udah musim gugur.
Kalo di sini namanya musim rontok yang bikin kotor halaman rumah.
"Uang yang kemaren Non kasih buat belanja masi, gak usah. Bibi pakek uang itu aja."
Bi Iin berusaha jujur, karena dengan jujur ia dapat bekerja lebih lama.
"Simpen aja Bi, buat anak Bibi. Bentar lagi kan udah mau naikan kelas. Biar buat beli baju sama perlengkapan lainnya."
"Tapi Non, itu masih banyak. Kalo gak salah ingat hampir lima ratus rebu Non."
"Udah lah Bi, Ella ikhlas kok. Lagian ya anggap aja tu Bibi menang lotre atau apa lah jadi dapet rejeki nomplok."
"Kalo keseringan bukan rejeki nomplok Non." Katanya tak enak, gimana pun Nona Ella terlalu sering memberinya bonus. Sisa uang belanja selalu di berikan secara cuma-cuma berapa pun itu.
"Doa in aja Ella yang baik-baik Bi." Ella menganggap bi Iin bukan sekedar ART, tapi sudah seperti saudara sendiri. Setiap hari Bi Iin datang pagi dan pulang setelah pekerjaannya selesai.
Bukan tanpa alasan karena suami Bi Iin saat ini sedang sakit, kakinya lumpuh dan ia harus merawat suami serta anaknya. Gak mungkin buat 24 jam tinggal di rumah Ella.
"Non Ella baik banget, tanpa Non minta Bibi selalu minta sama gusti pengeran buat kebaikan Non , semua doa yang baik-baik buat Non." Matanya mulai berkaca-kaca mengingat apa yang telah Nona mudanya lakukan selama ini. Banyak banget bantuan yang telah ia berikan tanpa pamrih, bukan hanya itu yang membuatnya terharu. Selama bekerja di rumah ini, ia tak pernah merasa seperti pembantu tapi di perlakukan selayaknya seorang manusia.
"Makasih Bi, Ella senang bisa bantu Bibi. Yang penting Bibi ngerasa nyaman dan ikhlas kerja disini."
Ella meletakkan sapunya sembarang, olahraga pagi yang sangat bermanfaat. Selain buang keringat halaman rumah jadi bersih, gak usah pergi ke Gym center atau sejenisnya cuma buat buang keringat. "Oh ya Bi, Ella lupa kasih tau." Duduk meluruskan pinggangnya dengan kaki selonjoran.
"Di dalam ada penghuni baru, anak Mama sambung Ella. Mereka kembar jadi mukanya agak-agak mirip. Yang kalem itu Sonia kalo yang songong namanya Sonya. Bibi jangan mau di suruh sama Sonya, bilang aja kalo Bibi cuma nurut kata Papa sama Ella." Mengingatkan Bi Iin tentang Sonya yang sok ngebos.
"Siap Non...." Katanya dengan hormat layaknya seorang tentara melapor ke komandan.
"Ella mau mandi dulu, Bibi gak usah masak. Masak nasi aja biar mereka masak sendiri. Uangnya Ella taroh di atas kulkas ya Bi, beli buah yang agak banyakan soalnya penghuninya juga nambah."