
Ella memarkir motornya dan tampak mobil Papanya telah terparkir disana. "Tumben jam segini Papa udah pulang?" Gumamnya melangkah masuk.
Rumah tampak sepi, tak ada siapa pun disana. Ella celingak-celinguk mencari sosok Papanya, buat laporan kalo dia baru nengokin Mama. "Papa !!! " Teriaknya saat mendapati sosok laki-laki itu di pinggir kolam renang dan berlari kecil mendekatinya.
"Baru pulang?" Menyambut uluran tangannya, kebiasaan Ella selalu salim kalo ketemu Papanya di mana aja.
"Tumben Papa pulangnya cepat?"
"Kerjaan Papa gak banyak jadi papa langsung pulang mau ketemu anak Papa yang cerewet."
Mengacak rambutnya yang panjang.
Buru-buru Ella merapikannya kembali, bentuknya udah kayak sarang burung dapet serangan mendadak dari Papanya. "Kebiasaan deh...." Mengerucutkan bibirnya yang mungil.
Johan tertawa kecil melihat putrinya merajuk. "Kamu gak usah masak, kita dinner di luar aja. sesekali kan gak Papa ngajak anak Papa yang cantik makan malam di luar. Masak Papa terus yang jajan di luar?"
"Itu namanya pemborosan Pa...."
"Uang Papa gak bakalan habis cuma buat makan." Putrinya itu sangat hemat dalam masalah uang, uang jajan yang ia berikan hanya di pakai seperlunya saja.
Ella mengangguk, "Ella mandi sama ganti baju dulu ya Pa, bau acem."
"Dandan yang cantik, pake baju yang cantik jangan pakek yang kayak gitu." Menunjuk celana jins dan t-shirt yang Ella pakai.
"Mubazir gaun yang selalu papa belikan gak pernah kamu pakai." Katanya lagi.
"Oke bos." Mengacungkan kedua jempolnya dari balik pintu kamar.
Ella membuka lemari yang penuh berisi barisan dress dan gaun yang berjejer rapi dari brand-brand terkenal. Setiap pulang dari perjalanan bisnis di suatu negara, Papa selalu membelikannya. Maunya punya anak cantik dan anggun yang pakai dress buat kesehariannya, lemah lembut dan ***** bengek yang bikin pusing kepala Ella Bukan dirinya kalau melakukan semua itu, cukup pakai jins dan kaos, lip balm dan bedak sudah cukup. Wajah cantik yang ia turun dari sang Mama tak memerlukan make up untuk menunjang penampilannya. Bibirnya mungilnya berwarna pink alami, alis matanya sudah berbaris rapi layaknya semut dan kulit wajahnya putih beraih tanpa jerawat atau noda.
Pilihannya jatuh pada gaun tutu payet selutut berwarna pink, rasanya gaun itu telah lama mengisi lemarinya dan kini perdana untuk ia pakai. Pas sekali di badannya yang mungil, Papanya tau betul ukuran baju dan model untuknya. "Kenapa Papa gak jadi konsultan penampilan aja ya?" Katanya tertawa kecil.
Ia membuka laci dan mengeluarkan kotak tempat beberapa benda keramat yang ia simpan dan jarang sekali bahkan hampir tak pernah ia sentuh, Ella membuka dan mengeluarkannya isinya. "Kali ini gue perlu kalian." Memulai memoles make up pada wajahnya.
Papa menyuruhnya mengikuti kelas kecantikan untuk bisa memakai make up dengan benar, katanya bakal kepake suatu saat kalau menghadiri acara resmi atau pesta yang bakal Ella hadiri. Seperti halnya dress dan juga gaun, Papanya lah yang telah membelikan semua itu dan tentu saja dari brand ternama.