Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Rahasia


"Oke Uncle Willy, tolong bawakan belanjaan kita ya...," Ella menggendong Alex ada di pangkuannya, "Bilang apa sama Uncle Willy?"


"Terimakasih Uncle...," Kata Ella dan Alex bersamaan.


"Ha ha ha ha...," Willy mencengkram kemudi mobilnya dengan tertawa lepas, melihat dua irang beda usia tapi sama-sama menggemaskan itu. "Kalian ngomong gitu kayak sebuah sogokan buat gue."


"Wah-wah..., Uncle Willy bilang gitu tapi mukanya seneng banget."


"Gimana gak seneng nemenin dua anak kecil belanja yang habisin isi atm uncle." Willy mengambil beberapa kantong kresek yang sengaja ia letakkan di kursi belakang, biar gak susah ngambilnya. Kantong-kantong kresek yang isinya cemilan hasil perburuan Ella tadi, yang katanya belanjaannya Alex.


"Pelit banget, baru segini aja pakek perhitungan."


"Jangankan segini, pabriknya bakal gue beli asal lo yang minta." Katanya bersungguh-sungguh, Willy akan memberikan apa pun yang Ella minta walau itu hal mustahil sekalipun asalkan ia mampu mengabulkannya.


"Dengernya aja bikin Ella takut," Mengambil hp dan tasnya, "Makasih ya Kak untuk malam ini, Ella seneng banget Kakak bisa datang."


Hampir aja lupa, Willy mengambil hadiah yang udah ia persiapkan untuk Ella. Sebuah kotak berwarna hijau lumut dengan hiasan pita yang sangat cantik. "Selamat ulang tahun sayang, Jadilah istri dan ibu yang baik, lahirkan keponakan lucu, dan semoga kebahagiaan selalu bersamamu." Menyerahkan kotak tersebut ke tangan Ella.


Alex yang ada di pangkuan Ella itu tangannya dengan cepat merebutnya, mengankat dan melihatnya dengan tatapan mata berbinar. "Bagus Uncle...."


"Terimakasih doa dan kadonya. Ayo Alex kita buka apa yang Uncle berikan." Membimbing tangan Alex untuk menarik pita yang ada. Setelah semua pita terlepas Ella membuka tutup kotak tersebut, dan melihat sebuah kartu berwarna hitam di sana. "Apa ini?" Bukannya Ella gak tau apa isi dari kartu sakti yang Willy berikan, tapi Ella masih bingung maksud Willy memberikannya.


"Walau isinya gak seberapa tapi gue harap itu cukup untuk mewujudkan impian kamu, Kakak meyisihkan penghasilan yang Kakak peroleh dan gunakan untuk membangun rumah sakit yang kayak kamu inginkan selama ini."


Ella menatap kartu sakti di tangannya itu, kata tak seberapa yang Willy katakan itu nominalnya pasti sangat banyak. "Kak, Rega udah ngasih Ella rumah sakit. Rumah sakit milik Rega udah di kasih sam Ella." Katanya lagi.


"Gak masalah, gunakan untuk beli obat atau lainnya. Bukannya kami pengen punya rumah sakit buat mereka yang gak mampu, pakai uang itu untuk melakukannya."


"Tapi Kak..., ini terlalu berlebihan."


"Ella, kamu kan tau kalau Kakak sayang banget sama kamu. Jangankan cuma uang bahkan nyawa lun bakal Kakak kasih buat kamu, uang ini gak seberapa di bandingkan mereka yang memerlukannya. Kakak janji bakal jadi donatur tetap di rumah sakit kamu nanti, bantu mereka yang membutuhkan. Kakak akan mendukung penuh semua itu."


Ella menangis haru, hari ini semua berjalan dengan sangat baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Di awali Rega dengan memberikan kejutan pertama, kado spesial darinya dengan menyerahkan rumah sakit keluarga untuk di kelola, makan malam bersama-sama orang tercinta, kedatangan Sonya yang telah di atur oleh suami hebatnya dan kini Willy memberikan kejutan lainnya yang membuatnya tak pernah berhenti bersyukur dengan apa yang ia dapatkan. "Makasih Kak..., you are hero...,"


"Jangan nangis, entar Alex kira gue ngapain kamu." Mengambil tisu dan menyapu air mata Ella.


"Tante kenapa nangis? Pasti Uncle Willy gak mau bagi jajannya ya?"


Ya ampun... Anak kecil itu emang polos banget. "Gak kok, Uncle Willy gak gitu. Mata Tante kelilipan pasir." Katanya ngeles, mau di bilangin ya gak bakal ngerti juga kok si Alex.


Ella mengikuti Willy yang tengah menggendong Alex, tampak Mama, Papa dan Sonya duduk di tanah dengan saling berpelukan. Rupanya dari tadi belum kelar ya jumpa kangennya? Batinnya melihat pemandangan di depannya yang kayak peyek udang.


"Mau langsung masuk atau gimana?" Tanya Willy, rupanya diamnya Alex karena tu bocah ketiduran si gendongannya dengan kepala bertumpu sepenuhnya di bahu Willy.


"Kasih tau Sonya dulu kalo Alex tidur," Ella berjalan mendekati tiga orang yang lagi peluk-pelukan itu.


"Udah belum jumpa kangennya?"


Johan mendongakkan kepalanya, melihat wajah putri kesayangannya itu dan tersenyum manis. "Sini biar Papa peluk sekalian?"


"Papa..., Ella laper nih Pa...," Katanya manja, "Lagian udah malam, kasian tu Alex udah ketiduran sama Kak Willy." Memunjuk Willy yang menggendong Alex yang tertidur lelap.


Melihat anak kesayangan nya itu tidur, sontak Sonya berdiri dan mengambil alihnya. "Maaf udah ngerepotin kalian nih...," Mengambil alih Alex ke dalam gendongannya, Sonya mengelus bahunya saat Alex bergerak.


"Itu anak kamu?" Tanya Devi melihat Sonya yang begitu telaten dan penuh kasih sayang menggendong anak laki-laki tersebut.


"Iya Mom, namanya Alex. Dia anak pertama Sonya. Maaf ya Mom Sonya telat ngenalinnya sama Mommy...,"


"Gak pa-pa sayang, masih ada waktu. Kalian menginap aja malam ini di sini, lagi pula Mama belum berkenalan dengan suami kamu."


"Benar Son, malam ini nginep aja di rumah. Lagian kamar kamu masih kayak yang dulu, gak ada yang berubah sama sekali."


"Besok Papa bakal cancel semua jadwal, kita adain piknik keluarga. Rasanya Papa udah gak sabar buat piknik bareng kalian semua."


Sonya tampak bingung, di satu sisi ia senang karena bisa berkumpul bersama tapi di sisi lain ia merasa gak enak karena Sonia marah saat ini. "Nanti dulu Pa, tanya Mas Andika dulu dia bisa gak nginep disini." Ujarnya, gak mungkin ngambil keputusan sendiri tanpa melibatkan suaminya.


"Masalah Andika gue yang ngomong, dan gue yakin gak bakalan nolak." Kata Willy yang gak mau merusak kebahagiaan hari ini.


"Iya, masalah Sonia biar nanti gue yang ngomong."


******


"Abi?" Ella menepuk pundak suaminya yang duduk membelakangi bersama suami Sonya, Ella melemparkan senyumnya ke arah Kakak iparnya tersebut sebelum duduk di samping Rega.


"Udah selesai? Mana Willy?"


Rega memencet hidung Ella yang membuatnya memerah, "Kita gak lagi ngerumpi, emang kamu apa yang ketemu orang langsung jadi tukang gosip?"


"Ih Abi, siapa juga yang jadi tukang gosip?" Mengelus hidungnya, "Hidung Ella jadi pesek ni gara-gara Abi?!" Protesnya. "Maaf ya mas...," Baru nyadar kalo ada orang lain di depannya, dari tadi tu berkoar-koar gak jelas.


"Gak pa-pa kok, lagi pula gue senang liat kalian yang akur. Keliatannya bukan kayak pasangan suami istri tapi kayak adik kakak."


"Kok adik kakak sih mas? Mas gak liat apa suami Ella ini mukanya tua banget. Kalo menurut Ella itu ya lebih tepat kayak Om-om genit yang goda anak di bawah umur."


"Hush! Ngomong apaan sih kamu, kamunya aja yang genit mau di kawinin sama Om-om." Balas Rega.


"Yang maksa kan Abi buat nikahin Ella, tuh kan penyakit amnesianya kambuh lagi. Susah kalo udah berumur tu sering lupanya ketimbang ingat." Balas Ella gak mau kalah.


"Bukan maksa, cuma usaha."


"Sama aja kali Bi..."


"Beda lah sayang...,"


"Kaliam itu ya gak dulu gak sekaramg masih aja kayak tom sama jerry, malu tu sama anak yang di dalam perut." Celetuk Willy yang baru datang.


Ella yang ngeliat kedatangan Willy yang selalu memihak kepadanya itu berdiri dan bergelayutan di tangannya, "Kak..., Om Rega nindas anak di bawah umur."


Ya elah... Mulai lagi dah drama orang teraniaya-nya, lebih cocok jadi aktris ketimbang dokter kalo kayak gitu. Batin Rega yang udah tau persis kelakuan Istrinya itu kalo ada super hero-nya.


"Wah-wah..., ternyata selera lo anak di bawah umur Ga? Kenapa gak cari aja tu tante-tante yang seumuran lo di luar sana malah ganggu keponakan gue yang masih di bawah umur?"


"Boleh juga tu ide lo Wil," Tersenyum ke arah Ella, "Sorry honey, Abi cari yang seumuran aja kalo gitu ketimbang sama anak di bawah umur."


"Apaan sih kalian berdua?! Gak asik banget?!" Melepas tangan Willy dengan kasar dan duduk di samping Kakak iparnya itu.


"Ga, istri lo ngambek." Kata Willy menahan senyum, udah lama banget gak liat wajah menggemaskan Ella yang lagi ngambek dan itu salah satu alasan Willy kangen berat sama Ella.


"Biarin aja, dia emanh suka ngambek kok Wil. Ngomongnya aja gitu padahal takut banget kalo suaminya cari tante-tante." Sengaja buat bikin kompornya meleduk.


"Ayo mas kita masuk aja sebelum ketularan sablengnya mereka." Ujar Ella kesal menggandeng tangan kakak iparnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ga, istri lo ngambek beneran tuh."


"Biarin aja, lagian mana ada orang ngambek sambil nahan senyum." Ujar Rega melihat Ella. "Ada yang mau gue omongin sama lo Wil, ini penting banget dan gue harap kali ini lo berpihak sama gue." Katanya dengan wajah serius.


Rega menceritakan semua masalah yang ia hadapi saat ini, dari awal hingga akhir agar Willy dapat mengerti apa yang ia inginkan dari temannya itu. Bantuan yang sangat penting bagi Rega dan bantuan yang tak akan pernah bisa ia minta dari orang lain. Ia memilih Willy karena merasa Willy adalah orang tepat untuk membantunya mengingat apa yang telah Willy lakukan selama ini. Mengambil keputusan ini terasa sangat sulit untuk Rega, Rega telah memikirkannya secara masak-masak dan berulang kali mempertimbangkannya hingga membuatnya tak bisa tidur dan makan beberapa hari ini sebelum apa yang ia inginkan terwujud. Menimbang baik dan buruk atas konsekuensi yang akan ia terima nantinya dan itu semua akan sangat mempengaruhinya. Mungkin awalnya Willy akan menolaknya dan Rega telah mempersiapkan beberapa alasan agar Willy menyetujuinya, apa pun yang terjadi Rega akan tetap meyakinkan Willy untuk menuruti sekenario yang telah ia susun sedemikian rupa demi kebaikan Ella dan anak-anaknya kelak. Memikirkannya saja membuat Rega sulit bernafas, merasakan udara di sekitarnya menipis dan menyesakkan.


"Gak!" Jawab Willy tegas menolak apa yang Rega inginkan. "Gue gak akan ngelakuin apa yang lo mau walau pun itu menguntungkan buat gue."


"Wil, kita saling kenal udah lama banget dan mengenal satu sama lain. Lo tau kan gue sayanh banget sama Ella, gue gak mau nyakitin dia." Kata Rega yang sudah menebak bahwa Willy tak akan menyetujuinya.


"Itu menurut lo, pandangan lo sendiri Ga. Lo mikir gak sih dari segi pandang Ella??? Gimana perasaannya Ga?! Ide gila macam apa ini?!" Teriak Willy geram, bagaimana bisa mengambil resiko senekad ini atas dasar tak ingin menyakiti perasaan Ella dan menurutnya justru akan menyakiti Ella apa pun itu. Willy sangat tau dan memahami bagaimana Ella dan sampai kapan pun tak akan pernah menyetujuinya apa yang Rega inginkan darinya.


"Kalo bukan lo, siapa lagi yang bisa gue percaya? Siapa Wil?!" Katanya frustasi, hanya Willy harapan satu-satunya dan kini Willy menolak keinginannya tersebut. "Lo rela gue nyewa orang lain? Lo rela bikin Ella dalam keterpurukan sendirian dalam keadaan hamil? Lo rela Wil?! Jawab Gue!!!"


Dua lelaki itu terdiam dalam pikiran mereka masing-masing yang kalut, merasa buntu tanpa pemecahan masalah yang menurut mereka tak akan ada yang tersakiti. Keputusan yang sanga sulit dan meremukkan hati mereka, terlalu sakit dan beresiko.


"Kenapa lo baru ngomong sekarang? Kenapa lo gak jujur aja sama Ella? Kenapa lo harus bohongi dia?" Kata Willy, ia merasakan sakit saat membayangkannya.


"Karena cinta gue lebih besar dari nyawa gue, gue gak mau Ella mengalami masa sulit saat mengetahuinya. Lo liatkan gimana dia hari ini tersenyum bahagia? Gue gak bisa senyum itu bakalan hilang dari wajahnya. Gue gak mau kalau semua itu terjadi dan lo orang yang paling tepat buat jaga senyum itu Wil..." Rega terduduk lemas saat membayangkan semua itu. "Lo kira gue mau semua ini terjadi?"


Willy mengacak rambutnya frustasi, sungguh pilihan yang sangat sulit. "Oke, gue akan cari jalan terbaik buat kita semua." Terduduk lemas di samping Rega, "Sejak gue datang ke rumah ini dan ketemu Ella gue udah janji bakal ngalekuin apa pun demi dia, walau pun lo suami Ella tapi sampai kapan pun gue gak akan tinggal diam kalau semua itu menyangkut kebahagiaannya. Gue janji, gue akan memastikan semua akan baik-baik saja." Willy menepuk pundak Rega perlahan, memberikan semangat dan dukungan untuknya sebelum meninggalkan untuk bergabung dengan yang lain.


*********


Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....


Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.


Jangan lupa Like sama Votenya biar authornya tambah semangat lagi buat berkarya.


Di rumah aja ya guys..., jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai wabah yang lagi nge-hits di seluruh dunia ini. Jadikan rumahku sebagai surgaku biar anak-anak pada betah di rumah ya Bunda-bunda... Di sini lah peran Bunda yang ke pakek banget, buat jadikan rumah tempat yang nyaman dan aman dengan di bantu suami-suami hebat juga.