Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Meeting


Oke, sekarang Yun udah berhadapan sama yang namanya kompor, penggorengan, pisau dan kerabat alat dapur lainnya yang baru kali ini Yun kenal. Walau seorang Yun di tuntut harus menguasai berbagai macam kebisaan yang orang lain gak menguasai untuk yang satu ini sama sekali jauh dari kriteria yang di tetapkan dan harus ia pelajari. Selama ini kerjaannya cuma belajar berbagai macam ilmu yang Ayah mereka inginkan dan tentang masak memasak Ayah sama sekali gak pernah nyuruh yang akhirnya jadi bingung sendiri kalo udah kayak gini. Ternyata yang namanya Ella itu bikin semuanya berubah dan beruban, lebih susah ngadepin Ella di bandingin ngadepin Rega. Istri saudaranya itu kalo di liat dari luar lembut dan gemesin, tapi kalo udah tau aslinya bikin bulu kuduk pada berdiri semua.


"Yun! Lo mau sampek kapan liat-liatan sama sayuran? Buruan gue udah laper nih." Teriak Ella yang udah gak sabar liat Yun dari tadi cuma pelatat-pelotot sama sayuran bukannya di masak.


"Gue lagi bicara dari hati kehati La..., Gue ngerasa bersalah harua motong dan masak mereka."


"Alasan aja lo?!"


"Udah lah diem aja lo, bikin konsentrasi gue pecah nih." Katanya kesal karena di ganggu acara sugestinya tersebut. Maaf ya bapak, ibu, mbak dan mas sayur... Batinnya sebelum mengeksekusi para sayuran yang ada di atas meja. Koki dadakan itu belajar cepat dari mana kalo bukan dari yutube, Serius banget Yun liatin tutorial memasak di yutube sampek matanya gak berkedip. Senyum tersungging di bibirnya saat video berdurasi puluhan menit itu berakhir, ternyata gak seribet dan sesusah yang di bayangkannya. Dari teknik mencuci, memotong dan meracik bumbu Yun dapat menguasainya dengan cepat. Lagian ya pegang pedang aja bisa masak pegang pisau dapur yang mungil gak bisa. "Lo mau gue masakin apa?" Katanya sambil noleh ke arah Ella yang duduk manis di temani Rega, yang ngeselin di sana Raka juga ikutan nimbrung nunggu.


"Apa aja asal itu bisa di cerna dan bisa masuk ke mulut gue."


"Susu hangat?"


"Makanan Yun... Bukan minuman...,"


"Lo kam gak ngomong malah bilang sesuatu yang gak jelas gitu."


"Udah lah suka-suka lo, gua mau makan cumi goreng asam manis sama cap-cay."


"Oke."


"Emang lo bisa masak?" Tanya Rega ragu liat setinggi itu tingkat ke pedean yang di miliki Yun, udah kayak koki profesional aja gaya-nya.


"Berdoa aja kalian bertiga gak keracunan sehabis makan masakan gue."


"Kejem...," Kata Raka dengan meletakkan Hp-nya habis ngasih kabar sama Anggun, kalo gak bakalan pecah piring dan perabotan di rumah.


"Gue jujur, jadi kalo ada apa-apa di kemudian hari jangan minta tanggung jawab sama gue."


"Itung-itung kan elo belajar jadi suami siaga sebelum punya istri." Jawab Rega santai sambil mengelus kepala Ella yang tiduran di pangkuannya.


"Amit-amit gue punya istri kayak kalian berdua."


Ella melotot ke arah Yun, "Apa coba maksud lo? Enak aja..., Lo kira bla-bla-bla...," Keluarlah kata-kata petuah dari Ella beserta sumpah serapah yang udah jadi satu paket di sana bikin Yun merem melek sambil mangap dengernya.


Rega dan Raka cuma bisa saling lempar pandangan mata, dalam hati mereka nyukurin Yun yang udah ganggu emak ayam. Gitu kan akibatnya, bukan cuma kena semprot tapi langsung di guyur.


"Lo mau gue masak atau dengerin omelan lo sih?" Yun ganti melotot ke arah Ella, Emang loe aja yang bisa melotot? Gue juga bisa.


"Tentu aja gue pengen lo masak lah, ini aja perut gue udah laper banget."


"Makanya kalo mau gue masak lo tinggal duduk manis dan tolong mulutnya di kondisikan. Kalo gak bakalan gue kasih ayam goreng black and glowing."


Apaan tuh?


Ayam goreng black and glowing?


Dengernya aja bikin merinding, entar kalo gue habis makan bukannya muka gue yang glowing tapi usus gue malah yang glowing.


Raka yang udah siap sama kamera phone cell-nya itu mulai merekam setiap gerakan yang Yun lakukan, dari berisihin ayam, sayur, motong bahan-bahan dan bumbu gak ada yang luput dari kamera Raka. Wuih..., kalo Yun jadi koki beneran pasti laku keraz nih restoran. Batinnya yang langsung mengakui kelihaian yang Yun tampilkan, atraksinya gak kalah sama koki profesional yang udah tahunan bahkan puluhan tahun megang pisau. Padahal dalam hitungan jam Yun belajar dari yutube dan media sosial lainnya, yang namanya orang berbakat itu apa aja langsung bisa tanpa perlu waktu lama. "Ga, kayaknya lo perlu buka resto." Kata Raka yang masih asik ngerekam aksi Yun.


"Gak ah, gue tuh sayang banget sama Yun." Katanya menggoda sambil naikin alisnya cepat.


"Najis gue sama lo!"


"Najis..., kita kan sering banget tidur bareng. Gitu aja lo gak mau ngaku."


"Dosa apa gue bisa ketemu kalian bertiga yang bikin hidup gue sengsara." Gumamnya sambil masak cap-cay dan memberikan tekanan pada kata-kata sengsara.


"Ga..., lo denger gak pengakuan cinta Yun buat kita?"


"Iya gue denger, katanya dia cinta sama lo." Rega memainkan rambut Ella dengan tangannya dan sesekali menciumnya. "Karena dia udah bosen sama gue."


"Kalian tu berisik banget, belum pernah apa makan penggorengan?"


"Rega tiap hari makan penggorengan." Kata Raka sambil ngelirik Rega yang santai banget sambil bermanja-manja sama Ella, jadi berasa agak sedikit iri dan banyak gak sukanya liat dua orang manusia yang lagi mesra-mesraan. Yang satunya tinggal tunggu tanggal main buat masuk ruang operasi dan yang satunya baru keluar dari maut dan mereka itu kayak gak kejadian apa-apa sama mereka.


"Kan gue tiap hari makan masakan istri jadi iya lah makanan yang dia masak itu asalnya dari penggorengan, emang tiap hari Anggun masak gak buat lo?"


"Masak lah..., telor dadar sama telor ceplok."


"Pantes perut lo kayak telor Ka, bunder." Kata Yun yang walau pun konsentrasi tingkat tinggi buat bikin hidangan istimewa secara singkat dan padat kursusnya dari yutube doang itu masih bisa denger mereka yang lagi nonton orang masak dan berisiknya ngalahin suporter di lapangan bola, padahal anggotanya cuma ada empat loh. Yun yang udah menyelesaikan misinya buat ibu hamil itu menghidangkan empat piring berisi cap-cay istimewa di sana beserta nasi dan juga ayam goreng pesenan nyonya Rega yang terhormat dan kalo udah punya kemauan gak bisa buat di tunda-tunda.


"Baunya harum banget." Kata Ella yang udah gak sabar buat mindahin isi piring itu kedalam perutnya, selain aromanya yang enak dan menggoda selera ternyata tampilan yang Yun suguhkan bikin mata mereka termanjakan. Emang cowok yang satu itu multi talent, punya banyak kebisaan yang semuanya tampak sempurna dia lakuin. Cepet-cepet Ella ngambil sendok dan garpu buat nyicipin makanan yang bikin perut laparnya tambah lapar. Jangan di tanya apa kabar para cacing di dalam sana yang usah menjerit histeris saat mencium aroma menggoda.


"Eits, jangan di makan dulu. Kali aja ada racunnya." Kata Raka menahan Ella.


"Enak aja lo bilang, bukan racun tapi pelet biar lo terkesima sama gue." Jawab Yun kesal, apaan coba Raka? Udah kayak tukang seleksi makanan aja. Yun mengambil piring jatah Raka dan mencampurnya dengan miliknya, mengaduknya menjadi satu dan langsung si kasih sambel banyak-banyak, Rasain lo udah ngomong kayak gitu. Sambil tersenyum jahat ke arah Raka yang langsung memperlihatkan wajah jengkelnya itu.


"Wuah... Enak banget...," Sambil ngomong sambil ngunyah tu makanan sampek mulutnya penuh, kali ini bukan karena insting bumil yang bikin Ella suka sama masakan Yun (Biasanya kan selera ibu hamil agak sedikit unik, walau gak enak di bilang enak). Tapi karena bener-bener tu makanan enak banget, susah payah bujuk Yun biar mau masakin dan walau ini masakan pertama soal rasa di jamin bikin ketagihan.


"Serius La?" Kata Raka seolah gak prercaya sama indera perasa Ella yang lagi hamil, indera perasanya bisa salah prediksi biasanya atau malah kebalik (Pengalaman karena punya istri hamil di rumah jadi tau banget gimana rasanya). "Gue takut lo asal ngomong aja."


"Kalo gak mau buat gue aja," Narik piring Yun yang ada di delannya, sayangkan kalo sampek gak di makan dan di anggurin gitu aja. Bakal mubazir dan karenanya Ella bakal nolongin buat habisin.


"Eits, jangan lah. Entar gue makan apa kalo lo yang habisin." Menarik kembali piringnya yang udah hampir sampek di depan Ella.


"Udah," Rega menyodorkan piringnya buat menengahi keributam yang gak berkelas dan gak mutu dua orang itu, "Makan aja punya Abi, lagian kan Abi gak bisa makan-makanan yang kayak gini dulu."


"Ka, prosedur Rega gimana?" Tanya Yun serius, soalnya dia lupa karena serentetan kejadian yang bikin senam jantung sejak mereka datang.


Raka menghabiskan makanan yang ada di mulutnya, mengunyahnya terlebih dahulu sebelum menelannya. "Ya kita lakuin tahap persiapan dulu. Pada tahap ini, Rega bakal menjalani serangkaian pemeriksaan di rumah sakit beberapa hari menjelang transplantasi. Melalui prosedur bedah sederhana, dokter akan menempatkan tabung di pembuluh darah besar dada dia. Tabung ini disebut dengan kateter vena sentral atau central line."


"Lo tau kan La gunanya kateter vena sentral atay central line?" Tanya Raka sambil liatin Ella yang makannya lahap banget, udah kayak gak makan satu minggu atau mungkin satu bulan. Berbanding terbalik sama Anggun yang gak doyan makan, jangankan makan cium baunya aja langsung mual-mual dan berakhir dengan muntah-muntah. Badannya udah kurusan, gak ada makanan yang masuk malah tiap hari keluar terus. Rasanya Raka iri banget liat Ella yang bisa makan apa aja dan super lahap itu, seandainya Anggun punya selera makan sebaik itu gak bakalan Raka sering menginfusnya si rumah buat masukin vitamin.


Ella mengangguk, "Iya gue tau. Buat ngambil sampel darah juga buat menyalurkan cairan, obat-obatan, dan produk darah." Katanya sambil mencoba mengingat. "Gak salah kan?" Katanya lagi yang gak yakin sama jawabannya.


"Bener kok La, gak sia-sia lo pegang dapat gelar mahasiswa paling jenius di kampus. Padahal kan tu pelajaran belum nyampek buat kalian."


"Lo itu muji atau apaan sih? Gak enak banget di dengar?"


Rega yang dengerin obrolan dua dokter beda generasi itu secara tak langsung mengusap tangannya perlahan, membayangkan bagaimana pembuluh darahnya di masukin selang. "Berapa lama Ka?"


"Apanya?"


"Tabungnya lah samak cap-caynya?"


"Oh..., Gak lama kok cuma enam bulan setelah lo lakuin transplantasi. Kalo lo ngitung harinya bakal lama sih."


"Hah???"


"Kan gue udah ngomong lo bakalan lama di sini buat pemulihan, makanya gue ama Yun gak setuju lo ninggalin Ella. Kasian istri lo bakal kelamaan di tinggal tanpa penjelasan dan alasan yang pasti."


"Bener Ga, gue udah mempelajari tentang translantasi yang bakal lo lakuin. Makanya gue juga gak setuju tapi lo aja yang ngeyel bin ngotot gak bisa di ajak kompromi." Sambung Yun yang emang gak setuju sama ide Rega buat ninggalin Ella dengan sekenario ciptaan dia sendiri.


"Kalian baik banget sih... Gue terhura karena belain dan mikirin perasaan gue ternyata." Menetap dua lelaki kepercaan suaminya itu dengan mata berbinar-binar. "Tampang kalian aja kayak iblis tapi ternyata hati kalian kayak malaikat."


"Mulut lo La, enak di awal nyesek di akhir." Kaya Yun sambil tertawa kecil.


"Buat mempersiapkan tubuh sebelum transplantasi, Lo bakal di kasih dosis tinggi kemoterapi dan mungkin beserta terapi radiasi Ga. Jadi siapin mental lo buat itu semua."


"Gue udah siap, apa pun bakal gue lakuin asal bisa narik umur gue lebih panjang lagi, gue gak mau Ella jadi janda muda yang kalo gue tinggalin bakal banyak yang ngantri buat gantiin gue." Katanya tersenyum buat goda Ella biar moodnya gak hancur dan bikin semua orang bakal sakit kepala karenanya. "Apa lagi kita bakal punya dua anak kembar yang lucu-lucu." Menatap tajam mata istri tersayang-nya itu dan menghadiahkan kecupan kecil di pipinya.


"Abi...,"


"Ya Tuhan... Kalian berdua merusak retina mata gue." Ucap Yun sambil geleng-geleng kepala, nasib jomblo mah gitu... Untung aja Raka gak sekalian bawa istrinya, kalo gak bakal terdzolimi jiwa jomblo-nya karena aksi dua lelaki itu.


"Makanya cepetan nikah." Balas Rega.


"Kalo gue nikah siapa yang bakal ngurusi lo? Ni aja semua yang handle, lo masih bisa ngomong kek gitu."


"Dari pada lo jadi jomblo akut, telinga gue gatel Ibu terus aja minta gue buat bujuk lo cari istri tau gak."


"Kalo telinga lo gatel, gimana telinga gue coba?"


"Udah lah, ngomong sama lo gak ada habisnya." Rega mengibaskan tangannya, "Guna terapi yang gue jalani apaan Ka?" Katanya mulai serius.


"Terapi yang lo jalani itu gunanya buat ngancurin sel-sel induk dalam sumsum tulang yang gak berfungsi secara normal. Prosedur ini juga menghalangi sistem kekebalan tubuh lo biar gak nyerang sel-sel induk baru setelah lo transplantasi. Kemungkinan lo itu gak cuma sekali jalani siklus kemoterapinya." Jelas Raka sambil mengaduk makanannya. "Segala sesuatu pasti punya efek samping."


"Efek samping yang bakal gue alami apaan?"


"Karena dosis tinggi kemoterapi dan radiasi bisa bisa bikin lo mual (perut terasa tidak nyaman), muntah, diare, dan kelelahan. Tapi entar gue dan dokter lainnya bakal ngasil lo obat jadi lo tenang aja." Raka memberikan jeda, karena apa yang ia katakan setelahnya sangat penting. "Ini yang penting jadi selain Rega di sini sebagai pasien gue minta kalian berdua perhatiin." Menatap Ella dan Yun secara bergantian."Selama menjalani perawatan ini, sistem kekebalan tubuh akan melemah dan itu bikin Rega sangat mudah terserang infeksi. Sebagai tindak pencegahan, Rega bakal dirawat di kamar rumah sakit yang memiliki fitur-fitur khusus, seperti penyaring udara, untuk menjaga kebersihan kamar. Setiap orang yang masuk ke dalan kamar perawatan, dokter, perawat, dan lainnya harus selalu menjaga kebersihan tangan dan mengikuti prosedur lain untuk memastikan pasien tidak terkena infeksi. Pakek masker gitu kalo ada kontak langsung sama pasien."


Ella dan Yun menganggukkan kepala mengerti apa yang Raka bilang layaknya muris sekolah yang lagi denger penjelasan dari guru mereka.


"Transplantasi sel induk mirip dengan transfusi darah jadi lo gak usah takut biat bayanginnya. Selama prosedur, lo bakal mendapatkan sel induk melalui central line. Kalo udah masuk ke dalam tubuh lo, sel-sel induk akan mengalir menuju sumsum tulang dan mulai bikin sel-sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang baru." Jelas Raka. "Lo bakal terjaga selama transplantasi dan dokter bakal ngasih obat buat bantu lo tetap tenang dan santai. Habis itu kan, dokter dan perawat akan memeriksa tekanan darah, irama napas, denyut nadi, dan memantau tanda-tanda demam atau kedinginan. Efek samping dari transplantasi itu sendiri sakit kepala atau mual. Tapi ada juga yang gak ngalami efek samping apapun."


"Gak pa-pa Bi, cuma pusing mual kayak orang ngidam kok." Kata Ella sambil memegang tangan Rega. "Anggap aja Abi berbagi suka duka sama istri yang lagi hamil."


"Lama gak Ka?"


"Prosesnya? Gak lama kok Ga cuma perlu waktu kurang lebihnya satu jam aja. Waktu untuk proses transplantasi ini sudah termasuk tahap persiapan prosedur, tahap transplantasi, dan tahap pemeriksaan pasca transplantasi. Yang lama itu tahap pemulihan habis lo jalani transplantasi." Raka mengambil air minum dan meneguknya. "Lo bakal dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah menjalani transplantasi sel induk. Dalam beberapa hari pertama setelah transplantasi, tingkat sel darah akan terus turun. Kondisi ini disebabkan oleh kemoterapi atau terapi radiasi yang lo jalani sebelum transplantasi. Setiap harinya, dokter akan memantau kondisi darah lo selama tujuh sampa sepuluh hari setelah transplantasi untuk melihat apakah sel-sel darah baru sudah mulai tumbuh. Lo bakalan dirawat di rumah sakit sampai sistem kekebalan tubuh lo itu pulih dan dokter yakin bahwa transplantasi yang lo jalanin berhasil. Selama perawatan di rumah sakit, dokter dan perawat akan memantau dengan seksama efek samping dari kemoterapi dan radiasi, infeksi, graft-versus-host disease, dan graft failure."


"Bakalan lama di sini kalian nih, tapi gue gak bisa lama-lama karena kerjaan gue bakal banyak banget." Kata Yun sedih meninggalkan saudaranya tersebut, tapi gak mungkin juga kalo nunggu di sini gimana nasib perusahaan yang menanggung hidup berjuta-juta karyawan kalau sampai bangkrut.


"Iya, makasih Yun. Lo udah jadi patner dan saudara luar biasa buat gue." Kata Rega tulus.


"Gue bakal jelasin tentang graft-versus-host disease (GVHD). sel induk dari donor dapat menyerang tubuh lo sendiri. Kondisi ini yang disebut dengan graft-versus-host disease (GVHD). Sementara itu, sistem kekebalan tubuh lojuga dapat menyerang sel-sel batang donor. Kondisi ini disebut dengan graft failure. GVHD dan graft failure ringan dan berat dapat terjadi sesaat setelah transplantasi, atau bahkan baru muncul setelah berbulan-bulan kemudian. Jadi apa pun yang lo rasain entar lo harus ngomong sama gue dan jangan lo tutup-tutupin karena itu bisa berbahaya buat lo."


*******


Hi readers....


Buat episode kali ini author harus bolak-balik buka embah google yang tau segalanya buat cari artikel yang pas sama keadaan penyakit Rega dan itu cukup susah dan menyita waktu, makanya kemarin satu hari gak up cuma buat cari refrensi artikel yang menurut author ini cocok dan pas banget. Karena basic author bukan di bidang kesehatan (Basicnya di pendidikan) Jadi pengetahuan author emang gak ada sama sekali tentang semua ini alias nol besar dan untungnya ada embah google yang sangat-sangat membantu dalam segala hal. Makasih embah google.... 🤣🤣🤣


Karena kemaren gak up jadi author kasih satu part panjang yach... Bisa aja sih jadi dua part dan double up tapi banyakin episode kan jadinya?


Author pikir jadiin satu part aja deh kali ini buat menghemat kuota part novel author.


Makasih buat kalian semua yang udah dukung karya author dari like, vote dan komentarnya. Dukungan kalian itu sangat-sangat luar biasa buat penulis macam author yang masih nihil pengetahuan dan amatir ini.


Jangan lupa Like, Vote dan komentarnya dari kalian buat kasih dukungan kalian buat author yach...


Dukungan kalian itu sangat-sangat berarti buat author.


Makasih.....