
Lagi-lagi, Rega harus ngalah sama yang namanya Ella. Karena gimana pun, mau kalah atau menang tetep aja mintanya menang. Yang mancing dari siang sampek sore gak dapet-dapet, malah yang nyantol sandal jepit bikin tu cewek ngamuk. Apa lagi Rega yang gak berhenti ngetawain bikin Ella tambah sebel.
"Kalo masih ketawa, Ella gorengin tu sendal. awas kalo om gak makan." Ancamnya sebal banget di ketawain kayak gitu, mentangan dapet ikan banyak jadi seenaknya ngetawain orang yang cuma dapet sendal jepit.
Ancaman Ella ternyata ada manfaatnya juga, walau gak berhenti 100% tapi setidaknya Rega mengurangi ketawanya yang bikin matanya berair. Bukan karena sendalnya, tapi ekspresin Ella pas ngangkat pancingnya yang lucu banget.
Bahaya makan sendal goreng bisa-bisa usus buntu, jadi lebih baik diam aja. "Sebelum mancing lo semangat banget sampek mau mancing hiu sama paus segala. Gak taunya malah dapet sendal." Rega berusaha meredam tawanya, mau gimana lagi.... "Entar gue ajakin ke laut kalo mau mancing gituan."
"Om ni ngeselin banget jadi orang!"
"Lah lo mau ngasih makan laki sama sendal?" Rega membereskan peralatan pancingnya, udah sore entar keburu malam bisa di amuk bapaknya Ella kalo gak balikin anak orang tepat waktu. Baru aja dapet lampu ijo setelah sekian lama, bisa-bisa dapat lampu merah lagi. "Yok pulang, kita cari makan sambil jalan. Lo suka kan makan di sembarang tempat di bandingkan resto mahal atau sejenisnya yang kata lo mahal tapi gak ngenyangin."
Ella tersenyum manis, bikin Rega diabetes akut ngeliatnya. Sekarang tu cowok sedikit demi sedikit udah hapal sama kebiasaannya.
Rega gak mau berdebat bakal makan di mana kalo ujung-ujungnya tetep Ella juga yang menang. Lumayan kan pengiritan juga sekaligus, gak ngeluarin uang banyak buat ngajak kencan cewek tengil itu.
"Gendong Om?" Mengangkat kedua tangannya ke arah Rega dengan mendongakkan wajah.
Rega yang kayak kecebur di danau es kutub utara itu membeku di tempat, salah dengar atau memang halusinasinya doang pas denger. Mengerjapkan matanya buat memilih dan memilah mana yang nyata dan yang mimpi saat ini.
"OM! Kok malah bengong sih?!" Liat Rega yang diam di tempat gak ada reaksi.
"Iya, ayo pulang." Berjalan mendahului Ella yang masih duduk selonjoran.
"Gendong Om...." Katanya manja.
Kaki Rega udah lemes denger suara Ella yang syahdu ngalahin suara siti nurhaliza di gendang telinganya, biasanya kayak suara rocker keselek. Apa lagi ekspresi manjanya yang baru pertama kali di liat, bikin jantung Rega nyebur ke sawah saking gak kuatnya. "Serius?" Cuma jaga-jaga kali aja kan salah denger lagi, main gendong bisa berakhir fatal entar.
"Iya! Kaki Ella kesemutan nih, susah buat jalan." Menepuk nepuk kakinya yang udah mati rasa akibat kesemutan.
Rega mengulurkan tangannya untuk meraup badan Ella yang mungil di bandingkan dengan badannya yang tinggi dan tegap itu. Dengan mudahnya ia menggendong cewek itu ala bridal style biar bisa leluasa ngeliatin wajahnya pas Rega lagi gendong.
Ella melingkarkan tangannya di leher Rega untuk memberikan rasa aman biar gak jatuh, walau gak ngelakuin itu juga gak bakalan jatuh. Toh tangan kekar Rega bakal menopang berat badannya dengan mudah. Ella yang merasa wajahnya memanas karena malu lebih memilih membenamkan kepalanya di dada cowok yang lagi sport jantung. "Jantung Om berisik banget."
"Ini juga gara-gara Elo."
Ella yang pengen goda Rega itu mengeratkan pegangan tangannya, dari tadi tu cowok bikin uring-uringan dan saatnya pembalasan. Ella membenamkan wajahnya di leher Rega, biar tu orang kelimpungan sendiri. Menggesekkan hidungnya perlahan yang di sambut dengan gerakan menjauh tiba-tiba dari yang punya leher. Gak kapok juga Ella mengulanginya sampai Rega menghentikan langkah kakinya.
Rega menyentuh bibir Ella dengan bibirnya, mengisapnya lembut setiap dimana-mana hingga akhirnya ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh hasrat.
Ella yang kaget dengan apa yang dilakukan Rega membelalakkan mata, awalnya Rega melakukannya dengan lembut hingga ia sendiri mengikuti permainan Rega hingga akhirnya Ella merasa ciuman itu kini berubah haluan.
Rega memaksa Ella untuk membuka mulut, memasukkan lidahnya dan bermain di sana.
Menjelajah setiap tempat tanpa terkecuali, menyesap setiap inci dengan penuh g*irah. sesekali ia menggigit bibir bawah Ella pelan tanpa menimbulkan rasa sakit, memberikan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya karena ini untuk pertama kalinya. Sebelum akal sehatnya di gerogoti dengan naluri lelakinya, Rega menghentikanya karena gak pengen yang di lakukannya lebih jauh lagi. Cowok bermata kelabu itu tersenyum, memberikan ciuman kecil di pipi Ella dan mengusap bibir Ella yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.
"Lagi?" Godanya melihat wajah Ella yang memerah, setidaknya cewek itu gak menolak kali ini. Bahkan menikmatinya dengan pasif, itu adalah kemajuan yang sangat luar biasa setelah hampir satu tahun Rega berusaha mendekati dan mendapatkan hatinya dengan susah payah.
"Tu kan, Om seenak nya aja cium Ella." Katanya dengan memukul dada Rega karena malu, menyadari tak ada penolakan darinya seperti selama ini. Apa mungkin karena Ella telah menerima laki-laki itu dan membuka hatinya saat ini? Atau karena untuk pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan seperti ini dari laki-laki.
Rega tertawa melihat tingkah laku Ella yang terkesan malu-malu mau itu. "Cuma sama lo gue kayak gini, lagian kan lo calon istri gue yang cepat atau lambat bakal jadi nyonya Rega." Mengedipkan mata menggoda.
Ella menggigit tangan Rega sekerasnya sampek giginya menancap dengan sempurna di kulit putih cowok itu.
"AKH...!"
Rega yang merasakan sakit itu mundur tanpa sadar hingga akhirnya sebelah kakinya menginjak tanah lumpur dan terpeleset.
Byur....
Rega yang tak dapat menyeimbangkan badannya itu akhirnya terjatuh ke dalam sawah yang penuh dengan lumpur bersama Ella yang masih dalam gendongannya.
Ella mengusap wajahnya yang basah, bukan cuma wajah tapi seluruh badannya udah basah kuyup tak tersisa. Ia melihat Rega yang tak jauh darinya, keadaannya gak kalah beda dengan lumpur di seluruh tubuhnya. "Muka Om...," Katanya tertawa melihat wajah Rega yang tertutup penuh dengan lumpur, tinggal matanya yang keliatan.
"Lo kira gak? Muka lo juga."
Ella memastikannya dengan menyentuhkan tangannya, bukanya bersih malah tambah banyak.
"Anggap aja kita maskeran gratis." Celetuk Rega dengan di hadiahi hujan lumpur yang Ella lakukan.
Mungkin ini yang di namakan masa kecil kurang bahagia.