
******
Sedia-in tissue dulu ya guys buat episode kalk ini, kali aja ada yang mewek kebawa suasana terlalu menghayati. Author aja buat bikin moos sampek kesini harus nonton drakor yang menguras air mata serta bak mandi biar dapet nuansa haru biru dan termewek-meweknya 😅😅😅.
Kalo liat oppa liminho walau sesedih apa pun tetap aja ni mata gak bisa bohong kalau orang ganteng itu dalam kondisi apa pun tetap ganteng.
*******
Ella mempersiapkan segala macam keperluan yang suaminya itu perlukan untuk kepergiannya, walau perasaan Ella gak enak tapi Ella berusaha semuanya baik-baik saja. Kedua anak yang ada di dalam rahimnya pun seolah merasakan apa yang Ibu mereka rasakan, perut Ella terasa kencang di bandingkan biasanya. Meski Yun dan Raka telah menjelaskan serta menceritakan segalanya tapi bagi Ella ada sesuatu yang terasa janggal namun Ella tak ingin mempertanyakannya secara langsung pada suaminya tersebut dan merusak semua ini dengan pertengkaran yang ia ciptakan. Ella memasukkan semua yang ia rasa Rega akan memerlukanya ke dalam koper dengan perasaan sedih luar biasa. Selama pernikahan mereka, baru kali ini Rega meninggalkannya dan dalam kondisi hamil muda pula. Kondisi dimana ia merasakan efek ngidam yang luar biasa, dari yang mual, muntah sampai gak merasakan lapar sama sekali tapi ia paksa untuk tetap makan karena ada dua bayi dalam rahimnya yanh terus berkembang terus menerus. Yang paling parah dari semua itu, sikap manja dan ingin bersama Rega yang Ella rasakan. Ella gak bakalan bisa tidur kalo belum di peluk suaminya tersebut, gak mau makan kalau bukan Rega yang masakkan atau belikan makanan. Padahal dulu hal-hal itu gak Ella rasakan, setelah hamil ikatan emosi antara mereka terjalin sangat luar biasa. Ella merasa bahwa ia tak bisa hidup tanpa Rega bersamanya.
"Rasanya Abi gak mau pisah sama istri Abi yang gemesin ini...." Memeluk dan menciumi wajah Ella.
"Abi jangan gitu dong, kan Ella jadi sedih kalo Abi ngomong gitu."
Laki-laki yang setengah hati meninggalkan istrinya itu mengelus lembut perut Ella, "Jangan nakal ya kalian selama Abi tinggal, jangan rewel dan nyusahin Bunda." Ada ruang kosong yang aka Rega miliki dalam hatinya saat meninggalkan rumah, istri serta calon anak mereka. Hatinya terasa sakit membayangkan bagaimana tubuh kecil istrinya tersebut yang akan mengalami dan menikmati hamil muda yang menguras isi perutnya saat menciuk atau melihat sesuatu yang tak ia sukai, bagaimana tubuh kecilnya menopang dua anak mereka di dalam sana yang semakin lama semakin membesar karena mereka tumbuh dengan sangat sehat dan bagaimana tubuh kecil itu meringkuk dalam dinginnya malam tanpa ada yang menenmani atau menghiburnya kala hormon kehamilan itu membuat mood serta emosinya menjadi labil. Baru saja membayangkan semua itu rasanya membuat Rega sangat berat meninggalkan Ella meski pun ada orang lain bersamanya.
"Iya Abi...," Kata Ella menirukan suara anak kecil. berpura-pura semua baik-baik saja itu ternyata sangat susah, bagaimana pun Ella bersikap dengan berusaha semua baik-baik saja tetap saja ia tal bisa memungkiri bahwa hati dan pikirannya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Cerita yang ia dengar dari Raka dan Yun bagaikan trailer sebuah film yang ia dengar dan saksikan, setengah percaya dan tentu saja setengahnya lagi gak percaya. Setelah di fikir-fikir Ella mengenal Rega bukan hanya dalam hitungan bulan, melainkan beberapa tahun ia kenal lelaki yang dulu ia panggil om tersebut sebelum akhirnya menikah dan pernikahan mereka pun sudah berlangsing beberapa tahun. Tak ada yang aneh dari Ayah calon anaknya, baik gerak-gerik atau pun lainnya kecuali tatapan mata serta wajah dinginnya. Bagaimana bisa secara tiba-tiba ia menjadi kepala gengster, mafia atau apa lah namanya itu? Rasa penasaran yang Ella rasakan semakin besar saat ia memikirkan kilas balik hubungan yang telah mereka jalani selama ini, tak ada yang aneh dari kehidupan Rega yang ia ketahui dan semua tampak berjalan seperti laki-laki pada umumnya.
"Kenapa ngelamun?" Tanya Rega yang melihat Ella membiarkan baju di tangannya tanpa berberak sedikit pun tersebut dan tatapannya terpaku kosong pada lantai.
"Gak pa-pa kok Bi," Mengusap air matanya yang gak sengaja jatuh dengan sendirinya tersebut.
Apa yang Ella alami tak lepas dari pengawasan Rega, ia mengulurkan tangan dan menangkupkannya pada wajah Ella membuat wanita itu melihat ke arahnya. Saat mata mereka bertemu Rega melihat cairan bening di ujung mata sembabnya, Ella menangis karenanya dan dia adalah penyebab semua ini. "Kenapa pakek acara nangis segala? Kan Abi perginya gak lama, cuma bentar sayang?"
"Hua...," Ella menghambur dalam pelukan Rega, menangis sejadi-jadinya dalam dekapan laki-laki tersebut. Entah kenapa Ella merasa bahwa Rega akan meninggalkannya sangat lama, memikirkan hal tersebut membuat hati Ella terasa amat sakit.
"Sayang?"
"Bisa gak sih Abi gak usah pergi? Bisa gak Abi tetap di sini nemeni Ella? Bisa gak Abi tetap disini aja?"
Rega terpaku mendengarnya, dengan air mata yang mengalir deras dan memeluknya Ella mengatakan semua itu. Hati siapa yang gak teriris mendengarnya, bukan hanya teriris tapi juga membuat Rega merasa dunianya benar-benar hancur saat ini. "Sayang, Abi juga mau-nya gitu...," Tangannya mengelus rambut Ella, "Tapi Abi gak bisa."
"Kan masih ada Yun, masih bisa kan Yun aja yang pergi ganti Abi?"
"Sayang?"
"Abi lebih mentingin kerjaan di bandingkan Ella? Ella disini tu perlu Abi! Ella gak bisa kalo gak ada Abi."
"Itu...," Rega kehabisan kata-kata, seandainya bisa memilih pasti Rega tetap bersama istrinya dan menemaninya. Pilihan bukan ada di tangannya saat ini melainkan pilihan yang memaksa untuk meninggalkan Ella.
"Bi, kalo cuma masalah kerjaan, harta, saham dan apa lah itu Ella juga punya dari Papa. Ella bakal kasih semua itu asalkan Abi tetap sama Ella, Ella cuma perlu Abi... Ella gak mau yang lain."
Rega mengeratkan pelukannya seolah-olah ingin menenggelamkan istrinya tersebut di dalam sana dan menyatukan diri mereka hingga tak terpisahkan. Permintaan Ella itu sangat menyakitkan bagi Rega, dalam keadaan yang seperti ini mereka harus berpisah. "Maaf Sayang, Abi gak bisa...,"
"Kenapa Abi tu egois banget?!"
"Sayang?"
"Iya, Abi egois?! Abi cuma mementingkan harta dan kekuasaan di bandingkan Ella dan anak Abi."
Rasanya pengen banget Rega teriak kalau yang semua Ella katakan itu adalah salah, apa yang Ella pikirkan tak sesederhana dengan apa yang Rega lakuin hingga dalam tahap mengambil keputusan terberat dalam hidupnya tersebut. Menceritakan kebenaran bahwa kini ia dalam kondisi yang bisa di sebut kritis tersebut akan membuat Ella merasakan sakit yang luar biasa, lebih baik Ella membencinya seperti ini di bandingkan rasa sakit yang akan Ella rasakan setelah mengetahui semuanya. "Jangan ngomong gitu, Abi sayang banget sama kamu."
"Sayang?" Ella mendorong tubuh Rega dengan sekuat tenaga hingga hampir terjatuh karenanya, menatap tajam laki-laki yang tampak putus asa di depannya itu dengan pandangan mata gusar dan sakit. "Apa ini rasa sayang yang selama ini Abi katakan?"
"Ella...," Rasanya tubuh Rega lemas dan seluruh tulang-tulangnya melunak.
"Ini sayang yang Abi selalu bilang sama Ella? Abi selalu bilang kalau rasa sayang Abi lebih dari nyawa Abi sendiri."
Rega mengulurkan tangannya untuk merengkuh dan memeluknya, hal yang paling menyakitkan yang pernah Rega rasakan selama hidupnya saat orang yang paling ia cintai mengatakan hal yang tak ingin ia dengar. Uluran itu di tepis secara kasar membuat Rega terpaku, Apa sebesar itu rasa benci yang ia ciptakan untuk istrinya? "Abi mohon, cukup...."
Bagai tersambar petir saat Rega mendengarnya, baginya kehadiran Ella adalah sesuatu yang patut ia syukuri seumur hidup. Bisa bersama wanita yang ia cintai tersebut menjadi anugerah terindah yang Tuhan berikan dan hari ini karena hanya ingin menjaga perasaan yang Rega yakini adalah suatu tindakan yang benar ternyata telah menyakitinya sangat dalam. "Abi mohon...," Rega menundukkan wajahnya, hatinya sangat sakit mendengar semua itu, kata-kata yang keluar dari mulut Ella bagaikan sembilu yang menyayat-nyayat hatinya.
"Ella gak perlu harta dan kekuasaan. Ella bisa hidup sederhana bahkan Ella rela bekerja asalkan Abi bisa temeni Ella." Katanya lirih, emosi yang meledak itu telah menguras tenaganya menyebabkan pandangan matanya mulai buram. Bukan hanya itu, kini ia merasa perutnya terasa keram dan sakit. Akibat dari rasa putus asa yang menyebabkan emosinya meledak-ledak itu kini janin yang ada dalam rahimnya memberontak, Ella yang melakukannya secara tak sadar kini menyesalinya dan mengusap pelan perutnya tersebut untuk menenangkan anak-anaknya.
Melihat perubahan raut wajah Ella yang semula murka dan kini menjadi datar membuat ketakutan luar biasa untuknya, tangan itu mengelus perutnya dan air mata yang keluar dengan sangat deras seketika berhenti tanpa ada setetes pun. "Sayang?" Rega mendekat pelan, memberikan jeda untuk melihat situasi karena tak ingin Ella meledak-ledak lagi.
"Jangan, jangan mendekat." Membentengi dirinya dengan mundur, menjauhi Rega.
"Ella..., Abi mohon...,"
Ella menggeleng pelan, menutup matanya rapat mencoba mengatur dan menstabilkan emosinya kembali yang sempat tak terkendali dengan menyandarkan tubuhnya di dinding. "Tinggalin Ella, Abi boleh pergi kemana pun mau dan Ella mohon jangan datang dari cari Ella lagi." Katanya dengan suara bergetar.
Rega menarik dan memeluk erat istrinya itu dalam pelukannya, walau meronta dan memukulnya Rega sama sekali tak menghiraukannya. "Maaf...," Tak sanggup lagi untuk menahan akhirnya Rega menitikkan air matanya, "Maaf kalau Abi udah nyakitin kamu. Lebih baik Abi mati di bandingkan harus kehilangan kalian."
Ella berusaha keras melepaskan pelukan Rega yang membuatnya sesak tersebut dengan cara memukul dan mendorongnya, tenaga yang tak seberapa itu tentu saja kalah telak dengan tenaga yang Rega miliki.
"Akh!" Teriak Rega tanpa sadar saat pukulan itu mengenai tulang belakangnya yang menyebabkan sakit luar biasa, Rega mengendorkan pelukannya dan memejamkan mata menahan rasa tersebut bahkan kin kepalanya ikut terasa sakit seperti mendapatkan hujaman palu di sana.
"Abi?" Sadar Rega mengendorkan pelukannya dengan teriakan bersamaan. Bahkan kini Tubuh Rega terasa sangat berat, menopang penuh pada tubuhnya. Beruntung Ella bersandar pada dinding hingga ia tak roboh mendapatkan beban berat. Ella menggeser tubuhnya perlahan dan seketika tubuh Rega ambruk dengan hidung yang mengeluarkan darah. "Abi!!!!" Teriaknya histeris mendapati Rega tak sadarkan diri dengan darah segar keluar dari kedua lubang hidungnya. "Abi!!!" Mengguncangkan tubuh Rega untuk membangunkannya, "Abi bangun!!!" Ella memukul-mukul tangan Rega, "Ella mohon.., jangan tinggalin Ella Bi...,"
Yun yang mendapatkan jadwal keberangkatan Rega sehari sebelumnya memilih bersiap dan menjemput Rega lebih awal, semalam Rega mengatakan bahwa ia akan melakukan perjalan untuk pekerjaan pada Ella dan Rega memintanya memberikan alasan yang sama saat Ella menanyakannya. Bukan hal yang mudah untuk berbohong, apa lagi kebohongan untuk Ella yang wajahnya terlihat polos tersebut. Saat di depan pintu apartemen, Yun melihat pintu yang tak tertutup sempurna itu dengan menyisakan celah kecil. Mendorongnya pelan untuk masuk dan mendapati teriakan histeris Ella saat menjejakkan kakinya, perasaan Yun seketika berubah menjadi ketakutan yang luar biasa. Teriakan dan tangisan itu kini terdengar sangat jelas di telinganya membuat laki-laki tampan itu berlari kd arah datangnya suara yang berasal dari kamar. Suara itu ternyata berasal dari Ella yang menangis dengan mengguncangkan tubuh Rega yang tergeletak di atas lantai berlapis karpet bulu lembut dengan darah segar keluar dari hidung , bahkan karpet berwarna putih itu berlumuran darah.
"Abi!!!"
"Ada apa?" Yun merasa ling-lung menyaksikan pemandangan yang ada di depannya. Selama ini Rega baik-baik saja meski mengeluh sakit pada tulang belakang dan kepalanya dan kali ini laki-laki berperawakan gagah tersebut tumbang dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
"Gue gak tau, tiba-tiba...," Ella serasa syok melihat semua yang terjadi, bukannya selama ini Rega dalam keadaan sehat? Selama ini tak ada keluhan sama sekali kecuali awal kehamilan Rega yang mengalami muntah-muntah dan mual dan sekarang ia tergeletak tak berdaya di pangkuannya.
"Ka, siapin semuanya. Bawa alat medis terbaik lo ke apartemen Rega, gue gak bisa cerita sekarang tapi yang jelas keadaan Rega sekarang seperti kemungkinan terburuk yang lo bilang." Yun mengakhiri pembicaraannya dengan Raka via telpon dan duduk di samping Ella yang terlihat bingung, selama ini situasi seperti yang Rega takutkan. Bukan hal yang mudah mengelabuhi Ella dan menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan dengan berpura-pura menjadi orang yang sehat tanpa memperlihatkan apa yang sebenarnya Rega rasakan.
"Ada apa?" Rasanya Ella kecolongan, sesuatu yang penting ia lewatkan. Melihat Yun yang mengangkat badan Rega dan mengalihkannya ke atas tempat tidur, Ella masih terduduk memandangi bercak darah yang menempel di baju serta karpet. "Kemungkinan terburuk apa yang kalian katakan?"
"Maaf La, untuk saat ini gue gak bisa bilang apa-apa." Yun mengangkat bahu Ella dan memapahknya ke sofa, memegang tangan istri saudaranya itu yang terasa sangat dingin saat menyentuhnya. "Belum waktunya dan gue harap lo tenang dulu." Yun menepuk pelan tangan Ella sebelum berdiri mengambil handuk dan air hangat membersihkan bercak darah di wajah serta badan Rega tak lupa mengganti baju yang sudah kotor dengan yang bersih.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan? Rega sakit apa? Seberapa parah?"
Mendapat pertanyaan itu membuat Yun yang ingin melangkah kakinya keluar kamar tertegun dan berhenti begitu saja, tidak akan mudah membalikkan atau menyembunyikan fakta yang sebenarnya dari Ella apa lagi profesi Ella sebagai dokter yang langsung curiga atas kondisi Rega saat ini.
"Yun!"
"Maaf, gue gak bisa jawab." Ujarnya dengan melangkah keluar melanjutkan apa yang akan ia lakukan.
******
Hi Readerd...
Makasih ya buat kalian yang masih setia nunggu Up novel author dan tetap setia buat baca.
Jangan lupa like dan vote-nya buat kalian yang suka sama novel author yang jadi penyemangat tersendiri buat author tetap berkarya.
Terimakasih like dan vote dari kalian serta waktunya, yang kalian lakukan itu luar biasa. Author sangat-sangat berterimakasih.
Tetap di rumah aja ya...Makin lama makin banyak aja korban dari pandemi yang lagi naik daun di seluruh dunia. Author rasanya sedih karena masih banyak orang yang sadar sama bahaya dan masih banyak yang keluyuran gak jelas di luar sana, padahal apa susahnya sih diam di rumah???
Sayangi keluarga dan orang terdekat kita dengan tetap menjaga jarak dari kerumunan orang banyak. Jangan lupa pakek masker kalo harus keluar dari rumah dan jangan lupa sesering mungkin cuci tangan sehabis melaksanakan kegiatan apa pun.