
"Maaf Tuan, seseorang meminta bertemu dengan anda." Kata seorang pelayan laki-laki memberitahukan.
Willy menjawabnya hanya dengan anggukan kepala. Tanpa di beri tahu ia mengetahui orang yang pelayan itu maksudkan, kalau tebakannya gak salah pasti itu adalah Rega.
Ella yang lagi asik menikmati alpukat keruknya itu hampir tersedak melihat wajah frustasi Rega yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka, udah kayak zombie yang gak ada bagus-bagusnya di liat di mana-mana.
"Lo kenapa bro?" Celetuk Willy yang gak kalah kaget sama Ella dan melempar pandangannya sama tu anak yang memasukkan sendok ke mulutnya sambil melongo, Ella menggeleng cepat karena gak tau apa yang sebenarnya terjadi sampai kayak gitu.
"Gagal proyek ya Om?"
Tanpa diminta Rega duduk dan meneguk habis satu botol air mineral yang ada di hadapan Willy dalam satu kali tegukan. Pikirannya yang udah campur aduk itu sama ngebayangin hal yang enggak-enggak bikin dia frustasi lahir batin, makanya muka Rega kusut banget kayak orang habis kena musibah. Mungkin musibah juga buat dia, musibah perasaan.
Rega menatap Ella dan Willy bergantian, banyak banget pertanyaan dalam kepalanya tapi kok rasanya tu lidah kelu banget. Kalo tadi sebelum ketemu udah di susun kayak daftar belanjaan ibu-ibu ke pasar, pas udah malah ambyar gak karuan.
"Lo sehat?" Willy berpindah duduk melihat tampang Rega yang ancur-ancuran, merasa prihatin.
Ella keluar mencari sekertaris Rega yang ia yakini masih di tempat ini, sesuatu pasti terjadi sampai bikin orang yang biasanya garang udah kayak ubur-ubur.
Rega hanya menatap Willy tak bersuara, suaranya entah menguap kemana sampai gak bisa keluar.
Willy yang bingung mau ngapain cuma bisa menepuk bahu Rega memberikan dukungan. Mau gimana lagi, di tanya gak di jawab malah bengong seribu bahasa kayak ayam kesambet gitu.
"Anda sekertaris Om Rega?" Menyapa seseorang yang di parkiran mengantarkan tamunya.
Merasa ada yang ngajak ngomong, Yun membalikkan badan. Cewek manis bertubuh mungil berdiri di belakangnya dengan raut wajah khawatir. "Ada yang bisa saya bantu Nona?" Katanya sopan dengan tersenyum ramah beda banget sama bosnya yang udah kayak kulkas.
"Apa anda sekertaris Om Rega?" Mengulangi pertanyaannya tadi.
Yun mengernyitkan alisnya, Om rega yang di maksud apa kah Rega bosnya atau Rega lainnya? Karena setahunya bosnya itu gak punya ponakan segede ini.
"Maksud gue, Rega Adiyaksa." Katanya lagi melihatnya kebingungan di wajah sekertaris itu.
Yun tersenyum, "Betul, ada apa Nona?"
"Bisa gak tolong hubungi dokter Raka? Om Rega kayaknya dalam keadaan gak sehat gitu."
Yun menyesali gimana gak sadar sama keadaan bosnya yang dari tadi menunjukkan gejala aneh selama meeting. Tapi gak kepikiran sampai sana, mikirnya paling bawaan sensitif karena cinta bertepuk sebelah tangan. Kenapa juga ni cewek tau tentang dokter Raka?
"Baik Nona." Mengesampingkan rasa herannya, kesehatan bosnya menjadi prioritasnya saat ini. Mengambil Hp dan mencari salah satu kontak di sana, setelah mendapatkannya Yun segera menelpon.
"Tuan Raka, bisakah anda datang secepat mungkin ke sini? Tuan Rega sedang sakit dan memerlukan anda secepatnya." Katanya saat dokter Raka menerima telponnya.
"Saya akan mengirimkan titik lokasi untuk anda." Yun memutuskan sambungan telpon.
"Gimana?"
"Sebentar lagi akan kesini, Nona bisa tunjukkan dimana tuan Rega saat ini?"
Ella mengangguk, ia berjalan mendahului sekertaris Yun.
Saat melewati pintu, Yun berpesan untuk mengantarkan seseorang yang bernama dokter Raka ke tempat mereka.
****************
Jangan lupa jempol buat Like Like Like sama votenya ya ....
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Biar Author tambah semangat lagi
Terimakasih buat kalian semua yang udah kasih dukungan
😘😘😘😘😘😘😘😘😘