
Vino berjalan disamping Ella, sesekali ia melambatkan langkahnya karena kakinya yang panjang bikin langkahnya lebih cepat dibandingkan Ella yang punya kaki gak sepanjang punya Vino.
"Gue mau cari buku dulu di ujung sana." Menunjuk tikungan yang gak jauh darinya.
"Barengan aja, gue juga ada yang mau di cari."
Mata Ella menatap sosok perempuan yang berjalan anggun di depannya setelah keluar dari salah satu butik yang ada di sekitar tempat itu. Sepanjang jalan dari sabang sampai merauke berjejer butik-butik mewah di area itu. Pusat perbelanjaan yang tertata rapi untuk memudahkan mereka-mereka yang gila shoping atau para sosialita berburu barang branded yang mereka cari.
Dari ujung kepala sampek ujung kaki sangat modis dan terlihat luar biasa dengan brand ternama menempel di seluruh tubuhnya.
Jangan di tanya gimana cantiknya, tentu aja lah cantik banget.... Walau keliatan sudah bukan ABG tapi gak membuatnya kehilangan kecantikannya sama sekali bahkan tampak bagus disana-sini di liat dari manapun.
"Liatin apa?" Tanya Vino heran, celingukan mencari objek yang bikin Ella berhenti mendadak kayak di lampu merah.
"Liat yang masuk dalam mobil itu gak?" Menunjuk mobil sport mewah tak jauh dari mereka.
"Lo mau beli mobil kayak gitu?"
"Gak lah, gue gak suka dan masih setia sama cantik gue yang gak tertandingi di Dunia ini." Belanya, emang menurutnya cantik tetap yang terbaik dan tu mobil gak ada apa-apanya kalo di bandingkan motor antik kesayangannya itu.
"Terus apaan kalau bukam mobil nya?" Masih belum menangkap apa yang Ella maksud.
"Orangnya, bukan mobilnya."
"Masak gue lesbong? Yang punya cewek Vino." Kesal karena hari ini Vino lelet, gak kayak biasanya yang langsung nyambung kalo di ajak ngomong.
"Kali aja, kan lo gak pernah pacaran." Menutup perutnya dengan tangan menyilang takut bakal mendarat bogem mentah berikutnya, yang ada aja masih sakit mau di tambahin lagi.
"Gue waras alias normal." Mengurungkan niatnya karena Vino lebih dulu membuat tameng. Tu bocah gak ada kapok-kapok bikin Ella sewot, walau babak belur.
"Lah terus?"
"Orangnya cantik sama modis banget, kalo di liat pasti tu orang bukan sembarangan secara yang dia pake barang mahal semua yang gak sanggup gue beli."
"Lebay.... Lo bukannya gak sanggup beli tapi emang gak mau beli. Itu dua hal yang berbeda." Membuka pintu masuk toko buku dan mendahulukan Ella untuk memasukinya sementara ia menahan pintu tetap terbuka dengan tangannya.
"Lo juga bukan orang sembarangan, tapi dari ujung kaki sampek ujung kepala barang tang lo pakai beli di kaki lima semua." Melihat Ella dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Biarin, yang penting gue seneng." Dengan wajah masa b*dohnya.
"Makanya kalo liat orang bukan cuma dari luarnya doang." Katannya sok bijaksana.
"Tumben otak lo encer, gara-gara makan mie pedes tadi kan? Entar sering-sering bakal gue traktir makan yang gituan biar lo tambah pinter." Katanya tertawa kecil, biasanya Vino kalo ngomong sembarangan gak kayak sekarang.
"Mending gue beku aja dari pada makan yang bikin mulut gue terbakar." Celetuknya di sambut tawa Ella yang meledak.