Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Kejutan


Devi menyambut kedatangan Ella dengan suka cita, merentangkan tangannya berharap putrinya itu datang ke dalam pelukannya. Meski dulu hubungannya dengan anak terdahulu suaminya itu sempat berlangsung tidak baik, namun itu sudah sangat lama sekali dan sekarang hubungan mereka menjadi sangat baik layaknya seorang Ibu dan anak kandung. Devi memberikan kasih sayangnya secara penuh kepada Ella seperti yang ia berikan kepada Sonia dan Jo. "Mommy senang akhirnya putri datang ke rumah untuk bermalam." Kata Devi saat Ella berada dalam pelukannya, bukan hanya memberikan pelukan tetapi wanita itu pun memberikan ciuman lembut di pipi Ella. "Bagaimana kabar cucu Mommy? Dia tidak membuatmu repotkan sayang? Biasanya wanita hamil akan mengalami kesulitan-kesulitan saat mengidam dengan permintaan bayi mereka yang aneh-aneh dan terkesan tak masuk akal."


"He he he he...," Ella terkekeh pelan menaggapinya karena baru saja anak mereka meminta Ella melakukan hal yang terkesan kekanak-kanakan, bukan untuknya tapi korban kali ini adalah suami yang tak lain Ayah dari anaknya.


"Sampai detik ini cucu Mommy tidak melakukan hal yang menyulitkan dan semoga kedepannya seperti itu." Kali ini Rega yang mencoba untuk menjawab dan menjelaskannya, sebagai seorang calon Ayah hal yanh di lakukan Ella barusan ia sadari bukan keinginan dari istrinya melainkan keinginan dari calon anak mereka. Karena Rega yakin Ella yang ia kenal tak akan memiliki sifat kekanak-kanakan seperti itu.


"Syukurlah..., Mommy tau bagaimana rasanya memiliki mereka di dalam sana." Mengelus perut Ella yang masih rata, "Dan Mommy bersyukur karena Mommy tidak mengalami ngidam yang aneh-aneh selama kehamilan Jo dan sebagai gantinya saat keluar Jo sangat rewel, menyita perhatian Mommy sepenuhnya. Kamu tau sayang, dia sangat posesif tak ingin membagi Mommy-nya kepada siapa pun walau itu Papanya sekalipun." Ucapnya dengan mata berbinar tentang pertumbuhan dan perkembangan Jo kepada Ella "Bersabarlah menghadapi sikap istrimu yang terkadang terkesan aneh dan menyebalkan dalam masa kehamilannya, Mommy yakin semua itu bukan karena keinginannya tapi karena keinginan calon anak kalian." Katanya dengan mengusap tangan Rega, memberikan dukungan secara tak langsung untuk calon Ayah baru yang mungkin belum memahaminya. Mereka para Ayah tak akan bisa merasakan apa yang istri mereka rasakan hingga terkesan menagnggap sepele keinginan-keinginan kecil para istri mereka dan mengabaikannya begitu saja dan menjadikan pemicu pertengkaran-pertengkaran di antara calon orang tua baru tersebut karena kurangnya pemahaman tersendiri di sini. "Kau tau, wanita hamil itu sangat istimewa. Apa pun itu mereka tak ingin di salahkan dan semua yang mereka lakukan benar." kata Devi tersenyum ke arah menantunya tersebut.


"Kau dengar sayang? Apa yang di katakan Mama itu tak ada satu pun yang meleset." Mengedipkkan matanya untuk menggoda istrinya tersebut.


"Jadi Mommy minta maaf kalau jarang mengunjungi kalian." Katanya penuh sesal.


"Tidak pa-pa, Ella tau kesibukan Mama sebagai orang tua tunggal untuk mengurus Jo karena Papa lebih sering meninggalkan rumah untuk mengurus bisnisnya dan maafkan Ella yang juga terlalu sibuk dan jarang sekali bisa menjenguk kalian disini walau sebenarnya sangat ingin."


"Iya Mommy tau, bagaimana kuliahmu? Semuanya berjalan lancarkan?"


"Iya, semua berjalan lancar dan sebentar lagi Ella akan menyelesaikannya. Mama akan hadirkan saat Ella wisuda nanti?" Katanya penuh harap, selain Mama Devi siapa yang akan ia harap untuk menghadirinya.


"Tentu saja, Mommy akan pastikan kamu semua disana dan Mommy akan pastikan Papa kamu mengusongkan semua jadwal untuk hari itu tanpa alasan." Senang karena Ella mengatakannya yang artinya Ella menganggapnya sebagai bagian terpenting dari hidupnya. "Maafkan Mommy terlalu lama menahan kalian disini, ayo kita masuk karena Mommy telah menyiapkan makan malam. Bukankah perutmu lapar sayang?" Menggandeng tangan Ella dan membimbinganya masuk, satu tangannya lagi ia kaitkan di tangan menantu laki-lakinya tersebut untuk mengikutinya.


Saat Ella memasuki halaman belakang rumah yang telah di sulap sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang sangat cantik dan menyenangkan itu tampak semua orang yang berada di sana adalah orang-orang yang ia kenal. Keluarga besar dari kedua belah pihak dan teman-temannya telah berkumpul memegang lilin di tangan mereka dan seketika lampu mati menyisakan cahaya lilin yang menjadi satu-satunya penerangan disana. Ella menutup mulutnya menahan haru, sungguh kejutan yang luar biasa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya di mana semua orang yang ia sayangi berkumpul bersama di tempat ini.


"Selamat ulang tahun sayang." Bisik Rega dengan mendaratkan ciuman di pipi Ella dan bersamaan dengan itu seseorang mendekatinya dengan kue ulang tahun sederhana penuh lilin.


"Selamat ulang tahun Ella...," Kata Ririn yang tak sabar untuk memeluk dan mencium sahabat yang telah lama ia rindukan tersebut, bukan hanya Ririn tetapi Vino muncul di belakang Ririn dengan cup cake dan lilin di tangannya dan menyodorkan ke arah Ella untuk meniupnya.


"Selamat ulang tahun Ella, kau tau kami sangat merindukanmu." Katanya lagi dengan merangkul bahu Ririn dan mereka teraenyum bersama.


Tak kuasa menahan air matanya akhirnya Ella kini menangis haru, meniup lilin dan memeluk mereka bersaman. "Gue kangen banget sama kalian, jahat ya kalian ninggalin gue di sini sendiri sedangkan kalian berdua bersenang-senang?" Kata Ella dengan berlinang air mata.


"Maafkan kami, tapi kali ini kami akan selalu bersamamu. Benarkan hubbie?" Pertanyaan Ririn yang di tujukan untuk Vino itu mendapatkan anggukan kepala.


"Iya, suami mu itu menawarkan pekerjaan yang menggiurkan untuk kami berdua agar kita bersama-sama lagi." Tambahnya.


Ella melempar pandang ke arah Rega yang ada di belakangnya dan hanya anggukan kecil yang ia dapatkan sebagai jawaban.


"Apa pun untuk membuatmu bahagia." Gumam Rega.


"Selamat ulang tahun sayang, jadilah istri dan Ibu yang luar biasa. Maaf karena Papa belum bisa menjadi Papa yang sempurna untukmu." Katanya dengan menyodorkan kue untuk Ella tiup.


Ella meniup semua kue itu dan menghampur kepelukan orang yang sangat ia rindukan tersebut, "Apa yang Papa katakan? Papa adalah Papa terhebat yang ada di muka bumi ini. Tanpa Papa tak mungkim ada Ella yang sekarang, terimaksih karena Papa telah menjadi Papa Ella." Katanya haru.


"Kau tak melupakan ku kan?" Kata Sonia yang muncul dari balik punggung Papa dengan cup cake di tangannya, "Buatlah permintaan sebelum meniupnya." Ucap Sonia dwngan menyodorkan cup cake yang di atasnya dengan lilin menyala.


Ella tersenyum ke arah Sonia, memejamkan matanya dan membuat permohonan yang sama untuk kesekian kalinya sebelum meniup lilin tersebut. "Terimakasih sistar." Memeluk Sonia dengan suka cita. "Terimakasih telah menjadi saudara dan masuk dalam keluarga kami."


"Aku yang harusnya mengatakan semua itu, terimakasih Ella..., karena memberikan sesuatu yang dulunya hanya ku anggap mimpi." Membalas pelukan Ella dan mencium pipinya. "Selamat ulang tahun, semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu."


"Amin," balas Ella.


"Sepertinya adik kecil kita tak mau ketinggalan," Sonia menunjuk ke belakang yanh mau tak mau membuat Ella mengalihakan pandangan matanya.


Jo yang masih berusia dua tahun itu datang dengan di gendong Mommy membawakan kue kecil di tangannya. "Telamat tulang tahun Akak...,"


Ella sangat gemas mendengarnya, menghadiahi balita lucu dan tampan itu dengan ciuman yang memenuhi wajahnya membaut Jo merasa kewalahan dan menatapnya sebal.


"Akak!!!" Teriaknya sebagai tanda protes tak suka dengan apa yang kakaknya lakukan itu.


"Maafkan kakak, habis kamu lucu banget." Kata Ella dengan mencuri satu ciuman lagi yang membuat adik kecilnya itu kesal. "Bantu kakak meniupnya." Kata Ella lagi.


Dengan senang Jo melakukannya bahkan sebelum Ella meniup lilinnya. "Hole..., Jo menang..., akak kalah...," Katanya bahagia karena mendahului kakaknya.


"Ha ha ha ha...," Ella sangat-sangat gemas melihatnya, walau baru berusia dua tahun Jo sudah sangat lancar berbicara. "Iya Jo menang dan Akak kalah." Mengusap lembut kepala Jo.


"Selamat ulang tahun sayang, semoga semua kebaikan selalu bersamamu."


"Akhirnya..., kesempatan buat orang tua ini datang untuk memelukmu." Kata Nenek memeluk cucu menantu kesayangannya. "Selamat ulang tahun sayang, terimakasih sudah menjadi istri untuk cucu nenek yang bandel itu." Melirik ke arah Rega. "Nenek tak sabat lagi menunggu cicit nenek yang pasti secantik dan sebaik kamu."


"Nenek, Ella kangen banget sama Nenek." Membalas pelukan nenek, "Cicit Nenek pasti akan sangat suka saat bertemu dengan Nenek."


"Ibu, aku kakeknya." Ucap Mahendra tak kalah, "Tentu saja ia akan sangat senang melihat Kakeknya yang tampan ini." Merangkul bahu Ibunya dan tersenyum ke arah menantunya tersebut, "Selamat ulang tahun sayang. Ayah hanya berharap kebahagianm dan kesehatan selalu bersama kaljan. Maaf kalau selama ini Ayah terlalu sibuk dan tak bisa mengunjungi kalian."


"Terimaksih Ayah atas doanya, doa yang Ayah berikan itu adalah perhatian yang luar biasa untuk Ella." Memeluk Ayah mertuanya tersebut dengan suka cita, walau Ella jarang bertemu tapi ia tau bahwa Ayah mertuanya sangat menyayanginya dengan mengirimkan berbagai macam hadiah dan makanan kepadanya setiap saat dari orang kepercayaan.


Tak habis sampai sini kejutan yang Ella dapatkan, masih ada teman-teman seperjuangannya di rumah sakit dan juga satu orang lagi yang datang dengan tangan hangatnya.


"Selamat ulang tahun, Ibu senang karena bisa memeluk dan mengucapkan secara langsung."


"Ibu...," Ella mencium dan memeluk Ibu mertuanya yang penuh kasih sayang itu. "Ella kangen banget sama Ibu, maaf karena Ella belum sempat mengunjungi Ibu."


"Gak pa-pa sayang..., Ibu tau kalau kamu sangat sibuk." Melepaskan pelukan putri menantunya tersebut dan menghapus air mata dengan tangannya. "Ibu sangat berterimaksih karena telah menjadi istri untuk anak Ibu." Membelai rambut Ella, "Semoga nanti Ibu memikik satu menantu yang cantik dan baik seperti kamu." Katanya sengaja buat nyindir dan ngasih kode keras buat Yun yang berdiri di sampingnya.


Ha ha ha..., gak usah Ibu bilang juga aku tau Bu..., Apa satu menantu belum cukup buat Ibu? Anak Ibu yang satu ini terlalu sibuk dan gak ada waktu buat mencarikan menantu idaman untuk Ibu.


"Baiklah..., Nanti Ibu akan mendapatkan satu menantu lagi." Kata Yun tersenyum ke arah Ibunya. "Selamat ulang tahun Kakak ipar, lahirkan anak yang sehat dan cantik. Jangan seperti Ayahnya yang sangat menyebalkan." Kata Yun lembut.


"Hei..., telinga gue masih normal jadi gue masih bisa dengar lo ngomong apaan." Kata Rega.


"Syukur kalo masih bisa dengar." Balas Yun gak mau kalah.


"Sudah lah, jangan rusak suasana kali ini dengan sikap kekanak-kanakan kalian." Kata Ella menengahi kalo gak gini bakalan adu mulut dua orang laki-laki yang sama gak mau ngalahnya itu.


Rega mengabaikan Yun dan mencium kening Ibunya, "Ibu lihat anak Ibu yang satu itu...," Menunjuk Yun dengan dagunya, "Lihatkan Ayah kalau selama ini Yun menjelekkan ku di belakang." Tambahnya lagi.


Yun yang udah biasa dan kebal dengan sikap Rega yang menyebalkan itu menggandeng tangan Ella, "Seandainya waktu memihak mungkin aku yang akan melamarmu terlebih dulu." Sengaja memprovokasi Rega, "Bukan orang tua yang kekanakan dan menyebalkan itu." Tambahnya.


Rega yang berjalan mendekat ke arah Yun dengan tatapan tak senang. "Tapi waktu berpihak denganku Tuan Yun, buktinya sekarang ia menjadi istri dan mengandung anakku." Ucapnya bangga, "Hentikan lelucon ini, lo kira gue cemburu?"


"Gak, lo emang gak cemburu di mulut tapi tindakan lo itu yang cemburu." Yun mengarahkan tatapan matanya yang lembut ke arah Ella, "Kalau bosan sama dia mending ngomong dan datang kapan pun kamu mau ke padaku."


Ella yang ngerasa gerah di antara dua orang laki-laki itu menjewer telinga keduanya, persisi Ibu yang menghukum anaknya yang bandel. "Berhenti ngomong yang gak perlu kalo gak kalian berdua keluar dari sini."


"Aw..., ampun kakak ipar..., putus nih telinga gue..., mana belum laku lagi...," Kata Yun memegangi tangan Ella yang menjewer kupingnya yang sakit.


"Akh.., Aw...," Rega melakukan hal yang sama, memegangi telinganya yang sakit di jewer Ella. "Ampun sayang..., iya Abk berhenti."


Mendengar pengakuan dua orang yang menyebalkan itu Ella melepaskan tangannya. "Bukan cuma telinga kalian yang bakalan putus, burung kalian batak gue mutilasi kalau masih bikin gara-gara yang ngerusak mood gue."


Rega dan Yun mengusap telinga mereka yang merah, untung aja gak ada wartawan atau lainnya disini kalo gak bakalan jadi hot newd. Dua orang hebat yang di takuti semua orang kalah telak di tangan seorang wanita hamil. Bakal jatuh reputasi dan harga diri mereka berdua.


********


Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....


Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.


Jangan lupa Like sama Votenya yach.....


Di rumah aja, jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai wabah yang lagi melanda di seluruh negara di dunia.


Buat emak-emak yang nemenin anak nya belajar di rumah semoga kalian di bekali kantong kesabaran yang tebal dan lebar, karena agak susah ngajarin anak sendiri itu yang kebanyakan alasan cuma buat ngerjain tugas sekolah.


😂😂😂😂