Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Petaka


"Kamu itu niat gak sih buat jadi dokter?!"


Ella menundukkan wajahnya, diomelin habis-habisan karena beberapa hari ini gak ke rumah sakit. Padahal Rega udah ijin sama Raka (walau gak ijin gak ada masalah karena rumah sakit punya dia sendiri) dan tentu aja mengantongi ijin dari Raka. Udah hampir dua jam Ella di ruangan dokter Rena yang saat ini menjabat sebagai wakil direktur umum dan dokter anak, dokter berusia hampir kepala empat itu dari tadi ngomel dari sabang sampai merauke. Ella cuma jadi pendengar yang baik dengan telinga panas yang tak terbantahkan. Yang diem aja ngomelnya kayak gitu apa lagi yang di bantah bakal lama banget jadinya.


"Saya gak mau tau apa pun alasan kamu dan ini menjadi peringatan terakhir dari saya, kalau kamu sampai meninggalkan tugas saya tidak akan segan-segan memberikan nilai gagal pada semuanya. Paham?!"


"Paham dok." Jawab Ella pelan.


"Paham enggak?!" Ulang Rena yang hampir gak dengar.


"Paham dok!" Kata Ella berteriak, soalnya tadi pelan gak dengar jadi sekalian aja teriak biar jelas dan akurat.


"Berani sekali kami neriaki saya ya?! Kamu kira telinga saya tuli apa?!"


Tuh kan salah lagi?


Emang gak ada benernya dari tadi, salah atau bener disini semuanya salaha.


"Maaf dokter."


"Sekarang sebagai hukuman kamu bersihkan lantai tiga sampai bersih, lap dan pel semuanya serta bersih toilet. Saya akan mengawasi apa yang kamu kerjakan dan jangan sekali-kali berpikir untuk lari." Rena tersenyum puaa bisa memberikan pelajaran pada mahasiswa koas yang satu itu, sejak pertama datang ia telah merebut semua perhatian dokter laki-laki di rumah sakit ini. Bahkan dokter Raka dan dokter Azhar memperlakukannya dengan sangat istimewa di bandingkan mahasiswa lainnya yang bikin darah Rena mendidih. Rena memperhatikan dokter muda itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, tak ada yang spesial disana. Bentuk badan dan wajahnya pun ia nilai tak lebih darinya, lalu apa yang membuat para lelaki menyukai daun muda itu di bandingkan dengan dirinya yang memiliki wajah blesteran dengan tinggi dan bentuk badan di atas rata-rata wanita lainnya dengan karier yang cemerlang sebagai penunjang.


"Maaf dokter, bukannya itu tugas cleaning servis?"


"Masih berani membantah?! Saya disini yang berkuasa melakukan apa saja yang pantas dan tidak pantas kamu lakukan. Jangan karena kamu mengenal direktur rumah sakit kamu bisa semaunya. Kamu kira ini rumah sakit milik Bapakmu hah?!"


"Huh....," Ella menghembuskan nafasnya panjang, Bukan punya Bapak gue dok, tapi punya suami gue...


"Saya akan langsunh mengawasi kamu dan tidak boleh pergi hingga semuanya bersih. Silahkan keluar, liat kamu bikin darah saya mendidih." Katanya tanpa melihat.


Ella membungkukkan badan dan keluar ruangan, bukan cuma telinganya tapi kakinya udah berasa pegel banget. Berdiri hampir dua jam cuma dengerin nenek sihir ngomel panjang kali lebar yang omelannya kadang gak nyambung itu bikin kakinya pegel linu. Ella duduk di kursi tunggu pasien dengan mengurut kakinya, melihat lorong sepi dengan kamar-kamar poli yang udah tutup. Tentu aja udah tutup karena ini udah jam lima sore yang harusnya dia sendiri udah di rumah menikmati bantal empuk di dalam kamarnya.


Satu lantai harus ia bersihkan sendiri? Bakal kelar jam berapa ini? Ella berdiri dan mengambil sapu yang berada diruang cleaning servis, ia mulai menyapu sedikit demi sedikit karena kalo cuma bengong gak bakalan kelar kerjaannya.


Rena menutup laptop dan menyelesaikan pekerjaannya, ia melihat jam yang tergangung di dinding. Pukul tujuh malam, pantas di luar tampak gelap. Sebelum pergi ia menggeliat pelan untuk meluruskan otot-ototnya yang telah kaku, membereskan barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas. Tak lupa Rena mematikan lampu ruangannya sebelum ia pergi dan mengganti sepatunya. Lorong rumah sakit sangat sepi, dan ia melihat sosok dokter muda yang masih mengerjakan hukumannya, Rena tersenyum puas karena ia memberikan hukuman yang sesuai agar dokter muda itu tau siapa dia sebenarnya.


Rena duduk di kursi tunggu pasien dan mengambil hp-nya, mengurungkan niat untuk pulang. Kalo gue pulang sekarang tu bocah bakalan pulang juga, gue bakal tunggu sampek dia selesai semuanya. Seringai puas tampak di wajahnya.


Ella merasakan perutnya terasa kaku dan kencang, selain melewatkan makan siang Ella merasa tenaga telah terkuras dengan sepenuhnya. Membersihkan satu lantai rumah sakit bukan pekerjaan ringan apa lagi dalam kondisinya hamil saat ini, belum lagi tadi padi ia harus melakukan beberapa kali operasi dan tindakan lainnya yang udah bikin capek. Ella mengelap keringat yang bercucuran di keningnya dengan tangan, rasanya udah gak mampu lagi buat berdiri dan nerusin. Ia menjatuhkan sapu sembarang dan duduk bersandar di dinding, keringat dingin kini membanjiri tubuhnya dan perutnya semakin sakit. Ella memegangi perutnya dengan menggigit bibir bawahnya, bahkan pandangan matanya menjadi sedikit buram di bandingkan tadi.


Rena yang tengah asik memainkan hp-nya itu menoleh saat mendengar suara jatuh di atas lantai, matanya langsung menangkap dokter muda yang terduduk memegangi perut dengan bersandar di dinding. Bukan merasa bersalah dan kasian, Rena menjadi sangat marah. Ia berdiri dan meletakkan hp-nya di dalam tas, berjalan dengan cepat dan menghampirinya dengan emosi yang meluap-luap. "Sudah saya bilang kamu gak bisa kemana-mana kalau hukuman kamu belum selesai!" Teriaknya yang langsung menggema di ruangan yang sepi tersebut.


"Kamu ternyata pintar akting ya?"


"Dok, saya mohon...,"


"Saya tidak mau tau alasan apa pun dari kamu, cepat selesaikan semuanya. Kamu kira saya gak punya kerjaan apa nungguin kamu disini?!"


Ni nenek emang bener-bener..., gue sakit beneran malah di bilang akting.


Rena yang gak sabar melihatnya langsung mengambil sapu yang jatuh itu dan melemparnya di depan Ella dengan wajah murka. "Mungkin kamu bisa menipu semua oranh dengan wajahmu yang sok polos, tapi jangan harap bisa menipu saya."


"Dok, sebenarnya salah saya apa?" Kata Ella dengan sisa tenaganya. "Saya mohon dok, saya perlu istirahat. Dok, saat ini saya sedang hamil muda dan saya sudah menghabiskan tenaga saya sepenuhnya." Jawab Ella dengan merintih kesakitan.


Rena terperangah mendengarnya, Hamil? Alasan macam apa lagi ini yang dia berikan?


"Dok, saya mengatakan yang sebenarnya bukan alasan seperti yang dokter pikirkan." Jawab Ella seolah tau apa yang dokter Rena pikirkan.


Rega melihat jam dengan gelisah, biasanya Ella udah sampai rumah jam segini tapi ini malah gak ada kabar sama sekali. Beberapa kali di telpon gak pernah di angkat, Rega yang menanyakan langsung pada Raka mendapatkan jawaban yang di luar keinginannya. Raka mengatakan kalau rumah sakit telah sepi dan semua dokter muda udah pulang. Bahkan Rega menanyakan posisi Ella pada teman-teman koasnya yang ia hubungi satu persatu dan semuanya kompak mengatakan bahwa mereka telah pulang dan tak ada satu pun yang melihatnya. Entah kenapa perasaan Rega jadi gak karuan, apa lagi saat ini Ella dalam keadaan hamil dan tentu saja resiko sekecil apa pun membuatnya khawatir. Rega melacak keberadaan Ella dengan GPS yang ada di hp-nya, ia menemukan keberadaan istrinya itu di rumah sakit. Rega mengerutkan alisnya, bukannya kata Raka dan teman-temannya Ella udah pulang dari empat jam lalu? Tanpa pikir panjang Rega menyambar kunci mobil karena perasaannya semakin gak nyaman.


Rena berkacak pinggang, melihat ke arah Ella yang terduduk lemas itu. Ia memindai wajah pucat dan keringat yang bercucuran tersebut. Gimana kalo yang di katakan benar? Dia benar-benar hamil dan yang gue lakuin ini mempengaruhi kehamilannya? Rena menggelengkan kepalanya cepat, mengusir perasaan yang mengusiknya tersebut. Gue mikir apaan sih? Bukannya gue kemarin udah baca data dirinya dan statusnya masih lajang? Rena tampak bimbang, namun logikanya segera kembali karena ia telah membaca semua data mahasiswa koas dan tak ada satu pun dari mereka yang menikah. "Kamu mau bohongi saya? Jelas-jelas saya membaca data kaliam semua dan gak ada satu pun dari kalian yang menikah. Selain pintar akting ternyata kamu pintar ngomong, pantas saja kalau berhembus kabar bahwa kamu diam-diam merayu dan menjadi simpanan salah satu dokter di rumah sakit ini padahal dokter tersebut sudah mempunyai istri." Katanya dengan memandang jijik wanita di depannya itu, awalnya Rena tak ingin mendengarkan dan mempercayai kabar burung tersebut. Namun akhirnya Rena mengakui kebenaran tersebut dan mengatakannya secara langsung, menyadari apa yang keluar dari mulutnya dokter cantik itu menutupnya dengan syok. Memandangi wajah Ella yang pucat pasi tersebut, menggelengkan kepalanya seolah apa yang di pikirkannya itu adalah salah. "Jangan-jangan...." Rena mundur beberapa langkah. "Anak itu apakah anak dokter Raka???" Katanya syok dengan apa yang ia ketahui saat ini...


*********


Hi readers...


Yang di betah-betahin di rumah sambil ngabisin sisa kue lebaran kemarin.. ☺☺☺


Kalo bisa jangan keluar rumah dulu ya soalnya masih dalam keadaan belum stabil di luar sana, mending kita di rumah dan ngelakuin hal-hal. yang bersifat positif dan mengusir rasa jenuh yang kita rasa-in, banyak kok yang bisa lakuin di rumah asalkan kita bisa memanfaatkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.


Jangan lupa "like" dan "Vote" nya serta "komentarnya" buat kalian yang suka sama novel yang author tulis. Terimakasih atas dukungan dan partisipasi dari kalian semua yang selama ini udah setia dan jadi penyemangat tersendiri buat author.


Terimakasih banyak...


😘😘😘😘😘😘


Jangan lupa buat hidup sehat, cuci tangan sesering mungkin, hindari keramaian, pertemuan yang gak penting dan cuma keluar rumah kalo penting banget. Sayangi keluarga dan orang terdekat anda dan jaga mereka dengan tetap di rumah...


Ciptain suasana hangat dan menyenangkan biar anak-anak betah di rumah.