
Sonia memberikan buket bunga yang di kirimkan dari rumah Rega pagi tadi, buket spesial yang Rega pesankan dari salah satu toko bunga dan tentu saja dengan bunga-bunga yang spesial pula. Buket yang terdiri dari beberapa tangkai kumpulan bunga yang di ikat longgar dengan pita, yang terdiri dari beberapa tangkai mawar putih yang melambangkan kemurnian dan ketulusan cinta, cinta sejati, kesungguhan, kelembutan dan kerendahan hati yang mewakili bangaimana perasaan Rega terhadap Ella. Bunga Garbera yang melambangkan cinta terikat dan tak terpisahkan, sebagai tanda kesetiaan kepada pasangan yang menandakan itu lah yang Rega inginkan. Bunga Calla Lilly yang memiliki aroma harum dan lembut ini mencerminkan kecantikan yang luar biasa yang Ella miliki. Bunga Baby Breath yang chic dan simpel adalah kata-kata yang cocok mengambarkan bunga yang satu ini dengan arti murni dan tak berdosa, pengharapan untuk kehidupan pernikahan yang baru seperti bayi yang baru lahir tanpa dosa dan suci, begitu pula harapan Rega atas pernikahan mereka dan bunga Daisy memiliki makna berbagi rasa dalam suka dan duka yang akan mereka jalani selama mengarungi rumah tangga. Rega dengan khusus memesankan buket itu dan berharap Ella bisa menerima semua perasaannya itu.
Iring-iringan mobil mewah memasuki halaman rumah pengantin wanita yang hanya terdiri dari satu mobil utama berisi pengantin pria beserta Ayahnya, dua pengiring mobil yang membawa Yun dan Ibunya serta satu mobil yang membawa Nenek serta dua orang kepercayaan keluarga Mahendra dan satu mobil lainnya yang berisi hadiah pernikahan yang mereka siapkan untuk calon menantu yang tak lama akan menjadi menantu mereka.
Willy dan Vino yang mendapatkan tugas sebagai penerima tamu itu menyambut kedatangan mereka dengan suka cita, hanya keluarga inti yang hadir dalam pernikahan yang di rahasiakan ini hingga tak banyak yang hadir disana sebagai tamu. Setelah studi Ella selesai mereka sepakat akan mengadakan resepsi pernikahn yang mewah dan megah serta mengumumkan secara resmi tentang penerus dua kerajaan bisnis itu yang kini telah bersatu.
Devi selaku Nyonya rumah seketika menyambut mereka dengan senyum merekah dan memapah Nenek untuk masuk dan menuju halaman belakang rumah yang telah di ubah menjadi tempat cantik untuk pernikahan mereka yang terkesan alami dan hangat itu, kali ini Devi menyewa jasa WO karena tak semopat untuk melakukannya sendiri. Ia terlalu fokus untuk mengurus semua keperluan Ella, beruntung Willy yang mengembangkan bisnis usahanya pada catering itu sangat membantu dalam urusan sajian makanan untuk menjamu mereka yang hadir hari ini.
"Nyonya, mari kita langsung masuk?" Kata Devi ramah yang tak pernah putus tersenyum menybut dua wanita dalam rombongan itu.
Nenek merasa sangat menyukai wanita cantik dan lemah lembut itu, "Jangan panggil aku nyonya, cukup panggil Nenek karena umurku sudah tua."
"Bagaimana mungkin, anda terlihat lebih muda dari umur anda dan kerutan di wajah anda itu tak akan bisa menyembunyikan kecantikan yang anda miliki."
"Kamu terlalu berlebihan, ternyata Ella memiliki sifat yang sangat manis itu turunan darimu."
Devi tersenyum walau hatinya sakit, seandainya Nenek Rega tau apa yang sempat ia lakukan dulu terhadap Ella mungkin tak akan keluar kata-kata seperti itu dari mulutnya. "Anda terlalu memuji." Menggandeng tangan Nenek dan membimbingnya masuk.
"Nyonya Mahendra selamat datang." Sapanya pada Ibu Azhari, Devi yang belum mengetahui bahwa wanita yang ia kira sebagai Ibu Rega itu bukanlah ibu kandungnya.
"Jangan berlebihan, saya bukan...,"
Nenek menggelang pelan, menyuruh wanita yang telah mengorbankan hidupnya untuk membesar cucu kesayangannya dengan baik dan kasih sayang melimpah untuk diam. Membiarkan orang lain berfikiran sebagai Ibu kandung Rega adalah penghargaan yang setimpal dengan apa yang telah ia lakukan.
"Mari kita masuk, aku sudah gak sabar melihat cucu menantu yang pasti sangat cantik." Kate Nenek mengalihkan perhatian, mengangguk dan tersenyum ke arah Yun dan Ibunya untuk tetap diam.
Willy yang mendapatkan kesempatan pertama kali menemui Rega memberikan jabatan tangan kepada laki-laki yang akan menjadi keponakannya itu, "Selamat datang di keluarga kami."
Rega menyambut uluran tangan Willy, "Terimakasih Om Willy." Tertawa kecil dan sedikit canggung, bagaimana mungkin mereka dulunya adalah teman sekolah kini berhadapan dengan status yang berbeda sebagai Om dan keponakan.
"Maaf Om, Kak Johan tidak dapat menyambut kedatangan anda karena saat ini sedang berada bersama Ella." Mengulurkan tangan ke arah Mahendra dengan menundukkan badan sebagai tanda menghormatinya.
"Aku mengerti," Menyambut uluran tangan Willy, "Biarkan dia menikmati waktu bersama putrinya karena sebentar lagi akan kami bawa bersama keluarga kami untuk pulang ke rumah barunya. Jo telah banyak menceritkanmu kepadaku, semoga ada waktu untuk kita berbincang-bincang."
"Tentu, saya akan menantikan undangan dari Anda."
"Hallo Om Rega?" Kata Vino yang sedikit canggung karena kesalah pahaman tempo hari.
Rega mengamati wajah Vino dengan tatapan puas dan penuh kemenangan karena akhirnya ia lah yang mendapatkan Ella. "Kamu Vino kan? Tempo hari kita udah ketemu dan saling memperkenalkan diri." Kehadiran Vino disini menadakan bahwa cowok itu benar telah Ella anggap sebagai keluarganya, tapi tetep aja nalurinya sebagai seorang lelaki tak suka wanitanya dekat dengan laki-laki lain.
"Iya, jangan kaku gitu dong Om..., Selamat ya buat pernikahannya. Aku harap Om dapat membahagiakan Ella."
"Lo kira gue gak bisa membahagiakannya?"
M*mpus, gue salah ngomong. Ngapain juga Ella punya laki yang menakutkan kayak gini, baru ngomong aja bulu kuduk gue udah berdiri semua gimana kalo udah marah.
Membayangkannya aja bikin Vino ngeri, aura yang Rega pancarkan itu emang beda banget walau mukanya ganteng tapi gak menutupi rasa ngeri.
"Bukan gitu maksudnya."
Rega menepuk bahu Willy pelan, mencoba bersikap santai karena tu anak keliatan tegang banget udah kayak berhadapan sama guru BP. "Teng's udah jaga Ella selama ini dan jadi teman yang baik buat dia. Gak usah tegang entar urat syaraf lo putus."
"Haha...," Vino tertawa garing, mungkin itu lelucun tapi di telinga Vino udah kayak tuntutan kejahatan yang di dengar.
Johan menatap lekat putri kecilnya yang sudah besar dan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain, tak terasa waktu berjalan dengan cepat tanpa Johan sadari. Bayangan istrinya yang telah tiada itu kini di pelupuk matanya, seandainya mereka bersama mungkin akan sangat membahagiakan.
"Pa?"
Johan tersadar dan menghapus air mata yang tak terasa mengalir, "Iya sayang. Papa cuma sedih seandainya Mama ada bersama kita."
"Papa jangan gitu, bukannya sekarang Papa sudah punya Mama Devi yang sangat mencintai dan menjadi istri yang luar biasa buat Papa?"
Sejenak Johan lupa tentang Devi, wanita yang masuk dalam kehidupannya dengan cara menjebak dan melakukan cara licik dan menyakiti putri semata wayangnya dengan sikapnya yang tak layak di sebut seorang Ibu. Tapi kini semua berubah, Devi telah menyadari semua kesalahannya, menjadi istri dan Ibu yang baik untuknya dan putrinya. "Papa cuma ingat sama Mama kamu, tentu Papa akan sangat bersyukur karenanya." Johan menghela nafas panjang, terasa berat untuk melepas dan menyerahkan kepada orang lain. "Jadilah istri yang baik, jangan pernah mempermalukan suamimu dan menjadi aib bagi keluarga barumu. Papa pasti akan sangat merindukanmu."
"Maksud kamu?"
"Iya Pa, setelah kami menikah Om Rega mengijinkan Ella buat tinggal disini."
"Gak, Ella harus tinggal di rumah suami Ella sendiri. Bukannya Papa gak mau kamu tinggal disini, tapi tanggung jawab Papa akan beralih pada suamimu. Kasian kalo Rega harus bolak balik dari kerjaannya yang lumayan jauh dari sini. Kalian bisa datang kapan saja karena pintu rumah ini selalu terbuka."
"Tapi Pa...,"
"Sayang, Tinggallah di rumah yang telah Rega berikan. Ikuti semua kata-katanya karena kamu akan menjadi tanggung Rega, bukan Papa lagi." Johan mengatakan semua ini demi kebaikan putrinya walau sebenarnya ia merasa tak tega dan sangat berat melepaskannya, rumah bakalan sepi gak ada Ella yang bawel itu.
***********
Ijab kabul yang menjadi acara inti dari keseluruhan acara itu berjalan dengan lancar, hanya dengan satu kali tarikan nafas Rega udah halalin Ella dan mereka berstatus suami istri saat ini. Awalnya tegang banget sampek buat nafas aja rasanya susah, untung aja tadi Yun bawain bubur buat ngisi tenaga kalo gak bakalan gak bisa ngapa-ngapain. Yun sosok luar biasa yang bisa di andalin dimana aja dan kapan aja, udah ngalahin UGD.
Willy dan Vino berdiri semua prosesi telah selesai untuk menjemput pengantin wanita yang masih di umpetin dalam kamar.
Rega berdebar-debar menanti pujaan hatinya, rasanya lebih berat di bandingkan saat lamaran. Apa lagi udah seminggu gak ketemu yang kangennya udah numpuk sampek kayak gunung. Kalo bagi orang awam satu minggu itu waktu yang singkat, beda buat bucin yang rasanya udah berabad-abad. Untung aja teralihkan sama kerjaan yang banyak banget jadi gak begitu terasa, apa lagi Rega baru bisa tidura tadi malam yang cuma punya waktu satu jam buat mejamin mata.
Saat pintu utama terbuka tampak Ella yang menjadi peran utama wanita hari ini melangkahkan kakinya di iringi oleh orang-orang tersayang disana, wajahnya sangat cantik dan mengalahkan kilau batu mulia yang ia kenakan dan mengalahkan cantiknya bunga di buket yang ia pegang
Bahkan semua mata kini beralih kepadanya secara serentak saat menginjakkan kaki dan hadir di halaman belakang dimana tempat prosesi sakral itu berlangsung.
Ya Tuhan..., Kuatkan iman Hamba...
Rega menyunggingkan senyum menyambut istrinya yang sangat luar biasa cantik itu, mengalahkan kecantikan Bundanya yang dulu menempati hatinya dan kini kegeser sama Ella.
Mahendra takjub melihat menantunya yang kini berjalan ke arahnya, ia bahkan sempat meneteskan air mata karena telah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Andai saja Bunda Rega masih hidup ia akan sangat bahagia melihat gadis pilihannya itu menjadi istri putra mereka dan akan melahirkan penerus Mahendra selanjutnya.
"Tuan, Nyonya akan sangat bahagia melihat menantunya yang sangat cantik." Bisik Ibu Azhari yang tertegun, terharu karena hadiah pernikahan yang ia berikan benar-benar menjadi gaun pernikahan menantunya. Kalau ia menginginkan keluarga Mahendra lebih dari mampu untuk membelikan gaun yang lebih bagus dan mewah, namun Ella tetap memakai pemberiannya.
"Iya, semoga Bunda Rega bisa melihat semua ini. Lihatlah menantu kita yang sangat cantik mengalahkan bunga itu." Katanya menekankan kata kita karena Rega juga putra Ibu Azhari walau beliau tak lahir dari rahimnya.
Ibu Azhari mengangguk pelan, membenarkan apa yang dikatakan Mahendra. "Yun, cepatlah menikah dan berikan ibu menantu yang cantik hati dan rupanya. Rega telah Mendapatkannya, kapan kamu akan memperkenalkan calon buat Ibu?"
Tu kan, lagi-lagi di suruh kawin sama Ibunya. Padahal udah punya satu menantu dari Rega malah kurang aja. "Sabar Bu cari istri yang kayak Ibu mau itu sedikit susah, Rega aja perlu waktu satu tahun buat ngejar, kalo buat ketemu yang pas malah berpuluh-puluh tahun."
"Nenek akan mengatur, Ibu Yun jangan cemaskan soal ini. Nenek akan mencarikan calon istri yang tepat untuk cucu Nenek yang bandel ini." Melirik ke arah Yun dengan tatapan mata penuh arti, arti sesungguhnya bakalan jalanin rencana yang udah di susun dengan sempurna. Kalo dulu Rega yang jadi target sekarang giliran Yun.
"Tu Nenek udah susah-susah mau carikan, kamu harus terimakasih sama Nenek yang mau repot cari istri buat kamu."
Udah lah kalo urusan jodoh ini emang keahlian Nenek yang gak perlu di ragukan. Lagian tu Nenek kenapa juga gak buka biro jodoh aja sekalian buat menyalurkan bakat terpendamnya yang bikin para cucunya pening.
Rega mengulurkan tangannya saat Ella berada di sampingnya, menyambut untuk duduk dan menandatangani surat yang mengikat mereka secara hukum bersama. Selama ini Ella terlihat cantik di matanya namun kini menjadi sangat cantik. Matanya tak pernah lepas dari wajah Ella yang begitu mempesona, tak salah Rega telah memilihnya untuk menjadi istri. "Honey, kamu sangat cantik." Bisiknya saat Ella duduk di sampingnya yang membuat wajah Ella merona. "Gak sabar buat bawa kamu pulang ke rumah." Mengedipkan mata genit ke arah Ella.
Ella yang salah tingkah memilih buat gak ngeladeni Rega saat ini soalnya kalo gak gitu bakalan panjang. Ini aja matanya udah kayak di lem, gak lepas darinya yang bikin Ella gerah banget.
*********
Hai Reader....
Akhirnya si Ella udah di halalin loh sama Rega si bucin akut.
Makasih buat kalian yang udah setia baca dan nunggu Up yach...
Jangan lupa like dan Votenya kalo kalian suka sama karya author biar jadi dukungan buat author berkarya. Terimaksih buat Like dan Vote dari kalian semua, tanpa kalian author gak mungkin sejauh ini.
Stay at home...
Biasakan buat hidup bersih di mana pun dan kapan pun juga, jangan lupa sesering mungkin buat cuci tangannya.