Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Pernyataan Ella


Pertama kali tersadar yang berfungsi adalah indera penciumannya, Ella mencium aroma lemon yang menyegarkan. Baru setelah itu bulu matanya yang lentik sedikit demi sedikit bergerak seiring kelopak matanya.


Ella mengerjapkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya lampu yang menyilaukan setelah terbangun dari tidurnya.


Mimpi buruk yang selama ini Ella kubur dalam-dalam kembali ke permukaan menyisakan kepedihan yang mendalam. Bayang-bayang wajah mama yang samar-samar itu terekam jelas dalam ingatannya. Ella tak dapat membendung air matanya saat mengingatnya, sosok mama yang sangat ia rindukan.


Tapi anehnya, semakin jelas ia melihat berubah jadi sosok yang selama ini selalu ia temui di dunia nyata dan dunia mimpi.


*********


Rega menggendong tubuh Ella yang terkulai lemas dengan wajah memucat saat sampai di rumah sakit milik keluarganya, tergopoh-gopoh Raka menyambutnya, seharusnya ini hari libur buatnya berhubung panggilan mendadak dari big bos yang gak bisa di abaikan gitu aja ia harus merelakan waktunya yang sangat berharga itu. Rega tak memperdulikan beberapa perawat yang datang dan memintanya untuk menurunkan Ella, ia memilih membawanya langsung ke ruangan khusus yang di sediakan pihak rumah sakit untuk keluarganya. Raka yang telah siap dengan asistennya di ruangan tersebut, mereka tampak gugup tak terkecuali Raka yang mengenal betul siapa Rega yang terkenal tak main-main memberikan konsekuensi membuat momok tersendiri bagi bawahannya.


"Tunggu di luar." Pinta Raka dengan suara lembut menenangkan Rega yang udah kayak ayam mau bertelor, bikin heboh satu rumah sakit dengan kedatangannya yang mendadak.


"Lo berani merintah gue?"


"Kalo lo gak keluar gue gak bisa ngelakuinnya tugas gue dengan baik. Lo liat kan mereka pada tegang semua liat muka lo yang udah gak ada enak-enaknya." Yang dikatain Raka emang benar, mereka semua pada tegang. Big bos mereka wajahnya udah serem banget, gak ada yang berani ngelirik apa lagi noleh. Jangankan ngomong nafas aja serasa berat banget. "Tunggu apa lagi, cepet sana keluar." Mendorong Rega yang enggan meninggalkan Ella sendiri.


Perasaan bersalah menyelimuti Rega, bukannya happy ending malah ngenes ending. Gak nyangka ide brilian yang ia yakini berakhir kayak gini. Gak ada luka yang serius ia temukan di badan Ella, cuma beberapa memar dan goresan kecil. Rega udah kayak suami yang nungguin istrinya lahiran tegangnya setengah mati, kakinya gak mau diem muterin koridor rumah sakit yang sepi karena emang spesial buat keluarga pemilik rumah sakit menempati lantai tiga. Baginya yang cuma beberapa menit udah kayak berapa tahun, matanya gak lepas dari pintu yang dari tadi gak kebuka-buka.


Raka melepaskan maskernya saat keluar dari ruangan, seorang perawat perempuan mendorong Ella yang tengah tertidur pulas dan memindahkannya keruang perawatan khusus.


"Gimana?"


"Gue udah nyuntikin obat penenang dan obat tidur biar dia bisa istirahat dulu sementara ini." Raka memilih duduk di kursi yang ada di ruang tunggu diikuti Rega yang meminta penjelasan lebih lanjut.


"Gak ada yang serius kalo gue liat, cuma ada sesuatu yang perlu bantuan psikiater."


"Psikiater?"


"Ella mengalami kejadian yang bikin dia trauma, makanya reaksinya sangat berlebihan sampek kayak gitu. Kalo gue gak salah tebak pasti berhubungan dengan kecelakaan." Katanya yakin karena ini bukan kali pertama ia menangani Ella dengan gejala yang serupa.


"Gue kurang tau apa yang sebenarnya terjadi mungkin gue bisa tanya Willy."


Raka membenarkan duduknya, "Gue mau ngomong serius."


"Gue jadi ngeri sendiri dengernya, biasanya lo cengengesan."


"Gue serius kali ini, semua demi kebaikan lo dan tentu aja berhubungan dengan calon istri lo."


**********


Rega yang semalaman terjaga memperhatikan Ella dengan tatapan mata merah khas orang ngantuk, biar ngantuk banget tetap aja gak bisa merem. Walau dalam keadaan tidur di bawah obat tapi Ella beberapa kali menjerit histeris, membuat Rega ketakutan luar biasa. Bahkan menangis sesenggukan sampai air matanya kayak banjir bandang.


Tak lain yang terucap dari bibir mungil Ella adalah mamanya, satu nama itu yang ia ucapkan membuat hati Rega teriris. Mungkin benar apa yang di katakan Raka bahwa Ella harus secepat mungkin mendapatkan penanganan khusus dari psikiater.


"Mama.... Jangan tinggalin Ella Ma..." Racaunya dengan tangan menggapai udara kosong.


"Sejak kapan Mama mukanya kayak Om Rega?"


Rega yang tadinya sedih malah jadi bengong, ni anak mimpi atau apaan sih? Ngoceh gak karuan sambil megang wajah Rega asal, untung gak ke culek tu mata.


"Om tu nyebelin banget, kenapa selalu ngikutin Ella kemana-mana? Emang salah Ella apaan di masa lalu sampek reinkarnasi masih ngikutin Ella terus."


Ternyata cewek tengil itu belun sadar sepenuhnya, gak bisa bedain mana yang dunia nyata sama dunia mimpi.


"Ella bosen liat tampang Om yang kayak kulkas."


Rega sekuat tenaga menahan tawanya, baru bangun dari pingsan udah ngoceh yang enggak-enggak. Kesadarannya belum penuh, masih ngira semua ini adalah mimpi.


"Tapi Ella kesel pas liat tante semok itu nempel sama Om, pantes aja Om bilang kalo Ella kurang bahan ternyata om sukanya sama yang kayak gitu."


Ternyata ini masalah kenapa tadi diem, pake acara puasa ngomong segala yang berakhir di rumah sakit. Untung aja gak ada korban jiwa, cuma korban perasaan.


"Lo cemburu?"


"Cemburu? Sama tante semok itu?" Katanya sambil merem.


"Iya."


"Gak tau, tapi Ella gak suka aja liat Om sama cewek manapun. Apa lagi liat Om di peluk sama di cium gitu."


"Maunya?"


"Ella maunya Om cuma ngelakuin sama Ella aja."


Binggo!


Senyum sumringah, wajah berseri-seri bahagia, mata berbinar-binar terharu dan rasa bahagia yang mengisi rongga dada Rega pas dengernya. Ternyata cintanya gak bertepuk sebelah tangan, cuma perlu sedikit perjuangan buat bisa dengarnya.


"Iya, gue gak bakal ngelakuin sama cewek lain seumur hidup gue kecuali cewek tengil pembangkang ini."


Ella tersenyum tipis, tak lama nafasnya teratur yang menandakan bahwa kini tertidur dengan lelap. Ocehan alam bawah sadarnya itu ternyata di anggap cuma bunga tidur.


*******


Sorry banget, akhir-akhir ini Author super sibuk.


Cuma punya waktu malam buat up.


Terimakasih buat dukungan kalian semua, jangan lupa Like dan Votenya biar Author tambah semangat lagi


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘