Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Berbagi


"Nih bawain."


Menyerahkan kantong blanjaan karena tangannya udah pegel, terlalu banyak yang dibawa.


Cowok di sampingnya cuma diam doang ngekorin kesana kemari, nawarin bantuan juga kagak.


"Gue bawa kayak gini?"


CEO perusahaan terkenal sama ganteng di suruh bawa kayak gitu.


Apa kabar kalo ketemu sama anak buahnya atau kenalan?


Bisa jatuh reputasinya sebagai bos berdarah dingin.


"Kalo mau makan harus kerja Om."


"Bukannya lo kerja sama gue?"


Memperjelas keadaan siapa bos di antara mereka berdua.


"Kartu yang Om kasih gak berlaku disini, tu semua belanjaan pake duit Ella."


"Gue gak nyuruh lo belanja di tempat kayak gini."


"Tapi di tempat ini dapat harga murah serta kualitas yang bagus. Om liat sendiri kan semuanya seger-seger, buruan ...."


Menaruh paksa kantong belanjaan di tangan Rega dan berjalan di depan.


Terpaksa Rega membawanya, hebat banget tu cewek bisa merintah kayak gitu.


"Awas lo sampek rumah." katanya geram.


Ia melihat Ella berjongkok pada seorang nenek yang menjual sayuran di pinggir jalan, dagangannya yang tak banyak dan tak lagi segar membuat orang-orang tak tertarik untuk membeli.


Jangankan beli ngelirik aja enggak.


"Nek, kangkungnya berapa satu ikat?" Berjongkok menunjuk kangkung.


" Dua rebu Neng" Katanya bergetar.


" Ella bolehkan kalau beli semuanya?"


Wajah tua itu nampak bahagia mendengarnya, sudah seharian ia berjualan tak ada satu pun yang beli dagangannya.


"Boleh Neng."


Membungkus dengan tangannya yang udah keriput.


"Sekalian sama timunnya, semua dagangan nenek saya beli."


"Nenek kenapa nangis?"


"Nenek seneng bisa ketemu orang sebaik malaikat hari ini."


Menyerahkan bungkusan kresek besar berisi semua dagangannya.


"Jadi berapa semuanya Nek? " Menerima kantong kresek.


"Seratus tiga puluh rebu Neng."


Ella membuka dompetnya dan mengeluarkan uang yang tersisa disana, ada 16 lembar uang seratus ribu.


Kebetulan sebelum kepasar mampir dulu ke atm buat ngambil uang.


"Ini sisanya buat Nenek." Menyerahkan uang itu ke tangan tua yang bergetar.


"Ini .... Banyak banget Neng, Nenek gak mau ngemis."


Mengembalikan karena takut, gak pernah liat uang sebanyak itu.


"Rejeki dari Tuhan yang dititipin sama saya Nek, jadi Nenek harus terima."


Meyakinkan dengan menggenggam tangan Nenek itu dan tersenyum.


"Nenek mau nolak rejeki?"


Tiba-tiba Nenek itu tersungkur, sujud syukur dan mencium tangan Ella.


Ella sadar apa yang di lakukan Nenek itu salah dan menarik tangannya, seharusnya ia yabg mencium tangan orang yang lebih tua darinya.


"Apa yang nenek lakuin?"


"Seumur-umur Nenek baru kali ini ketemu orang sebaik Neng. Terimakasih banyak." Menangis haru.


Ella merangkul dan memeluk Nenek itu, hatinya terenyuh.


Uang yang tak seberapa baginya sangat berguna bagi orang lain dan hanya dengan uang yang tak banyak itu mampu membuat yang menerima menjadi orang yang sangat beruntung.


Itu lah alasan kenapa Ella hidup sehemat mungkin karena uang yang tersisa dari pemberian papanya ia berikan pada orang yang lebih memerlukan, masih banyak orang yang seperti nenek ini.


Tetap bekerja keras di usia mereka yang senja dan tak mengharapkan bantuan dari orang lain untuk menopang hidupnya di bandingkan mengemis dan meminta belas kasihan pada orang lain.


Hidup itu keras, tanpa bekerja mereka tak bisa bertahan hidup dalam dunia yang tak punya belas kasih.