Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Tawaran Rega


"Kok cuma di liatin aja Om?" Kata Ella saat kembali membawa dua buah gelas berisi air putih. Ia meletakkan obat di dekat Rega, "Habis makan minum obatnya biar tangannya cepet sembuh." Duduk dan membenarkan posisinya.


"Lo gak ngracunin gue kan?"


"Curigaan melulu jadi orang, gak ada untungnya ngeracunin orang tu Om. Dosa.... Lagian ya Om, tadi Ella masaknya di depan Om sambil Om plototin." Memasukkan nasi goreng ke mulutnya dan mulai mengunyah. "Kalo gak mau makan entar Ella habisin" Menarik piring yang sejak tadi di pandangin Rega.


Dengan cepat Rega menarik piring itu sebelum Ella mengambilnya. Baru kali ini ia makan masakan yang dimasak orang asing, kan baru kenal jadi namanya orang asing. Karena rasa laparnya yang luar biasa mengalahkan apa pun yang kini ada dipikirannya.


"Gimana?" Tanya Ella antusias saat Rega memasukkan suapan pertamanya.


"Lumayan." Katanya pelan sambil mengunyah dan menikmati rasanya yang harus ia akui emang enak dan pas banget sama seleranya. Tapi kalo dia ngomong tu makanan enak bakalan besar kepala tu bocah.


"Enak kayak gini di bilang lumayan, kalo di suruh bikin Ella jamin 1000 % Om bakalan gak bisa." Katanya dengan mulut penuh.


"Lo biasa masak?"


"Hu um."


"Kenapa?"


Ella meneguk air minumnya, "Gak tau ya, suka aja." Karena gak nemuin alasan kenapa ia suka masak. "Lebih hemat masak sendiri ketimbang beli lagian lebih higenis sama sehat."


Ok


Kalo alasan buat kesehatan Rega masih bisa mengerti, alasan yang buat hemat itu apa coba?


"Lebih hemat?" Mengerutkan alisnya.


"Iya lebih hemat, kalo kita makan di kafe atau restoran Om hitung aja berapa uang yang harus di keluarin? kalo masak kayak gini kan jauh lebih hemat."


"Lo hemat karena suka uang?"


Ella mengangguk, "Siapa sih yang gak suka uang di dunia ini?"


"Kenapa pas dikasih sama Ibu yang tadi gak lo terima?"


"Itu beda lagi, Ella tu gak bakalan mau terima uang yang gak hasil jerih payah sendiri."


"Beda lah Om.... Kalo Ella kerja dan dapet uang itu baru bener. Papa selalu ngajarin Ella buat dapetin uang itu harus kerja."


"Lo kerja apaan?"


"Semuanya, bersihin rumah, cuci sama setrika baju, masak atau kadang-kadang bantuin kerjaan Papa terus di kasih upah." Katanya terus terang.


Rega memijit keningnya, berarti kerjaannya pembantu? Bukannya dia mampu minta berapa pun dari sugar dady nya atau cowok yang waktu itu ia lihat, kenapa juga harus mau repot-repot kerja kayak gituan? Kerjaan yang menguras tenaga.


"Lo punya saudara?"


"Gak, cuma sama Papa aja di rumah."


"Jadi lo ngurusin Papa lo juga?"


Ella mengangguk mantap, tak ada keraguan di matanya. "Papa cuma punya Ella jadi Ella harus bisa jagain Papa."


Ada rasa kagum pada diri Ella yang baru berumur belasan taun harus bekerja, sekolah dan mengurus Papanya. Gadis seumurannya Biasanya hanya tau bermain dan menghabiskan waktu sesuka hatinya.


"Lo mau gak kerja buat gue?"


"Kerja?"


"Iya, beresin tempat ini dan masakin makan malam. Besok mulai kerja."


"Tunggu dulu Om, gak bisa gitu kan Ella belum bilang setuju. Kagian ni ya Ella masih sekolah sama bentar lagi bakal ujian."


Bukan alasan yang di buat-buat.


"Gak masalah buat sekolah atau kegiatan sekolah lo. Lo kesini cuma dua hari sekali buat bersih-bersih dan yang penting masakin buat makan malam, gimana?"


Ella tampak berpikir, sebenernya gak ada masalah buat ngelakuinnya tapi gimana minta ijinnya sama papa, apa lagi tau kalo dia kerja jadi ART.


"20 juta/bulan."


"Hah?" Ella menjatuhkan sendoknya saat mendengar nominal yang Rega tawarkan cuma buat masak sama bersihin apartemennya.